Buatku, Apalagi yang Ditunggu?



Aku pilih untuk menyudahi malam dengan memintal doa untukmu; untuk bahagiamu. Pada satu doa saat keinginan dan kepasrahan bersatu dalam sujud tanpa syarat, di sanalah kamu sebagai titik tujuannya.

(Moammar Emka)

Saya kembali tidur di musala lantai 2 Bandara Kualanamu tadi malam. Ini untuk kedua kalinya. Yang pertama karena ketinggalan travel menuju Tapaktuan beberapa waktu yang lalu. Sekarang, karena saya menyengaja menghindari naik travel agar bisa berlama-lama dengan keluarga. Dan karena saya sudah sampai pada titik jenuhnya mengarungi gelapnya malam Senin, Kabanjahe, Sidikalang, Subulussalam serta mengorbankan diri untuk duduk berlama-lama selama 10 jam di mobil Kijang Innova.

Makanya saya lebih memilih penerbangan terakhir dari Bandara Halim Perdana Kusumah menuju Bandara Kualanamu dengan menggunakan pesawat Batik Air pada pukul 20.05. Ternyata, saya banyak bertemu dengan teman-teman sejawat yang juga berangkatnya sama: memilih penerbangan terakhir.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #71: Dia yang Telah Pergi Tak Akan Pernah Kembali


IMG-20160830-WA0014

…hanya waktu.

Awalnya bimbang untuk melanjutkan lagi tulisan Rihlah Riza yang sudah mencapai nomor 70. Rubrik yang khusus menulis pengalaman saya selama di Tapaktuan. Pertanyaan besarnya adalah manfaat apa buat pembaca? Memangnya ada yang membaca?

Segala pertanyaan itu akhirnya saya abaikan. Kalau mau saya tulis ya tulis saja. Ini akhir pekan, saat untuk menulis. Saat untuk menghasilkan satu karya. Bukankah ini yang saya selalu tekankan kepada teman-teman saya yang bertanya kepada saya bagaimana caranya supaya bisa menulis. Jawaban saya klise: tulis satu karya setiap pekannya.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #20: TIGA TAHUN DISINGKILKAN


RIHLAH RIZA #20: TIGA TAHUN DISINGKILKAN

 

Angin sepoi Musalla dan Sungai Ruknabad. Tak Mengizinkan hamba mengembara jauh.” Sebuah puisi dikirimkan Hafiz Syirazi—lirikus Persia, penyair jenius, pemilik lidah gaib (Lisanul Ghaib), penafsir kegaiban (Tarjumanul Asrar)—kepada Sultan Ahmad bin Owais-i-Jalair, penguasa Ilkhani. Hafiz menolak penguasa berbakat dari Baghdad itu mengundang dirinya dan melantunkan syair-syair indah di hadapan sang penguasa.

Sebuah kapal dari dua orang Saudagar Persia sudah menanti di Selat Hormuz untuk membawa Hafiz ke India. Hafiz sempat naik ke kapal tersebut. Namun ketika kapal hendak berangkat, badai datang. Hafiz pun turun dari kapal dan tidak jadi pergi. Sebagai pengganti dirinya, akhirnya ia cuma mengirimkan bait-bait syair kepada Sultan Mahmud, penguasa India pada saat itu. Tanah airnya tak mau melepas Hafiz jauh-jauh.

**

Tanggal satu di tahun baru seharusnya libur. Kami tidak. Kami harus mengawali perjalanan panjang sampai empat hari ke depan. Kami menuju Kabupaten Simeulue yang berada di Kepulauan Simeulue dalam rangka pengalihan pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) dari Pemerintah Pusat dalam hal ini diwakili oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Perjalanan ini merupakan perjalanan road show kami di tiga kabupaten sebagai wilayah kerja KPP Pratama Tapaktuan. Selain Kabupaten Simeulue ada Kabupaten Aceh Barat Daya, biasa disingkat Abdya, dan Kabupaten Aceh Selatan. Sungguh, ini perjalanan yang tidak akan pernah dialami selagi saya tidak ditempatkan di daerah terpencil dan tertinggal ini. Saya tekankan dua kata terpencil dan tertinggal ini karena masih saja ada yang tidak percaya kalau Aceh Selatan disebut sebagai daerah demikian.

Pengertian Daerah Tertinggal seperti yang saya kutip dari situs Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Suatu daerah dikategorikan sebagai daerah tertinggal, karena beberapa faktor penyebab, antara lain geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, prasarana dan sarana, daerah terisolasi, rawan konflik dan rawan bencana. Aceh Selatan masih termasuk ke dalam 183 daerah tertinggal di Indonesia.

