Berlari di Malam Jumat Kliwon


Sudah engap. Jalanan gelap. Malam Jumat Kliwon.

Genap satu minggu, tidak lebih, kami Tim DJP Kuat menyelesaikan lari sejauh 375 km. BC Runners berkolaborasi dengan ASNation menyelenggarakan lari virtual dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia. Kegiatan ini khusus untuk amtenar.

Pandemi Covid-19 membuat banyak lomba lari dibatalkan sejak Maret 2020. Untuk tetap menjaga protokol kesehatan penyelenggara kegiatan lari mengganti formatnya menjadi virtual. Peserta lomba tidak berkumpul di satu tempat dan cukup lari di lokasinya masing-masing.

Event ini pun demikian. Pesertanya bukan individual, tetapi grup. Satu grup terdiri dari lima orang, terdiri dari satu perempuan dan empat laki-laki.

Setiap grup harus menyelesaikan lari dengan total jarak 375 km dalam waktu 14 hari sejak 1 sampai dengan 14 Agustus 2020. Jadi masing-masing anggota grup mendapat jatah lari 75 km. Grup yang paling cepat menyelesaikan larinya maka merekalah yang juara. Kalau ada banyak grup yang berhasil finis di hari yang sama akan dilihat siapa yang paling cepat menyelesaikan jarak 375 km itu.

Awalnya saya tak mau ikut karena masih fokus pada latihan Freeletics. Intensitas lari saya berkurang sejak pandemi ini. Seminggu sekali atau bahkan tak jarang lebih dari sepuluh hari saya baru lari. Itu saja. Tiba-tiba saya kemudian sudah masuk jadi anggota tim yang dibentuk oleh teman-teman DJP Runners.

Tim ini bernama DJP Kuat. Rata-rata berumur di atas 44 tahunan. Tim ini terdiri dari:

Riza Almanfaluthi
Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat
Kepala Seksi Pengelolaan Situs

Hidayat Al Ahsan
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) PMA4
Account Representative

Rice Wandansari
KPP Pratama Jakarta Setiabudi Empat
Kepala Subagian Umum dan Kepatuhan Internal

Dhani Restyo (Kapten/Ketua)
KPP PMA 4
Fungsional Pemeriksa

Bambang Tejo
KPP PMA 4
Supervisor Pemeriksa

Dhani Restyo didapuk jadi ketua karena masih muda dan kuat. Grup kami tidak punya target apapun kecuali bisa menyelesaikan 375 km itu.

Kalau sudah ditunjuk begini mau tidak mau saya harus lari. Dalam benak saya, kegiatan ini jadi momen untuk rajin lari. Saya punya bayangan, saya cukup berlari sejauh 5 km setiap harinya. Jadi enak dan tidak ngoyo. Bayangan saya salah, hilang sebentar saja serupa senja di pinggir Pantai Cemara, Tapaktuan, Aceh Selatan.

 

Hari Pertama, Sabtu, 01 Agustus 2020

Lari itu enaknya di pagi hari. Hawa segar, oksigen banyak, dan adem. Tetapi saya tak memiliki kemewahan itu. Saya masih harus mempersiapkan bahan mengajar pada pukul 07.30. Jadi di hari pertama itu saya akan lari di sore hari.

Di grup Whatsapp sudah tampak teman-teman yang mulai melaporkan hasil larinya sepanjang pagi. Bahkan sampai belasan dan puluhan kilometer. Bahkan teman satu grup pun demikian. Aduh, kayaknya saya enggak bisa nih cuma 5 km sehari. Takutnya nanti membebani teman-teman satu grup karena jarak yang tak maksimal diselesaikan.

Saya terakhir lari pada 21 Juli 2020. Sepuluh hari saya tak lari. Baik, saya lakoni saja peran ini. Saya akan menikmati pelarian sore ini. Ya, benar. Satu kilometer pertama pace saya hanya 7:45 menit/km. Kemudian merosot memasuki KM-5, jadi 8:07 menit/km dan lebih buruk lagi di km berikutnya. Saya benar-benar merasakan beratnya. Di KM-9 bahkan menjadi pace terburuk saya di 9:30 menit/km.

