Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud


Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud    


Tidak tahu pada apa yang merana di Situ Buleud, aku datang mencangklong takdir dengan rambut basah sisa-sisa gerimis petang tadi, seperti raja yang tersandung selendang nyai-nyai tonil. Tidak tahu pada apa yang bahagia di Situ Buleud, aku merajuk pada angin yang telah menemukan tempatnya untuk bersembunyi di kisi-kisi tubuh, seperti pengemis rakus menatap lubang kuburan yang akan menelannya besok. Tidak tahu pada apa yang tak ingin pergi di Situ Buleud, aku mendengar teriakan daun jatuh bersalto berkali-kali di udara menghinaku: “hai, itu perempuanmu!” Waktu jadi nol seketika.

***

29 Januari 2012

Riza Almanfaluthi, seorang PNS, penulis yang lahir di Indramayu 36 tahun lalu. Berpendidikan terakhir sarjana strata dua dan sekarang tinggal di Bogor. Pernah mengikuti Basic Writing Training for Beginner dan bergabung di Forum Lingkar Pena Depok sejak tahun 2007. Aktif menulis sebagai blogger dalam blog pribadinya di https://dirantingcemara.wordpress.com sampai sekarang.

Cerita pendeknya Titin Baridin mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik diskusi bulanan FLP Depok Agustus 2007. Puisi-puisinya pernah menjadi pemenang kedua dalam perlombaan Menulis Puisi Al Amanah Fair 2011.

Gambar diambil di sini

SIAP-SIAP DISIKUT HULK


SIAP-SIAP DISIKUT HULK

Salah satu doa yang sering kali saya panjatkan saat mau pergi ke tanah suci adalah semoga Allah memberikan teman-teman satu rombongan dan satu kamar yang baik-baik dan menjadikan saya juga teman yang baik buat yang lain. Alhamdulillah terkabul.

    Saya sekamar dengan tiga orang lainnya. Kamar saya ini terletak di lantai 9. Di sebuah flat di sektor 11, di daerah Misfalah-Bakhutmah yang jaraknya lebih dari 2 kilometer dari Masjidil Haram. Saya sebut flat tidak hotel, karena menurut saya tempat yang kami tempati selama 30 hari di Mekkah ini bukan standard hotel. Yang benar-benar standard hotel itu kalau kita menginap di Madinah.

    Ada beberapa cara pergi ke Masjidil Haram dari sektor kami ini. Jalan kaki bisa. Perlu waktu 35 menit jalan cepat untuk sampai ke sana. Atau naik omprengan berupa pick up (mobil bak) dengan harga 2 SAR. Kita bediri kayak kambing di belakang. Saya sarankan jangan naik ini. Karena banyak kejadian jamaah haji yang terjatuh dari mobil.

Atau pilih mobil jenis Colt atau Elf. Harganya sama. Ini cukup aman. Kita masuk dan duduk di dalam mobilnya dan tidak berdiri. Kalau mau menjelang hari hajinya, mobil ini tidak sampai ke tempat terdekat masjid, tetapi paling sampai batas ring road. Mobil berhenti di situ. Karena dilarang masuk oleh polisi sana dan juga jalanan sudah macet, cet. Jadi kita kudu jalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai Masjidil Haram.

    Atau naik bus gratis yang disediakan Pemerintah RI. Tapi ini harus rebutan dengan jamaah haji Indonesia yang lain. Harus sabar juga. Harus bisa jaga hati. Jaga mulut. Karena kalau enggak sabar bisa-bisa terjadi pertengkaran di sini. Dan jangan lupa kalau sudah mendekati hari-hari hajinya, bus tidak disediakan, karena jalanan padat. Kalau tidak salah 5 hari menjelang hari haji mobil bus sudah hilang. Dan mulai disediakan lagi saat 7 hari setelah tanggal 13 Dzulhijjah saat jalanan ke Mekkah sudah mulai berkurang kepadatannya.

    Yang dari Bakhutmah dan Misfalah kalau naik bus gratis Pemerintah RI ini tidak bisa langsung ke tempat dekat Masjidil Haram, tapi cuma mengantarkan kita ke Terminal Bus Kuday. Kita diturunkan di sini. Nah, ke Masjidil Haramnya naik apa? Ya kita naik Bus lagi. Bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi atau maktab atau penyelenggara haji di sana, entah siapa. Bus ini benar-benar sampai di terminal di bawah Menara Jam. Dekat banget dengan Masjidil Haram.

    Kalau kita naik bus dari Kuday, maka kita, jamaah haji Indonesia, akan berhadapan dengan jamaah haji dari Afrika, Turki, Pakistan, dan India. Mereka itu tinggi besar. Baik laki ataupun perempuannya. Siap-siap juga kita disikut dan dilompati oleh orang-orang hitam yang berbadan kekar kayak Hulk itu. Hulk mah warnanya hijau yah…

    Silakan pilih moda transportasi yang mau dipakai. Yang terpenting jaga kesabaran. Ingatlah misi haji yang sedang kita lakukan. Kalau saya sih pilih moda Bus ke Kuday itu. Yang penting lagi adalah pada saat pulangnya. Akan banyak ribuan orang yang berebut bus kalau setelah sholat. Supaya aman kalau mau pulang cepat, maka cari tempat sholat yang dekat dengan terminal. Ketika salam langsung cabut. Atau tunggu setengah jam sampai satu jam setelah sholat. Insya Allah masih masuk di akal rebutan busnya. Saya sering pilih yang kedua. Menunggu saja.

    Biasanya kalau sudah mulai sepi di hari-hari akhir jamaah haji pulang ke tanah air atau mau pergi ke Madinah, supir-supir Bus di Kuday itu akan memuji-muji penumpang Indonesia. “Indonesia hajj bagus…bagus…,” kata mereka sambil angkat jempol. Ujung-ujungnya kalau sudah sampai di tempat tujuan mereka akan mengangkat telunjuk menandakan angka satu.

Mereka minta infak kepada kita satu reyal untuk setiap penumpang. Dan jamaah haji Indonesia terkenal royal serta tidak pelit. Terserah Anda mau kasih atau tidak. Memberi mereka dapat pahala. Tidak memberi juga tidak berdosa. Kebanyakan supirnya berkewarganegaraan Arab tetangga Arab Saudi seperti Yordania, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Bukan orang Bengali.

Ohya, ini flat tempat rombongan kami menginap selama di Mekkah pada musim haji 2011.

