Cerita Lari Bogor Half Marathon 2019: Melupakannya dengan Micin


DJP Runners berfoto bersama seusai mengakrabkan diri dengan aspal jalanan Bogor sepanjang 21 km yang tak genap.

 

Dengan segala keriweuhanmu dan keriweuhan yang ada di race ini, aku punya cara jitu untuk melupakannya.  Sejenak memang.

Karena ada suatu urusan yang tidak bisa kutinggalkan, pengambilan race pack Bogor Half Marathon 2019 tak bisa kulakukan sendiri. Ada teman dari DJP Runners Mas Hery Dwinanto yang berbuat elok mengambil secara kolektif.

Pada Jumat malamnya (23/8), saat aku membuka race pack itu, aku hanya bisa membatin. Tak ada brosur yang menjelaskan tentang rute lari dan lain sebagainya. Baiklah, nanti aku memeriksanya di situs webnya.

Minggu pagi (25/8), pukul 03.30 aku telah bersiap. Kupesan ojek daring. Jarak rumahku dengan Kebun Raya Bogor kurang lebih 21 km. Masih ada waktu sampai di sana sebelum azan Subuh. Dari peta yang kubaca garis start ada di gerbang Kebun Raya Bogor, di depan Jalan Suryakencana. Ternyata salah.

Dari informasi yang kudapat dari Satpol PP, para pelari masuk dari Gerbang 3 Kebun Raya Bogor. Akhirnya kami harus memutar lagi. Pantas saja banyak para pelari yang kulihat berjalan berlawanan arah denganku. Peta di situs web itu menyesatkan.

Sampai di gerbang tiga, tasku diperiksa dulu oleh prajurit TNI. Kita maklumi karena Kebun Raya Bogor tempat istana presiden berada. Di garis start masih banyak panitia lari yang sedang berkerumun entah untuk memperbaiki apa. Padahal itu sudah pukul 04.38 WIB saat azan Subuh berkumandang dan setengah jam kemudian perlombaan dimulai. Aku lihat seperti belum siap sama sekali.

Baiklah, aku segera menuju tempat penitipan tas. Letaknya di lapangan. Itu pun setelah bertanya ke sana ke mari. Di sana hanya ada dua panitia yang bertugas. Gelap-gelapan. Dengan kesadaran sendiri para pelari membentuk antrean.

Panitia bertugas dengan dibantu nyala senter dari handphone pelari. “Tahun depan kayaknya saya tidak mau ikut ini lagi,” celetuk salah satu pelari yang mengantre. “EO (event organizer)-nya payah,” katanya lagi.

Para pelari tentu dalam ingatannya memiliki patok duga (benchmark) dari setiap penyelenggaraan event lari. Tidak terkecuali saya yang pada 7 Juli 2019 mengikuti BNI UI Half Marathon 2019 dan 28 Juli 2019 mengikuti Pocari Sweat Run Bandung 2019. Tetapi aku pikir “kepayahan” panitia ini semoga tidak terjadi pada saat race. Yang ternyata ini hanyalah harapan yang sekadar harapan.

Aku segera menuju masjid untuk salat Subuh. Kulihat antrean di toilet portabel yang benar-benar tidak ada penerangan sama sekali.  Setelah salat Subuh aku segera pergi ke garis start yang sempit. Aku tidak terlambat start seperti waktu di Bandung dulu. Rencananya pukul 05.15 peluit lomba half marathon dibunyikan.

Di garis start sudah berkumpul banyak pelari. Aku tak bisa merangsek ke dekat garis start lebih dekat lagi. Jaraknya tak seberapa jauh. Kurang lebih 30 meteran. Lomba pun dimulai pada pukul 05.21 WIB.

Kali ini aku tak punya target muluk-muluk di tengah batuk yang serangannya sampai ke kepala. Dari rencana lari (training plan)-ku untuk Borobudur Marathon, hari Minggu ini sebenarnya cukup 16 km saja dengan pace 06:30. “Digassss saja,” kata anggota DJP Runners Mas Arif Yulianto.

Wah, memangnya bisa? Kita lihat saja nanti. Apalagi rute lari di Bogor ini gila-gilaan tanjakannya. Aku membayangkan malam tahun baru 31 Desember 2017 saat aku mengikuti Tugu to Tugu 30 K dari Polres Depok sampai Kantor Walikota Bogor. Tanjakan panjang di Jalan Pajajaran dan sisi utara Kebon Raya Bogor itu bikin aku jalan kaki.