Ingat, pace adalah satuan lari yang mengisyaratkan jumlah menit yang diperlukan untuk menempuh 1 km.

Saya merasakan lemah dan lapar sampai kemudian saya berhenti di KM-11. Ini saja butuh waktu 1 jam 34 menitan. Lalu saya jalan kaki. Merasa kehausan juga. Saya enggak bawa duit lagi. Sesuatu yang disesali. Nanti kalau lari lagi saya akan bawa duit buat beli minuman.

Rumah sudah dekat. Saya memaksakan diri untuk lari, sayang kalau enggak lari. Akhirnya saya bisa lari dengan terseok-seok sejauh 1 km sampai depan rumah. Hari pertama ini saya bisa menyelesaikan jarak lari sepanjang 12 km. Alhamdulillah.

Garmin saya menunjukkan angka 12 km, tetapi aplikasi Strava di telepon genggam hanya mencatat 11,95 km. Angkanya lebih sedikit. Terpotong 50 meteran. Saya berkesimpulan, kalau saya lari memakai jam tangan Garmin saya harus menambahkan jarak 100 meter. Misal saya mau berlari 5 km, maka saya harus minimal lari 5,1 km. Supaya angka di Strava-nya mencukupi.

Hari pertama ini saya mendapatkan banyak pelajaran. Saya harus cukup waktu tidur, makan yang banyak untuk menjaga asupan energi, dan bawa hepeng.

Hari pertama, tim kami sudah mengakumulasi 45,75 km dengan rincian:

  1. Riza Almanfaluthi: 11,95 km
  2. Hidayat Al Ahsan 6,13 km
  3. Rice Wandansari: 10 km
  4. Dhani Restyo: 10,65 km
  5. Bambang Tejo: 7,02 km

 

Hari Kedua, Ahad, 2 Agustus 2020

Hari Ahad selalu menjadi hari lari internasional. Saya yakin kalau banyak peserta lari virtual yang akan mengumpulkan jarak di hari Ahad ini. Buat mereka yang sedang work from home ataupun work from office memang tidak mudah mengatur jadwal larinya di hari kerja besok.

Pagi itu saya lari pagi sehabis salat Subuh, bawa uang, dan berhasil menyelesaikan jarak 11,09 km tanpa berhenti dan tanpa membeli air minum. Nanti sore lanjut lari lagi. Saya butuh makan nasi buat menambah energi.

Pada sore harinya saya masih semangat, saya lari lagi, dan bisa lari sejauh 6,09 km. Prinsip saya begini, pokoknya lari 2 km saja dulu, kalau masih kuat lanjut, kalau enggak ya sudah berhenti saja. Ternyata, biasanya sampai di KM-2 itu masih bugar, akhirnya saya lanjut lari. Tahu-tahu sudah 5 km dan seterusnya.

Hari kedua, tim kami sudah mengakumulasi 74,08 km dengan rincian:

  1. Riza Almanfaluthi: 17,18 km
  2. Hidayat Al Ahsan 10,14 km
  3. Rice Wandansari: 15,74 km
  4. Dhani Restyo: 21 km
  5. Bambang Tejo: 10,02 km

Di hari kedua ini saya sudah berlari sejauh 29,13 km. Tim DJP Kuat sudah mengumpulkan total 119,83 km. Semoga di hari Senin besok saya bisa lari.

 

Hari Ketiga, Senin, 3 Agustus 2020

Semangat lari masih berkobar. Sehabis salat Subuh saya lari, niatnya cuma 2 km saja, eh, ternyata bisa sampai 5 km. Setelah itu berangkat ke kantor.

Sore harinya lanjut lari. Walaupun sudah kesorean banget. Saya mulai lari pada 17.12. Enggak jauh-jauh. Lari di sekitaran Jalan Widya Chandra, di belakang kantor. Saya bisa lari sejauh 6,18 km.

