Memburu Kafe Ini Berujung Pertemuan Tak Dinyana


Dan perjalanan perseduhan saya telah sampailah kepada kopi gula aren dengan selamat sentosa mengantarkan ke depan pintu gerbang rumahnya.

Di suatu malam yang iseng, saya ingin sekali minum kopi. Kali ini tidak lagi V60 atau kapucino, melainkan kopi gula aren. Saya membuka aplikasi pesan makanan daring. Saya taruh kata kunci kopi di pencariannya. Muncul banyak kafe di jarak sekilometer sampai berkilo-kilo meter jauhnya.

Muncul di urutan pertama toko kopi waralaba yang rasanya sudah saya kenal begitu-begitu saja. Saya skip. Lalu melanjutkan pencarian ke bawah layar. Turun, turun, turun lagi sampai lama. Ada juga yang kios kopi yang jualannya bercampur dengan boba penuh gula itu. Saya skip juga. Di Citayam itu memang jarang ada yang buka kafe kopi single origin begitu. Pernah buka di samping pasar, tetapi tidak lama kemudian tutup.

Barulah kemudian saya menemukan kafe ini. Namanya Kangen Kopi. Alamatnya di Pondok Terong, Gang Haji Dul RT.02/05 No.71, Cipayung, Depok. Dari berbagai pilihan yang ada saya memesan satu botol kopi dengan nama 350 Ml Kopi Susu Arabika. Itu campuran dari espreso kopi arabika, susu krim, dan gula aren.

Saya kirim pesan kepada si Abangnya, pastikan pakai gula aren dan jangan pakai gula putih. Kenapa harus ditambah pesanan itu karena berdasarkan pengalaman yang ada biasanya ditambahkan gula putih, karamel, susu kental manis, atau apalah. Padahal dalam rincian komposisi minumannya tidak ada semacam itu.

Dari mulai klik menentukan pesanan hingga kopi itu sampai di tangan membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Saya lihat di peta, kafenya tidak jauh dari Stasiun Citayam. Di arah utara stasiun. Berarti memang betul di sekitaran Gang Haji Dul.

Abang ojek sampai di rumah. Ia menyerahkan satu plastik transparan berisi satu botol kopi. Plastiknya bukan sembarangan plastik. Bukan asal plastik buat bungkus makanan atau cabe di pasar. Bentuk plastiknya bagus, transparan, dan biasa digunakan oleh kafe-kafe.

Ketika saya terima, botol masih dalam keadaan hangat. Saya pikir yang dijual adalah kopi botol dalam keadaan dingin seperti biasanya. Ini tidak. Berarti ketika ada pesanan, kopi langsung dibuat. Sepengetahuan saya, baru kali ini ada yang jual kopi botolan tidak menstok barang.

Kemasan botolnya juga rapi. Botol berukuran 350 ml itu disegel. “Wah, pro juga nih yang jualan,” pikir saya, “tapi bungkus boleh bagus, rasa jangan-jangan biasa saja.”

Eh, pas saya tenggak rasanya memang beda. Arabikanya terasa, susunya pas enggak bikin enek, bukan pakai susu kental manis, dan gula arennya juga pas. Ini bedalah pokoknya. Saya penasaran. Lain kali saya beli lagi.

Enam hari kemudian, di sebuah Ahad petang yang kelabu, kebetulan saya sedang di Depok, saya buka aplikasi. Warna foto sajian kopi di lapaknya berwarna hitam putih, itu tanda Kangen Kopi sedang tutup. Padahal saya hendak mampir. Lain kali berarti.

Esoknya, ketika saya pulang kantor dan turun dari KRL di Stasiun Citayam, tebersit dalam pikiran saya untuk mencari kafe Kangen Kopi itu. Apalagi sore itu masih terang benderang. Seharian itu saya belum minum kopi. Barangkali di kafe itu saya bisa rehat sejenak buat menenggak kahwa.

Saya buka Google Maps. Mengetikkan Kangen Kopi di sana. Nihil hasilnya. Adanya Kangen Kopi di tempat lain. Mengetikkan alamat kafe juga sama. Nihil juga. Harusnya letak Kangen Kopi dekat dengan Stasiun Citayam.

Pokoknya sore ini saya harus menuntaskan rasa penasaran ini. Saya mengambil motor di tempat penitipan lalu berangkat ke arah yang berlawanan dengan jalan pulang. Tujuannya ke Gang Haji Dul. Kalau sudah sampai di gang itu saya akan bertanya ke orang-orang sekitar.

Saya mulai mengendarai motor dan mulai melihat kiri kanan jalan barangkali ada plang kafe itu. Tidak ketemu. Di tengah perjalanan saya berhenti. Saya cek aplikasi untuk mencari-cari peta kafe itu. Tidak ketemu. Saya coba memesan menu barangkali akan muncul peta menuju ke sana. Enggak ada. Pesanan pun saya batalkan. Saya berniat datang langsung ke kafe itu, bukan pesan daring.