Ketidakpercayaan mereka ini seperti ketidakpercayaan mereka melihat ada orang Jakarta seperti saya mau-maunya saja ditempatkan di daerah tersebut.  “Ini tugas Broh,” kata saya atau biasanya saya diam atas pernyataan tersebut. Hanya tersenyum dan tidak menanggapi. “Pasti enggak dekat dengan rezim yah,” kata mereka lagi.  Wadaw, rezim-reziman segala. Saya tak tahu rezim-reziman. Kalaupun ada, saya cuma tahu dan kenal dengan satu rezim yang Maha Luas kekuasaannya, “rezim” Allah.  Ah, sudahlah.

Menuju pulau Simeulue ini ada dua moda transportasi: naik pesawat Susi Air atau kapal laut. Yang paling efektif adalah tentunya naik pesawat. Masalahnya adalah awal tahun ini Susi Air tidak terbang karena dalam proses tender penerbangan perintis dan penyusunan jadwal terbang. Jadi kami tidak memilih moda ini. Satu-satunya jalan adalah dengan menggunakan kapal laut.

Acara penandatanganan berita acara pengalihan PBB P2 ini dijadwalkan pada hari Jumat. Sedangkan jadwal pemberangkatan kapal laut dari pelabuhan terdekat—satu jam dari Tapaktuan—yaitu Labuhan Haji ada pada malam Jum’atnya. Ini mefet. Jadi kami harus menyeberang hari Rabu malam dari pelabuhan Singkil. Berarti kami pun kudu berangkat pagi dari Tapaktuan menuju ibu kota Kabupaten Aceh Singkil ini.

Kabupaten Aceh Singkil merupakan kabupaten paling ujung di selatan Provinsi Aceh dan termasuk daerah tertinggal juga. Kami harus menempuh kurang lebih  223 kilometer selama enam jam perjalanan darat dari Tapaktuan menuju Pelabuhan Singkil.

Sepanjang perjalanan menyusuri Kabupaten Aceh Selatan kami disuguhi pemandangan pantai yang menakjubkan, namun memasuki Kabupaten Aceh Singkil selain pemandangan perbukitan yang indah kami juga ditampakkan kerusakan hutan akibat penebangan untuk pembukaan lahan kelapa sawit. Sangat disayangkan.

Selain itu ada beberapa pemandangan yang mirip saat kami melewati daerah di Singkil. Papan nama Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang kami temui di Rimo bentuknya sama dengan yang kami jumpai di Singkil. Sama-sama rusak berat. Saya tak tahu apakah bentuk papan nama seperti itu menjadi tanda ketertinggalan suatu daerah? Allahua’lam bishshawab. Yang pasti dua SPBU tersebut juga sama-sama kumuh.

Tidak ada KPP di Kabupaten Aceh Singkil.  Hanya ada Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP).  Kabupaten Aceh Singkil termasuk ke dalam wilayah kerja KPP Pratama Subulussalam. Kota Subulussalam mulanya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Singkil. Kemudian memekarkan diri menjadi sebuah kota di tahun 2007.

Ingat tentang para pahlawan hebat  DJP yang berkumpul di Lhokseumawe dalam rangka Forum Pelayanan dan KP2KP yang pernah saya tulis sebelumnya? Salah satunya adalah Pak Yusri Hasda. Dialah yang menjadi Kepala KP2KP Aceh Singkil. Kami mampir ke sana sebelum melaut dan menyeberang ke Pulau Simeulue.

Di KP2KP, kami berenam disuguhi kopi khas Aceh Ulee Kareng. Kopi yang biasa dibeli Pak Yusri Hasda di Meulaboh tempat tinggalnya sekarang. Setiap minggu ia pulang Ke Meulaboh menempuh ratusan kilometer selama sembilan jam perjalanan darat. Sudah tiga tahun ia menggawangi KP2KP dan menjalani ritual akhir pekan pulang pergi Singkil-Meulaboh.

Peta Tapaktuan SingkilPeta perjalanan dari Tapaktuan menuju Singkil. (Sumber Maps Google).

Plang SPBUPlang SPBU di Rimo dan Singkil. Hancur lebur seperti itu. (Foto koleksi pribadi).

Masjid SingkilKami singgah dulu di Masjid Baitusshalihin, Pulo Sarok Singkil (Foto Koleksi Pribadi).