Pelajaran yang bisa diingat di kening dan untuk dikenang adalah tidak ada.

Hari ketiga, tim kami sudah mengakumulasi 40,47 km dengan rincian:

  1. Riza Almanfaluthi: 11,23 km
  2. Hidayat Al Ahsan 12,87 km
  3. Rice Wandansari: 6,08 km
  4. Dhani Restyo: 10,29 km
  5. Bambang Tejo: 0 km

Di hari ketiga ini saya sudah berlari sejauh 40,36 km. Sampai hari ketiga ini saya masih berlari di atas 10 km. Tim DJP Kuat sudah mengumpulkan total 160,3 km.

 

Hari Keempat, Selasa, 4 Agustus 2020

Saya mager. Inginnya terus lari, tetapi tubuh butuh istirahat jadi alasan kuat. Akhirnya di hari keempat itu pencapaian lari saya nihil. Teman-teman yang lain dalam satu grup masih terus lari.

Hari keempat, tim kami sudah mengakumulasi 50,67 km dengan rincian:

  1. Riza Almanfaluthi: 0 km
  2. Hidayat Al Ahsan: 14,39 km
  3. Rice Wandansari: 7,7 km
  4. Dhani Restyo: 15,08
  5. Bambang Tejo: 13,5 km

Mileage saya masih di angka 40,36 km. Tim DJP Kuat sudah berlari sejauh 210,97 km.

Pelajaran yang bisa diambil adalah jangan sia-siakan waktu luangmu karena itu akan membuatmu menyesal. Pepatah nenek moyang itu sudah benar: berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Saya sebaliknya.

 

Hari Kelima, Rabu, 5 Agustus 2020

Hari ini Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat punya gawe besar. Ada acara Lokakarya Kontributor Konten Situs Web Pajak 2020. Tim dari seksi kami yang jadi tuan rumah acara itu. Jadi saya putuskan tidak lari pagi dulu. Acara itu harus disiapkan dengan baik karena akan diikuti lebih dari 1000 pegawai pajak dari unit vertikal di seluruh Indonesia.

Sampai sore acara berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Langsung gaskeun. Setelahnya, saya lari menuju Stadion Gelora Bung Karno, tepatnya di jalanan di luar stadion. Herannya, saya kuat lari sejauh 12,15 itu tanpa henti. Pas azan Magrib saya sudah sampai di depan lobi Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.

Hari kelima, tim kami sudah mengakumulasi 38,27 km. Ini mileage terendah sejak hari pertama kegiatan lari ini. Mas Tejo dan Mas Dayat istirahat lari dulu. Mbak Rice terus konsisten berlari tanpa hari jeda dan Mas Dhani menjadi orang pertama di tim kami yang berhasil finis melampaui 75 km. Great!!!

Rinciannya begini:

  1. Riza Almanfaluthi: 12,15 km
  2. Hidayat Al Ahsan: 0 km
  3. Rice Wandansari: 7,94 km
  4. Dhani Restyo: 18,18 km
  5. Bambang Tejo: 0 km

Sampai hari kelima ini saya sudah berlari sejauh 52,51 km. Tim DJP Kuat sudah berlari sejauh 249,24 km.

 

Hari Keenam, Kamis, 6 Agustus 2020

Setelah sore kemarinnya saya lari jauh, hari ini lagi-lagi malas mendera. Jadinya pagi itu saya tidak lari. Sore juga tidak lari. Padahal pakaian lari sudah saya bawa dari rumah. Sore itu saya putuskan pulang ke rumah saja.

Setelah melaju naik motor selama 1 jam 30 menit, saya sampai di rumah. Di sana saya mulai tergerak untuk lari minimal 1 atau 2 km saja. Akhirnya ya, saya tekadkan untuk lari selepas salat Isya. Penting sekali membuang rasa bersalah kepadamu ini karena malas ini agar tidak menjadi residu, di jiwa dan di kalbu.