Jam segitu saja jalanan Kebun Raya Bogor sudah begitu ramainya. Para pelari hobi sepertiku masih lari-lari dengan santai. Itu juga karena ruas jalan yang sempit sehingga tak bisa leluasa menyalip sana-sini. Dari Jalan Pajajaran, para pelari berbelok ke Jalan Otto Iskandardinata kemudian menyeberang ke Jalan Suryakencana. Mobil distop untuk memberikan kesempatan kepada para pelari menyeberang jalan. Itu pun ditingkahi dengan suara klakson kendaraan yang bersaut-sautan.

Seharusnya dari peta rute lari yang ada, lepas KM-2 terdapat water station, namun saat aku melewati titik itu yang ada hanya tenda kosong saja . Tidak ada air minum yang tersedia. Water station-nya Belum buka. Hanya ada dua orang yang terlihat di belakang tenda, entah sedang melakukan apa. Sejak itu, aku sudah tidak berharap lagi kepada water station.

Di Jalan Suryakencana jalanan menaik panjang lalu menyambung dengan Jalan Siliwangi yang di ujungnya ada check point pertama.

Yang bikin konsentrasi hampir buyar ini adalah masalah klasikku: keinginan berkemih. Bahkan rada-rada menyesal ketika aku baru saja melewati masjid tanpa aku ketahui. Syukurnya ada SPBU di KM-5 Jalan Pajajaran. Tuntas sudah. Sekarang tinggal melanjutkan pelarian ini.

 

800 Meter yang Terpotong

Di KM-6 aku menemui water station pertama. Dengan panitia yang sedikit dan sibuk menuang-nuangkan air minum ke gelas plastik. Kecepatan mereka menyediakan air minum tidak bisa menandingi kecepatan para pelari yang sudah berkerumun menunggu. Sampai di sini, aku tak memiliki ekspektasi tinggi dengan kesigapan panitia. Ya, anggap saja pagi ini latihan long run ramai-ramai.

Dari Jalan Pajajaran, kami menyusuri Jalan Otto Iskandardinata lagi, lalu Jalan Ir. H Juanda di sisi barat Kebun Raya Bogor, kemudian Jalan Jalak Harupat di sisi utara Kebun Raya Bogor, lalu menemui kembali Jalan Pajajaran. Itu sudah di titik KM-10. Aku telah berlari selama 1 jam 4 menit.

Kontur Jalan Pajajaran ke arah utara itu menurun. Enak buat lari kencang sebenarnya, tetapi aku masih menghemat tenaga. Di sisi lain jalan ini para pelari half marathon bercampur dengan para pelari 10K.  Aku melihat mereka terengah-engah dan sampai ada yang jalan kaki. Tanjakannya dahsyat memang. Aku terbayang kembali saat berlari di jalanan ini di malam tahun baru 2018.

Di KM-13 ada check point kedua.  Di sana para pelari putar balik untuk naik lagi. Jalanan menanjak dan kami harus bersaing dengan para pengemudi kendaraan yang tak sabaran dan sepertinya tak menyadari kalau di hari itu ada lomba lari.

Di KM-14 aku menemui kembali water station. Aku mengambil segelas air dan sepotong pisang. Aku melahapnya dengan segera. Tidak kupedulikan lagi lembeknya pisang yang bikin aku muntah kalau aku memakannya dalam keadaan tidak sedang lari.

Para pelari half marathon kembali memasuki area Kebun Raya Bogor melalui gerbang tiga. Garminku sudah menunjukkan KM-15,78. Masih 5 km lagi nih. Dan ternyata di Kebun Raya Bogor ini pun masih ada tanjakan tipis-tipis begitu.

Sekarang para pelari sudah bercampur baur dengan para pelancong yang sedang menikmati kesejukan Kebun Raya Bogor ini. Pemandangan indah Kali Ciliwung yang melintasi Kebun Raya Bogor dari ketinggian tak kugubris. Aku fokus berlari. Sampai-sampai aku tak mengetahui kalau ada teman yang memotretku dari kejauhan.  Aku masih kuat berlari. Pokoknya aku bertekad untuk tidak jalan kaki.