KP2KP Aceh SingkilKP2KP Aceh Singkil (Foto Koleksi Pribadi).

Rumah Adat Singkil Rumah Adat Singkil (Foto Koleksi Pribadi).

 KMP SinabangDermaga Pelabuhan Singkil tempat berlabuh KMP Teluk Sinabang (Foto Koleksi Pribadi).

Ini benar-benar perjamuan yang tak main-main. Biasanya kami disuguhi kopi dalam gelas imut, sekarang kami harus minum kopi dari gelas besar dengan volume lebih dari 300 cc. Sebagai penikmat kopi pemula saya sangat menikmati kopi ini. Nikmat sekaligus mengenyangkan padahal sebelumnya kami telah menikmati makan siang di sebuah warung makan dekat dengan rumah adat Singkil, di salah satu sudut kota.

Jam empat sore kami beranjak menuju pelabuhan. Melewati rumah-rumah yang kena tsunami dan tak berpenghuni. Setengah bagian dari rumah itu sampai sekarang masih tenggelam. Kapal Motor Penyeberangan (KMP) yang akan kami naiki dijadwalkan berlayar jam lima sore ini. Kami tak perlu buru-buru karena tiga jam sebelumnya kami sudah membeli tiket penumpang dan mobil. Tiket kelas ekonomi seharga 38 ribu rupiah per orang. Sedangkan tarif tiket kendaraan sebesar 493 ribu rupiah.

Pelabuhan Singkil ini melayani tiga rute perjalanan kapal laut. Dari Singkil menuju Sinabang yang berada di Pulau Simeulue, Gunung Sitoli yang berada di Pulau Nias, dan Pulau Banyak. Tidak setiap hari kapal itu melayani rute tujuan. Karena kapal laut yang ada hanya dua yakni KMP Teluk Sinabang dan Teluk Singkil. KMP Teluk Sinabang inilah yang akan melayarkan kami menyeberangi Samudera Hindia menuju Pulau Simeulue.

Ini hari sudah sore saat kami memasuki kapal. Tapi matahari belumlah tenggelam. Masih tinggi di atas lengkung langit. Seharian perjalanan ini belumlah seberapa. Baru seperdelapannya saja dilewati. Tanda-tanda badai pun jelas tidak ada sama sekali. Langit cerah. Ombak dan angin tenang. Kiranya sudah ditakdirkan hari ini kalau saya tetap akan menyeberang ke Simeulue.

Tak ada keindahan Pantai Tapaktuan dan Gunung Leuser yang akan menghalangi saya pergi ke sana seperti keindahan Taman Musalla dan Sungai Ruknabad yang mampu menghalangi pengembaraan Hafiz Syirazi. Sepertinya tanah air yang baru dua bulan setengah saya tempati rela banget menjauhkan saya pergi dari pelukannya. Apalagi tanah air yang ada di Jekardah sana. Ikhlaaaaaaaas banget kayaknya. Ah, sudahlah…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

05 Januari 2014

RIHLAH RIZA #16: DARI KERKHOF KE KERKHOF


RIHLAH RIZA #16: DARI KERKHOF KE KERKHOF

 

Melihatnya, ini menjelma diorama. Sebuah bahtera yang berlayar. Bahtera besar. Bahtera Nuh. Berlayar tidaklah di lautan. Melainkan di kuburan. Raga saya berada di sini. Pikiran saya bertamasya. Bahkan terperangkap dalam sebuah kesan. Persis seperti saat membaca satu kalimat dalam sebuah naskah cerpen yang disodorkan kepada saya, satir dan surealisme. “Karena kau telah memelihara anak kembarku: luka dan perih.”

**

Lebih baik pilih mana menempuh perjalanan darat selama delapan jam atau naik pesawat kecil dan jarak 500 km lebih itu ditempuh cukup dengan 65 menit saja? Tentu saya akan memilih yang terakhir. Juga karena tidak ada transportasi jarak jauh di siang hari seperti di Jawa. Semuanya bergerak setelah azan isya berkumandang. Kalau pun ada angkutan di siang hari itu pun harus ngompreng dari kota ke kota. Masalah harga, semuanya ada harga yang harus dibayar atas sebuah efisiensi dan kenyamanan.

