RIHLAH RIZA #22: SEHARI MENJADI SINGA


RIHLAH RIZA #22: SEHARI MENJADI SINGA

 

“Hidupnya seekor singa sehari masih lebih berkenan ketimbang ratusan tahun hidupnya seekor serigala,” tegas Tipu Sultan di istananya di Seringapattam, Mysore, saat gerbang istana diserbu penjajah Inggris yang dibantu para kaptennya yang telah menjadi pengkhianat dan komprador. Penasehatnya menyarankan Tipu Sultan berkompromi dengan syarat-syarat dalam perjanjian yang disodorkan kepadanya. Tidak. Ia memilih menjadi syuhada.

**

Duha itu, jam sembilan pagi, kami berangkat menuju Kantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Simeulue. Letaknya di belakang Kantor Bupati Simeulue. Di sana kami diterima oleh Kepala DPPKAD. Kami membahas persiapan acara Serah Terima Pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang akan digelar besok. Acara itu rencananya akan dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten, Naskah bin Kamar. Sebagian dari kami kemudian memisahkan diri untuk memberikan konsultasi tentang perangkat lunak sistem informasi dan jaringan.

Jadi Kabupaten Simeulue ini merupakan pecahan dari Kabupaten Aceh Barat. Sejak tahun 1999 berpisah dari induknya dan beribu kota di Sinabang. Tempat KMP Sinabang bersandar. Letak ibu kota kabupaten ini berada di Kecamatan Simeulue Timur. Kotanya kecil. Pusing-pusing di sana tidak makan waktu banyak.

Di Sinabang ada masjid tertua namanya Masjid Raya Baiturrahmah. Kami singgah di hari pertama keberadaan kami di Pulau Simeulue untuk salat duhur di sana. Masjidnya sangat sederhana karena berdinding papan saja. Di sebelah masjid ini sedang dibangun masjid yang lebih besar dan kokoh lagi sebagai penggantinya. Kompleks masjid raya ini letaknya di persimpangan di depan Polsek Simeulue Timur dan Rumah Tahanan (Rutan) Cabang Sinabang.

Rutan ini jangan dikira seperti Rutan Salemba atau rutan-rutan lainnya yang bertembok tebal. DI sini rutannya cukup dengan dinding papan seadanya dan berpagar luar hanya dengan kawat biasa saja. Tidak ada pengamanan ketat seperti sebuah penjara, mungkin samudera yang mengelilingi pulau ini sudah menjadi tembok alami dan bikin jiper para tahanan yang mau melarikan diri. Pernah kejadian tahanan melarikan diri dengan menggergaji papan namun dipastikan tidak bisa keluar dari Simeulue. Polisi sudah sebar fotonya di pelabuhan.

Setelah salat kami menuju pelabuhan lama Sinabang yang sekarang tidak terpakai lagi. Dermaga utama terlihat masih baik namun dermaga untuk menambatkan tali dan dermaga yang berada di sebelah kiri terlihat rusak juga amblas. Pelabuhan ini tidak dipakai lagi untuk melayani feri menuju Pulau Sumatra. Kami tidak lama di sana. Ada yang harus kami tuju setelahnya. Tempat penangkaran lobster.

Letaknya dekat keramaian kota Sinabang. Tempat ini dimiliki oleh Wajib Pajak Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan bernama Mahlil. Ia pengusaha lobster dan ikan yang sudah berusaha lebih dari 20 tahun di bidang itu. Dari daratan kami harus menyeberangi semacam demaga papan kayu menuju tempat penangkarannya itu. Di samping dermaga tertambat kapal boat milik polisi air dan kapal kayu nelayan unik yang besar. Unik karena di setiap sisi kapal kayu berwarna merah ini terdapat semacam kayu panjang untuk menjaga keseimbangannya.

Pada saat kami datang pun Mahlil sedang menyiapkan lobster untuk dikirimkan ke Medan. Inilah saat pertama kali melihat dengan mata kepala sendiri dan memegang hewan laut invertebrata berpelindung luar yang keras. Otak pajak kami sudah mulai bekerja. Kalau setiap hari saja ada puluhan kilogram lobster yang dijual, berapa pendapatan yang diterima Mahlil sedangkan harga per kilogram lobster ini 250 ribu rupiah.

Mahlil selain menangkar lobster, juga menangkar jenis ikan kerapu tiger dan hiu. Semua hewan bernilai mahal ini didapatkan dari para nelayan yang menangkapnya dari tengah laut. Kebetulan kami pun melihat ada satu nelayan sedang menyandarkan sampannya lalu menjinjing hasil tangkapannya berupa kerapu tiger untuk dijual kepada Mahlil. Pengusaha ini menjual kembali kerapu tiger dengan harga 120 ribu rupiah per kilogramnya.

Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melihat penangkarannya. Mahlil membuat banyak petak keramba masing-masing berukuran sembilan meter persegi. Setiap petak keramba mempunyai jaring-jaring dan diberi nomor dengan memakai styrofoam. Di atas jaring itulah ditempatkan hiu berukuran kecil sepanjang satu meter, lobster, dan kerapu tiger. Tentu tidak dicampur.

Setelah puas melihat-lihat kami segera pergi menuju sebuah tempat di mana legenda tentang Simeulue bermula: Makam Tengku Diujung. Kami harus menempuh perjalanan sepanjang 67,8 kilometer dari Sinabang ke Desa Latak Ayah, tempat makam itu berada. Ini berarti kami harus berpindah lokasi dari sisi timur pulau Simeulue menuju sisi baratnya.

