Kemenkeu Mengajar: Sehari Menjadi Guru



“Kapan Abi bisa ke sini? tanya anak saya, Ayyasy, yang ada di pesantren di kawasan perbatasan Bogor-Sukabumi.

“Kayaknya enggak bisa hari ini Nak. Soalnya Abi harus persiapan buat ngajar besok,” jawab saya dari seberang telepon.

“Yaaaaaaah,” suara Ayyasy mengisyaratkan kekecewaan.

Ïya insya Allah besok, setelah ngajar Abi datang ke sana yah,” jawab saya sambil menahan perih karena ada lubang yang menganga tiba-tiba muncul di hati. Bagi saya yang jarang bertemu dengannya ini nada kecewa darinya tentu menyesakkan dada. Penugasan di Tapaktuan, Aceh Selatan, membuat saya hanya bisa pulang sekali dalam sebulan.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH


RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH

Sultan Iskandar Muda ini menghukum mati adiknya—Meurah Pupok—yang berzina dengan istri seorang perwira. Ada kalimat yang difatwakannya ketika ia dihalangi oleh para penasehatnya untuk tidak menghukum sang adik, “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.”

**

Jam 6 pagi Banda Aceh masih gelap dan saya masih terbaring di atas kasur. Ke depannya lagi saya tidak akan berurusan dengan hal yang bernama Commuter Line di waktu yang sama, dengan manusia yang berjejalan di dalamnya, dengan aroma parfum yang menusuk hidung, dan ketergesaan ala orang-orang metropolitan.

Ini hari kedua kami di ibu kota propinsi paling barat Indonesia ini. Kami sepakat untuk jalan-jalan pagi sebelum sarapan. Kemana? Ke mana saja kaki ini akan membawa kami. Itu jawabannya.

image

Ini para mantan Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding di sebuah sudut Banda Aceh.(foto pribadi)

“Lokasinya dekat,” jawab saya atas sebuah pertanyaan teman tentang keberadaan masjid yang menjadi landmark kota Banda Aceh. Itu juga karena saya selalu ingat-ingat betul rute yang ditempuh mobil jemputan kami sepanjang perjalanan kemarin dari bandara menuju hotel. Letaknya lebih dari satu km dari tempat kami menginap.

image

Suasana Masjid Baiturrahman pagi itu (18/10). Foto pribadi.

Masjid Baiturrahman ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, seorang sultan yang membawa kesultanan Aceh pada kejayaan dan kemakmurannya. Masjid yang mulanya hanya satu kubah ini pernah terbakar pada saat agresi penjajah Belanda di 1873 dan dibangun kembali pada 1881. Pada 1935 masjid dipugar dengan menambah dua kubah. Di masa orde baru, tepatnya di tahun 1979 masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini dipugar kembali dengan menambah dua kubah dan dua menara di utara dan selatannya.

Dari segi arsitekturnya masjid ini indah banget. Dengan kolam yang berada di halaman depannya mengingatkan kita dengan Tajmahal di Agra. Sebuah bangunan indah peninggalan raja Mughal, Sultan Shah Jahan, yang kebetulan pula sebagian tahun pembangunannya bersamaan dengan masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda di Kesultanan Aceh.

image

(foto pribadi)

Karena keterbatasan waktu saya tak sempat untuk memasuki masjid itu. Saya hanya memandangnya dari luar saja. Insya Allah suatu saat saya akan shalat di dalamnya.

Dari masjid kami berjalan ke arah timur. Melewati sebuah lokomotif dan satu gerbong yang ditaruh di atas sebuah bangunan. Kami melihatnya dari jauh. Ada plang berkarat yang menginformasikan tentang sejarah perkeretaapian di Aceh.

Jalan kereta api di Aceh dibangun oleh Belanda dengan tujuan utamanya adalah untuk kepentingan politik dan ekonomi. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474; kayu untuk bantalan rel dari Malaka tahun 1875 dan meterial untuk rel dari Inggris (1875). Jalan kereta api Ulee Lhee-Kuta Radja sepanjang 5 KM dibuka untuk lalulintas umum pada tanggal 12 Agustus 1876. Lintas Ulee Lhee-Kuta Radja terkenal sebagai lintas kereta api negara yang ada di Nusantara.

image

Lokomotif dan gerbong di Komplek Kereta Api Banda Aceh (foto pribadi)

Ada yang salah dari informasi di plang itu. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474? Apakah benar? Yang benar mungkin 1874. Karena Belanda baru menduduki Banda Aceh di tahun 1873 setelah mengorbankan 80 serdadu mati dan tewasnya Jenderal Kohler dalam agresinya. Tahun 1474 saja Kesultanan Aceh belum berdiri. Sultan Ali Mughayat Syah mendirikannya di tahun 1514.