Pesawat kecil itulah yang mengantarkan saya ke Banda Aceh dari Tapaktuan. Saya menunggu sebentar di Bandara Internasional Iskandar Muda yang masih sepi. Tak lama kemudian Rachmad Fibrian datang dengan kijangnya menjemput saya. Memet, panggilan akrabnya, adalah pelaksana di Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan. Nanti dia yang akan mendampingi saya di Forum Penagihan se-Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Aceh. Selain itu ada Fahrul Hady, jurusita KPP Pratama Tapaktuan yang juga ikut dalam forum tersebut.

Memet mengajak saya untuk sarapan dan ngupi di kedai kopi asli Aceh, kopi Beurawe. Di jam sepuluh pagi itu, kedai masih dipenuhi dengan para pengunjung. “Jam ramainya memang di siang hari sesuai jam buka warung. Kalau malam malah tutup,” jelas Memet.

Antara ada dan tiada, perut saya sudah mulai merajuk. Makanan ringan di pesawat masih kurang nendang rupanya. Mungkin perlu makanan yang nendangnya selevel tendangan David Eric Hirst. Kecepatan tendangannya bisa mencapai 186 km/jam saat bermain untuk Sheffield Wednesday di tahun 1996. Akhirnya saya memesan nasi gurih dengan dendeng sapinya. Ditambah satu gelas kopi Beurawe tentunya.

“Waktu check-in hotelnya masih lama, saya punya niat untuk mampir ke museum tsunami. Bisa nganterin gak Met?”

“Siap, Pak.”

Rasa penasaran terhadap museum itu kiranya akan tertuntaskan hari ini. Waktu kunjungan pertama ke Banda Aceh saat pelantikan dulu saya tidak sempat mampir ke museum itu. Tak tahu mengapa daya tariknya begitu kuat. Ini seperti obsesif kompulsif. Tapi tak parah-parah amatlah. Entah karena desain bangunannya yang menarik, isi museum itu yang kata banyak orang menyalakan elan kita agar tak putus asa terhadap takdir, atau karena latar belakang semuanya itu berupa kiamat kecil bernama tsunami.

Setelah telepon sana telepon sini dikarenakan ada perubahan jadwal dan tempat untuk kehadiran saya di Forum Pelayanan setelah Forum Penagihan selesai, saya dan Memet pun angkat kaki dari kedai itu. Kami segera menuju museum. Tak lama kami sudah sampai di sana. Memet mengarahkan mobil ke lokasi sebelah. Halamannya luas dan cocok buat memarkirkan mobil kami. Dan inilah takdir saya hari itu.

Ternyata halaman itu adalah halaman kuburan militer Belanda yang disebut juga dengan Kerkhof Peutjoet. Di sinilah tempat dikuburkannya dua orang yang sempat saya sebutkan di tulisan terdahulu. Mereka adalah Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler dan Meurah Pupok. Kohler adalah jenderal Belanda yang tewas tertembak prajurit Kesultanan Aceh pada tanggal 14 April 1873 setelah membakar Masjid Raya Baiturrahman.

Sedangkan Meurah Pupok adalah adik Sultan Iskandar Muda yang dihukum mati oleh kakaknya karena telah berzinah dengan istri perwira. Dari literatur yang saya dapatkan Meurah Pupok merupakan adik sultan, tetapi dalam papan petunjuk yang dibuat oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Aceh di tahun 2005 disebutkan kalau Meurah Pupok adalah putra sang sultan sendiri. Peristiwa itulah yang mengenalkan kalimat kuat sang sultan: “Mate anak meupat jirat, gadoh adat pat tamita. Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.”

Saya tidak berniat mengunjungi kuburan militer Belanda ini. Pun karena saya tak tahu ada lokasi itu di samping museum tsunami. Ketidaksengajaan yang malah membuat saya kaya akan pengalaman tempat-tempat bersejarah.

Kuburan militer ini berpintu gerbang besar. Di atas pintu gerbangnya terdapat teks dalam berbagai bahasa. Di dinding-dinding sampingnya terdapat marmer bertuliskan nama-nama prajurit dari berbagai daerah pertempuran yang dikuburkan di sana. Mulai dari pertempuran awal semisal pertempuran di Masjid Raya yang terjadi di tahun 1873 sampai yang terakhir. Marmer-marmer berisi nama itu pun memenuhi dinding lorong pintu gerbang kuburan hingga di sebelah dalam pintu gerbang.

Tidak hanya prajurit dengan nama-nama londo yang tercantum dalam marmer prasasti di sana, ada juga prajurit dengan nama Ambon, Jawa, dan Manado. Prajurit-prajurit bernama pribumi tersebut adalah bagian dari prajurit marsose Belanda.