(Flat kami dilihat dari satelit di luar angkasa, maksudnya pakai google maps)

Syukurnya flat kami ini habis di renovasi. Masih bagus. Tidak kumuh. Tidak gelap. Walau teknologi liftnya tertinggal jauh dengan yang ada di Indonesia. Dan gambar di bawah ini adalah pintu gerbang flat kami.

 

(Suasana saat mau pergi ke Madinah)

    Kamar kami diisi oleh 4 orang. Semua masih dalam satu regu.

(Ini suasana kamar kami sesaat setelah packing dan tinggal berangkat saja ke Madinah)

Dan gambar di bawah ini adalah ranjang saya yang ditempati selama 30 hari di Makkah Al Mukarramah. Tempat saya biasa mimpi dan ngangenin banyak orang di tanah air. Sudah disediakan sprei, bantal dengan sarungnya, dan satu lembar selimut. Kok ada selimut? Bukankah suasana di sana panas? Panas sih panas. Tapi kalau di dalam mah pakai AC. Dingin juga kan? AC-nya kalah canggih dengan AC yang di Indonesia. Coba lihat.

Berikut teman-teman baik saya yang sekamar itu:

Pak Rasyid dan Ibu sedang makan jagung di suatu senja di Jeddah, depan Masjid Terapung. Orang pertama dalam rombongan kami yang mencium hajar aswad. Pengusaha pertambangan yang bersahaja.


Abah Imay dan ibu. PNS DKI dan pengusaha pakaian jadi di Kota Bogor. Orangnya lucu dan humoris.

Dan Pak Tommy, ketua regu kami, alumnus ITB.
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J

    Sering kali kalau saya ingat Makkah alMukarramah saya jadi ingat mereka. Empat puluh hari menjadi saksi perjalanan persaudaraan haji kami. Tentunya saya berharap bahwa walau kami berpisah setelah perjalanan itu, Allah akan kumpulkan kami di surganya Allah swt. Ini harapan saya terbesar. Amin.

    Yakin juga ya…kalau perjalanan ke sana, ke dua kota bersejarah itu, adalah perjalanan yang paling tidak bisa dilupakan. Ngangenin…seperti aku yang selalu ngangenin kamu…cie…cie…cie…cie…cie… adaw…adaw…adaw.

    Maka segeralah ke sana.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 01 Juli 2012

 

Tags: makkah, madinah, rasyid, imay, tommy, masjid terapung, jeddah, kuday, bakhutmah, misfalah, makkah almukarramah, hulk, cerita haji, india, pakistan, bengali, afrika, turki, Yordania, Suriah, Mesir

HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?


HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?

 

Tidak terlalu lama setelah menghitung betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada saya dan betapa bedanya saya dengan manusia mulia yang bernama Ayub itu, Allah benar-benar memberikan rasa sakit itu kepada saya.

    Senin malam saya merasakan sesuatu yang kembali sering mendera beberapa bulan terakhir ini. Ada yang bergolak di lambung. Seperti sayatan pisau yang menghunjam di dinding-dindingnya. Saya paksakan untuk tidur berharap agar di pagi harinya rasa sakit itu hilang.

    Ternyata tidak. Tetapi saya memaksakan untuk tetap berangkat ke kantor. Nanti sampai di sana, sebelum berangkat ke Pengadilan Pajak, saya pergi dulu ke klinik untuk memeriksakannya ke dokter jaga dan meminta obat.

    Tetapi obat itu masih belum mampu untuk segera menghilangkan rasa sakit yang semakin menggila. Saya angkat tangan. Saya minta izin untuk pulang. Perjalanan dari stasiun Gambir sampai Citayam benar-benar sebuah perjalanan yang terasa lama sekali. Berdiri setengah limbung dengan mual dan rasa ingin muntah yang menghebat. Tapi saya bertahan agar tidak ada cairan yang keluar yang akan menghebohkan satu gerbong kereta itu.

    Sampai di rumah terbuanglah segalanya dan setelah itu meringkuk dengan merapatkan lutut ke dada menjadi salah satu cara untuk dapat meringankan rasa sakit, walaupun ternyata tak berefek sama sekali. Otomatis selasa siang itu sampai pagi rabu menjadi hari dan malam yang tidak bisa membuat mata terpejam.

    Rabu siang saya tidak tahan. Saya pergi ke dokter yang saya pernah kunjungi dua bulan sebelumnya dan Alhamdulillah obatnya mampu menghilangkan sakit itu. Tetapi ternyata dia angkat tangan juga kali ini. “Ini sudah tidak bisa ditangani lagi. Jangan sampai menunggu sore atau malam, segera pergi ke rumah sakit,” katanya. Saya terperanjat. Seumur hidup saya tidak pernah sakit dan dirawat di rumah sakit. Apakah ini sudah saatnya?

    Sorenya saat istri pulang cepat mendengar berita ini, kami segera pergi ke rumah sakit yang dulu pernah merawat bapak. Ternyata selama hampir satu jam, saya tidak ditangani segera di UGD karena kamar yang penuh dan biaya administrasi yang harus dipenuhi sebesar belasan juta dalam waktu sesegera mungkin. Apalagi sudah divonis operasi karena perut yang sudah tegang. Saya putuskan pindah penanganan ke rumah sakit yang lain.

    RSUD Pasar Rebo menjadi pilihan. Jam setengah delapan malam kami tiba di sana. Dan tanpa basa-basi langsung ditangani. Dicek tensi, diajak dialog oleh dokter muda untuk didiagnosa penyakitnya, diambil darahnya, diberi obat melalui (maaf) dubur, diberikan cairan infus, dimasukkan selang ke lambung (NGT), dirontgen abdomen, dan kesimpulannya adalah suspect ileus. Penyumbatan usus.

    Besoknya, hari kamis, saya diambil darahnya kembali, di USG, dan dirontgen pada bagian dada. Diagnosa terakhir dari dokter adalah saya mengalami dispepsia tetapi tidak perlu dioperasi. Pengertian dispepsia lebih tepatnya bisa dicari di google. Tapi dalam bahasa awamnya adalah gangguan pencernaan yang menyebabkan rasa sakit di sekitar perut, mual, kembung, bersendawa, tidak bisa buang air besar, atau buang angin.

    Saya harus puasa. Cairan yang keluar dari lambung awalnya berwarna oranye, setelahnya hijau bercampur warna hitam, dan pada jum’at pagi sudah berwarna putih. Ini berarti lambung sudah mulai beranjak membaik walau kerja usus masih belum terlihat karena tidak adanya bising usus. Tetapi saya sudah diperbolehkan minum dan makan.

