‘Sapiens’ Yuval antara Perang, Eropa, dan Vitamin C


Photo by GEORGE DESIPRIS on Pexels.com

Kekuatan Eropa pada 1750 hanya cebol. Di tahun-tahun itu, membayangkan Eropa setara dengan Osmani, Mughal, atau Qing adalah khayalan. Sepuluh dekade kemudian waktu membaliknya.

Buku ini memang meneruskan cara berpikir Carl Sagan, evolusionis, dan tak memercayai teori penciptaan.

Continue reading ‘Sapiens’ Yuval antara Perang, Eropa, dan Vitamin C

Pendar-pendar Kenangan di Titik Evenaar


Di atas awan.

Bumi Kalimantan akhirnya saya pijak kembali. Itu pun setelah 13 tahun lamanya. Bukan lagi di Palangkaraya atau Balikpapan yang hanya menjadi tempat pindah pesawat. Sekarang adalah Kota Khatulistiwa: Pontianak. Tempat yang lagi-lagi membuat saya bisa terbang dan mengarungi lautan mega bergulung-gulung dengan senja yang akan tamat. Persis waktu yang lampau itu. Catatannya masih bisa kau obrak-abrik di sini.

Buku Rhenald Kasali yang berjudul Agility: Bukan Singa yang Mengembik menemani penugasan kali ini. Kebetulan buku itu sedang membahas tentang transformasi Angkasa Pura II dalam mengelola bandara. Salah satunya Bandara Supadio di Pontianak.

Baca Lebih Lanjut.

5 Sejarawan dan Petualang Muslim Berpengaruh di Dunia




Gambar via salahuddindjp.org

Orang-orang Muslim mendahului Columbus 500 tahun dalam menemukan benua baru. Ketika Eropa masih membakar orang-orang yang mengingkari dunia itu datar, maka ilmuwan muslim di tanah Arab mengajarkan ilmu bumi dengan bola dunia.

Merekalah yang menemukan kompas yang memainkan peranan penting dalam penaklukan lautan dan penyusuran dataran luas. Dunia berhutang budi kepada mereka dalam segala hal. Catatan perjalanan mereka dalam petualangan itu menjadi catatan tak ternilai dalam pengembangan ilmu-ilmu moderen.

Inilah beberapa di antara mereka dari buku Seratus Muslim Terkemuka yang ditulis oleh Jamil Ahmed Khan—penulis Pakistan—30 tahun lalu.

Baca Lebih Lanjut.