Cerita Lari MILOJI10K: Seperti Keluar dari Gua Tham Luang


 

Sepagi-paginya saya berangkat dari Citayam ke Jakarta tetap saja waktunya terlalu mepet dengan waktu start. Kali ini untuk mengikuti MILO Jakarta International 10 K pada Minggu 15 Juli 2018 lalu saya tak menginap di ibu kota.

Oleh karena itu saya harus bangun lebih pagi daripada matahari dan berangkat dengan kereta rel listrik paling awal. Jam setengah tiga pagi saya sudah bangun. Dari Stasiun Citayam saya menuju Stasiun Tebet.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Di Sepanjang Pantura



Ada empat hal yang saya lakukan di atas kereta api ekonomi yang saya naiki kali ini. Menekuri aplikasi percakapan, membanting pandangan ke luar jendela, membaca buku, dan tidur. Dua hal pertama sangat mendominasi betul.

Abaikan upaya bercakap-cakap dengan kawan duduk di sebelah seperti yang biasa saya lakukan. Kali ini di samping saya adalah seorang perempuan generasi milenial yang baru naik dari Stasiun Cirebon menuju Jakarta.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari BNI UI Half Marathon: Ini Soal Nafas Panjang


Racepack.

Wajah saya tersungkur di atas seuntai sajadah sembari melamatkan sebentuk doa yang tak kunjung habis menjulang ke langit. Meminta kepada Yang Maha Menatap sebuah kekuatan dan kesehatan agar tubuh yang dititipkan kepada saya menjadi berdaya. Jam sudah menunjukkan wajah  bertaringnya di angka 03.45 pagi.

Saya harus melesat ke Universitas Indonesia (UI) untuk menandak kaki mengikuti lomba lari BNI UI Half Marathon 2017. Ini lomba pertama yang saya ikuti untuk kategori 21 kilometer. Atau musabaqah kedua setelah lari 5 kilometer di Spectaxcular 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Continue reading Cerita Lari BNI UI Half Marathon: Ini Soal Nafas Panjang

SALAH LAGI, SALAH LAGI


SALAH LAGI, SALAH LAGI

 

Hari ini memang aneh. Saya merasa diberikan pelajaran berharga sama Yang Di Atas. Untuk benar-benar ingat pada-Nya dan tak melulu dunia saja. Betapa tidak, Allah takdirkan saya untuk mengalami dua kejadian berturut-turut di pagi dan malamnya. Apa? Salah naik angkutan.

Pagi hari, setelah turun dari Kereta Rel Listrik (KRL) Pakuan Ekspress tujuan Tanah Abang di Stasiun Sudirman, saya seharusnya naik Metromini 640 Tanah Abang-Pasar Minggu. Metromini yang biasa saya naiki untuk sampai di depan kantor.

Di Stasiun Sudirman itu ada tiga bus yang biasa berhenti di sana. Satu Kopaja dan dua metromini M640-M15. Kopaja bisa dilihat dari warna hijaunya yang berbeda. Yang menyarukan memang dua metromini itu. Kalau tidak awas dengan nomor di bagian depan maka kita bisa keliru. Tetapi bagi yang jeli dan sudah terbiasa naik dari sana seharusnya tidak akan keliru.

Tapi pagi itu, saya yang memang mengalami kejadian ini. Dapat SMS dari teman, ingin langsung membalasnya, tetapi tak awas dengan metromini yang saya naiki. Pantas saja sedikit yang ikut dalam metromini itu. Tetapi baru sadar ketika di Semanggi, bus tipe sedang itu tidak belok ke arah kiri tetapi lurus untuk kemudian naik ke atas Semanggi dan menuju ke arah Slipi.

Segera saya berteriak, “Kiri…kiri…Pak!!!” Di atas jembatan Semanggi dan di tengah banyaknya polisi yang berada di pinggir jalanan, metromini itu tidak mau berhenti dengan sempurna untuk menurunkan saya. Setengah meloncat saya turun dan syukurnya masih bisa berdiri tegap di permukaan bumi.