Benar-benar dah. Sejak rabu sore sampai jum’at pagi, saya tidak diperbolehkan makan dan minum. Itu membuat saya merasakan betapa nikmatnya kalau saya bisa minum satu gelas air putih dan memasukkan satu suap nasi ke dalam mulut.

Inilah yang membuat sejarah. Apa? Karena pada hari jum’at (15/6) siang saya merasakan ternyata buah melon itu enak sekali. Saya memang tidak suka semua buah sedari kecil.Saya selalu merasa jijik kalau melihat buah. Terkecuali apel yang mulai belajar memakannya sejak tahun 1997. Itu pun makannya harus di rumah karena kebersihannya terjamin. Enaknya melon yang selama ini dirasa hanya melalui ekstraknya dalam minuman, sekarang bisa dinikmati langsung oleh mulut saya. Sorenya saya diberi pepaya. Dan syukurnya pula saya dapat menelan buah itu.

Memang disadari hal terbesar yang mendorong saya untuk memakan sesuatu yang tidak saya suka dalam hidup saya itu dikarenakan lapar dan keinginan agar bisa buang air besar dengan lancar. Dan untuk saat ini cukup tiga jenis buah dulu itu yang bisa masuk dalam pencernaan saya tanpa saya harus memuntahkannya kembali. Dengan berharap di suatu masa akan bertambah pula perbendaharaan jenis buah yang bisa saya makan. Untuk kesehatan. Semata-mata. Tetapi pertanyaan yang mengganjal adalah apakah harus sakit dulu agar bisa makan buah? Tentu tidak ah.

Selasa di pekan selanjutnya, saya minta pulang kepada dokter spesialis penyakit dalam yang memeriksa saya walau masih ada sedikit rasa sakit dan kembung, tetapi bising ususnya sudah terdengar. Dokter mengizinkan.

Enam hari sudah saya berada di rumah sakit. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Yang paling utama adalah sakit membuat ibadah tidak bisa optimal. Tidak bisa kerja. Tidak bisa berbuat apa-apa. Pantesan banyak ustadz bilang kalau nikmat sehat itu nikmat Allah yang berharga sekali.

Hal lainnya adalah saya harus mengubah pola hidup terutama pola makan. Pedas-pedas adalah hal pertama yang harus disingkirkan. Karena selama ini kalau makan tanpa sambal pedas itu seperti makan sayur tanpa garam.

Dan saya ingat betul, kalau maag saya sedang mampir, maka dapat dipastikan kalau selama satu minggu ke belakang itu saya tidak bisa menjaga apa yang dimakan. Pedasnya gila-gilaan, makan bebek pedas, pecel lele pedas, mi rebus dengan saus pedas, gorengan dan plus sambal kacang pedas, dan lain-lainnya. Sekarang semua itu harus ditinggalkan. Bisakah saya bertahan? Insya Allah.

Dan yang kedua saya kudu bisa menjaga jadwal dan ritme makan saya agar tidak telat makan. Kata dokter sih bilang kalau makan jangan banyak-banyak melainkan sedikit-sedikit tetapi sering.

Sekarang saya juga harus pilih-pilih makanan. Pertanyaannya sederhana, “baikkah ini buat lambung saya?” Pokoknya bahan makanan yang mengandung gas dan asam juga perlu dijauhi seperti brokoli, kol, sawi, permen karet, gorengan, cokelat, lemak, susu full cream, masakan dengan bumbu yang menyengat, durian dan nangka (ini mah memang dari dulu enggak doyan), minuman yang bersoda, kopi, saus pempek dan martabak.

Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga nikmat makan yang Allah cabut dari saya. Sedih juga. Tapi tak apa-apalah. Yang terpenting Allah ganti dengan nikmat yang lain dan jangan sampai nikmat rasa kasih sayang, rahmat, dan keberkahan Allah yang dicabut dari saya. Dunia dan akhirat. Semoga tidak.

Terima kasih kepada teman dan saudara yang telah menjenguk atau mendoakan kesembuhan buat saya. Semoga Allah memberikan banyak keberkahan kepada Anda semua.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

04.42 30 Juni 2012

Gambar dari sini.

Tags: rsud pasar rebo, ngt, makanan yang dijauhi saat maag, lambung, maag, dispepsia,

    
 

    

    

SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU


SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU

 

Islamedia Jum’at, pada sebuah khutbah yang membuat air mata jatuh. Paradok dengan sengatan matahari yang menggigit karena saya kebagian tempat di bagian luar masjid. Terkisahkan kembali cerita yang menjadi abadi dan teramat sangat bagus untuk dibagi kepada semua. Cerita itu sudah saya dengar sejak dari kecil tapi seperti baru ketika disampaikan sang khothib.

Ada seorang manusia yang kaya raya, hidupnya bahagia dan tenteram, dengan anak-anak dan istrinya yang taat kepada Tuhannya. Sudah tajir sholeh lagi. Dan Allah mengujinya satu persatu dengan berbagai musibah, akankah ia tetap taat dalam keimanannya?

Bagaimana Allah uji manusia baik dan selalu bersyukur itu? Pertama, Allah cabut kekayaannya. Kalau zaman sekarang mah mulai harta berupa hp, mobil, emas, rumah mewah, kebun sawit, peternakan kuda, dan saham-sahamnya ludes enggak karuan. Bangkrut semua bisnisnya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kedua, Allah uji iman manusia itu dengan mengambil jiwa semua anak yang dicintainya. Coba bayangkan satu anak kita yang sedang lucu-lucunya, yang sedang tumbuh-tumbuhnya diambil kembali oleh Allah. Kita sudah sedih bukan main rasanya. Tapi manusia ini diuji imannya dengan diambil seluruh anak-anaknya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Ketiga, tidak berhenti sampai di situ Allah uji kembali manusia itu dengan mengambil kesehatannya. Tiada yang sehat seluruh anggota tubuhnya melainkan hati dan lisannya. Sampai-sampai semua keluarganya menjauh karena takut tertulari. Bahkan istrinya yang sehat pun dikucilkan pula. Lengkap sudah penderitaan manusia ini. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Jiwanya tidak terguncang. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kekayaannya dicabut, dimiskinkan permanen. Anak-anaknya dimatikan. Dan tubuhnya disakitkan selama 18 tahun. Kalau saja manusia itu adalah saya, tak tahulah apa yang terjadi. Tapi sungguh cerita ini menjadi keteladanan bagi umat manusia yang beriman. Dan manusia itu adalah Ayub As.