Setelah saya perhatikan dengan saksama, ternyata memang ada petanya dan bisa dilacak sebelum memesan. Posisinya sudah ketemu. Masih ratusan meter lagi di depan. Saya mengandalkan peta di aplikasi itu dengan mengandalkan pergerakan GPS. Ponsel saya pegang di tangan kiri. Motor bergerak pelan. Titik bulat biru di peta itu mulai bergerak. Di suatu titik, saya kebablasan. Saya balik lagi dan mengambil jalan kecil di pinggir kali kecil, ketemu jalan besar lagi, dan sampailah di tempat yang ditunjuk dalam peta.

Loh kok? Saya terkejut. Enggak ada kafe. Peta itu menunjuk rumah besar berwarna cokelat. Namun, ada selembar spanduk berukuran 1×1 meter persegi menggantung di dinding barat rumah bertuliskan: Coffe Millennial Taste Kangen Kopi.

Spanduk Coffe MIllennial Taste Kangen Kopi

Kebetulan ada ibu-ibu berkaos merah lewat. Saya langsung tanya apakah sang ibu mengetahui Kangen Kopi. Dia menggeleng.

Depan rumah itu gang. Karena letak rumah ini di ujung gang, maka ada tiang besi penanda wilayah. Tulisannya RT.02 RW.05. Berarti saya sudah benar. Saya melihat nomor rumahnya dan bertuliskan angka 71.

Saya mulai berpikir. Penjual kopi ini berarti tidak buka kafe. Ia penjual rumahan. Pesan daring, abang ojolnya datang, barang diserahkan.

Wah saya malas nih mengetuk rumah ini. Soalnya rumah itu dalam kondisi tertutup rapat. Namun, saya kan sudah di sini, masak jadi batal pesan kopi.

Saya buka aplikasi. Barangkali di sana ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Ada ternyata. Ada simbol gagang telepon warna hijau di sudut kanan atas lapaknya. Saya pencet.

Android saya terhubung dengan nomor itu dan memunculkan nama, foto, dan nomor kontak yang saya tekan. Hah! Apa?! Muncul nama yang saya kenal banget. Eh, jangan-jangan saya salah pencet. Saya matikan lagi, saya enggak percaya.

Saya kembali ke aplikasi itu. Pencet lagi ikon gagang telepon. Tersambung lagi. Tetap yang muncul nama yang saya kenal. Pak Suyanto. Dulu saya pernah sekantor di Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga dan KPP PMA Empat.

Sekarang saya membiarkan telepon itu terus tersambung.

Di ujung telepon terdengar suara yang saya kenal.

“Pak Suyanto, saya Riza, Pak. Bapak di mana?” tanya saya.

“Di rumah.”

“Rumahnya nomor berapa, Pak?”

“71”

“Kamu di mana, Za?”

“Di depan rumah Pak Yanto.”

“Hah!!”

Setelah itu terdengar suara pintu terbuka dan seraut wajah muncul. Yassalaaaaaam…ternyata benar Pak Suyanto yang jualan kopi ini. Sudah lama saya tidak berjumpa dengannya. Ia pernah bertugas di Kalimantan setelah dari KPP PMA Empat. Bertahun-tahun di pulau itu, ia kembali lagi kumpul dengan keluarga.

Saya diajak masuk ke dalam rumahnya. Saya memesan kopi botolnya untuk dibawa pulang. Anak perempuannya yang alumni PKN STAN itu menyiapkan kopi. Kami mengobrol banyak di ruang tamu. Saya disuguhkan secangkir kapucino. Kami berbincang-bincang soal pekerjaan, tempat dinas, perkopian, dan bisnis kopi.

Saya juga bertemu dengan istrinya Pak Suyanto, Mbak Reni Perianti, sesama anggota roker (rombongan kereta). Dulu sebelum pandemi datang, bareng-bareng dengan rombongan pegawai pajak lain, kami turun di Stasiun Cawang untuk naik bus APTB di depan Carrefour Cawang.

Singkatnya, ternyata perjuangan saya menuntaskan penasaran dengan cita rasa kopi gula aren ini berbuah silaturahmi, bertemu dengan kawan lama yang sudah lama tak bersua. Rasanya seperti membaca buku sampai halaman terakhir.

Dari luar rumah merambat suara azan berkumandang, pertanda sudah saatnya saya pulang. Saya pun berpamitan.

Terima kasih Pak Yanto. Kopinya jadi teman saya menulis cerita panjang ini.

Bertemu dengan Pak Suyanto.

 

Tiga botol kopi arabika gula aren.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
11 Januari 2022

4 thoughts on “Memburu Kafe Ini Berujung Pertemuan Tak Dinyana

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.