Jam di tangan masih menunjukkan waktu yang lapang untuk bisa sampai di kantor tepat waktu. Dengan tas ransel di punggung dan tas jinjing berisi berkas-berkas di tangan kanan, saya songsong matahari dan memeluknya. Hangat sekali terasa. Lebih kurang 15 menit berjalan menyusuri Semanggi, Komdak, dan Plaza Mandiri akhirnya saya sampai di kantor dengan mengeluarkan banyak keringat. Ada hikmahnya: saya jadi bisa berolahraga. Ini kejadian pertama.

Kejadian berikutnya. Jakarta pukul 17.05. Semanggi macet. Sebelumnya sempat hujan memang. Begitulah Jakarta, hujan sedikit sudah membuat kemacetan. Saya kembali naik Metromini 640 menuju Sudirman. Saya pikir kemacetannya tak seberapa, ternyata tak biasanya hingga membuat saya sampai di Stasiun Sudirman dengan melewati dua jadwal kereta yang menuju Bogor. Yang menyakitkan adalah KRL 17.40 berangkat ketika saya sedang antri tiket.

Ya sudah, saya harus menunggu KRL Bojonggede Ekspress satu jam berikutnya. Sebelumnya saya Sholat maghrib dulu di sana. Lalu menuju Peron 1 untuk menanti KRL Bojonggede Ekspress. Saya sengaja ke Peron 1 untuk naik kereta yang menuju Tanah Abang dulu agar bisa duduk. Stasiun Sudirman memang terdiri dari dua peron. Peron 1 adalah untuk jalur kereta dari Manggarai menuju Tanah Abang, sedangkan Peron 2 sebaliknya.

Ketika ada pengumuman bahwa KRL Bojonggede Ekspress akan segera tiba dari Manggarai untuk menuju Tanah Abang terlebih dahulu, segera saya bersiap. Dan ketika pintunya berhenti tepat di depan hidung saya, segera saya meloncat ke dalamnya. Dan syukurnya saya dapat tempat duduk. Tidak panjang lebar saya kemudian buka ipod dan buku. Sesekali—atau berulang kali—balas sms teman.

KRL kemudian menuju Stasiun Tanah Abang dan berhenti sekitar 4 menit untuk kembali ke Stasiun Sudirman dan stasiun berikutnya. Seluruh pengumuman yang keluar dari pengeras suara dengan desibel tinggi tentang kereta yang saya naiki ini tidak mampu merubah persepsi saya bahwa KRL ini adalah benar KRL Bojonggede Ekspress. Sedikitnya orang yang naik dan tampangnya yang tidak familiar pun tidak merubah persepsi saya juga.

Barulah saya menyadari kalau saya salah naik KRL ketika KRL ini berhenti di stasiun yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. “Stasiun Klender…” kata penumpang sebelah saya kepada temannya. Saya tersentak dan alarm pertahanan diri mulai menyala.

Saya bertanya, “Bu, ini ke Bogor kan Bu?”

“Bukan, ini yang ke Bekasi,” jawabnya. Saya langsung tepuk jidat betulan. Geleng-geleng kepala. Kok bisa-bisanya saya sampai tertukar KRL. Dan ini sudah menjadi takdir saya kali yah, ketika saya sodorkan tiket kepada petugas dengan posisi terlipat dan tertutup, tiket ke Bogor itu tidak dibuka sama petugas dan langsung dilubangi begitu saja.

Saya pun turun di Stasiun Kranji kurang lebih setengah delapan malam. Segera ke loket untuk membeli tiket KRL Ekonomi AC menuju Stasiun Kota yang sebentar lagi akan tiba. Tak sampai tiga menit kereta itu datang. Saya masuk ke dalamnya. Dan banyak bangku yang kosong melompong. Sedikit sekali penumpangnya.

KRL melewati Stasiun Jatinegara, Pasar Senen, lalu berakhir di Stasiun Kota tepat pukul 20.05. Menuju loket lagi untuk membeli tiket. Ada dua pilihan jadwal yaitu KRL Ekonomi yang terakhir pukul 20.45 atau KRL Pakuan Ekspress jam sembilan malam. Saya pilih yang pertama. Waktu setengah jam lebih jelang keberangkatan, saya gunakan untuk menuliskan cerita ini. Dengan menggunakan laptop tentunya.

Kemudian KRL Ekonomi dari Bogor tiba di Peron 12, segera saya naik ke dalamnya. Kondisi penuh karena sudah diisi penumpang dari stasiun sebelumnya. Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan untuk menyelipkan tubuh di kursi yang tersisa satu di deretan itu.