Sabtu, pada suatu dhuha yang hangat, dengan mengendarai mobil menyusuri jalanan lengang komplek Pemda Cibinong, dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya saya mencoba menghitung kembali nikmat yang saya rasakan. Alhamdulillah sehat, alhamdulillah dengan istri dan anak-anak yang masih lengkap, alhamdulillah juga masih bisa ibadah walau sedikit, alhamdulillah masih diberikan ketenangan. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Ahad, pada suatu petang, handphone itu tak ada di saku. Saya panik dan segera mencarinya. Jantung berdegup kencang tak seperti genderang perang. Saya segera mengingat-ingat tempat yang baru dilewati. Di tempat parkir barusan? Di musholla? Di sepanjang koridor menuju ruang utama? Di tempat makan? Atau di mana?

Alamaak!! Hp yang satunya ketiadaan pulsa. Niatnya untuk ngebel hp yang hilang itu dan ini berarti saya harus pinjam hp teman. Sedangkan teman-teman pada jam menjelang isya ini kebanyakan sudah kumpul di ruangan utama. Bergegas saya ke sana. Menemui teman dan meminjam hpnya. Belum juga dering kedua berbunyi mata saya tertumbuk pada sebuah meja makan. Dan benda warna hitam itu masih anteng di sana. Pfffhtt…

Hp saya itu hp China. Jadul. Masih pakai tombol untuk pencet nomornya. Tidak touchscreen. Sudah bulukan. Itu pun dikasih sama teman. Enggak tahu apa masih laku kalau dijual. Nomornya pun bukan nomor cantik atau yang sudah diketahui banyak teman. Tapi itu saja sudah membuat saya seperti kehilangan sesuatu yang paling berarti, seperti kehilangan seluruh harta benda. Seperti enggak ikhlas. Ck…ck…ck… Ini tanda-tanda apa yah? Cinta dunia? Bisa jadi. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Dua tahun yang lalu di awal Juni, api membakar dan menghancurkan bagian atas rumah saya. Mengingat itu saya teringat perkataan Ishaq yang dikutip Aidh Al Qarni, “Barangkali Allah akan menguji seorang hamba dengan suatu malapetaka, tetapi kemudian menyelamatkannya dari kehancuran. Oleh sebab itu, sebenarnya malapetaka bisa menjadi karunia.” Insya Allah waktu itu saya mampu untuk tegar.

Saya memang bukan Ayub tapi berusaha untuk menjadi Ayub yang mampu menghadapi semua perusak kenikmatan dunia itu. Petaka lalu setidaknya memberikan banyak pelajaran kalau harta yang hampir hilang sebatas hp itu seharusnya tak membuat perhatian teralihkan dari mengingat Allah. Cukuplah Allah sebagai penolong untuk segala urusan. Kali ini saya tak setegar waktu itu, Yaa Rabb…

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Twitter: @rizaalmanfaluth

dedaunan di ranting cemara

03 Juni 2012

Sumber gambar: diambil dari Islamedia

Tags: ayub, pemda cibinong

NA ADONG HEPENG


NA ADONG HEPENG

 

Mau cerita saja kejadian hari kamis di pekan lalu. Pagi itu di depan pasar Citayam ban meletus. Doorrr!!! Saya kira ban motor orang lain. Ternyata ban belakang motor saya. Terasa ada yang berbeza. Terasa bergoyang.

Kejadiannya jam 05.37 pagi. Sedangkan jadwal Kereta Rel Listrik (KRL) pukul 05.45. Ya sudah saya dorong motor ke tempat penitipan motor. Untung tak jauh cuma 100 meter-an. Yang terpenting adalah menitipkan motor dulu. Naik KRL dulu. Ke kantor dulu. Absen dulu. Alhamdulillah tak telat. Tak jadi dipotong. Motor mah urusan belakangan.

Dua hari sebelumnya, seorang teman bercerita kalau ada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ban motornya bocor. Lalu ia meninggalkan motornya sampai sore sama tukang tambal ban. Dianya kemana? Ke kantor. Kok meninggalkan motor dinas di abang tukang tambal ban? Semuanya demi absen.

Eh, ini kejadian pada saya. Tapi saya meninggalkannya di tempat penitipan motor. Pagi masih dimudahkan. Tapi sorenya harus ekstra kerja keras. Niatnya ngelembur karena banyak pekerjaan di kantor. Tapi tak jadi karena harus urus motor dulu. Takutnya nanti tak ada tukang tambal ban yang buka malam-malam.

Oleh karena itu jam lima sore langsung cabut. Sampai di Stasiun Citayam jam 18.15. Sholat dulu, lalu ke tempat parkiran. Ditawarkan pompa tangan untuk isi angin. Posssss… 1000 kali pompaan juga taka akan pernah bisa. Ban luar sobek karena sudah tipis. Berarti ada robekan besar di ban dalam.

Segera saya menuju ke tukang tambal ban. Ban luar dibuka. Betul juga ban dalamnya pecah sepanjang 3 cm. Saya pikir percuma kalau ditambal dengan ban luarnya yang masih sobek. Kudu beli ban luarnya juga. Saya tanya pada sang tukang berapa harga banya. “Seratus empat puluh limar ribu rupiah,” katanya.

Ngok… Duit di dompet cuma Rp 65 ribu. ATM pun jauh. Malas ambil duitnya. Jadi saya bilang ke Si Lae-nya: “Lae, simpan SIM saya ditambah Uang saya,mau? Besok saya bayar lunas.” Si Lae-nya diam saja. Geleng kepala. “Oh tak bisaaa,” katanya.

“Ya sudah ditambah KTP saya, bagaimana?”

Tetap saja dia tak mau. SIM ditambah KTP ditambah Rp 65 ribu, tetap tidak mau juga?

“STNK saja,” kata dia.

Ya sudah saya girang mendengarnya. Cek dompet. Pooosssss….Tak ada. Ngik.

“Yaaah gak ada Lae. Ketinggalan di rumah. Bagaimana kalau SIM, KTP, duit 65 Ribu ditambah hp saya?” Harga hp seken saya itu 10 kali lipat harga ban itu. Terlalu tinggi ya? Ya sudah 5 kali saja deh.

Ogah. Dia diam bae. Idealismenya tak bisa dibeli. Tik…tik…tik…gerimis jatuh. Saya memutuskan untuk menambal ban dalamnya saja. Mendengar putusan itu Si Lae-nya sudah merasa segan saja bawaannya.