Yup, malam itu saya bolak-balik lari di jalanan bagian belakang kompleks, di pinggir Sungai Pesanggrahan, dekat banyak pohon tinggi dan besar-besar itu. Mencari tempat sepi untuk menghindari pertanyaan mengapa malam-malam lari.

Saya bisa mendapatkan 2,59 km. Lumayan, sedikit juga. Niat lari 5 km saya batalkan. Sudah engap. Jalanan gelap. Malam Jumat Kliwon. Enggak percaya? Cek saja.

Hari keenam, tim kami sudah mengakumulasi 52,07 km. Dengan rincian:

  1. Riza Almanfaluthi: 2,59 km
  2. Hidayat Al Ahsan: 16,51 km
  3. Rice Wandansari: 16,83 km
  4. Dhani Restyo: 0
  5. Bambang Tejo: 16,14 km

Sampai hari keenam ini saya sudah berlari sejauh 55,1 km. Kurang 19,9 km lagi. Sedangkan Tim DJP Kuat sudah berhasil mengumpulkan jarak 301,31 km. Kurang 74 km lagi.

Malam itu, di grup percakapan, kami memutuskan untuk berkumpul di Taman Tebet pada Jumat besok pagi untuk menyelesaikan jarak tersisa. Niat hakikinya adalah untuk foto bareng. Sudah itu saja.

Pelajaran yang bisa dipotek tentang berlari di Malam Jumat Kliwon adalah malam-malam yang biasa saja.

Hari Ketujuh, Jumat, 8 Agustus 2020

Saya punya rencana menuntaskan sisa 20 km itu pada hari ini dengan membaginya pagi dan sore. Pagi, lari 10 km dan sore, lari 10 km juga.

Habis salat Subuh saya segera berangkat ke kantor. Jalanan masih sepi. Saya bisa tiba di kantor lebih pagi. Setelah memarkirkan motor saya lari menuju tempat rendezvous. Biasanya kalau Jumat pagi saya lari dari Stasiun Cawang menuju kantor, sekarang kebalikannya, saya lari dari kantor menuju Taman Tebet dekat Stasiun Cawang.

Saya finis di Taman Honda dengan jarak 6,44 km dari kantor. Kemudian lari lagi sejauh 2,18 km di Taman Tebet yang lokasinya di sebelah Taman Honda. Lumayan, mengumpulkan mileage sedikit demi sedikit. Pagi ini sudah dapat 8 km lebih sedikit.

Tidak lama, Mas Dayat, Mas Dhany, dan Mbak Rice datang. Om BT enggak tampak batang hidungnya. Akhirnya kami berempat foto-foto. Setelah itu selesai. Bubar. Saya balik ke kantor dengan mencoba lari lagi untuk menuntaskan 2 km supaya genap jadi 10 km.

Dari Taman Tebet saya mulai lari dan sampai di Perempatan Pancoran terhalang lampu merah. Mau menyeberang juga enggak bisa karena laju kendaraan yang cepat-cepat padahal jam lari tidak saya matikan. Wah, kalau begini pace-nya bisa buruk. Akhirnya saya putuskan stop. Di Perempatan Pancoran itu saya sudah berlari 1,14 km. Tinggal sekilo deui.

Setelah bisa menyeberang jalan saya pencet Garmin lagi dan mulai lari. Saya enggak muluk-muluk cukup mencari 1 km saja. Yup, hampir 8 menit saya berlari dalam jarak 1,1 km. Berhasil. Pagi itu saya sudah berlari sejauh 10,86 km. Tinggal 9 km lagi untuk menggenapi angka 75 km. Nanti sore, sehabis jam kerja, saya akan lari di Gelora Bung Karno. Sekarang, sudah terbayang mi ayam dan secangkir hot cappuccino.

 

Fin.

Dapat info kalau Mbak Rice sudah finis pagi ini. Berarti tinggal saya, Mas Dayat, Mas Tejo yang belum. Saya kurang 9 km lagi, Mas Dayat kurang 7 km, dan Mas Tejo kurang 10 km lagi.