Kini alarm sudah saya siapkan agar tidak terjadi keteledoran lagi. Apa coba keteledoran yang kemungkinan akan terjadi? Kebablasan sampai Stasiun Bogor, karena stasiun terakhir saya adalah Stasiun Citayam—puluhan kilometer sebelum kota Bogor. Makanya saya tidak tidur. Walau kantuk dan capai mendera. Tidak ada aktivitas yang bisa saya lakukan kecuali mengutak-atik hp. Membaca buku jelas tak mungkin karena temaramnya lampu kereta kelas ekonomi ini. Terima saja nasib ini.

Lebih dari 45 menit perjalanan menuju Stasiun Citayam. Pada akhirnya sampai rumah jam sepuluh malam. Lima jam perjalanan hanya untuk pulang. Rumah sudah sepi. Di ruang tamu saya menyudutkan diri. Mengulang fragmen-fragmen yang berputar seharian ini. Mencoba menandai berapa banyak kelalaian yang telah dibuat. Sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki tak mampu mencukupi.

Sampai pada episode salah naik angkutan di pagi dan malamnya membuat saya terhenyak dan baru teringat kalau saya lalai di hari itu untuk melakukan dua hal. Infak dan baca doa ini: Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnattiba’ah wa arinal baathila baathila war zuqnajtinabah. Ya Allah tunjukilah kepada kami, yang benar itu benar dan dekatkanlah kami padanya, dan tunjukilah kepada kami yang salah itu salah dan jauhkanlah kami dari itu. Bukankah infak mencegah musibah? Pun dengan do’a ini agar tak terjadi salah ambil jurusan. Apalagi salah-salah lainnya.

Sampai di sini, sampai hitung-hitungan ini, salah-salah itu semakin bertumpuk. Dan saya tak mampu untuk menghitungnya.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Selasa 23.14 31 Mei 2011

 

Tags: Kereta Rel Listrik Pakuan Ekspress, krl, pakuan ekspress, tanah abang, metromini, kopaja, 640, 15, stasiun sudirman, stasiun tanah abang, stasiun kranji, stasiun jatinegara, stasiun senen, stasiun kota, pasar minggu, semanggi, slipi,komdak, plaza mandiri, bojonggede ekspress, manggarai, stasiun bogor, stasiun citayam

 

 

    

KAMIS YANG RINGAN


KAMIS YANG RINGAN

 

Malam ini saya hanya ingin menulis apa-apa yang terjadi di hari kamis kemarin. Hari yang ringan sih sebenarnya. Dimulai dengan bangun dini hari, membuka netbook dan menulis sedikit. Saat yang ternyata lebih efektif daripada pulang kantor langsung menulis sampai tengah malam.

Adzan shubuh berkumandang di masjid sebelah, lalu saya pun shalat shubuh. Setelahnya langsung siap-siap menyiapkan alat ‘perang’ untuk pergi ke kantor. Jas hitam jangan dilupa, soalnya hari itu saya sidang.

Setelah cium sana-cium sini di pipi Haqi, Ayyasy, dan Kinan yang masih terlelap tidur, setengah enam lebih sepuluh saya berangkat ke Stasiun Citayam. Sepuluh menit sampai. Lima menit kemudian KRL Pakuan Ekspress Bogor Tanah Abang datang. Masih ada ruang untuk menggelar kursi lipat.

Baca koran yang tadi dibeli sebelum naik? Tidak, saya buka handphone, “cring…!“suara ringtone desingan samurai yang keluar dari sarungnya terdengar. Dua saja yang saya lakukan: buat monolog atau puisi. Membayangkan tempat atau lokasi tertentu atau wajah seseorang yang menginspirasi, konsentrasi sedikit, lalu segera memencet tombol-tombol di keyboard HP. Lima belas menit selesai.

