Perempuan itu dan Sebuah Dojo



Di pagi yang bising dan buru-buru. Di hari ketiga Ramadan. Di hari pertama berkantor buat para pekerja. Dalam commuter line yang menghimpit sesak. Suara dari pelantang yang berusaha memecahkan gendang telinga menyerantakan kepada penumpang yang akan turun di stasiun berikutnya bahwa perhentian di hadapan adalah Stasiun Cawang. Saat itu kereta listrik ini baru saja berangkat dari Stasiun Duren Kalibata.

Bergegas saya menggeser maju ke arah pintu. Beranjak dari lapis kelima untuk menuju lapis-lapis terdepan, bahkan kalau bisa lapis pertama. Tak mudah melalui lapis-lapis itu. Butuh upaya mengempiskan jasad dan tenaga lebih agar bisa menggeserkan tubuh dan melewati rintangan badan yang kebanyakan lelaki ini. Sambil tak henti-hentinya keluar kata maaf dan permisi dari mulut. Sembari berharap Ramadan sanggup melembutkan hati orang yang berpuasa agar tak keluar kesah atau cacian karena desakan tubuh saya yang barangkali menyakitkan dan mengganggu kenyamanan mereka.

Continue reading Perempuan itu dan Sebuah Dojo

Advertisements

Kamar Dua Anak Itu


KAMAR DUA ANAK ITU

 

Perjalanan setengah jam lamanya berjalan kaki dari Stasiun Cawang ke tempat Diklat Menulis tepatnya di Gedung Pusdiklat Keuangan Umum itu membuat saya berkeringat tapi tetap harum. J Saya tidak langsung menuju ke kelas, tetapi mampir dulu ke Warung Tegal (warteg) yang berada di luar gedung. Makan pagi dan setelah selesai langsung buka laptop.

Untuk browsing begitu? Tidaklah. Saya harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan kemarin oleh Sang Tutor. Tadi malam saya tak sempat untuk mengerjakannya. Ada “pekerjaan” yang harus saya selesaikan—dan itu lebih penting—ditambah dengan kantuk yang luar biasa.

PR-nya adalah mendeskripsikan kamar. Soal ini saya sudah pernah mendapatkannya waktu di Forum Lingkar Pena (FLP) Depok tahun 2007. Untuk ini saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman FLP Depok.

Pendeskripsian yang bagus, kata sang Tutor, adalah ketika pendeskripsian kita itu benar-benar tampak nyata di depan orang lain dan dipahami betul tanpa orang lain itu turut serta melihat objek yang dideskripsikan. Jadi dengan membaca pendeskripsian kita itu dia sudah merasa cukup. Nah, kalau belum, berarti pendeksripsiannya gagal.

Deskripsi itu harus punya detil, punya dominan impresi serta menuliskannya berdasarkan urutan ruang. Nah, Sang Tutor juga ingin dalam deskripsi itu ada gambaran yang berdasarkan penglihatan kita, lalu menambahkan suara di dalamnya, lalu ada detil aroma, dan sentuhan serta detil pengecapan.

Ya sudah, di warteg itu, saya tulis berdasarkan apa yang saya ingat tentang sebuah kamar yang ada di rumah. Silakan untuk dinikmati. Apakah Anda sudah merasakan dan mengetahui dengan baik penggambaran kamar ini tanpa perlu jauh-jauh datang ke Citayam? Dan perlu diketahui saja dominan impresi deskripsi ini adalah BIRU. Nah loh…

Rasakan saja. Semoga bisa dinikmati dan dipelajari buat yang lain. Maaf ini sebisanya saya saja, cuma 4 paragraf, dan waktunya pun mepet. ^_^

DESKRIPSI KAMAR

 

Ruangan kamar itu berukuran 3×3 meter. Dengan cat warna biru yang teramat dominan. Sebuah springbed bersusun teronggok begitu tepat di depan pintu namun tidak menghalangi. Dengan coverbed bertemakan tokoh kartun ternama di dunia—lagi—berwarna biru. Di sudut kiri ruangan di seberang pintu memojok sebuah lemari plastik berukuran tinggi 2 meter dengan warna yang sama menghadap ke timur. Aduhai biru nian terasa.

Di depan lemari, tak jauh darinya, sebuah meja menyudut di sisi lainnya. Meja itu terlihat bersih tanpa ada setitik debu karena selalu dibersihkan setiap harinya. Di atas meja itu terpasang seperangkat komputer lengkap dengan kabel telepon dan kabel internet. Kabel yang membuatnya tidak pernah kesepian. Di dunia yang maya itu ia punya banyak teman yang bisa diajak ngobrol untuk mengurangi rasa sepinya.

Ya, ruangan itu terasa sepi, apalagi kalau sudah tengah malam. Suara jangkrik sajalah yang terdengar diselingi dengan suara kucing jantan yang sedang birahi. Setelah itu desibel hanya menunjukkan angka rata-rata seperti di kuburan. Tapi di sini tidak ada wangi kemenyan dan bunga kamboja yang ada malah bau cat yang menyengat tapi harum sekali. Ruangan ini baru direnovasi total setelah kebakaran di tahun lalu.

Sekarang kamar ini terlihat indah dengan lantai keramik berukuran 40×40 cm dan plafon gipsum warna putih yang kontras dengan warna dominan. Warna putih itu seakan penetralisir dari warna-warna mayoritas. Biru di dinding kamar dan hijau muda pada pintu, serta coklat tua pada sisi-sisi kayu jendela kamar dan pintu. Semua ini saya persembahkan untuk anak-anak saya, Haqi dan Ayyasy. Selamat tidur nyenyak, Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sudut warteg pancoran tanpa ada wifi

07.51 02 Maret 2011