Empat per lima bagian perjalanan itu sudah pasti dilalui melalui pesisir pantai. Kami terpukau habis dengan pemandangan yang disuguhkannya. Pantai pasir putih, jejeran pohon kelapa, ombak yang pas buat surfing, dan
pegunungan di sisi kanan kami. Jalanan sepi dan hanya satu dua kendaraan yang kami susul, bahkan berpapasan dengan kendaraan lain pun tidak.

Kondisi jalan lumayan mulus, hanya pada saat di jembatan kami harus mengurangi kecepatan karena masih dalam perbaikan. Hampir seluruh jembatan yang kami lewati demikian adanya. Selain itu, seperti di daerah lainnya di provinsi Aceh, kami banyak melihat kumpulan kerbau yang merumput dan dibiarkan begitu saja. Tak ada gembalanya sama sekali.

Setelah lebih dari dua jam berkendara, akhirnya kami sampai. Makam ini berada di sebuah teluk. Kata penduduk setempat, di sekitar makam ini dulunya adalah pantai. Namun setelah adanya tsunami permukaan tanahnya naik sehingga garis pantai pun mundur puluhan meter. Daratannya menjadi bertambah luas. Konon katanya tsunami memang menghantam teluk ini, tapi tidak merusak sama sekali kompleks makamnya. Air membelah dan melewati begitu saja. Siapa Tengku Diujung ini?

Seperti diceritakan oleh Kepala DPPKAD sendiri kepada kami, dulu ada seorang ulama bernama Khaliilullaah yang berangkat haji dari Minangkabau, saat itu Minangkabau masih menjadi daerah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Ia singgah dulu di Aceh. Oleh Sang Sultan ia diminta untuk menunda keberangkatannya ke tanah suci Makkah. Ia ditugaskan untuk mengislamkan penduduk Pulau Simeulue. Keinginan Sang Sultan dituruti, ia bersama dayang istana yang kemudian menjadi istrinya pergi ke pulau itu untuk memulai dakwahnya di sana.

Di pulau itu ia bertemu dengan penguasa Pulau Simeulue yang bernama Songsong Bulu yang masih menganut paham animisme. Dua orang itu adu kesaktian yang pada akhirnya dimenangkan oleh sang ulama. Singkat cerita penduduk Simeulue pun memeluk Islam. Oleh para pengikutnya sang ulama digelari oleh para pengikutnya sebagai Tengku Diujung. Di akhir hayatnya Tengku Diujung dimakamkan di sebuah tempat yang kemudian dinamakan Latak Ayah. Latak itu berasal dari bahasa minang yang berarti letak. Bersebelahan dengan makam sang ulama terdapat makam sang istrinya.

Selesai berziarah kami mampir di warung sebelahnya. Warung ini berdiri di atas tambak dan persis di bibir teluk. Airnya berwarna hijau. Remaja dan anak-anak pun menjadikan teluk itu sebagai tempat bermain mereka. Berenang atau bersampan.

Pemilik warung juga merupakan penangkar lobster, ikan, dan hiu. Inilah tempat yang sering menjadi kunjungan bagi para pecinta lobster. Perjalanan lama dan melelahkan ini terbayar dengan kenikmatan Mr. Crab yang digoreng sampai berwarna merah itu. Dagingnya empuk dan manis. Ini pengalaman pertama saya makan lobster.

 

Sinabang-Latak Ayah (Google Maps Olahan)

Tempat Penangkaran Lobster milik Mahlil di Sinabang. (Foto koleksi pribadi).

 

Ini di Maldives bukan di Simeulue (@NatGeoID).

 

Nah, kalau ini asli di Latak Ayah. (Foto koleksi pribadi).

 

Pantai yang sudah menjadi daratan di Teluk Latak Ayah (Foto koleksi pribadi).

 


Pemandangan Lain Teluk Latak Ayah (Foto koleksi pribadi).


Makam Asysyaikh Khaliilullaah (Foto koleksi pribadi).

 


Anak-anak Nelayan (Foto Koleksi Pribadi).

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul enam sore walau suasananya masih terang benderang. Kami pun segera beranjak pulang. Besok pagi masih ada yang harus kami selesaikan. Yang pasti seharian itu saya banyak mendapatkan pengalaman luar biasa. Jadi banyak tahu. Jadi banyak ngebatin kaya batin. Sehari di sini mengayakan sisi-sisi jiwa saya yang tidak pernah didapatkan dalam ratusan hari di Jakarta dan keramaiannya. Tapi baik singa atau pun jadi serigala mereka sama-sama hewan yang suka hidup berkelompok. Entah jadi salah satu dari keduanya, mereka tidak bisa hidup sendirian di luar kelompok dan keluarganya, di alam liar. Apalagi saya sebagai manusia. So…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sebuah garis imajiner

12 Januari 2013

 

SIAP-SIAP DISIKUT HULK


SIAP-SIAP DISIKUT HULK

Salah satu doa yang sering kali saya panjatkan saat mau pergi ke tanah suci adalah semoga Allah memberikan teman-teman satu rombongan dan satu kamar yang baik-baik dan menjadikan saya juga teman yang baik buat yang lain. Alhamdulillah terkabul.