Setelahnya saya buka bukunya Bakdi Soemanto yang judulnya Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya. Tak sampai 15 menit kemudian kereta sudah sampai di Stasiun Sudirman. Eh…pas sampai di sana ketemu teman-teman dari Pontianak dan Samarinda yang mau menuju ke kantor saya juga. Mereka mau ikutan In house training di Gedung Utama DJP Gatot Subroto. Salah satu dari mereka mengajak bareng naik taksi. Tak sampai di situ saja, bahkan sesampainya di kantor saya diajak untuk sarapan bersama. Ya sudah saya ucapkan terima kasih atas semuanya itu. Gratis. ^_^

Tiba di ruangan, saya mempersiapkan berkas sidang hari ini yang hanya satu Pemohon Banding namun dengan 33 berkas. Juga buat laporan sidang hari-hari kemarin. Dan tak lupa untuk mengecek Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Tahun Pajak 2010 yang paling lambat harus dilapor Jum’at. Ternyata banyak yang salah. Saya ketik ulang dan selesai. Lapornya sore saja nanti kalau sudah pulang dari Pengadilan Pajak.

Jam 9 pagi berangkat dengan bus dinas ke Pengadilan Pajak. Pagi ini banyak teman yang ikutan naik bis. Tetapi pulangnya biasanya tak sebanyak berangkatnya karena jadwal akhir sidang tak bisa ditentukan. Bisa lebih awal selesainya atau malah lebih sore.

Setengah jam kemudian sampai di Pengadilan Pajak. Ternyata tim kami mendapat giliran pemeriksaan pertama oleh Majelis Hakim karena Pemohon Bandingnya berada di urutan teratas dalam daftar hadir. Tak sampai 45 menit sidang selesai. Masih ada tiga jam waktu menunggu bus pulang ke basecamp. Eh, saya dipinjamkan atau tepatnya meminjam USB modem. Ya sudah colokin ke netbook yang sengaja saya bawa. Buka email dan lain sebagainya. Kaget juga ada kabar teman yang sakit. Insya Allah sembuh sorenya, doa saya.

Jam 2 siang kami pulang. Cuma bertiga di dalam bus. Jadi berlima dengan supir dan keneknya. Saya memanfaatkan waktu setengah jam ke depan untuk tidur. Terbangun sebentar karena ada dering SMS masuk. Monas, Paspamres Istana Kepresidenan, patung Arjuna Krisna dan kudanya, patung selamat datang di Bunderan HI, Patung Sudirman, dan bapak-bapak Polisi di sepanjang perjalanan benar-benar tidak saya sapa. Saya ngantuk.

Sampai di kantor jam tiga siang. Langsung menuju lantai 24 untuk melapor SPT Orang Pribadi saya. Cuma dua menit dilayani oleh petugas Dropbox Kantor Wilayah DJP Jakarta Selatan. Thanks Bro…

Selanjutnya shalat ashar di masjid bawah. Setelah itu tidak ada lagi yang harus dikerjakan selain mempersiapkan berkas-berkas untuk besok hari. Kami akan kembali ke Pengadilan Pajak untuk melakukan uji bukti kebenaran materi dengan Pemohon Banding.

Tepat jam lima sore saya pulang. Saya dan ketiga teman bersepakat untuk naik taksi ke Stasiun Sudirman. Mengejar KRL pukul 17. 21 atau 17.40. Sampai di sana, KRL yang berangkat 17.21 sudah berada di Stasiun Tanah Abang. Nah, yang pukul 17.40 masih di Citayam. Wadaww…terpaksa deh saya ikutan KRL jadwal 17.21 yang penuh sesak itu.

Tapi tak apalah daripada kemalaman, ternyata memang betul ada masalah persinyalan di antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Cawang yang harus dilayani secara manual sehingga banyak KRL yang alami keterlambatan. Tetapi di KRL yang saya naiki saya masih dapat buka kursi lipat.

KRL 17.21 tidak berhenti di Stasiun Citayam sehingga saya harus turun di Stasiun Bojonggede setelah Stasiun Citayam atau turun di Stasiun Depok Lama sebelum Stasiun Citayam. Saya pilih yang terakhir.

Sampai di Stasiun Depok Lama saya menunggu sekitar 10 menitan. Yang datang terlebih dahulu adalah KRL Ekonomi. Saya naik KRL itu. Tidak di dalam gerbongnya yang sumpek itu. Tidak juga di atas atap kereta yang rawan kena strum tegangan tinggi. Tidak juga di samping kereta seperti Spiderman. Tidak juga di bawah kereta, emang saya baut? Tetapi saya naik di kabin masinis di persambungan gerbong 4 dan 5.

