Kita Adalah Para Pengantre di Telepon Umum Kampus


Saya merasa terhormat untuk membaca satu per satu cerita yang ditulis oleh para penulis dalam buku ini. Mereka adalah para senior saya di Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Program Diploma Keuangan (STAN Prodip Keuangan). Mereka lulus dari kampus itu pada tahun 1993, sedangkan saya baru masuk setahun kemudian di tahun 1994.

Seiiring dengan berjalannya waktu, saya mengenali dengan karib sekitar dua belas orang dari mereka. Ada Pak Harris Rinaldi, Pak Sardana, Pak Rachmat, Mbak Darmini, Pak Swartoko, Pak Widodo, Pak Bagyo, Pak Ikun, Pak Ali Saman Harahap, Mbak Rika, Mbak Nana Diana, dan Mbak Lusi. Masya Allah, Direktorat Jenderal Pajak itu memang sangatlah sempit.

Baca Lebih Banyak

Buatku, Apalagi yang Ditunggu?



Aku pilih untuk menyudahi malam dengan memintal doa untukmu; untuk bahagiamu. Pada satu doa saat keinginan dan kepasrahan bersatu dalam sujud tanpa syarat, di sanalah kamu sebagai titik tujuannya.

(Moammar Emka)

Saya kembali tidur di musala lantai 2 Bandara Kualanamu tadi malam. Ini untuk kedua kalinya. Yang pertama karena ketinggalan travel menuju Tapaktuan beberapa waktu yang lalu. Sekarang, karena saya menyengaja menghindari naik travel agar bisa berlama-lama dengan keluarga. Dan karena saya sudah sampai pada titik jenuhnya mengarungi gelapnya malam Senin, Kabanjahe, Sidikalang, Subulussalam serta mengorbankan diri untuk duduk berlama-lama selama 10 jam di mobil Kijang Innova.

Makanya saya lebih memilih penerbangan terakhir dari Bandara Halim Perdana Kusumah menuju Bandara Kualanamu dengan menggunakan pesawat Batik Air pada pukul 20.05. Ternyata, saya banyak bertemu dengan teman-teman sejawat yang juga berangkatnya sama: memilih penerbangan terakhir.

Baca Lebih Lanjut.