    Saya sekamar dengan tiga orang lainnya. Kamar saya ini terletak di lantai 9. Di sebuah flat di sektor 11, di daerah Misfalah-Bakhutmah yang jaraknya lebih dari 2 kilometer dari Masjidil Haram. Saya sebut flat tidak hotel, karena menurut saya tempat yang kami tempati selama 30 hari di Mekkah ini bukan standard hotel. Yang benar-benar standard hotel itu kalau kita menginap di Madinah.

    Ada beberapa cara pergi ke Masjidil Haram dari sektor kami ini. Jalan kaki bisa. Perlu waktu 35 menit jalan cepat untuk sampai ke sana. Atau naik omprengan berupa pick up (mobil bak) dengan harga 2 SAR. Kita bediri kayak kambing di belakang. Saya sarankan jangan naik ini. Karena banyak kejadian jamaah haji yang terjatuh dari mobil.

Atau pilih mobil jenis Colt atau Elf. Harganya sama. Ini cukup aman. Kita masuk dan duduk di dalam mobilnya dan tidak berdiri. Kalau mau menjelang hari hajinya, mobil ini tidak sampai ke tempat terdekat masjid, tetapi paling sampai batas ring road. Mobil berhenti di situ. Karena dilarang masuk oleh polisi sana dan juga jalanan sudah macet, cet. Jadi kita kudu jalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai Masjidil Haram.

    Atau naik bus gratis yang disediakan Pemerintah RI. Tapi ini harus rebutan dengan jamaah haji Indonesia yang lain. Harus sabar juga. Harus bisa jaga hati. Jaga mulut. Karena kalau enggak sabar bisa-bisa terjadi pertengkaran di sini. Dan jangan lupa kalau sudah mendekati hari-hari hajinya, bus tidak disediakan, karena jalanan padat. Kalau tidak salah 5 hari menjelang hari haji mobil bus sudah hilang. Dan mulai disediakan lagi saat 7 hari setelah tanggal 13 Dzulhijjah saat jalanan ke Mekkah sudah mulai berkurang kepadatannya.

    Yang dari Bakhutmah dan Misfalah kalau naik bus gratis Pemerintah RI ini tidak bisa langsung ke tempat dekat Masjidil Haram, tapi cuma mengantarkan kita ke Terminal Bus Kuday. Kita diturunkan di sini. Nah, ke Masjidil Haramnya naik apa? Ya kita naik Bus lagi. Bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi atau maktab atau penyelenggara haji di sana, entah siapa. Bus ini benar-benar sampai di terminal di bawah Menara Jam. Dekat banget dengan Masjidil Haram.

    Kalau kita naik bus dari Kuday, maka kita, jamaah haji Indonesia, akan berhadapan dengan jamaah haji dari Afrika, Turki, Pakistan, dan India. Mereka itu tinggi besar. Baik laki ataupun perempuannya. Siap-siap juga kita disikut dan dilompati oleh orang-orang hitam yang berbadan kekar kayak Hulk itu. Hulk mah warnanya hijau yah…

    Silakan pilih moda transportasi yang mau dipakai. Yang terpenting jaga kesabaran. Ingatlah misi haji yang sedang kita lakukan. Kalau saya sih pilih moda Bus ke Kuday itu. Yang penting lagi adalah pada saat pulangnya. Akan banyak ribuan orang yang berebut bus kalau setelah sholat. Supaya aman kalau mau pulang cepat, maka cari tempat sholat yang dekat dengan terminal. Ketika salam langsung cabut. Atau tunggu setengah jam sampai satu jam setelah sholat. Insya Allah masih masuk di akal rebutan busnya. Saya sering pilih yang kedua. Menunggu saja.

    Biasanya kalau sudah mulai sepi di hari-hari akhir jamaah haji pulang ke tanah air atau mau pergi ke Madinah, supir-supir Bus di Kuday itu akan memuji-muji penumpang Indonesia. “Indonesia hajj bagus…bagus…,” kata mereka sambil angkat jempol. Ujung-ujungnya kalau sudah sampai di tempat tujuan mereka akan mengangkat telunjuk menandakan angka satu.

Mereka minta infak kepada kita satu reyal untuk setiap penumpang. Dan jamaah haji Indonesia terkenal royal serta tidak pelit. Terserah Anda mau kasih atau tidak. Memberi mereka dapat pahala. Tidak memberi juga tidak berdosa. Kebanyakan supirnya berkewarganegaraan Arab tetangga Arab Saudi seperti Yordania, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Bukan orang Bengali.

Ohya, ini flat tempat rombongan kami menginap selama di Mekkah pada musim haji 2011.

(Flat kami dilihat dari satelit di luar angkasa, maksudnya pakai google maps)

Syukurnya flat kami ini habis di renovasi. Masih bagus. Tidak kumuh. Tidak gelap. Walau teknologi liftnya tertinggal jauh dengan yang ada di Indonesia. Dan gambar di bawah ini adalah pintu gerbang flat kami.

 

(Suasana saat mau pergi ke Madinah)

    Kamar kami diisi oleh 4 orang. Semua masih dalam satu regu.

(Ini suasana kamar kami sesaat setelah packing dan tinggal berangkat saja ke Madinah)

Dan gambar di bawah ini adalah ranjang saya yang ditempati selama 30 hari di Makkah Al Mukarramah. Tempat saya biasa mimpi dan ngangenin banyak orang di tanah air. Sudah disediakan sprei, bantal dengan sarungnya, dan satu lembar selimut. Kok ada selimut? Bukankah suasana di sana panas? Panas sih panas. Tapi kalau di dalam mah pakai AC. Dingin juga kan? AC-nya kalah canggih dengan AC yang di Indonesia. Coba lihat.