Tumben tuh kabin terang benderang. Biasanya lampunya mati, gelap kayak kuburan. Ini tidak. Dan tidak penuh juga. Saya masuk ke dalamnya. Cuma satu menit berhenti, kereta sudah mulai berangkat lagi.

Saya berada di dekat pintu dan bisa melihat keindahan suasana maghrib yang mulai gelap. Lampu-lampu neon yang berlarian ke belakang. Semburatnya mengular ke depan. Roda-roda kendaraan yang beradu dengan aspal jalanan terlihat jelas di depan mata saya. Rima goyangan kereta. Ini membuat saya merenung tentang apa yang terjadi belakangan ini.

Hmmmf….helaan nafas panjang berkali-kali dilakukan. Sebulan penuh tanpa henti kata-kata itu keluar dari hulunya. Lima menit saya kontemplasi dengan pandangan kosong keluar pintu kereta. Mengesankan sekali. Tapi Stasiun Citayam sudah di depan mata, gerak kereta sudah mulai pelan. Sudah saatnya mengakhiri perenungan sebentar itu. Masih ada hari esok. Jum’at dan hari-hari selanjutnya.

Senin hingga rabu saya dipanggil diklat menulis lagi. Jadi tidak ke kantor selama tiga hari itu. Omong-omong, hari Kamis ini, hari yang ringan, hari yang tenang untuk mengingat, walau ada sahabat dengan sakit yang menderanya. Cepat sembuh yah…

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

rumah tenang

dibuat sampai 04.54 25 Februari 2011

 

 

 

 

 

tags: Pengadilan Pajak, Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Tahun Pajak 2010, SPT, Sapardi Djoko Damono, bakdi soemanto, DJP, dirktorat jenderal pajak, in house training, iht, krl pakuan ekspress, bogor, tanah abang, stasiun bojonggede, stasiun citayam, stasiun depok lama, krl

 

SECENTIL PROFIL DAN SESANGAR JANGKAR


SECENTIL PROFIL DAN SESANGAR JANGKAR

Saya baru saja mendudukkan diri pada bangku besi depan loket Stasiun Citayam saat HP made in China itu rada-rada bergetar. Tanda pesan pendek masuk. Perasaan saya HP itu bergetar, karena senyatanya saya tak tahu apakah HP itu bergetar atau tidak. Baik dalam profil biasa ataupun rapat, HP itu benar-benar tak bisa bunyi ataupun goyang seperti penyanyi dangdut.

Selain tombolnya juga sudah banyak yang koit dan beaksesoriskan gelang karet untuk menahan casing belakangnya tidak copot. Tak mengapalah yang penting masih bisa dipakai. Walaupun ini sering membuat jengkel para kolega saat mengontak saya karena jarang diangkat. Ya, bagaimana akan diangkat kalau saya tidak tahu ada tanda-tanda sinyal masuk.

Ngomong-ngomong ini bicara masalah HP atau bicara apa? Ya sudahlah kita tinggalkan dulu barang buatan China yang anak SD juga sudah pada tahu kualitasnya seberapa. Kembali pada pesan pendek itu. Ini dari teman. Ngapain juga petang-petang begini dia kirim sms terkecuali pesan penting tentunya.

“Barokallah…Anda pindah jadi Penelaah Keberatan di Direktorat Keberatan dan Banding.”

Kali ini saya tidak begitu emosional. Kali ini biasa-biasa saja. Kali ini memang sering banjir. Nah loh apa hubungannya kali (sungai) dengan banjir? … Enggak, sebenarnya ini dikarenakan saya sudah siap mental untuk ditempatkan di mana saja. Jadi Account Representative di kantor pajak lain—berkasta apapun, pratama, madya, khusus, LTO—ataupun jadi pelaksana lagi, sekarang saya siap-siap saja.

Mental ini sudah saya siapkan sejak saya mendawamkan doa-doa yang pernah saya tulis di tulisan saya terdahulu (baca do’a mutasi). Apalagi pada saat bulan ramadhan, doa itu saya panjatkan betul. Agar Yang Diatas Sana memberikan keberkahan di mana pun saya berada. Dan saya yakin betul apapun yang diberikan Allah adalah tempat yang terbaik buat saya.