Aku tiba di KM-18. Aku banyak berpapasan dengan para pelari. “Sudah gak usah diterusin. Putar balik saja. Gak ada check point,” kata salah satu dari mereka. Wah, kok bisa yah? Aku tetap melanjutkan lariku. Dan di ujung jalan ada water station lalu kami diharuskan putar balik lagi. Ya benar, tidak ada check point. Tahu bukan kegunaan check point itu? Salah satu gunanya untuk memastikan kalau pelari tidak potong jalan. Lah, ini?

Gambar peta rute lari yang ada di situs webnya berbeda dengan kenyataan yang ada. Di water station itu kami harusnya tak putar balik, tetapi kami membelok ke kiri untuk kemudian melewati jalan yang dekat dengan istana presiden. Dengan tak melewati jalan itu, ada jarak sekitar 800 meter terpotong lebih. Aku pikir jangan-jangan race ini enggak genap 21,1 km nantinya. Kita lihat nanti.

Masih tiga kilometer lagi. Alhamdulillaah kaki masih kuat untuk berlari. Kupikir sudah tiada tanjakan lagi di kilometer tersisa, ternyata di ujung KM-19 jalanan menaik lagi. Aku melihat dua orang pelari 10K memotong jalan. Mereka tidak sampai berlari ke ujung jalan yang ada water station-nya itu.

Masih bisa tersenyum. Ini tidak candid.
Nah, kalau ini candid.

Kegembiraan yang Hikmat

Menjelang garis finis para penamat lari yang sudah duluan tiba memberikan cheer kepada kami yang masih terengah-engah berjuang sampai akhir, “Semangat!!!”

Terdengar menyelusup ke gendang telingaku keriuhan MC di garis finis. Sebentar lagi. Ayo digas. Ya, 200 meter lagi. Kutekan pedal kecepatan. Herannya, berbeda dengan lari-lari sebelumnya yang sudah kepayahan di garis finis seperti di BNI UI Half Marathon 2019 ataupun di Pocari Sweat Run Bandung 2019, aku masih bisa lari kencang menjelang garis finis.

MC menyambut para pelari dengan riang gembira di garis finis walaupun sudah bertugas sedari Subuh nan gulita. Ia menyebut para pelari dengan nama komunitasnya, namun ia bingung mau menyebut apa saat melihatku datang karena tak ada penanda di kaosku dari komunitas lari mana aku berasal. And done!!! Aku melewati garis finis dengan sentosa.

Garminku menunjukkan jarak 20,75 km yang ditempuh dalam waktu 2:17:22 jam. Walaupun sudah dengan pace 6:37 menit/km karena jaraknya enggak genap 21,1 km jadi catatan ini belum bisa menghapus catatan Personal Best (PB) yang ada di jam lariku. PB untuk half marathon di garminku ini mencatat waktu 2:25:29 jam. Biarlah. Bisa finis dengan sehat begini saja adalah hal yang patut disyukuri. Sekarang tinggal Borobudur Marathon race tersisa di tahun ini. Waktunya hanya 2,5 bulan lagi.

Aku berjalan menuju refreshment area untuk mengambil air minum, medali, dan kaos penamat. Spot ini hanya dilayani satu line saja. Antrean kemudian menjadi panjang dan lama karena penyerahan kaos yang tidak lancar. Kaos penamat yang tidak ada tanda ukuran kaos menjadi penyebabnya sehingga banyak pelari yang ragu dan menukar kaosnya. Gerundelan dan emosi bermunculan. Menambah catatan panjang dengan tinta merah buat penyelenggara.

Singkat cerita, setelah merayakan kegembiraan dengan hikmat di garis finis bersama DJP Runners, mi ayam di depan Lembaga Pemasyarakatan Paledang jadi pelengkap keceriaan dengan micinnya yang menyerbukkan sejuta kelezatan. Cukup untuk sejenak melupakan segala keriweuhan sedari Subuh tadi. Sambil mengemukakan satu pertanyaan yang serupa mangga ranum Indramayu di bulan November: “Akankah aku kembali mengikuti Bogor Half Marathon di tahun depan?”

Hmmm

Kami para pelari kategori Master. Masih disuruh lompat juga. Ingat usia yah.
DJP Runners, selfie kita. Terima kasih Mas Andi Rudal.
Ya, aku tahu. Ingin menunjukkan medali kepadaku, kan?
Medalinya bagus.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
28 Agustus 2019
Riweuh = ribet, repot, basa Sunda.

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Lari Bogor Half Marathon 2019: Melupakannya dengan Micin

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.