Berikut teman-teman baik saya yang sekamar itu:

Pak Rasyid dan Ibu sedang makan jagung di suatu senja di Jeddah, depan Masjid Terapung. Orang pertama dalam rombongan kami yang mencium hajar aswad. Pengusaha pertambangan yang bersahaja.


Abah Imay dan ibu. PNS DKI dan pengusaha pakaian jadi di Kota Bogor. Orangnya lucu dan humoris.

Dan Pak Tommy, ketua regu kami, alumnus ITB.
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J

    Sering kali kalau saya ingat Makkah alMukarramah saya jadi ingat mereka. Empat puluh hari menjadi saksi perjalanan persaudaraan haji kami. Tentunya saya berharap bahwa walau kami berpisah setelah perjalanan itu, Allah akan kumpulkan kami di surganya Allah swt. Ini harapan saya terbesar. Amin.

    Yakin juga ya…kalau perjalanan ke sana, ke dua kota bersejarah itu, adalah perjalanan yang paling tidak bisa dilupakan. Ngangenin…seperti aku yang selalu ngangenin kamu…cie…cie…cie…cie…cie… adaw…adaw…adaw.

    Maka segeralah ke sana.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 01 Juli 2012

 

Tags: makkah, madinah, rasyid, imay, tommy, masjid terapung, jeddah, kuday, bakhutmah, misfalah, makkah almukarramah, hulk, cerita haji, india, pakistan, bengali, afrika, turki, Yordania, Suriah, Mesir

MIMPI ORANG PAJAK


MIMPI ORANG PAJAK

 

Lebih dari empat setengah bulan sudah kami meninggalkan Makkah dan Madinah. Dua kota yang kalau disebut sama teman-teman yang mau pergi haji atau umroh selalu membuat mata saya berkaca-kaca dan hati merindu tidak kepalang. Hanya ratusan foto yang tersimpan dalam komputer menjadi pelipur lara. Atau dengan sesekali menyaksikan tayangan langsung di
http://live.gph.gov.sa/index.htm#.TvYOvVJIZ0t

*Foto sholat dzuhur 21 April 2012

Subhanallah pas saya copy paste alamat situs ini, di masjidil haram sedang adzan dzuhur. Allah…Allah…Allah… Sudut-sudut masjidil haram seperti lekat di depan mata. Ingin sekali untuk kembali ke sana. Saya jadi ingat sebuah tema diskusi dalam sebuah forum, judulnya: ini mimpiku dan mana mimpimu?

Maka hari ini kalau boleh saya bermimpi, kiranya saya bisa setiap saat pergi ke sana dengan mudah. Seperti teman-teman kantor kalau mau pulang kampung naik kereta atau pesawat di setiap bulannya. Jadi kalau iman lagi turun, segera rihlah naik pesawat jet pribadi, pergi hari jum’at sepulang dari kantor menuju Bandara Soekarno Hatta. Kemudian pakai kain ihram di pesawat dan berniat umrah saat tiba di miqat.

Tiba di Jeddah Sabtu pagi. Lalu naik Mercedes yang sudah siap menuju Makkah. Tiba di hotel terdekat dengan Masjidil Haram lalu istirahat sebentar. Setelah itu segera berangkat ke masjid untuk memulai thawaf. Putar-putar tujuh kali. Lalu berdo’a yang banyak di Multazam. Sholat sunnah dua rakaat dan minum air zam-zam. Sesudah itu pergi sa’i dari shofa menuju marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali. Selesai sudah rangkaian umrah.

*Lorong masjidil haram 18 November 2011

Shalat maghrib, isya, dan shubuh menjadi kesempatan terbaik mendengarkan recite atau bacaan surat imam yang merdu itu. Kyai Haji Abdurrahman Assudais atau Maher bisa jadi yang memimpin sholat itu. Tak bisa bohong kalau saya lebih menyukai bacaan Maher Almu’aqli.

Awalnya saya tak tahu bacaan indah milik siapa ini. Di masjid depan penginapan di Makkah saya pernah dengar bacaan itu. Menyentuh sekali. Tetapi cuma sekali mendengarnya. Lalu waktu sepulang dari sholat dzuhur di Masjid Nabawi terdengar keras banget bacaan yang sama dari toko yang jual buku, kaset, dan cd. Saya datangi toko itu dan menanyakan kepada penjaga toko yang orang Bangla siapa pemilik bacaan ini. Barulah saya tahu kalau ia adalah Maher Almu’aqli, seorang Imam Masjidil Haram dan Nabawi.

Klik saja kalau mau mendengarkan bacaan alfatihahnya di sini. Atau kalau mau lengkap 30 juz unduh saja di sini. Yang pernah ke dua tempat suci itu pasti merindukan bacaan surat para imam itu.

Mari kita lanjutkan mimpinya. Sepertiga malam terakhir diisi dengan qiyamullail dan menyempatkan diri untuk mencium hajar aswad serta sholat dua rakaat di Hijr Ismail. Lalu setelah shubuh, baca alma’tsurat, sholat syuruq, dan dhuha. Sarapan di hotel dan jalan-jalan di menara jam yang tinggi itu. Jam sebelas siap-siap packing karena ba’da dhuhur kembali menuju Jeddah.