Keyakinan itu mewujud. Dan saya harap ini adalah berkah ramadhan. Ya, mulai mewujud, saat siang ini saya tiba di kantor baru untuk melapor. Ternyata keluar dari lift, ujug-ujug, tak jauh dengan sepelemparan batu, masjid bagus itu tampak di depan mata. Dekat banget. Hal yang patut disyukuri seperti syukurnya kita saat bangun tidur ternyata kita masih bisa bernafas. Itu pertama.

Kedua, masalah transportasi. Syukurnya masih bisa dijangkau dengan kereta rel listrik yang Oktober ini tarifnya mulai naik—alasannya biasa karena TDL naik. Bisa dari stasiun Gondangdia ataupun dari Stasiun Sudirman. Kalau dari stasiun pertama maka kudu mencari tandeman agar bisa mengirit ongkos naik taksi ke Kantor Pusat. Yang kedua lebih irit, cuma dengan selembaran uang dua ribuan.

Ohya bicara masalah lift, naik lift itu ternyata enak juga yah…Maklum sudah dari tahun 2004 saya mencoba tidak naik lift untuk menuju ruangan saya. Saya selalu naik tangga. Alhamdulillah bisa komitmen. Saya niatkan untuk olahraga memang. Walaupun cuma empat lantai. Efeknya bisa sekaligus hapal berapa jumlah anak tangga kantor dari lantai 1 sampai lantai 4.

Sekarang di kantor baru, ruangan saya berada di lantai 18. Pfhffff…kalau naik tangga kayaknya gempor juga. Akan saya coba dulu sekali-kali naik tangga 18 lantai. Gimana rasanya yah? Ada berapa anak tangga? Silakan, sekarang ini Anda bisa memiringkan jari telunjuk Anda di jidat Anda melihat saya.

Setelah pesan pendek pertama, lalu disusul yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Selanjutnya ada yang menelepon saya. Terimakasih kepada semuanya yang telah memberikan selamat dan mengingatkan amanah baru yang akan saya emban.

Terus terang saja ini adalah pekerjaan baru yang dari dulu memang saya tidak inginkan. Penelaah Keberatan gitu loh…Selalu dikejar deadline dan tekanan. Tapi lagi-lagi saat ini saya begitu lega dan legowo menerima semuanya. Sudah saya bilang di awal kalau saya siap di mana pun. Tidak masalah. Saya songsong dengan senang hati. Ini tantangan baru bagi saya bekerja di tempat Gayus dulu pernah bekerja. Ini awal yang baru.

Pekerjaan yang belum familiar? Ya… tinggal belajar saja. Dan kalau masalah belajar, saya jadi teringat perkataan Maryamah binti Zamzami dalam Cinta di Dalam Gelas, “Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar.” Tak ada yang bisa melawan kekuatan belajar, hatta sebuah ketidakmungkinan.

Well, setelah hampir 13 tahun lamanya di Kalibata, saatnya saya meninggalkannya. Meninggalkan speaker kantor untuk do’a di setiap pagi. Meninggalkan bau apek karpet masjid yang sering dijadikan tempat tidur siang. Meninggalkan bebek-bebek sedap Broer setiap selasa dan jum’atnya. Meninggalkan teduh dan rimbunnya pepohonan. Meninggalkan profil yang centil dan jangkarnya yang sangar itu… secentil dan sesangar itukah? J

Tentu dengan banyak memori yang melekat di otak. Selasa pekan depan adalah yang terakhir berada di sana. Insya Allah…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22.00 23 September 2010

saat malam menjerat dingin dengan kesunyiannya

 

thanks to: yayat, mbak dewi wiwik, mbak listya, mbak titi sugiarti, bu mona junita nasution, masker, dedi murahman, mas ervan, mas suyanto, mbak eldes, mbak dewi damayanti, semua penghuni terakhir pk2 kpp pma empat, pk1-nya juga, pk3-nya juga, pk4-nya juga, pak setiyono, atik faizah…dan teman-teman yang telah berkirim kata via facebook, email, gtalk, partychapp yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namun tapa mengurangi rasa hormat saya. Semoga Allah memberikan yang terbaik kepada Anda semua.

