7 Fakta Sejarah Hari Oeang: Dari Uang Mata-Mata Sampai A.A. Maramis


Setiap tanggal 30 Oktober, Kementerian Keuangan memperingati Hari Oeang. Ada banyak fakta sejarah di balik hari itu, termasuk fakta di seputar uang yang bernama Oeang Republik Indonesia (ORI). Berikut beberapa fakta di antaranya yang dirangkum dari berbagai sumber.

 

Mata Uang Sebelum ORI

Mata uang yang berlaku dan beredar sebelum pemerintah Republik Indonesia memiliki mata uangnya sendiri ada tiga jenis, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang Jepang, dan mata uang NICA.

De Javasche Bank adalah bank sirkulasi untuk wilayah kolonial Hindia Belanda yang didirikan di masa Gubernur Jenderal Leonard Pierre Joseph Burggraaf du Bus de Gisignies pada 24 Januari 1828 atas perintah Raja Belanda Willem I. Bank Belanda ini merupakan cikal bakal Bank Indonesia. De Javasche Bank dinasionalisasi pada 1 Juli 1953.

Sedangkan NICA merupakan kepanjangan dari Nederlandsch Indië Civiele Administratie atau NetherlandsIndies Civiele Administration. NICA merupakan organisasi semi militer yang dibentuk di Australia pada 3 April 1944 dan memiliki tugas untuk mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah kolonial Belanda selepas Jepang keluar dari wilayah Hindia Belanda.

Belanda beranggapan, ketika Belanda kembali datang ke Indonesia setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, De Javasche Bank sulit untuk beroperasi segera, oleh karena itu jauh sebelum NICA didirikan, Belanda menerbitkan mata uang baru. Mata uang itu dibawa NICA saat mendarat di Indonesia. Rakyat menyebutnya sebagai uang NICA. Di masa perjuangan, Pejuang Republik mencap pemilik uang NICA sebagai mata-mata Belanda.

 

Pengusul Pertama ORI

Syafruddin Prawiranegara diakui orang yang mengusulkan agar pemerintah yang baru merdeka ini segera menerbitkan mata uang sendiri saat ia menjabat sebagai Menteri Muda Keuangan. Namun, untuk mewujudkan usulan itu masih ditemukan banyak kendala antara lain keterbatasan sarana dan alat-alat penunjang pembuatan mata uang. Sembari itu, pemerintah dalam hal ini Departemen Keuangan membentuk panitia persiapan pengeluaran mata Oeang Republik Indonesia.

 

Peran Balai Pustaka

Balai Pustaka awalnya didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 15 Agustus 1908 untuk meredam tulisan antipemerintah Hindia Belanda di koran-koran waktu itu dengan menerbitkan majalah dan buku yang sesuaidengan kepentingan penjajah.

Dalam kaitannya dengan ORI, percetakan Balai Pustaka yang berada di Jakarta memegang peranan sebagai pembuat gambar negatif (klise) bersama perusahaan percetakan lain bernama de Unie. Kemudian Balai Pustaka mencetak lembaran ORI dalam nominal seratus rupiah.

Pada Desember 1945, Jakarta tidak aman karena kedatangan tentara sekutu dan NICA sehingga percetakan ORI dihentikan dan dipindahkan ke Yogyakarta bersamaan dengan hijrahnya ibu kota negara dari Jakarta.

Peran Balai Pustaka ini jauh sebelum Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI) muncul dan dibentuk pada tahun 1971. PERURI sejak saat itu ditugaskan secara khusus untuk mencetak uang kertas dan uang logam untuk Bank Indonesia.

 

Pidato Mohammad Hatta

Pada 29 Oktober 1946, menjelang peluncuran ORI yang mulai berlaku pada 30 Oktober 1946 pukul 00.00, Wakil Presiden Mohammad Hatta berpidato di Radio Republik Indonesia yang menggelorakan semangat perjuangan:

“Besok tanggal 30 Oktober 1946 adalah suatu hari yang mengandung sejarah bagi tanah air kita. Rakyat kita menghadapi penghidupan baru. Besok mulai beredar Oeang Republik Indonesia sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Mulai pukul 12 tengah malam nanti, uang Jepang yang selama ini beredar sebagai uang yang sah, tidak laku lagi. Beserta uang Jepang itu ikut pula tidak laku uang Javasche Bank. Dengan ini, tutuplah suatu masa dalam sejarah keuangan Republik Indonesia. Masa yang penuh dengan penderitaan dan kesukaran bagi rakyat kita. Uang sendiri itu adalah tanda kemerdekaan negara.”

 

Penanda Tangan di Atas Kertas ORI

ORI dikeluarkan di masa Kabinet Syahrir III dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai Menteri Keuangannya. Yang unik adalah penanda tangan di kertas ORI bukanlah Syafruddin Prawiranegara, melainkan Menteri Keuangan sebelumnya, yakni Alexander Andries (A.A.) Maramis.

Hal ini dikarenakan A.A. Maramislah yang membentuk Panitia Penyelenggara Pencetakan Oeang Kertas Republik Indonesia pada 7 November 1945. Seminggu kemudian, tepatnya 14 November 1945, A.A. Maramis tidak lagi menjabat sebagai menteri keuangan karena digantikan oleh Sunarjo Kolopaking dalam Kabinet Syahrir I.

Selain itu, dikarenakan situasi keamanan yang rawan yang membuat pencetakan ORI berpindah-pindah di berbagai daerah, sehingga ORI tidak bisa dicetak seketika di zaman menteri keuangan sebelum Syafruddin Prawiranegara seperti Sunarjo Kolopaking dan Surachman Tjokroadisurjo.

 

Munculnya ORIDA

Karena sulitnya perhubungan di masa itu menyebabkan ORI belum bisa beredar luas di wilayah Republik Indonesia. Ditambah lagi Republik Indonesia yang masih berusia muda mendapatkan gangguan dengan adanya Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947 dan menyebabkan terganggunya pendistribusian ORI.

Maka pada 26 Agustus 1947, di masa Menteri Keuangan A.A. Maramis, dikeluarkan Peraturan Nomor 19 Tahun 1947. Peraturan ini memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menerbitkan alat pembayaran yang sah dan berlaku hanya terbatas di masing-masing daerah itu. Alat pembayaran itulah yang disebut Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA).

Di wilayah Sumatra saja terdapat 130 jenis ORIDA. Penggunaan ORIDA berlangsung sampai tahun1949 dengan adanya Konferensi Meja Bundar. Pada awal 1950 ORIDA ditarik dari peredaran. Mata uang yang berlaku sebagai pengganti ORIDA adalah mata uang RIS (Republik Indonesia Serikat).

 

Foto dan Tanda Tangan

Uang yang beredar di Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dua orang ini: Soekarno dan A.A Maramis.

Presiden RI Soekarno adalah orang yang gambarnya paling banyak ditemukan di berbagai jenis mata uang Republik Indonesia. A.A. Maramis adalah menteri keuangan yang tanda tangannya tertera paling banyak di uang kertas dibandingkan menteri keuangan lainnya.

Atas jasanya itu nama A.A. Maramis diabadikan sebagai nama salah satu gedung Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng tempat berkantornya Menteri Keuangan sehari-hari sebagai pimpinan tertinggi Kementerian Keuangan sebelum pindah ke Gedung Djuanda 1.

Paling anyar adalah A.A. Maramis dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 120/TK/2019 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tertanggal 7 November 2019.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
26 November 2020
Artikel di atas ditulis untuk APBN KITA Edisi November 2020
APBN KITA bisa diunduh di sini.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.