Adzan dzuhur berkumandang, segera pergi ke masjid, berdoa yang banyak minta ampunan Allah dan keselamatan umat Islam dari fitnah dunia. Sempatkan diri thawaf setelah shalat dhuhur. Dan jam setengah dua siang sudah tiba di hotel lagi, makan siang lalu cabut.

Sampai di Jeddah sekitar jam setengah empat sore. Naik pesawat jet lagi dan menyusuri 9 jam perjalanan menuju Jakarta dengan istirahat. Tiba di Soekarno Hatta senin dini hari. Paginya sudah ngantor
ngadepin Pemohon Banding dan Penggugat lagi di meja hijau Pengadilan Pajak. Selesai sudah.

Terbangun dari mimpi lalu sadar kalau diri ini hanya orang pajak. Tapi memangnya tak boleh orang pajak punya mimpi-mimpi? Mengutip perkataan teman dari Hasan Al Banna: “Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Insya Allah bisa. Jangan takut untuk bermimpi. Allah mahakaya, sudah pernahkah kita minta apa saja kepadaNya?

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ayo bermimpilah

20:22 21 April 2012

    

Tags: Maher almu’aqli, makkah, madinah, pengadilan pajak, hasan al banna, hajar aswad, hijr ismail, zam zam, Jeddah, Sudais, Abdurrahman Assudais, bandara soekarno hatta, nabawi, masjidil haram

 

SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG


SUMPAH BEIB, JANGAN SAMPAI HILANG

“Wallet! Wallet..!!” teriak orang Malaysia itu sambil memandang sekeliling orang-orang thawaf yang ada di sekitarnya. Saya yang berada persis di belakangnya menyangka bahwa ia telah kehilangan dompetnya. Benar, ia kecopetan. Hah, di Masjidil Haram ada copet? Tak semua orang yang ada di sana berniat ibadah. Itu saja jawabnya kalau ada pertanyaan mengapa.

    Yang jadi pertanyaan juga mengapa ke Masjidil Haram bawa dompet? Dompet penting untuk bawa duit? Tidak penting sebenarnya karena kita tak perlu bawa uang banyak-banyak. Paling banter cuma 50 Real. Dan itu bisa diselipkan di mana saja. Di kantong kaos kangguru, saku celana, saku kemeja, atau tempat tersembunyi lainnya.

Dompet penting juga untuk menyimpan tanda pengenal dan kartu-kartu penting lainnya? Enggak juga. Sebelum berangkat ke tanah suci saya sudah menyortir apa saja yang wajib ada di dalam dompet. Dan ternyata cuma KTP dan satu ATM saja. SIM tidak perlu di bawa ke sana. Setelah itu dompet saya tipisnya minta ampun.

Karena tidak perlu bawa uang banyak-banyak, juga dikarenakan KTP kita tidak berlaku di sana, pun karena rawan hilang, maka selama ini saya tidak pernah bawa dompet ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Cukup saya simpan dalam kopor besar dan baru saya tengok kembali setelah tiba di tanah air.

Lalu tanda pengenal apa yang berlaku atau penting buat kita di sana? Kalau dihitung-hitung bisa ada sampai tujuh tanda pengenal yang menunjukkan identitas dan alamat kita selama di Makkah ataupun di Madinah.

Yang pertama dan terpenting sudah barang tentu adalah Paspor. Karena ini dokumen paling penting buat Jama’ah Haji Indonesia maka paspor ini akan disimpan oleh pengurus maktab di Makkah atau muassasah di Madinah. Kita sudah tidak pegang paspor lagi sewaktu kita naik ke bus yang akan mengantarkan kita ke pondokan atau hotel dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah atau Bandar Udara Madinah. So, selama kita di Makkah ataupun di Madinah kita tidak pegang paspor sama sekali. Menurut saya metode yang dilakukan oleh maktab ataupun muassasah ini sudah tepat untuk mengantisipasi hilangnya paspor oleh jamaah haji. Karena peluang hilang dokumen ini sangatlah besar.

*Paspor

*Beberapa identitas yang harus dibawa pada saat di Makkah

Setelah paspor ada kartu tanda pengenal lain yang warnanya coklat dan ada foto kita. Ini kita dapatkan dengan menyobek lembar A Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji yang ada di selipan buku paspor. Setelah disobek nanti oleh petugas embarkasi, kita diminta untuk menuliskan nama daerah tempat pondokan berada dan nomor maktab. Lihat sudut kiri atas lembar coklat pada foto di atas. Ada tulisan tangan saya. Setelah disobek, segera simpan kartu itu di kantong depan tas haji kecil kita.

*Buku Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji (DAPIH)

Identitas lainnya adalah gelang besi yang diberikan kepada jamaah haji pada saat di embarkasi sebelum keberangkatan menuju bandar udara. Gelang ini adalah gelang termahal di dunia. Harganya senilai biaya ONH (ongkos naik haji) kita. Di gelang itu sudah tercetak nama , tahun, nomor tempat duduk pesawat, nomor kloter, nomor paspor, tulisan haji Indonesia dalam bahasa Arab , bendera negara, dan lambang negara kita.

Gelang ini jangan sampai hilang karena sangat penting untuk menunjukkan berapa nomor kloter kita. Bagi kita yang usia muda mungkin gampang untuk mengingat nomor kloter tetapi betapa banyak jama’ah haji Indonesia usia lanjut yang tidak mengerti baca tulis, tak bisa berbahasa Indonesia, dan mungkin penglihatannya kurang tajam. Bagaimana kalau mereka tersasar? Maka itulah gunanya gelang, oleh karenanya gelang itu harus dipakai ke mana-mana. Saya benar-benar mencopotnya ketika sampai di rumah di Citayam.

