Dua Bekal Buat Anda Para Aktivis Media Sosial



Pagi ini di saat salat duha, sebuah pesan masuk dalam aplikasi Whatsapp saya. Pesan dalam bentuk gambar seorang Imam Masjidilharam—Syaikh Sudais—yang di atas foto dirinya itu termaktub sebuah pesan kenabian. Ya, benar-benar pesan dari seorang nabi junjungan alam 1400 tahun silam.

Doa orang tua untuk anaknya bagaikan doa nabi terhadap umatnya (H.R. Adailami). Itu teks hadis nabi dalam gambar tersebut. Pesan yang datang pada saat yang tepat mewujud dalam sebuah amal: saya tergerak untuk mendoakan kembali anak-anak saya. Kalau saja ibu saya masih hidup saat itu, saya pun pasti akan menghubunginya untuk meminta doa mustajab.

Facebook, Twitter, Path, Whatsapp, atau pun media sosial lainnya bisa menjadi sarana menyebarkan kebaikan—tidak sekadar ajang eksis. Kalau demikian adanya maka beruntunglah orang-orang yang melakukannya. Karena Kanjeng Nabi Muhammad saw pernah bersabda:

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Hadis riwayat Muslim.

Barangsiapa yang menunjukkan atas kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya. Hadis riwayat Muslim.

Teman saya ini konsisten menyebarkan hal-hal yang baik melalui grup media obrol itu. Entah dengan gambar, tulisan, atau video. Dan saya yakin, walaupun tidak ada yang menanggapi atau ada yang menanggapi sekadar dengan ikon jempol saja setidaknya pesan itu akan terbawa ke alam bawah sadar pembaca untuk dilakukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari di kemudian hari.

Kalau sudah demikian, berapa banyak nilai pahala yang didapat oleh pembuat dan penyebar pesan kebaikan itu? Apalagi kalau pesan-pesan kebaikan itu kita sampaikan di media sosial seperti Facebook atau Twitter atau Path dengan jumlah teman atau pengikutnya yang banyak, ratusan, bahkan ribuan. Jika saja dari setiap penyampaian kebaikan itu ada satu orang yang tersentuh hatinya untuk mengamalkan pesan maka itu pun sudah luar biasa sekali nilai kebaikan yang didapat.

Maka demi Allah, sekiranya Allah memberi hidayah kepada seorang sahaja (karena dakwah) melalui dirimu, (itu) adalah lebih baik bagi kamu daripada kamu memiliki unta-unta merah. Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ahmad.

Maka alangkah beruntungnya orang yang bisa berbuat demikian di alam yang serba canggih seperti sekarang ini. Tinggal duduk-duduk saja di rumah atau di suatu tempat, tanpa woro-woro keliling kampung, tulis, dan pencet tombol share maka pesan-pesan kenabian itu bisa sampai ke setiap orang. Ikhtiar sudah dilakukan tinggal kehendak Allah saja pesan-pesan itu akan sampai kepada orang yang terberi hidayah.

Oleh karenanya agar penyampaian pesan-pesan itu itu dapat bernilai di sisi Allah, maka Anda, wahai para penyampai kebaikan, wahai para aktivis sosial media, perlu memahami dua hal berikut ini sebagai bekal.

Pertama, tentunya semua amalan itu tergantung niat. Dan satu-satunya niat yang benar hanyalah niat karena Allah swt saja. Bukan karena ingin dipandang sebagai orang yang alim nan bijak, dipanggil sebagai ustad, atau keinginan dunia lainnya. Cukup Allah sebagai tujuan.

Kedua, konsisten. Syaikh Aidh bin Abdullah Alqarni pernah bercerita tentang keinginannya membaca dua belas kitab tafsir. Ia merealisasikannya dengan mengumpulkan kedua belas kitab tafsir itu. Ia pun mulai membaca satu ayat tafsir tiap hari dari tiap-tiap kitab tersebut. Ternyata ia cepat bosan dan lelah.

Ia mengakui kalau dirinya antusias, tetapi ia pun mengakui kalau dirinya terburu-buru merencanakan dan memilih metode yang tepat untuk studi ini. Kepada mahasiswanya ia memberikan saran: jangan terlalu membebani diri sendiri dengan begitu banyak buku. Cara yang lebih baik adalah dengan merencanakan dan memilih apa yang dibaca.

Yang terpenting adalah tetap konsisten, walaupun Anda melakukannya hanya sedikit. Pekerjaan yang paling disukai oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bekerja secara konsisten, walaupun pekerjaan itu adalah hal yang kecil. Demikian Syaikh Aidh.

Ini yang perlu digarisbawahi: konsisten, walaupun pekerjaan itu adalah hal yang kecil. Begitu pula dengan menyebarkan kebaikan—yang tentu bukan pekerjaan yang kecil—via media sosial ini. Kita tak pernah tahu hidayah itu sampai atau tidak kepada obyek komunikasi tetapi yang terpenting adalah kita sudah berikhtiar dan menyebarkan sebanyak mungkin jala kebaikan.

Semoga dengan dua bekal ini—niat hanya karena Alah dan konsisten, kebaikan bisa tersebar dan memberi manfaat kepada orang banyak serta buat yang menyebarkannya. Ingat, ini—ilmu yang bermanfaat—bisa menjadi amal yang tak berkeputusan walau kita sudah tidak ada lagi di dunia ini. Semoga.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Ditulis buat situs intranet: Shalahuddin,

11 Januari 2015

Advertisements

One thought on “Dua Bekal Buat Anda Para Aktivis Media Sosial

  1. Salam kenal. Setuju pak Riza. Media sosial hendaknya dipergunakan untuk saling berbagi dan menyebarkan kebaikan. Bisa berbagi ilmu agama dan ilmu lainnya. Kalau saya, memilih untuk berbagi wawasan dan pandangan saya pada apa yang saya bisa, yakni kehumasan dan tata kelola perusahaan. Jika berkenan, bolehlah bersilaturahmi ke blog saya. Terimakasih.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s