5 Adab Menuntut Ilmu yang Kudu Diperhatikan oleh Salafi, Sufi, dan Kita Semua



Kita merasa sudah belajar mati-matian namun sepertinya ilmu itu sama sekali tidak bisa kita tangkap atau kita merasa bego terus, atau malah kita merasa sombong ketika sudah berilmu, jangan-jangan itu karena kita kurang peduli dengan adab-adab dalam menuntut ilmu. Adab-adab inilah yang kudu dipelajari terlebih dahulu sebelum kita belajar sesuatu. Entah ilmu umum ataupun ilmu agama.

Dalam buku yang ditulis oleh ulama dunia bernama Dr. Yusuf Alqaradhawi, berjudul Mensufikan Salafi dan Mensalafikan Sufi ada diterangkan mengenai adab-adab penting yang perlu diperhatikan oleh para pencari ilmu.

Dr. Yusuf Alqaradhawi menjelaskan adab-adab itu dengan memulai menuturkan perjalanan bersejarah yang dilakukan oleh salah satu nabi ulul azmi yakni Musa ‘alaihis salam (as). Musa as ini merupakan nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah. Nabi yang dipilih oleh Allah dengan risalah-Nya. Nabi yang memperoleh Taurat yang berisi petunjuk dan cahaya untuk dikabarkan kepada umatnya Bani Israil.

Perjalanan bersejarah Musa as ini bersama dengan seorang muridnya untuk mencari ilmu kepada seseorang yang tidak disebutkan namanya dalam Alquran. Dalam surat Alkahfi ayat 62, Musa dan muridnya melakukan perjalanan itu dengan berjalan kaki dan merasa keletihan.

Nah, dari perjalanan Musa dan muridnya itu ada hikmah berupa adab-adab penting yang bisa kita ambil yaitu:

  1. Rakus pada ilmu, meskipun dalam mencarinya ada berbagai macam keletihan dan kepayahan, seperti yang dilakukan Musa as dalam perjalanannya ke “pertemuan dua buah lautan”. Dan Musa as dalam melakukannya telah menghadapi aneka jenis kepayahan dan keletihan.
  2. Sopan terhadap guru serta memperlihatkan penghormatan dan pemuliaan kepadanya. Ini adalah sesuatu yang bisa kita lihat dengan terang dan jelas dalam pergaulan Musa as dengan hamba saleh yang terkenal dengan nama Khidhir as ini. Musa as dengan adab seorang murid kepada gurunya telah berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadamu ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu. (Alkahfi:66).
  3. Sabar dalam menghadapi guru. Ini adalah sesuatu yang dilakukan Musa dalam menghadapi gurunya. Ketika ia memintanya agar sudi mengajarinya sebagian apa yang diajarkan Allah, sang guru mengatakan: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama-sama. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
    Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.”
    Ia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Alkahfi 67-70)
  4. Seorang mukmin tidak akan pernah kenyang ilmu dan ia akan senantiasa mencari tambahan ilmu di sepanjang hayatnya seperti yang diperintahkan Allah kepada penutup rasul-rasul-Nya. Musa as adalah nabi yang haus akan ilmu.
  5. Sesuatu yang diingatkan sunnah nabi: mempelajari ilmu karena mengharapkan rida Allah ta’ala. Dengan demikian, mencari ilmu berubah menjadi ibadah dan jihad di jalan Allah.
    Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Orang yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencari keridaan Allah namun ia tidak mempelajarinya kecuali hanya untuk memperoleh kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”
    Di sinilah pentingnya niat dan menjaga niat sepanjang kita menuntut ilmu. Kesenangan dunia itu bisa bermacam-macam mulai dari gelar, penghormatan, uang, puja-puji, dan lain sebagainya.

    Ada riwayat lain dari Jabir, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Jangan mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri pada ulama, pamer pada orang-orang bodoh serta memilih-milih majelis. Barang siapa melakukannya, ia akan masuk neraka, ia akan masuk neraka.” Dari hadis itu Rasulullah saw sampai memperingati dua kali kepada umatnya.

    Semoga dengan adab-adab penting dalam menuntut ilmu ini menjadikan kita sebagai orang berilmu yang senantiasa rendah hati, tidak menganggap dirinya paling hebat, dan tidak menghina orang yang lebih tua karena merasa dirinya paling muda, paling banyak baca buku, paling banyak menulis, hebat dalam memainkan kata-kata, bahkan sampai kehilangan akhlakul karimah dengan memaki-maki orang lain dengan sebutan hewan. Semoga.

    ***

    Riza Almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara

    Tjitajam, 5 Maret 2017

    Sumber gambar: guoguiyan.com

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s