Setelah memasuki pintu gerbang kita akan diperlihatkan hamparan tanah luas berisi makam-makam dengan batu nisannya yang besar-besar. Bahkan ada yang paling besarnya di ujung jalan utama pintu gerbang. Namun sebelum ke ujungnya, selurusan dengan pintu gerbang, terdapat tugu besar berwarna putih yang sebenarnya adalah batu nisan dari Kohler.

Di situlah Kohler dikubur. Sebenarnya setelah tewas, mayat Kohler dibawa ke Batavia. Lalu dikuburkan di Kerkhof Laan, Pemakaman Umum Kebon Jahe, Kober, Tanah Abang. Karena ada perkembangan kota Jakarta makam tersebut digusur dan dipindahkan ke kuburan militer Belanda di Kerkhof Peutjoet ini.

“Simbol ular gigit buntutnya sendiri ini berarti simbol apa?” tanya Memet melihat relief yang ada pada salah satu sisi batu nisan Kohler. “Ini pasti ada artinya.” Saya tak menjawabnya karena saya masih mengamati setiap detilnya. Juga karena sama-sama tak tahu maksud dari simbol itu.

Di setiap sudut batu nisan itu diukir dengan tiang berbentuk obor yang terbalik dan dicat warna emas. Di setiap sisinya, di bagian atas, terdapat simbol bintang. Juga ada keterangan-keterangan dalam bahasa Belanda yang menerangkan tanggal kematiannya di Masjid Raya. Keterangan itu antara lain tanggal dikuburkannya di Kerkhof ini yaitu 19 Mei 1978. Kemudian ada dua simbol ular menggigit buntutnya sendiri. Satu simbol berada tepat di tengah salah satu sisi nisan dengan warna cat biru dan hitam. Satu lagi di sisi yang lain dengan bentuk yang lebih kecil dan tanpa warna.

 

Gerbang Utama Kerkhof. Dilihat dari sisi dalam. (Foto koleksi pribadi).

 

Prasasti di depan pintu gerbang. Berisi nama-nama prajurit Belanda yang tewas dalam pertempuran. Salah satunya di Missigit Raiya (Foto koleksi pribadi).

Hamparan kuburan di Kerkhoff (foto koleksi pribadi).

 

Jalan utama Kerkhof (Foto koleksi pribadi).

 

Batu nisan Kohler. Lihat simbolnya. (Foto koleksi pribadi).

 

Ouroboros di Batu Nisan Kohler (Foto koleksi pribadi).

 

Jalanan rindang di kerkhof (foto koleksi pribadi).

 

Makam Meurah Pupok (Foto koleksi pribadi)

 

 

Baru setelah kunjungan itu saya mengetahui arti simbol tersebut dari apa yang ditulis oleh Rizki Ridyasmara. Menurut Rizki, Kerkhof Laan yang di Tanah Abang itu berubah nama menjadi Museum Taman Prasasti. Di sana terdapat prasasti batu nisan Kohler tempat tulang belulangnya dikubur sebelum dipindah ke Banda Aceh. Persis sama dengan apa yang ada di Kerkhof Peutjoet. Bedanya pada warna dan sedikit ornamen nisannya.

Tidak ada warna emas dan biru pada prasasti Kober ini. Prasasti dibiarkan seperti warna khas batu alam. Bentuk bintang yang tercetak adalah bintang david, ini berarti simbol bahwa orang yang dimakamkan adalah orang yahudi. Sedangkan simbol ular gigit ekornya sendiri yang dikenal dengan istilah Ouroboros, menurut Rizki, termasuk simbol setan yang berasal dari kelompok Brotherhood of Snake. Ouroboros ini juga merupakan simbol yang dipakai oleh Freemasonry. Dengan kata lain Kohler ini bukan Yahudi sembarangan.

Kami menyusuri jalanan setapak yang rindang dengan pepohonan untuk melihat-lihat kuburan prajurit Belanda lainnya. Berjalan di kompleks pekuburan ini seperti berjalan di taman kota saking terawatnya. Tidak terasa aroma mistisnya di siang bolong itu. Tidak ada tuh yang namanya angin kencang berhembus tiba-tiba, pepohonan yang bergoyang dahan dan rantingnya, desau angin yang keras, langit yang mendadak menghitam, atau sesuatu yang mengintip kami dari kejauhan di balik batu nisan. Tidak ada. Tidak. Itu hanya ada di film.