Dari sebuah buku yang ditulis oleh sejawaran Ahmad Mansur Suryanegara yang berjudul Api Sejarah maka kita akan mengetahui maksud adanya pembangunan rel kereta api di masa penjajahan Belanda.

Menurut teori geopolitik McKinder, kereta api sebagai alat transportasi dalam upaya penguasaan wilayah. Pada masa perang, kereta api berfungsi sebagai Benteng Stelsel dalam penguasaan teritorial. Serdadu Belanda dalam Perang Aceh menggunakan jasa kereta api sebagai sarana ruthless operation—operasi tanpa belas kasih, menumpas perlawanan ulama dan santri—santri insurrection. Malam harinya dihancurkanlah rel kereta api oleh gerilyawan Aceh. Di Pulau Jawa, dibangun jalan kereta api sebagai gurita yang menyempitkan ruang gerak ulama dan santri.

Dari komplek milik perusahaan kereta api kami terus menuju ke selatan. Melewati komplek perumahan militer. Di sana kami menjumpai Komplek Makam Kandang XII. Terdapat 12 makam sultan Aceh beserta keluarganya. Antara lain: Sultan Syamsu Syah, Sultan Ali Mughayyat Syah, Sultan Shalahuddin, Sultan Ali Riayat Syah AlQahar, Sultan Husain Syah—empat sultan terakhir secara berurutan ini merupakan para sultan di awal-awal Kesultanan Aceh, dan Malikul Adil.

image

Komplek Makam Para Sultan Aceh (foto pribadi)

Ada pagar tembok yang mengelilingi komplek ini. Kalau Anda mau menziarahinya silakan lewati pintu besi yang tak terkunci. Ingat adab-adab ziarah kuburan. Ucapkan salam dan doakan mereka. Assalaamu’alaikum ya ahlal qubur. Saya sekadar lewat dan tidak memasukinya karena teman-teman sudah jauh meninggalkan saya.

Kemudian ada area terakhir yang kami kunjungi—sebenarnya cuma lewat doang—untuk pagi itu, yakni Meuligoe Gubernur Aceh atau pendopo atau rumah dinas Gubernur Aceh. Dulu pendopo ini merupakan kediaman dari gubernur Belanda dan didirikan di tahun 1880 saat penjajah Belanda mulai menguasai Banda Aceh.

image

(foto pribadi)

Setelah itu kami kembali bergegas ke tempat kami menginap, karena kami harus bersiap-siap. Bakda sholat jumat nanti kami akan segera dilantik. Pak Andy Purnomo akan menjemput kami pukul 12.00 siang dan mengantarkannya ke Kanwil DJP Aceh.

Pagi itu ada jejak-jejak masa lalu yang saya dapatkan. Jejak dari sebuah kejayaan bangsa. Masa keemasan Sultan Iskandar Muda telah dicatat dalam sejarah sebagai masa yang paling gemilang bagi masyarakat Aceh. Dan kegemilangan serta kejayaan itu simetris dengan penegakan hukum tanpa pandang bulu yang dicontohkannya. Keteladanan yang patut ditiru oleh para penguasa saat ini di republik ini. Siapa pun orangnya, apa pun jabatannya.

Ia tak akan melindungi anaknya, adiknya, istrinya, kerabatnya, saat mereka melanggar hukum. Biarlah menjadi gema apa yang dikatakan Sultan Iskandar Muda ke dalam sanubari setiap anak bangsa saat ini: “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.” Ini seperti de javu episode Muhammad saw dan Fathimah 14 abad yang silam.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

18:45 21 Oktober 2013

RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI


RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI

 

Saya terbangun. Melihat jam dinding. Keluar dari kamar. Mengambil air putih hangat, duduk, dan meminumnya pelan-pelan. Sambil merenung. Dan akhirnya mandi di tengah malam tanpa kembang. Kalau pakai kembang setaman—ada mawar, anyelir, melati—oke juga, tak mengapa. Bikin wangi. Halal. Setelah itu buka laptop dan menuliskan sesuatu.

    Beberapa jam lagi ke depan saya sudah harus berangkat ke kantor. Naik commuter line ke stasiun Sudirman. Kemudian di sana saya menunggu teman, Uda Marzaini, yang membawa mobil taruna merah tuanya ke kantor pusat DJP. Saya jadi penebeng. Penebeng selain saya biasanya ada Bro Teguh Pambudi, biasa disebut TP, dan Kang Asep Wahyudin Nugraha—panggil saja dia Kang Awe.

