Cerita Lari Pocari Sweat Run Bandung 2019: Kuntilanak Kesiangan


Di tengah kepedihan yang kaubuat, aku memilih tersenyum dan melanjutkan perjalanan menuju manzil. Menyusuri Jalan Braga.

Menjadi orang yang tertinggal di belakang itu tidak enak. Seperti kuceritakan kepadamu pada kisah yang lalu, aku tertinggal start 5 menit 23 detik dari gun time di Pocari Sweat Run Bandung (PSRB) 2019.

Rombongan besar para pelari jauh di depan. Aku menyusul satu per satu para pelari yang berlari sendirian. Sudah kuduga pace-nya melonjak jadi 6:00 menit/km di KM-1. Aku terlalu cepat berlari.

Baca Lebih Lanjut

Cerita Lari: Kejadian Lagi, Digerebek Belasan Anjing


Sebuah tempat dan waktu.

Angin berembus kencang di Gunung Geulis bakda Subuh ini. Tetapi tidak menyurutkanku untuk segera memulai lari pagi. Sudah ada target 13 km di depan. Rutenya sudah kupatok: memutari lapangan golf. Seumur-umur belum pernah ke lapangan golf.

Ada tiga hari latihan lari yang mesti kuselesaikan pada pekan ini. Hari Jumat (19/7) ini adalah hari kedua setelah kemarin saya menuntaskan 13 km yang pertama. Total ada 39 km untuk pekan ini.

Baca Lebih Lanjut

Cerita Lari Mandiri Jogja Maraton 2018 (Terakhir): Inong, Apakah Aku Anak Ikan?


Di suatu pagi.

“Inong, apakah aku memang anak ikan?” tanya anak lelakiku itu. Air mata membiak di pipinya.

“Kata siapa?”

“Kata Among.”

“Kenapa Among berkata seperti itu? Ada apa?” tanyaku mendesak. Aku cemas. Ada yang tak beres hari ini dan untuk hari-hari berikutnya.

“Aku bawa nasi dan lauk yang Inong suruh tadi ke ladang. Tapi aku lapar. Aku makan sebagiannya di tengah jalan.” Tubuhnya gempa. Ia masih menahan isak yang semakin menariknya ke bumi. “Lalu setelah makan aku ke ladang. Di sana, Among murka melihat makanannya sudah tinggal sedikit. Lalu bilang kalau aku anak yang kurang ajar, karena aku keturunan ikan.”

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (3): Menghilang di Rerimbunan Kembang Kenikir


Mandi di sendangmu (Foto milik sendiri).

Asyik. Aku tiba juga di Water Station (WS) kilometer (KM)-26. Di sana ada Fruit Station. Yang jelas ada pisang. Aku mengambil pisau yang ada di meja lalu memotong potongan pisang yang sudah kecil kemudian menyantapnya. Aku menikmati potongan itu tanpa ada keinginan untuk muntah.

Air yang keluar dari Water sprinkler memancur deras. Aku sekalian mandi. Segar rasanya disiram butiran air. Ini Svarloka. Tempat sungai mengalir dan buah-buahan tumbuh. Sudah cukup. Jalan saja.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (2): Melangit Menuju Svarloka


Tampak Belakang

Prambanan masih gulita saat aku dan Mas Hafidz berada tak jauh di belakang garis start yang sudah dipenuhi para pelari. Sebagian besar dari mereka memakai kaos komunitas larinya.

Beberapa dari mereka ada yang memakai balon yang diikatkan di kaosnya. Mereka para pacer yang akan memandu kecepatan berlari sampai tiba di garis finis dengan beberapa kategori waktu.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (1): Aku Membutuhkanmu



Foto di depan monitor BIB. (Foto milik Mas Afif)

Preambule

Ria Dewi Ambarwati, nama yang perlu kututurkan pertama kali dalam cerita lariku ini. Ia yang melepaskan kepergianku untuk pergi ke Yogyakarta. Untuk berlari menyelesaikan Full Marathon pertamaku di Mandiri Jogja Marathon 2018, Ahad, 15 April 2018 ini.

Sabtu siang itu (14/4), istriku hanya senyum sambil melet ketika kuberi kiss bye di atas motor abang ojek daring yang akan mengantarkanku ke Stasiun Citayam. Baiklah. “Doamu kubutuhkan buat mengkhatamkan pekerjaan gila ini,” kataku dalam hati.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita-cerita Kecil: Guru Gendeng dan Pekuburan yang Sepi


Guru Freeletics
Jumat, 19 Januari 2018

Dalam dunia persilatan ada banyak orang ingin menjadi murid dari ahli silat yang gendeng itu. Tetapi saking gendengnya, dia tidak mau menerima murid untuk meneruskan kesaktiannya yang digdaya.

Ia bersikap begitu karena kebanyakan mereka yang ingin menjadi muridnya itu cuma menang di awal saja, tetapi lemah di tekad dan tak punya nafas panjang. Belajar dari pengalaman masa lalunya maka ahli silat gendeng itu mencoba untuk sangat selektif menerima murid.

Baca Lebih Lanjut.