Kemudian sampailah kami pada sebuah area pekuburan yang diberi pagar khusus. Di luar pagar terdapat tiga plang yang memberikan informasi tentang siapa yang dikubur di tempat itu. Di dalamnya terdapat pohon besar. Kelebatannya menaungi dua makam yang ada di sana. Dari bentuk makamnya sudah jelas itu bukan makam orang Belanda. Ini makam orang Islam. Batu nisannya dibalut dengan kain putih. Kuburan itulah kuburan Meurah Pupok. Sedangkan kuburan lain dengan nisan tanpa balutan kain putih berukuran lebih kecil.

Sungguh saya tak pernah menyangka bahwa saya akan hadir di tempat ini. Tak menyangka pula kalau kuburan Meurah Pupok itu ada. Karena saya mengira sebelumnya bahwa Meurah Pupok itu hanyalah sekadar cameo dalam sebuah fragmen sejarah Iskandar Muda. Di masa itu ia pendosa layak dilupakan. Lalu buat apa lestari jejaknya hingga saat ini. Ternyata ia ada. Dalam kuburan tentunya. Beserta ceritanya yang hitam.

Setelah berlama-lama di sana kami pun sadar bahwa tujuan kami bukanlah tempat itu, melainkan museum tsunami. Kami pun bergegas keluar. Tapi di saat menyusuri jalanan menuju pintu gerbang itu saya tersentak melihat kuburan yang berserakan itu dengan latar belakang museum tsunami dari kejauhan. Ini menjelma diorama. Sebuah bahtera yang berlayar. Bahtera besar. Bahtera Nuh. Berlayar tidaklah di lautan. Melainkan di kuburan.

Sitor Situmorang mendadak singgah di kepala saya dan bersajak “Malam Lebaran” dengan satu kalimatnya yang terkenal: “Bulan di atas kuburan”. Saat itu Sitor kemalaman dan kesasar setelah gagal berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Ia melewati sebuah tempat yang dipenuhi dengan pohon-pohon tua, rimbun, dan dikelilingi oleh tembok. Ia penasaran ingin melihat apa yang ada di balik tembok itu. Lalu ia mengintip. Ternyata pekuburan orang eropa berwarna putih penuh salib yang tertimpa cahaya bulan di sela-sela dayangan dedaunan pepohonan. Pikirannya terperangkap dalam sebuah tamasya penuh kesan. Lalu tertulislah kata-kata itu. Entah mengapa feeling saya menyatakan-walau tidak disebut Sitor secara lengkap—bahwa tempat pekuburan itu adalah Kerkhof Laan, Kober, Tanah Abang.

Maka bolehlah saya juga membuatnya, siang itu, saat saya bertamasya raga, saat pikiran saya terperangkap kesan di sebuah Kerkhof Peutjoet, sebuah sajak berjuduk Siang Berisik.

Siang Berisik

Berlayar di atas kuburan.

Sudah cukup.

Berlayar di atas kuburan. (Foto koleksi pribadi)

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Desember 2013

 

RIHLAH RIZA #15: BERAPA JUGUN IANFU?


RIHLAH RIZA #15: BERAPA JUGUN IANFU?

Selain sebagai pegiat LSM lingkungan di Conservation International, bintang Hollywood pendukung zionis ini ternyata juga pengoleksi pesawat terbang pribadi untuk pergi ke ranch, mansion atau ke mana saja ia suka. Salah satu yang ia punya adalah jenis pesawat yang saya naiki pertama kali ini dan itu pun dibiayai negara.

*

    Di atas pesawat berbaling-baling satu milik maskapai penerbangan perintis Susi Air yang sedang menaik saya lamat-lamat menatap dari kejauhan Bandar udara Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Aceh Selatan. Semakin kecil, kecil, dan kecil saja bangunan yang ada di sana. Dari atas ketinggian itulah saya baru tahu kalau bandara itu dekat dengan pantai indah berpasir putih yang menyambung dengan Pantai Cemara di kejauhan sana. Selanjutnya akan banyak pemandangan memukau yang menemani saya sepanjang perjalanan.

    Pesawat Cessna Grand Caravan C208B ini akan membawa saya menuju Banda Aceh untuk melaksanakan tugas yang diberikan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan yakni menghadiri acara Forum Penagihan se-Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Aceh selama tiga hari. Kemudian lanjut dengan penugasan lainnya yaitu memberikan pelatihan menulis buat teman-teman di Forum Pelayanan dan KP2KP se-Kanwil DJP Aceh di Lhokseumawe. KP2KP merupakan singkatan dari Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan. Kantor instansi vertikal DJP setingkat eselon empat.