    Kami berempat masuk ke Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) sama-sama di bulan September 2010 dari Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus. Ini sudah tiga tahun berlalu. Dan Allah menakdirkan kami berempat, di bulan September 2013 ini, mendapatkan penugasan baru. Kami disebar ke daerah yang jauh. Sejauh al masyriqi wal maghribi. Sejauh timur dan barat. Kami bertiga selain Kang Awe ditempatkan di Nanggroe Aceh Darussalam, sedangkan Kang Awe di wilayah Papua.

    Tepatnya, saya di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan, Uda Zain di KPP Pratama Langsa, dan Bro TP di KPP Pratama Meulaboh. Dan Kang Awe di Kantor Wilayah DJP Papua dan Maluku yang terletak di Jayapura.

    Perjalanan dari kota Banda Aceh menuju Tapaktuan ditempuh selama delapan jam perjalanan darat, sedangkan Meulaboh berada di tengahnya. Jadi cukup empat jam saja dari Kota Banda Aceh. Sedangkan Langsa malah lebih dekat dari kota Medan. Empat jam saja katanya. Sedangkan Kang Awe dengan delapan jam perjalanan udara dari Jakarta. Ini hampir seperti perjalanan Jakarta ke Jeddah saja. Indonesia bener-bener luas yah?

    Bertahun-tahun kami jadi tebenger di mobilnya Uda Zain. Sebentar lagi kami yang ada di mobil taruna OX nya ini akan berpisah. Dan saya yang sering banget numpang ini jelas akan kehilangan. Mobil Uda Zain ini bagi saya seperti telaga, ngademin gitu setelah berjibaku di sesaknya commuter line yang pengap. Masuk ke dalam mobilnya selalu ada sensasi nyeeeessss. Menyejukkan dan wangi. Terima kasih Uda selama ini rela ditumpangin. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda.

    Dan kami tetap menikmati perjalanan pagi dengan taruna merah itu sampai ada keputusan kapan kami harus berpisah. Dinikmati dan disyukuri saja waktu kebersamaan yang tinggal sisa-sisa ini. Kalau disyukuri sudah jelas ada pakemnya yaitu ditambah nikmatnya lagi. Mungkin dengan bentuk kenikmatan yang lainnya. Entah apa. Biar Allah saja yang tahu yang terbaik buat hambaNya. Yang penting bagi saya Allah tidak menggolongkan kami ke dalam golongan hamba-hambaNya yang tidak bersyukur.

    Sebentar lagi kami jadi musafir. Benar-benar musafir secara hakikat. Yaitu orang yang pergi dari tempatnya tinggal menuju sebuah tempat yang jauh. Kalau berdasarkan madzhabnya Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Hambali ada ukuran jarak minimal yang ditempuh seorang musafir yaitu 80,5 km plus 140 meter. Kami ribuan kilometer.

Dan musafir itu butuh bekal. Salah satu bekalnya adalah doa. Saya pun kembali mengutip Anis Matta dalam Setiap Saat Bersama Allah:

Beginilah sang musafir, bila mulai terbangun dari tidur panjangnya. Ia mulai membersihkan wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan munajat yang tak pernah putus. Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat lain dalam bumi, hatinya bercengkrama di ketinggian langit.

Kini sang musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan yang sederhana. Doa bukanlah kumpulan kata yang kering. Doa bukanlah harapan yang dingin. Doa bukanlah sekadar menengadahkan kedua tangan ke langit.

Tidak! Kini, sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat doa. Ternyata doa adalah “surat” dari sang jiwa yang senantiasa terpaut dengan langit. Doa adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai. Maka setiap kata dalam doa adalah gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit. Di sini, tiada tempat bagi kepura-puraan. Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan. Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir, ketika raganya masih berada dalam gerbong kereta waktu. Dengarlah munajat sang musafir ini:


Allaahumma a’inni ‘alaa dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibadatik

Ya Allah bantulah aku untuk senantiasa mengingatMu, mensyukuriMu, dan menyembahMu dengan cara yang baik. (HR Abu Dawud dari Muadz bin Jabal).

Kami sejatinya akan menjadi musafir, pelaku perjalanan jauh menuju tempat penempatan baru masing-masing. Walau sejatinya harus diakui bahwa kami hidup di dunia ini pun sudah jadi musafir sejak dari lahir untuk menuju kampung akhirat.

Kami sejatinya akan menjadi musafir, seorang perindu ulung yang tak pernah selesai dengan apa yang dirindukannya. Rindu padaNya dengan pedang doa. Rindu kampung halaman. Rindu kebersamaan.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03:03 02 Oktober 2013

gambar diambil dari sini.