“Tak bisa ditambal nih,” katanya. Saya ngotot, “sudah tambal saja, masih bisa kok.” Pada akhirnya dia menambal juga. Soor…soor…soor…suara hujan. Deras banget. Petir sambar-menyambar. Depan toko sudah tergenang air setinggi lutut bebek. “Lae, nanti yang bolongnya dilapis ban dalam bekas yah, ” kataku padanya.

Saat dia menambal ban, saya berpikir sampai tidak motor ini ke rumah. Minimal ke ATM dulu dan setelahnya sekalian ke bengkel beli ban luar. Si Lae menunggu tambalan matang menonton tv siaran langsung Inter Milan lawan Liga Selection. Saya berdiri menatap rinai hujan dan merenungi nasib. Merenungi kenapa Si Lae ini masih tak percaya sama saya. Hihihi tampang jenggot tak bisa jadi garansi.

Anehnya dingin-dingin begitu saya beli teh botol dingin. Haus. Walau ada air putih di tas. Sepuluh menit kemudian selesai penambalan.

“Berapa Lae?”

” 8000,” katanya.

Saya tak bisa pulang langsung karena hujan masih deras. Tulalit tulalit weeeks hp samsulku mati kehabisan daya. Lengkap sudah. Tersandera. Unconnecting people. Setengah jam lamanya saya menunggu hujan reda. Ternyata tak betah juga. Langsung saya ambil keputusan untuk menerobos rerimbunan hujan ini. Yang penting selamatkan dulu barang-barang elektronik di bawah jok. Saya tak bawa jas hujan. Tak pernah menyiapkan soalnya. Karena jarak rumah dengan stasiun dua kilo saja.

Setelah tas ransel kugendong dipunggung. Grung…pelan-pelan saya mengendarai motor. Duduknya juga tak bisa di tengah jok. Di ujung jok saja agar bebannya tak sampai ke ban belakang.

Tak pakai jas hujan. Tak pakai jaket. Tak pakai helm (jangan ditiru). Tak pakai topi. Pelan-pelan lagi. Telak banget hujan leluasa menyetubuhi saya. Maksud saya, hujan telak menguyupiku. Setelah 600 meter lewat saya mampir ke ATM. Berrrr… alat pendingin ATM bertiup menambah dingin yang saya rasakan. Ambil hepeng. “Lae, nih aku adong hepeng,” batinku.

Saya segera naik motor lagi dan menemukan bengkel. Ya sudah saya sekalian mampir. Yang terpenting menemukan ban luar dengan merek dan kualitas apapun. Harga ban denganmerek random yang tak jelas itu Rp150 ribu. Bisa kurang goceng kalau pasang sendiri. Ngok, memangnya saya punya alatnya apa? Jadi tetap tuh itu barang saya beli.

Lebih dari 15 menit Si Mas itu memasang ban. Tapi kayaknya 20 menit lebih deh. Di tengah pemasangan ban itu hujan mereda. Ehh pas selesai, baru menempelkan
tangan di stang motor, hujan kembali datang. Tapi tak apa, aku tetap harus menerobos hujan. Yang penting saya segera bisa sampai rumah.

Sekarang, dengan ban berperforma maksimal, saya bisa geber kecepatan. Herannya setiap saya tambah kecepatan, hujan pun semakin deras. Saya pun berkejaran dengan hujan. Semuanya basah. Sepatu basah. Baju basah. Kepala basah. Tas basah. Kuyup semua.

Sayang enggak ada rombongan penari di belakang saya. Dua puluh orangan begitu. Dan saya juga tak bawa tambur besar. Kalau ada kan saya bisa nyanyi India. Dung dung tak tak dung dung tak tak. Tum …namaste. Nyanyi apa yaaaah? Kasih tau enggak yaaa….? Pokoknya suasana mendukung banget buat setting film India. Tiang listrik dan pohon banyak.

Sedang membayangkan itu, motor sudah sampai di rumah. Tiiin…tiiin…klakson motor berbunyi. Pintu rumah dibuka. Langsung saya memasukkan motor ke dalam rumah. Apa yang terjadi setelah ini kawan? Kinan datang menyambutku. “Ujan-ujan ya Bi?” tanyanya. Ini dia foto Kinan di suatu hari:

Langsung lenyap capek saat melihatnya. Bahagia. Walau tampang saya tampang tak bisa dipercaya tapi wajah saya tetap disambut dengan gembira olehnya.

Jam setengah sembilan lebih saya sampai rumah. Ini berarti 3,5 jam dari kantor. Dan selesailah sudah timeline twitter yang saya buatkan narasinya ini. Cuma mau cerita saja.

Khattam.

 

Riza Almanfaluthi

dedauan di ranting cemara

ngetwit tanggal 25 Mei 2012

08.14 pagi.

 

Tags: citayam, lae, batak, kinan, shah rukh khan

MILITANSI SEBATAS SOMAY DAN CENDOL


MILITANSI SEBATAS SOMAY DAN ES CENDOL

Yang sering twitteran dan mampir ke hashtag #IndonesiaTanpa JIL insya Allah tahu kalau Senin malam (15/5) Hard Rock FM mengundang Akmal Sjafril (anti JIL) untuk dialog dengan Abdul Moqsith Ghazali, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL).

Moqsith tidak bisa hadir karena istrinya sakit dan pihak Hard Rock FM telah mengundang berbagai tokohnya untuk menggantikan Moqsith. Seperti Ulil Abshar Abdilla, Lutfie Assyaukanie, dan kawan-kawan. Tetapi semuanya saling lempar sampai-sampai acara itu hanya diisi oleh Akmal Sjafril.

Pembatalan diskusi itu sebenarnya memunculkan sebuah pandangan kalau JIL yang digadang-gadang oleh banyak tokoh “cendekiawan” hanya nama kosong belaka. Mengapa? Karena untuk menghadirkan satu tokoh dan demi mempertahankan gagasan mereka saja tidak bisa. Padahal diskusi ini adalah cara elegan daripada tweetwar di Twitter.

Seringkali mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang anti kekerasan dan selalu mengedepankan dialog. Tetapi malam tadi fakta meruntuhkannya. Mereka sejatinya adalah pendukung kekerasan ala tweetwar. Mereka lebih suka ngebuli dan berucap kata kotor di Twitter daripada diskusi dan dialog. Kata bangsat (yang diucapkan Saidiman) dan anjing (yang diteriakkan RoriUddarojat) sudah jadi makian biasa. Tak mungkin keluar dari hati yg bersih. Tetapi itulah liberal. Anti aturan.