Yang ketiga adalah gelang karet yang diberikan oleh pengurus Maktab. Gelang ini diberikan pada saat pertama kali sampai di kota Mekkah. Jadi sebelum kita turun ke pondokan atau hotel, bus dari Madinah atau dari Jeddah kudu mampir dulu ke kantor Maktab.

Warna gelang kami satu kloter adalah biru muda bertuliskan huruf Arab dan ada angka latinnya juga. Apakah semua gelang orang Indonesia berwarna yang sama? Saya tak tahu. Tak soal warnanya yang terpenting gelang ini penting banget untuk menunjukkan nomor maktab kita. Jadi jangan dilepas juga ini gelang. Sayangnya tulisan yang ada di gelang karet itu mudah luntur.

Selain gelang karet, oleh pengurus Maktab diberikan juga kartu tanda pengenal yang dilaminasi dan dikasih peniti. Peniti ini gunanya agar kartu tanda pengenal itu bisa disematkan di baju atau di mana gitu. Tapi saya sarankan, benar-benar saya sarankan, kalau pakai peniti kartu tanda pengenal itu juga rawan hilang, oleh karenanya simpan saja di kantong bagian luar dari tas haji kecil yang selalu dibawa ke mana-mana itu.

*Bagian belakang kartu tanda pengenal.

Dan sumpah Beib, Demi Allah, jangan sampai hilang ini kartu. Jangan sampai ketinggalan di pondokan atau hotel kalau mau pergi ke Masjidil Haram. Karena kartu ini menunjukkan daerah tempat maktab atau pondokan atau hotel kita berada. Di kartu saya ada tulisan Arab yang bertuliskan Almisfalah Bakhutmah, serta nomor maktab, dan nomor rumah jama’ah. Setiap pondokan atau hotel buat jamaah haji Indonesia selalu disebut sebagai Rumah Jama’ah. Dan setiap rumah jama’ah ada nomor-nomornya. Nomor rumah jama’ah itu selalu terpampang jelas di neon box yang ada di depan pondokan atau hotel.

Bakhutmah adalah nama daerah tempat rumah jama’ah saya berada. Sekitar dua kiloan dari Masjidil Haram. Rumah Jama’ah saya bernomor 1128. Empat digit nomor ini punya arti. Dua digit pertama adalan nomor sektor dan dua digit terakhir adalah nomor urut rumah jama’ah yang berada di sektor tersebut. Kalau ada nomor rumah jama’ah 917, berarti sektor 9 nomor 17. Tapi tak penting tahu detil seperti ini yang penting adalah ingat betul nomor rumah jama’ahnya.

Seringkali saya mengantar orang yang tersasar dan yang paling sulit ditemukan pondokan mereka adalah mereka yang enggak bawa kartu identitas itu dan sama sekali tak ingat atau tak tahu nomor rumah jama’ahnya. So, kartu itu memudahkan banget buat orang yang mau bantuin kita atau pada saat kita mau bantuin orang lain yang sedang tersasar. Ingat jangan sampai hilang. Atau jika memang tak butuh kartu itu tajamkan ingatan Anda, ingatan adik, ingatan kakak, ingatan orang tua, ingatan kakek-nenek, dan ingatan seluruh kerabat Anda yang sedang pergi haji dan berada di Mekkah setajam memori prosesor tercanggih saat ini agar tak lupa.

Ohya jangan juga untuk dilupakan adalah di lantai berapa kamar kita berada dan nomor kamar kita. Sayangnya ini tak dapat kita ketahui di kartu tanda pengenal yang diberikan maktab. Ingatlah-ingatlah atau kalau kita punya ingatan pendek, segera tulis di selembar kertas dan taruh di kantung depan tas kecil. Karena betapa banyak dari jama’ah haji, terutama yang berusia lanjut yang lupa lantai dan di nomor kamar berapa dia tinggal. Perlu diketahui yah, kalau dalam satu hotel itu tidak semua penghuninya mereka yang berada dalam satu kloter yang sama. Ada beberapa juga kloter lain di sana. Makanya kalau tidak ingat-ingat betul, bisa tersesat di hotel sendiri. Betul begitu omsqu?

*Ini adalah pondokan kami. Saat-saat keberangkatan menuju Madinah tanggal 25 November 2011. Di sebelah pintu gerbang pondokan ada yang jual eskrim, sayang saya dari awal sampai akhir tak pernah bisa mencicipi es krim itu. Tak berani. Batuk…uhuk…uhuk…

Nah itu baru di Mekkah, ketika kita baru sampai di Madinah, kita akan diberi dua tanda pengenal lagi. Satu diberikan oleh pihak Muassasah dan satunya lagi diberikan oleh pihak hotel.

  • Kartu Identitas

Terus terang saja kartu yang diberikan pihak muassasah ini pada saya kurang fungsinya. Saya tak tahu kegunaannya apa. Di balik kartu itu juga yang ada cuma informasi tentang muassasah saja. Pakai bahasa Arab lagi.

*Kartu yang diberikan pihak muassasah di Madinah.

