Nasihat Nan Nirmala


Ingin menjadi apa ketika setiap keinginan kita senantiasa terwujud? Beberapa tahun yang lampau ada sebuah film yang menceritakan seorang tokoh.

Tokoh ini kalau meminta sesuatu pasti terwujud. Tetapi selalu ada konsekuensi yang mengikutinya. Tapi ia pengecut. Sehingga ketika ia menjadi apa dan risiko dari menjadi apanya itu muncul, buru-buru ia segera mengajukan permintaannya yang lain. Ia menerima menjadi apa tapi tak mau menanggung imbas yang ada.

Dan pagi ini, di tengah sesaknya penumpang commuter line jurusan Jakarta Kota, saya membaca kiriman nasihat di sebuah grup aplikasi percakapan. Ini menohok dan membuat mata saya seperti Telaga Rengganis di pagi hari nan gerimis.

Apa nasihatnya? Saya sunting sedikit tanpa mengurangi substansi.

SEYOGIANYA DOA

@salimafillah

Dalam Al Hikam, Ibn Athaillah Assakandari mengisahkan sebuah munajat yang diijabah Allah, tetapi sang pendoa yang justru tak siap akannya.

Seorang ahli ibadah berdoa memohon pada Allah agar setiap hari dikaruniai dua potong roti, segelas air, dan segelas susu tanpa harus bekerja, sehingga dengannya, dia dapat dengan tekun beribadah kepada Allah. Dalam bayangannya, jika tak berpayah kerja mengejar dunia, amal ketaatannya akan lebih terjaga.

Maka Allah pun mengabulkan doanya dengan cara yang tak terduga. Tiba-tiba dia ditimpa fitnah dahsyat yang membuatnya harus dipenjara. Allah takdirkan bahwa di dalam penjara dia diransum dua potong roti, segelas air, dan segelas susu setiap hari tepat seperti pintanya. Dan tanpa bekerja. Maka diapun luang dan lapang beribadah.

Tapi apa yang dilakukan Sang Ahli Ibadah? Dia sibuk meratapi nasibnya yang terasa nestapa. Masuk penjara begitu menyakitkan dan penuh duka. Dia tak sadar, bahwa masuk penjara adalah bagian dari terkabulnya doa yang dipanjatkan sepenuh hati. Rasa nestapa menutup keinsafannya.

Apa pelajaran yang kita ambil dari kisah doa sang Abid ini? Wallaahu a’lam bish shawaab.

Pertama: hati-hatilah dalam berdoa dan meminta. Sungguh boleh meminta apapun, memohon serinci bagaimanapun, dengan ucapan dan bahasa terserah kita. Tapi doa yang baik tetap ada adabnya.

Di antara doa terbaik telah Allah ajarkan dengan firman-Nya, atau tersebut dalam kisah tentang hamba-Nya yang saleh dalam Al Quran. Doa terbaik juga telah diajarkan oleh Nabi melalui sabdanya, atau melalui apa yang terkisah dalam perjalanan hidupnya nan mulia. Maka berdoa dengan apa yang telah mereka tuntunkan adalah lebih utama, mengungguli segala bentuk doa apapun selainnya.

Pelajaran kedua: Allah lebih tahu dibanding kita tentang apa yang terbaik bagi kita. Maka mintalah yang terbaik dari Allah. Setiap pengabulan doa selalu diikuti konsekuensinya. Maka jika kita meminta yang terbaik, semoga Allah bimbing juga untuk menghadapinya. Dan karena pengabulan doa diikuti konsekuensi; meminta ‘hasil’ biasanya melahirkan kebuntuan; tapi meminta ‘sarana’ membuka jalan baru. Berdoa minta karunia yang menghiasi jiwa; keimanan, kesabaran berlipat, kemampuan berzikir, bersyukur, serta beribadah; lebih indah daripada meminta benda-benda.

Pelajaran ketiga: sebab Allah Maha Tahu; doa bukanlah cara memberitahu-Nya akan apa yang kita hajatkan. Doa itu bincang mesra pada-Nya. Maka teruslah berbincang mesra; hingga bukan hanya isi doanya, melainkan berdoa itu sendirilah yang menjadi kebutuhan dan deru jiwa kita. “Belumlah menjadi hamba sejati”, tulis Ibn Athaillah, “hingga kita lebih menikmati kemesraan dengan Sang Maha Pemberi, daripada sekedar pemberian-Nya.”

Pelajaran keempat: sungguh seringkali banyak pinta kita telah dikabul-Nya, tapi kita terhijab darinya. Hijab itu tersebab masih adanya prasangka buruk pada Allah, kurangnya syukur, dan ketidaktepatan doa yang melahirkan ketaksiapan hadapi paket pengabulannya.

Selamat berdoa ya saudara-saudariku nan saleh, doa dengan sebaik-baik adab, seindah-indah pinta, semesra-mesra suasana, setunduk-tunduk jiwa. Dan selamat bekerja, karena kerja adalah berdoanya anggota badan kita.

**

Sampai di sini, nasihat itu nirmala, tepermanai, sungguh. Saya menjadi teringat, sesungguhnya ada doa tiada tara:

Robbanaa aatina fiddunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaabannaar.

“Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”

Sebuah doa yang terselip dari banyak doa yang terinci. Yang lainnya: meminta menjadi budak yang melulu mensyukuri nikmat-Nya, sedangkan diri belumlah mampu untuk menjadi orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, belumlah sanggup untuk menerima konsekuensi.

Ah, doa dengan sebaik-baik adab, seindah-indah pinta, semesra-mesra suasana, setunduk-tunduk jiwa. Kapan terakhir berdoa seperti itu, Dab?

Pagi ini, ada yang sudi singgah bertamu dan bersemayam di sudut-sudut mata nan lapuk, setelah sekian lama.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Entah gerbong ke berapa, 26 April 2017

Gambar sekadar ilustrasi.

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s