    Saya cuma sendirian di atas pesawat itu. Sebelas kursi lainnya kosong. Saya duduk di bagian belakang. Ini bukan kemauan saya. Tapi sudah diarahkan oleh petugas Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan untuk duduk di belakang. Kalau yang naik dua atau tiga orang atau lebih pengaturan tempat duduknya pun akan berbeda. Mungkin maksudnya untuk menyeimbangkan beban yang ada.

Di bagian depan ada dua orang yang mengemudikan pesawat ini. Ruangan mereka tanpa sekat dengan ruangan penumpang. Saya tak tahu yang mana dari mereka berdua itu yang menjadi supir benerannya (pilot utama) dan mana yang jadi supir tembak atau keneknya (ko-pilotnya). Kalau lihat film-film Hollywood biasanya yang sebelah kiri yang jadi pilot utama.

Satu orang pilot berkebangsaan Jepang dengan wajah khasnya yang rada-rada bagero itu. Dialah yang duduk di sebelah kiri. Satu lagi orang bule gundul yang saya tak tahu berkebangsaan apa. Dari supir Susi Air yang menjemput saya di mess saya dapat informasi kalau para pilot itu selain dari Jepang juga berasal dari Jerman, Belanda, dan Spanyol.

Sebagai salah satu bentuk pelayanan prima mereka, cabang Susi Air yang ada di Tapaktuan memberikan fasilitas layanan antar jemput dari dan atau menuju bandara. Tentunya dengan tambahan ongkos sebesar dua puluh ribu rupiah. Ini sepadan dengan 45 menit yang dibutuhkan mobil itu melaju dari Tapaktuan menuju bandara atau sebaliknya.

Tidak setiap hari pesawat ini ada di Tapaktuan. Hanya ada pada Hari Senin, Selasa, Jumat, dan Sabtu. Rutenya pun bermula dari Bandara Internasional Kualanamu, Medan yang berangkat jam tujuh pagi. Satu jam kemudian tiba di Bandara Teuku Cut Ali. Lalu berangkat lagi menuju Bandara Internasional Iskandar Muda, Banda Aceh. Dari sana pesawat itu kembali lagi ke Tapaktuan dan Medan.

Susi Air memang melayani semua daerah di Provinsi Aceh yang ada bandaranya. Ongkosnya masih terjangkau karena setengahnya disubsidi oleh pemerintah pusat. Oleh karenanya mereka harus tetap berangkat mengudara walau tidak ada penumpang sama sekali. Sayangnya informasi tentang jadwal penerbangannya sampai dengan saat ini tidak bisa diakses melalui situs internetnya. Para penumpang harus menelepon ke nomor telepon masing-masing cabang yang telah disediakan di situs itu jika ingin memesan tiket. Tiketnya pun masih ditulis dengan tangan seperti tiket travel Tapaktuan-Medan.

Faktor cuaca sangat menentukan apakah pesawat jadi berangkat atau tidak. Walaupun dalam brosur promosinya mesinnya tahan untuk segala jenis cuaca. Jadi bisa saja jadwal terbang kita pada hari itu batal karena pesawat tidak jadi berangkat. Tapi tentunya tiket tidak hangus. Penerbangan akan dijadwalkan keesokan harinya.

Alhamdulillah Senin itu cuaca sangatlah cerah. Saya masih dapat menikmati pemandangan pantai dan kota Tapaktuan saat pesawat ini melintas di atasnya. Pesawat ini sebagian perjalanannya menyusuri pinggiran pantai barat Aceh. Sebagian lainnya di atas pegunungan yang syukurnya masih lebat dengan hutan.

Ini berbeda dengan apa yang saya lihat di tahun 2005 saat saya menaiki sebuah pesawat kecil dari pedalaman Kalimantan Tengah menuju Kota Balikpapan. Yang tampak hanyalah dataran gundul dan bopeng-bopeng sebagai akibat penambangan dan penebangan liar. Paru-paru dunia itu telah mengalami luka dahsyat yang entah bagaimana lagi kondisinya pada saat ini. Itulah yang menyebabkan Harrison Ford dengan kurang ajarnya menyemprot Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menuntut agar para pelaku deforestasi itu dipenjara.

Bandar Udara Teuku Cut Ali (Foto koleksi pribadi).

Kabin pesawat Cessna Grand Caravan C208B (Foto koleksi pribadi).