07.25.33


07.25.33

Pagi ini memang berat buat saya. Hampir-hampir terlambat mengejar kereta dan masuk kantor. Saat kami harus berangkat pukul 05.58 WIB dari rumah ternyata setelah tiga ratus meter motor terasa tidak bisa dikendalikan. Setelah dicek ban depan kemps. Saya putuskan untuk balik lagi ke rumah. Syukurnya ada tukang ojek lewat, jadi istri bisa naik duluan ke stasiun Citayam.

Setelah saya memasukkan motor ke dalam rumah dengan banyak tanda tanya dari seluruh anggota keluarga mengapa bisa sampai balik lagi, saya panggil ojek untuk segera ngebut. Alhamdulillah kereta Ekspress Bojonggede belum datang. Di depan lobi stasiun sudah berdiri istri saya sambil memegang dua tiket dengan wajah sedikit cemas.

Tak lama Kereta Rel Listrik (KRL) datang. Terlihat tak seperti biasanya pagi ini sudah padat banget. Eh…ternyata KRL yang biasanya berjalan langsung di Stasiun Depok Lama, berhenti juga untuk mengambil penumpang. Alhasil pasti akan berjubel kalau sudah berhenti di Stasiun Pondok Cina dan Universitas Indonesia.

Tepat sekali, di dua stasiun itu banyak penumpang yang naik. Mereka yang biasanya duduk di bawah dengan kursi lipat terpaksa harus berdiri untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang naik belakangan. Sudah diketahui bersama memang, kalau yang duduk-duduk itu memakan banyak ruang.

Lama perjalanan ke Stasiun Manggarai—stasiun tempat saya turun untuk kembali ke Stasiun Kalibata- tidak dirasakan karena saya asyik ngobrol dengan tetangga satu RW di komplek saya.

KRL sempat berhenti lama ketika mau masuk Stasiun Manggarai. Dan sayangnya ketika sampai di sana KRL yang biasa saya naikin untuk kembali ke Kalibata sudah berangkat. Jadinya saya harus menunggu lama KRL berikutnya. Masalahnya sampai pukul tujuh lebih delapan menit KRL itu tidak nampak tanda-tanda kehadirannya.

Saya segera putuskan untuk segera pergi ke Pintu Selatan Stasiun Manggarai untuk mencari tukang ojek. Eh, ternyata yang ada Tukang Ojek Tua yang pernah membawa saya ke kantor. Saya sudah was-was kalau dia lagi yang jadi tukang ojeknya, saya bakalan terlambat. Eh, dia juga nyadar ketika saya ajak ngebut dia tidak bisa. Dia menyarankan untuk menunggu tukang ojek yang lebih muda dari dirinya. Waduh…ini sudah pukul 07.11 WIB.

Tiba-tiba, terdengar dari pengeras suara stasiun bahwa sebentar lagi KRL Ekonomi dari Tanah Abang menuju Depok akan segera sampai. Saya pun kembali ke peron enam dengan setengah berlari. Waktu tinggal 13 menit lagi ketika KRL berangkat dari Stasiun Manggarai. Masih ada dua stasiun lagi, Tebet dan Cawang. Saya sudah kirim-kirim SMS ke istri, wah kayaknya terlambat nih. Dia tidak membalas.

Sempat terlintas dalam benak. Jangan menyerah jika belum sampai finis. Saya cuma berikhtiar dengan memperbanyak shalawat. Hasil saya serahkan pada Allah. Kalau Allah berkehendak saya telat, maka seberapapun kuatnya usaha saya untuk tidak telat tetap akan telat juga. Begitu pula sebaliknya. Kalau Allah berkendak agar saya tidak telat dan dapat mempertahankan rekor tujuh bulan tidak pernah telat maka saya tidak akan telat juga.

Sampai di Stasiun Kalibata masih kurang enam menit lagi menurut ukuran jam HP saya. Saya pun berjalan cepat menuju kantor. Pyuh…ternyata jam menurut finger print masih kurang lima menit lagi. 07.25.33 adalah saat saya meletakkan jari saya di mesin itu. Alhamdulillah, pagi ini saya tidak telat. Rekor tidak pernah terlambat di tahun 2010 masih bisa dipertahankan. Sampai kapan? Insya Allah sampai akhir tahun ini. J

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:03 26 Juli 2010