Harusnya mereka berani datang untuk diskusi. Pun karena tempatnya adalah tempat netral, tempat sebagian besar komunitas mereka sering kongkow-kongkow dan bukan di masjid. Tak perlu khawatir kalau Front Pembela Islam (FPI) datang atau diskusi itu akan dihadiri oleh banyak massa seperti yg terjadi di Universitas Islam Jakarta (UIN) beberapa tahun silam.

Tak perlu khawatir dihujat oleh peserta diskusi. Wong yang ada cuma host, Akmal Sjafril , dan penelepon. Kalau karena takut biasanya yang takut itu karena punya salah. Atau karena diskusinya cuma di radio yang pendengar terbatas. Tidak seperti di televisi yang bisa juga nampang jual muka?

Atau karena cuma Akmal Sjafril yang datang dan dia tidak selevel dengan mereka. Akmal Sjafril baru menulis dua buku. Dia pun cuma lulusan strata dua. Dia juga bukan santri. Akmal sekelas santri pesantren kilat ramadhan. Kalau demikian adanya, sejarah kembali memutar ulang jarumnya. Dulu Nurcholis Madjid pernah meremehkan ustadz Daud Rasyid karena belum bergelar Doktor dan cuma MA.

Tapi memang kecendekiawanan seseorang bukan dinilai dari gelar yang diraih dan statusnya melainkan dari kekuatan narasinya. Akmal Sjafril telah membuat mereka takut karena kekuatan narasi itu. Akmal cuma jebolan INSISTS sebuah grup diskusi yang belum lama eksis daripada Komunitas Utan Kayu atau Freedom Institute atau bahkan dari JIL itu sendiri.

Dengan ketidakhadiran mereka dalam diskusi tadi malam semakin meyakinkan saya kalau JIL itu cuma nama doang yang dikarbit media tapi minim militansi. Contohnya Guntur Romli yang enggak datang ke Hard Rock FM karena honornya yang hanya pantas untuk beli somay dan es cendol. Mana buktinya?

(Sumber gambar dari sini)

Ketidakhadiran mereka pun meyakinkan saya kalau hukum menghadapi mereka itu fardu kifayah sama seperti hukum memandikan jenazah. Tidak perlu banyak-banyak orang untuk mengurusi itu. Tak harus semua potensi umat dikerahkan melawan mereka. Cukup orang-orang yang konsisten dan fokus untuk itu. Orang-orang itu layak dijadikan jenderal besar melawan mereka. Jenderal besar perang pemikiran. Dan upaya memperluas dukungan dengan mencari dan menjadikan pendukung-pendukung Indonesia tanpa JIL sebagai prajurit-prajurit perang pemikiran itu tetap perlu sekali.

Terpenting pula kita meyakinkan diri bahwa kebatilan mereka akan selalu kalah. Karena mereka sejatinya rapuh seperti rumah laba-laba. Semoga kita dilindungi Allah dari setiap kesesatan. Tetap berjuang.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ngetwit 16 Mei 2012 yang ditulis ulang pada:

16:12 18 Mei 2012

 

Tags: Abdul Moqsith Ghazali, moqsith, ulil, Ulil Abshar Abdilla, Lutfie Assyaukanie, Twitter,Tweetwar, Saidiman, Front Pembela Islam, FPI, Universitas Islam Jakarta, UIN, Akmal Sjafril, Nurcholis Madjid, Daud Rasyid,INSISTS,Komunitas Utan Kayu, KUK, Freedom Institute, Guntur Romli,Hard Rock FM, Indonesia tanpa JIL, perang pemikiran, #indonesiatanpajil, #itj

SLOGAN ANTIKORUPSI HANYA OMONG KOSONG


SLOGAN ANTIKORUPSI HANYA OMONG KOSONG

 

Musim ujian nasional (UN) mulai dari SMU sampai SD telah usai. Sekarang mereka yang telah ujian tersebut berharap hasilnya menggembirakan. Dan bersiap-siap mendaftarkan diri ke kampus atau sekolah favorit mereka selanjutnya.

    Saya sebagai wali murid dari anak yang duduk di kelas 6 SD perlu memberikan catatan penting dari pelaksanaan UN tersebut. Tentu dengan memperhatikan berita fakta serta informasi yang masuk yang diberikan siapa pun kepada saya. Insya Allah tidak bohong.

Satu hal penting, UN bisa menjadi sarana tepat untuk mengukur sejauh mana upaya kecil kita dalam memberantas korupsi di negeri ini. Sekadar slogan omong kosong atau karakter. Semoga twit tanggal 8 Mei 2012 ini bisa dibaca siapa pun yang peduli dengan negeri ini.

(Gambar diambil dari sini)