Menurut saya yang mesti kita harus punya dan penting dimiliki adalah kartu identitas yang diberikan pihak hotel berupa kartu nama hotel. Pada waktu kami datang pertama kali ke hotel kami, Burju Badri Al Muhammadiyah, pihak hotel menyediakan kartu nama ini dan membagikannya kepada jamaah haji. Nah masalahnya tidak semua hotel begini. So, berinisiatiflah untuk meminta kartu nama hotel kepada pihak hotel.

Jika tidak ada, maka catatlah nama hotel itu dan ingat-ingat betul. Karena lagi-lagi banyak dari jamaah haji Indonesia yang tersasar di Madinah itu adalah mereka yang tidak bawa kartu nama hotel bahkan sama sekali tidak tahu nama hotelnya. Saking semangat ibadah mengejar arba’in, maka pertama kali masuk Masjid Nabawi dengan penuh rasa percaya diri jadi tidak lihat-lihat jalan. Baru sadar kalau sudah keluar pintu. Tadi arahnya kemana yah? Nah loh.

Pada akhirnya apakah menjamin dengan membawa enam atau tujuh tanda pengenal ini kita tidak tersasar? Hanya Allah yang tahu dan berkehendak. Yang penting kita sudah berikhtiar. Jangan lupa untuk tidak bawa dompet.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.33 24 Desember 2011-12-24

Tags: burju badri al muhammadiyah, makkah, madinah, masjidil haram, masjid nabawi, al misfalah, bakhutmah, rumah jama’ah, kloter, dapih, dokumen administrasi perjalanan ibadah haji, maktab, muassasah, king abdul aziz, king ‘abdul ‘aziz, malik abdul aziz, malik ‘abdul ‘aziz, onh, ongkos naik haji, biaya perjalanan ibadah haji, bpih, citayam, jeddah

ELEGI 3: MALAM INI MALAM TERAKHIR BAGI KITA


ELEGI 3: MALAM INI MALAM TERAKHIR BAGI KITA

 

Sosok paling terhormat, paling mulia, paling dicinta oleh seluruh umat islam sejak dahulu kala sampai saat ini terbujur kaku dan abadi di bawah bangunan berpagar hijau ini. Dialah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Tak jauh darinya terdapat makam beserta dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ashshidiq, dan Umar bin Khaththab. Di sebelahnya lagi konon terdapat lubang kosong yang sudah disiapkan untuk makam Nabi ‘Isa. Ke sanalah saya pergi mengunjungi mereka untuk terakhir kalinya.

    Ahad dini hari (4/12), pukul 01.00 waktu Madinah, saya keluar dari hotel menuju Masjid Nabawi yang dinginnya benar-benar menusuk tulang. Kebetulan pada saat itu Madinah sudah mulai memasuki musim dingin. Jam 7 pagi kami harus sudah ada di dalam bus yang akan membawa kami menuju Bandar Udara Madinah, jadi malam ini adalah malam terakhir kami di Madinah. Oleh karena itu saya berusaha untuk berpamitan dan berziarah sebagai bentuk perpisahan.

*Suasana lengang dini hari di pelataran Masjid Nabawi.

    Pintu masjid Nabawi sebagian besar masih tertutup. Hanya Babussalam Gate dan pintu-pintu disampingnya yang terbuka. Saya melangkahkan kaki memasuki masjid. Walau sudah jam segitu, masih saja raudhah ramai dengan orang. Pelan-pelan melewati orang mencari tempat kosong di sana yang beralaskan karpet hijau itu. Shalat untuk beberapa raka’at dan berdo’a. Lagi-lagi saya memastikan diri untuk tak ada satu pun harap yang terlewatkan.

 

    Saya membayangkan wajah-wajah dari teman-teman di tanah air. Wajah Bapak A, Ibu B, Mbak C, Mang D, Teteh E, Mas F, Bibi G, Lik H, Aa I, dan saya bayangkan wajah-wajah orang-orang yang telah mendoakan kami kala kami hendak berangkat ke tanah suci. Saya meminta pada Allah, “Ya Allah begitu banyak do’a-do’a yang dititipkan kepada kami oleh sanak saudara dan teman-teman kami, kabulkanlah semuanya yang mereka titipkan itu ya Allah. Dan begitu banyak yang telah mendoakan kami untuk menjadi haji yang mabrur, maka pada malam terakhir di raudhah ini, kami meminta padamu ya Allah, jadikan pula mereka haji yang mabrur dan berilah kesempatan untuk datang mengunjungi makam kekasihMu.”

    Sudah jam setengah tiga pagi. Saya memutuskan untuk meninggalkan raudhah dan tentunya berjalan ke depan untuk bisa melewati makam Nabi saw. Sebelumnya saya salami salah satu askar yang berdiri di pintu Raudhah. Saya ucapkan salam dan terima kasih kepadanya. Karena merasa bahwa askar-askar ini lebih ramah daripada teman mereka yang berada di Masjidil Haram. Mereka lebih mengutamakan pelayanan kepada jama’ah, dan tak sekadar pengawasan serta penghukuman.

    Ketika melewati makam Nabi itu, tak terasa lagi kalau air mata ini jatuh. Emosional lagi. Saya pun mengucapkan banyak shalawat dan salam kepadanya. “Assalaamu’alaika ya Rasulullah, warahmatullah, wabarakaatuh.” Begitu pula kepada dua orang sahabatnya, salam pun teruluk untuk mereka. Untuk Abu Bakar, sahabat mulia yang begitu perasa, yang ketika mengimami shalat seringkali tidak terdengar suara karena tangisannya. Untuk Umar bin Khaththab, seorang yang keras kepala sebelum Islam datang menghampirinya lalu menjadi seorang lembut, tegas, dan zuhud ketika hidayah itu datang.