Ya, tinggal 9 km saja buat saya. Saya sudah siap lari dan menyelesaikan tugas saya. Sore ini, saya lari dari kantor, melewati sebagian SCBD, lalu ke Stadion Gelora Bung Karno dengan menyeberangi Jembatan Semanggi, melewati Hotel Sultan dan Balai Sidang Senayan, masuk dari pintu di Jalan Gerbang Pemuda.

Di KM-7 saya mulai merasakan kelelahan. Lari sore itu memang benar-benar beda dengan lari pagi. Barangkali ini juga efek lari pagi tadi. Saya berhenti di KM-7,16. Padahal tinggal dua km lagi. Ada penjual minuman di situ. Saya minum yang manis-manis dulu. Setelah istirahat sebentar saya lari lagi. Dua kilometer tersisa itu saya pastikan untuk perjalanan pulang. Pelan-pelan tapi pasti.

Saya lari dapat dua km. Sebenarnya ini sudah genap 75 km, tetapi karena tanggung belum sampai kantor, akhirnya saya tambahkan sedikit lagi jarak lari saya sampai di pintu lobi utama kantor. Akhirnya saya selesai. Finis. Saya hanya berlari 3,28 km saja. Sore itu kalau dihitung-hitung dengan lari paginya, saya sudah berlari sepanjang 21,3 km.

Mas Dayat dan Mas Tejo menyelesaikannya malam-malam di kompleks rumahnya masing-masing. Kalau ditotal Mas Tejo hari itu lari sejauh 30 km lebih. Sangar. Kami memang berniat menyelesaikannya hari ini juga apapun yang terjadi.

Hari ketujuh, tim kami sudah mengakumulasi 80,07 km. Ini jarak terjauh yang pernah kami tempuh selama sepekan ini. Akhirnya rincian mileage masing-masing di hari terakhir ini adalah sebagai berikut:

  1. Riza Almanfaluthi: 21,3 km
  2. Hidayat Al Ahsan: 16,1 km
  3. Rice Wandansari: 12,49 km
  4. Dhani Restyo: 0
  5. Bambang Tejo: 30,18 km

Seumur-umur saya belum pernah lari dalam seminggu sampai 75 km begitu. Belum pernah juga paginya lari terus sore atau malamnya lari lagi. Bahkan sewaktu mempersiapkan Borobudur Marathon dan Bandung Marathon juga tak begini-begini amat. Hanya di kegiatan ini saja.

Selama sepekan, saya lari sejauh 76,4 km dan Tim DJP Kuat telah berlari sepanjang 381,38 km. Mbak Rice konsisten lari setiap hari selama tujuh hari. Kami unggah hasil lari Mas Dayat dan Mas Tejo di menit-menit terakhir batas pelaporan lari harian itu pukul 22.00. Akhirnya kami finis semua.

Bagaimana posisi tim? Kami belum mengetahuinya. Pada 17 Agustus 2020 akan ada hasil akhir dan pengumumannya. Daftar peringkat di leaderboard masih berubah-ubah berdasarkan jarak tempuh. Tim lain yang sudah finis ada yang anggotanya masih terus lari sehingga menambah mileage mereka dan mengubah susunan leaderboard. Hebat euy.

Kami cukupkan sampai di angka 375 km karena jumlah km tambahan tak berpengaruh kepada peringkat. Enggak dihitung.

Kami pernah menangkap layar (screenshot) klasemen sementara, Tim DJP Kuat menduduki posisi kelima. Wah, senangnya. Tetapi apapun itu lari virtual secara grup ini benar-benar bermanfaat buat saya dan tim. Saya jadi dipaksa untuk rutin lari dan terbit kebersamaan di antara kami.

Pelajaran yang bisa diserap adalah sing penting wis tau, wis tau jeruuu…

Terima kasih kepada teman-teman DJP Runners yang menjebloskan saya ke dalam kegiatan lari ini dan telah menggabungkan saya ke dalam grup hebat ini.

Thanks gaes…

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
9 Agustus 2020
Di hari kelahiran Kinan

One thought on “Berlari di Malam Jumat Kliwon

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.