  1. Masyarakat selalu gembar-gembor antikorupsi tetapi gak dulu melihat ke dalam & tanya sudahkah sy gak korupsi.
  2. Contohnya masih membiarkan anaknya jd calon koruptor dg membiarkan anak itu dpt kunci jawaban UN
  3. Kunci jawaban UN yg didapat dari guru atau sekolahnya langsung dibagikan sebelum ujian berlangsung.
  4. Loh bukannya sekarang soal & jawaban UN dikawal ketat oleh polisi. Itu cuma simbol. Formalitas. Faktanya banyak yg jebol jawaban UN.
  5. Jawaban UN dibeli oleh skolah negeri atau swasta. Dijual oknum. Semua bekepntingan. Oknum dpt duit. Sklh dpt prestasi & jaga kepentngn
  6. Kepentingan Sekolah negeri adalah kepentngan amankan kinerja kepsek & duit BOS. Sdgkan swasta untuk jaga kredibilitas nama sekolah.
  7. Apalagi dinas pendidikan punya alat ukur kinerja sekolah dg UN & target daerah 100% lulus. Itu bagus tp ditempuh dg cara haram.
  8. Yg dibawah harus taat. Klo gak, guru yg dimutasi. Makanya Segala cara ditempuh. Satu semester cuma belajar mata pelajaran UN.
  9. Lembaga bimbel masuk sekokah. Guru bisnisin jasa ajarnya ke anak didik. Bimbel dirumahnya.
  10. Yg terakhir cara haram itu ditempuh. Sekolah swasta yg gak mau cara itu dianggap pembangkang. Dan dianggap nyeleneh.
  11. Srkarang yg jujur dihina. Yg korup dipuji. Diapresiasi dg BOS. Dg dana rakyat yg dikumpul dari pajak.
  12. Cara lain adalah dg membeli pengawas. Pengawas diem bae saat contek2 masal terjadi. Merasa solider di sekolahnya jg lakukan yg sama.
  13. Coba bayangkan anak sedari kecil diajarkan cara curang tak jujur itu untuk raih kesuksesan. Gak diajarin proses. Selalu hasil & hasil.
  14. Gak ditanamkan nilai-nilai kejujuran. Nilai2 ihsan. Bahwa walo pengawas gak liat ada Allah yg mahamelihat.
  15. Gak ditanamkan nilai bahwa dapat nilai kecil tapi hasil dari jujur itu lbih baik daripada nilai besar tapi curang.
  16. Gak ditanamkan bahwa keberkahan itu lebih baik drpd hasil yg didpat dari kecurangan. Percayalah, efek dari unfair ini trasa di masa dpn.
  17. Apa? Timbul next generation yg instan. Gak mau capek dikit. Mudah menyerah. Hipokrit. Halalkan sgl cara. Manja. Dan pelanggeng korupsi.
  18. Semua ini salah siapa? Jelas sudah ada yg salah dalam sistem pendidikan kita. Cara perbaikinya gimana?
  19. Selagi sistemnya kayak gini ya sdah mulai dari diri sendiri dulu. Sambil jalan. Tanamkan kpd anak/anak didik nilai2 kejujuran&anticontek
  20. Tanamkan nilai ihsan bahwa semua yg kita lakukan dicatat oleh Allah. Satu soal yg dijawab dari menyontek satu dosa sudah dcatet.
  21. Tuk yg sekarang jadi orang tua & anaknya lg UN kalo menyetujui praktik ini & membiarkannya maka buat apa kecam anggota DPR sarang krptor
  22. Buat apa mengecam pemerintah skg korupsi kalo dianya jg ternyata pendukung praktik ketidakjujuran ini.
  23. Buat apa? Instrospeksi dulu yah… Semoga Allah lindungi kita dari perbuatan itu. *selesai.

     

Kesimpulan yang bisa diambil adalah jika kita curang dalam UN maka percuma teriak-teriak antikorupsi, itu hanya omong kosong.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:40 ditulis ulang pada tanggal 17 Mei 2012

 

Tags: ujian nasional, soal ujian nasional 2013, soal ujian nasional 2012, korupsi, kecurangan ujian nasional, kecurangan

JAWABANKU UNTUKMU APA?


JAWABANKU UNTUKMU APA?

Seorang mahasiswi sedang ada quiz, bertanya kepada saya tentang kasus ini. Jawaban saya mau dicocokkan dengan jawabannya. Baru satu kasus yang bisa saya jawab. Berikut persoalannya.

Hallo, kak Riza tolong dibantu yah contoh kasus ini untuk mencocokkan jawaban saya

Thanks.

Kasus 1

Berikut ini adalah data perpajakan untuk CV Herman & Lia Tahun Pajak 2010

Peredaran Usaha Rp 15.000.000.000

Biaya Operasional seluruhnya Rp 9.000.000.000

Penghasilan Kena Pajak Rp 6.000.000.000

Jumlah Kredit Pajak

– PPh Pasal 22 Rp 40.000.000

– PPh Pasal 23 Rp 35.000.000

– PPh Pasal 25 Rp 5.000.000

Hitung Angsuran PPh Pasal 25 untuk Tahun 2011 untuk CV Herman & Lia !

(Sumber Gambar: di sini)

Jawabannya adalah:

 
 

A. Pertama tentukan terlebih dahulu berapa jumlah Pajak Penghasilan (PPh) Terutang. Untuk itu lihat ketentuan Pasal 31E Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 7 Tahun 1983 s.t.d.t.d Undang undang Pajak Penghasilan Nomor 36 Tahun 2008.

Peredaran Usaha Rp15.000.000.000

Penghasilan Kena Pajak Rp6.000.000.000

1. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas:

(4.800.000.000:15.000.000.000)x6.000.000.000 = Rp1.920.000.000

 
 

2. Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas:

Rp6.000.000.000-Rp1.920.000.000 = Rp4.080.000.000

 
 

Setelah itu hitung PPh terutang:

1. Rp1.920.000.000 x 28% x 50% = Rp268.800.000

2. Rp4.080.000.000 x 28% = Rp1.142.400.000

Jumlah total PPh Terutang = Rp1.411.200.000

Tapi tunggu dulu, karena tahun pajaknya adalah tahun pajak 2010 maka tidak lagi memakai tarif Pasal 17 ayat (1) UU PPh sebesar 28%, namun tarif yang dipakai adalah tarif Pasal 17 ayat (2a) UU PPh sebesar 25%. Dengan demikian perhitungan PPh yang terutang adalah sebesar:

1. Rp1.920.000.000 x 25% x 50% = Rp240.000.000

2. Rp4.080.000.000 x 25% = Rp1.020.000.000

Jumlah total PPh Terutang = Rp1.260.000.000

 

  1. Lalu setelah diketahui jumlah PPh terutang dalam setahun dikurangi dengan kredit pajak selain PPh Pasal 25 (Lihat Pasal 25 ayat (1) UU PPh) kemudian dibagi 12.

 

Jumlah angsuran = (Rp1.260.000.000-Rp40.000.000-Rp35.000.000):12

= Rp1.185.000.000:12

= Rp98.750.000

Jadi angsuran PPh Pasal 25 tahun berjalan tahun 2011 yang harus disetor setiap bulannya oleh CV Herman & Lia adalah sebesar Rp98.750.000,00

 

Jika jawaban dari mahasiswi itu salah, sebagai petunjuk dari saya maka pakailah referensi yang cuma satu itu. Cukup UU PPh saja. Tidak lain tidak bukan. Tak perlu referensi njlimet dengan buka-buka aturan dibawahnya yang bejibun itu. Jika jawaban saya salah tentu saya mohon kepada para pembaca untuk dapat mengoreksinya.

Demikian. Semoga bermanfaat.

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15.00 12 Mei 2012

TAGS:

STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA


STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA

 

Judul Buku : Steve Jobs
Penulis : Walter Isaacson

Penerjemah : Word++ Translation Service & Tim Bentang
Penerbit : Bentang, Cetakan Kedua, November 2011
Harga : 119.000
Tebal :xxii + 742

    Kuartal terakhir 2011 dunia perbukuan diramaikan dengan terbitnya buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Buku yang semula direncanakan terbit di tahun 2012 ini dimajukan penerbitannya setelah Sang Pendiri Apple Computer ini meninggal karena kanker pankreas yang dideritanya, Oktober 2011.