Air minum dalam kemasan,kue semacam dorayaki, dan kue yang didalamnya ada kacang ijo. (Foto koleksi pribadi)

Pemandangan pantai di daerah dekat Tapaktuan Aceh Selatan dari atas ketinggian. (Foto koleksi pribadi).

Pemandangan pegunungan dari atas ketinggian (Foto koleksi pribadi).

Persawahan di dekat Kota Banda Aceh (Foto koleksi pribadi).

 

 

Pesawat yang saya naiki saat mendarat di Bandara Internasional Iskandar Muda (Foto koleksi pribadi).

 

Di dalam pesawat, selagi pilot asyik makan wafer, saya pun menyantap snack dalam kotak yang telah diberikan petugas Susi Air sebelum pesawat mengudara. Pilot dari Jepang itu juga menyalakan
hp. Makanya saya pun tak canggung-canggung lagi whatsapp-an, gtalk-an, sms-an dengan teman-teman di hp. Tak ada awak kabin pesawat yang mendemonstrasikan prosedur keselamatan penerbangan seperti di pesawat berpenumpang banyak.

Walau sudah tak terhitung berapa kali mereka melintasi daerah yang sama, entah kenapa pilot asing dari Jepang itu juga masih suka mengambil gambar dengan kamera hpnya. Satu hal yang pasti dan tidak bisa dipungkiri adalah Indonesia itu indah, subur, dan kaya. Ini masih mending pilot Jepang itu cuma mengambil gambar, nenek moyangnya dengan semangat imperialis dan fasisnya mengambil habis raga dan jiwa anak bangsa serta kekayaan negeri ini.

Berapa ribu ton bijih besi yang dikirim ke negeri matahari terbit untuk dibuat senjata-senjata berat mereka? Berapa ratus ribu ton beras yang dikirim buat bekal pasukan mereka bertempur di seluruh asia pasifik? Berapa banyak leher nenek moyang kita terpenggal samurai-samurai mereka? Berapa nyawa hilang untuk romusha mereka? Berapa perempuan-perempuan terhormat kita, ibu-ibu kita yang menjadi Jugun Ianfu mereka? Kalau saja Nagasaki dan Hiroshima tidak dibom angka-angka yang akan menjawab banyak pertanyaan itu menjadi semakin tinggi.

Sekarang penjajahan fisik seperti itu sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah penjajahan dalam bentuk ekonomi dan budaya. Itu pun tanpa sadar dirasakan. Atau memang dirasakan bahkan dinikmati dengan sepenuh hati? Mereka mendapatkan harga yang murah dari gas yang dibeli dari kita sedangkan di saat yang sama industri kita masih kekurangan suplai gas dan harganya jauh lebih mahal. Masih bisa menghitung berapa potensi kerugian Pajak Penghasilan yang hilang dari setiap transaksi dividen terselubung yang dibalut dengan istilah royalti dan imbalan atas jasa yang dibayarkan oleh perusahaan Jepang di Indonesia kepada perusahaan induknya?

Aih, mengapa di atas ketinggian ratusan kaki di atas permukaan laut ini saya masih bisa berpikir tentang penjajahan masa lalu dan pertempuran argumentasi di ruang sidang Pengadilan Pajak sewaktu saya masih menjadi anggota Tim Banding Direktorat Keberatan dan Banding, DJP sedangkan di bawah sana masih banyak pemandangan indah yang bisa dinikmati?

Saya tatap kembali alam yang membentang. Pesawat itu bergoncang saat menabrak awan dan mengalami sedikit turbulensi. Saya memperbanyak shalawat seperti saat saya dulu pernah ketakutan menaiki mobil turbo kuning yang dipacu kencang teman saya di jalanan Sudirman menuju Thamrin.

Sudah 60 menit pesawat ini melayang di udara dan sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Iskandar Muda. Dari sana saya akan langsung ke hotel saja. Tapi ternyata tidak. Takdir nantinya membelokkan saya ke suatu tempat. Ini mengejutkan saya. Kalau saja saya tahu beberapa jam sebelumnya saya akan tiba di suatu tempat yang tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk dikunjungi, saya mungkin tidak akan pernah seterkejut ini. Ya, karena saya tiba di suatu lokasi tempat dikuburkannya manusia setipe Harrison Ford di Banda Aceh.

***

Catatan: Jugun Ianfu adalah wanita yang menjadi budak seks di rumah bordil militer pendudukan Jepang.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Banda Aceh, 2 Desember 2013