    Isaacson secara apik meramu hasil wawancaranya—dengan kerabat, kawan, dan musuh Jobs—menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik. Mulai dari ketika ia kanak-kanak dan merasa ia hanya anak adopsi dan telah ditelantarkan oleh orang tua kandungnya, perjuangannya bersama Steve Wozniak mendirikan Apple, perangnya dengan IBM, perseteruan abadinya dengan Bill Gates, pemecatannya dari Apple, mendirikan NeXT, memadukan teknologi dan seni di Pixar, menguasai Disney, kembali menjadi CEO Apple, meluncurkan banya produk fenomenal, hingga perlawanannya—yang sayang terlambat—dengan kanker.

    Bagaimana Jobs memandang kematian diuraikan pula di bagian akhir buku ini. Kematian dimungkinkan, menurutnya, hanya sebuah tombol on atau off. “Klik, dan akhirnya, engkau pergi selamanya.” Maka wajar saja tombol on atau off tidak pernah diletakkan di setiap peranti Apple.

Penulis buku ini cermat menampilkan Jobs sebagai seorang perfeksionis, inovator sekaligus seniman setara Thomas Alva Edison dan Henry Ford, negosiator ulung, seorang Midas yang mampu merubah Pixar bahkan Apple menjadi perusahaan paling bernilai di seluruh jagat, di samping sikap tidak bertanggung jawab—ternyata meniru dari sikap ayah kandung yang dibencinya itu—terhadap Lisa, anak dari kekasihnya, Chrisann Brennan. Atau ketika ia sering memarkirkan mobilnya yang tanpa plat nomor di tempat parkir khusus buat orang cacat. Aturan tidak berlaku buat dirinya.

Orang seringkali tercengang mendengar cerita kalau ia hanya digaji oleh Apple, pada saat kembalinya di tahun 1997, sebesar $ 1 per tahun tanpa opsi saham. Itu yang ia minta sendiri awalnya. Ia pun sering berkata, “Aku tidak mau orang-orang yang bekerja denganku di Apple mengira aku kembali supaya kaya.” Tetapi faktanya pada saat ia menanggalkan gelar i di depan CEO-nya untuk menjadi CEO ia meminta pesawat jet pribadi Gulfstream V dan opsi saham sebanyak 20 juta lembar saham. Ia semakin kaya. Inilah bentuk distorsi realitas lapangan yang diciptakannya.

“Saya kecewa terhadap Obama,” ujar Jobs suatu ketika kepada Isaacson. “Dia kesulitan menjalankan kepemimpinan karena enggan menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain.” Ya, betul Jobs beda dengan Obama. Dia tak segan-segan bersikap kejam, melukai dan menyakiti ratusan bawahan atau rekan kerjanya dengan kata-kata kasar dan intimidatif. Tapi kebanyakan dari mereka yang disakiti Jobs mengakui bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan setelahnya.

Jobs memang seorang presenter produk yang hebat. Presentasinya penuh dengan kekuatan kata-kata yang luar biasa dan inspiratif. Tetapi menyangka bahwa kata-kata seperti stay hungry, stay foolish atau simplicity is the ultimate sophistication yang sudah menjadi trademark dari Jobs adalah murni dari pemikiran Jobs maka itu adalah salah. Darimana ia mendapatkannya, semua diuraikan dalam buku ini.

Jobs dikenal pula dengan cara berpakaiannya yang khas. Kaos turtleneck, celana jin, dan sepatu olahraganya sudah menggambarkan sosok dirinya seperti apa. Tetapi untuk mendapatkan latar belakang secara eksplisit yang mendasari mengapa ia berpakaian seperti itu maka tidak akan didapatkan dalam buku ini. Padahal Jobs tak akan pernah membuat desain produk, kantor, atau tokonya tanpa ada makna di belakangnya.

Seperti juga Anda akan kecewa kalau Anda ingin mengetahui mengapa inovasinya berupa iPod sampai iCloud selalu didahului huruf i. Atau karena ia pernah menjabat sebagai CEO ad interim atau disingkat iCEO sehingga Jobs—yang terbiasa ingin agar orang lain memusatkan perhatian pada dirinya—terobsesi bahwa produknya pun adalah i daripada produk pesaing lainnya. Penulis sepertinya melewati hal itu.

    Kaver buku ini pun benar-benar memenuhi salah satu filosofi dari Steve Jobs sendiri yaitu kesederhanaan dan keindahan. Hanya ada dua foto Jobs di depan dan belakang buku. Tidak ada tulisan lain kecuali judul buku, nama penulis dan penerbit di depan dan di sisi buku. Tidak perlu ada endosemen dari siapapun atau tulisan best seller di sana, karena nama Jobs sendiri sudah menjadi jaminan buku ini akan menjadi laku keras.

Kita hanya mengetahui Jobs dari pemberitaan media yang mengulas tentang kejeniusannya dalam menghasilkan banyak produk yang bisa mengubah dunia selama tiga dekade. Dengan membaca buku ini maka kita akan semakin menjadi tahu sisi-sisi terdalam dari Jobs, tak hanya sisi-sisi hebatnya, tetapi juga sisi gelap, sisi kepala bertanduk dan dirinya yang berekor.

Jobs sendiri tidak menggunakan haknya untuk membaca terlebih dahulu atas buku ini atau dengan kata lain mengontrolnya. Sebuah hal yang paradoks dari sikap Jobs yang selama ini selalu ingin pegang kendali atas segala sesuatu. Ia hanya ingin Penulis, mantan pemimpin CNN dan manajer editor majalah Time ini, menulis dengan jujur kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya.

    Kesalahan sedikit yang mengganjal dari penulis atau penyuntingnya adalah ketika buku yang ditulis selama dua tahun ini menceritakan tentang Chrissann Brennan bersama Greg Calhoun menempati rumah kecil, mulanya adalah kandang ayam, yang berada di perkebunan Friedland. Apakah ini terjadi pada saat musim semi 1875?

Namun secara keseluruhan buku ini bagus sekali dan pantas ditambah sebagai koleksi perpustaaan. Sangat layak dibaca oleh banyak kalangan terutama pecinta teknologi, manajer yang ingin berkembang, dan terutama sekali para pecinta buku seperti Anda.

**

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

31 Desember 2011

*Dimuat di Berita Pajak Mei 2012 dengan penyuntingan.

 

 

Tags: Steve jobs,steve, apel, ipad,iphone,icloud, thomas alva edison, jobs, apple,applecomputer, iceo,obama, Walter Isaacson