  • Salah satu sudut makam Nabi saw.

Sebelum benar-benar keluar dari Baqee Gate (tempat keluar dari makam Nabi saw), saya berdoa lagi untuk ketiga orang mulia itu. Ya Allah kumpulkanlah kami bersama Kanjeng Nabi Muhammad saw dan para sahabat di Firdaus A’laa. Dan berilah kesempatan kepada kami untuk bisa datang kembali.

*Baqee Gate yang terekam pada tanggal 26 November 2011.

Shubuh masih lama dan saya memutuskan untuk pulang ke hotel kembali. Kembali saya dipeluk dingin. Tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Dan saya tak menengok lagi ke belakang.

Dari ketiga cerita itu, saya pun akhirnya berkesimpulan bahwa pada dasarnya saya tak sudi untuk sebuah kata yang disebut perpisahan. Apalagi dengan orang dan sesuatu yang kita cintai. Tapi perpisahan memang sebuah kemestian jika ada pertemuan di awalnya. Maka apa mesti bahwa pertemuan itu yang harusnya disesali daripada perpisahan itu sendiri. Tidaklah. Itu cuma ada di negeri dangdut. Di sini pertemuan pun adalah sebuah kemestian. Apalagi perpisahannya. Yang terpenting adalah jangan sampai kita dipisahkan dari rahmat Allah sampai hari nanti itu. Semoga.

***

Selesai

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tak ada lagi elegi setelah ini?

10:02 19 Desember 2011

    

Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar,

 

 

ELEGI 2: I’LL BE RIGHT BACK


ELEGI 2: I’LL BE RIGHT BACK

 

Tiga hari menjelang keberangkatan ke Madinah, sekitar 11 hari setelah ritual haji, suasana kota Makkah sudah mulai sepi. Banyak jama’ah haji Indonesia atau dari negara lain yang sudah pulang ke tanah air atau mulai meninggalkan kota Makkah menuju Madinah.

Hotel atau pondokan sudah mulai ada yang di gembok dengan rantai karena sudah kosong. Toko-toko sepi dan siap-siap tutup untuk buka kembali di tahun depan, karena konsumen utama mereka—jama’ah haji Indonesia—telah menyusut. Setiap hari ada saja rombongan bis  yang sudah nongkrong di depan hotel untuk mengangkut jama’ah haji yang mau pulang.

Masjidil haram pun demikian, sudah sedikit mulai kosong dan tidak seperti sebelum ritual wajib haji yang begitu padat dan berjubel. Kami masih mendapatkan dengan mudah posisi strategis dengan melihat Kakbah langsung pada saat shalat. Pun posisi shaf perempuan di lantai 1 sudah mulai maju tanpa khawatir diusir oleh para askar. Lantai paling atas, lantai 4 yaitu lantai untuk tempat sa’i telah ditutup. Tak ada lagi jama’ah yang berdiri di pagarnya untuk melihat kerumunan orang thawaf.

Suasana itu membuat saya nelangsa. Dan berpuncak pada saat pelaksanaan thawaf wada ba’da Shubuh di pagi jum’at (25/11). Karena setelah thawaf ini kami harus langsung pulang dan tak boleh kembali lagi shalat di masjidil haram. Saya putari Kakbah itu  tujuh kali. Berdo’a lagi banyak-banyak. Menatap lekat-lekat bangunan yang dirindu oleh jutaan manusia di dunia. Tak henti-hentinya air mata jatuh.

Setelah tujuh itu terlampaui, kami pun menuju barisan yang searah multazam untuk berdo’a lagi. Lalu shalat sunnah dua raka’at. Berdo’a kembali. Banyak. Lama. Kembali meyakinkan diri tidak ada yang terlewat. Dan berulang-ulang saya berharap untuk bisa diberikan kesempatan untuk kembali ke sini.

Emosional sekali  kala itu ketika saya mengulang-ulang sebuah harap ini. “Ya Allah jadikan hati kami adalah hati yang senantiasa merindukan-Mu dan rumah-Mu.  Ya Allah jikalau Engkau rela padaku maka tambahkanlah keridhaan itu padaku. Jika tidak ya Allah, maka berilah aku anugerah sekarang ini, saat ini juga, sebelum aku jauh dari rumah-Mu. Ya Allah janganlah Engkau  jadikan waktuku ini masa terakhir bagiku dengan rumah-Mu. Sekiranya engkau jadikan masa ini adalah masa terakhir, maka gantilah masa itu dengan surga untukku dengan rahmatMu.”

Setelah minum air zam-zam, kami  langsung pulang dengan hati yang masih berdebar-debar. Tidak ada jalan mundur. Saya menguatkan hati betul untuk tidak ada lagi air mata yang jatuh lagi setelah sesi do’a itu. Lamat-lamat bangunan hitam itu hilang dari pandangan mata tertutup tiang-tiang megah Masjidil Haram.

Di pelataran Masjidil Haram pun, kami segera memakai sandal dan bergegas. Tidak dengan jalan mundur pula dan bertekad untuk tidak menengok-nengok ke belakang lagi.  Tak ada foto-fotoan juga. Tapi saya luruh kembali. Di antara tinggi bangunan Menara Abraj Al Bait dan Bin Dawood Super Store, saya berhenti sejenak dan menengok ke belakang untuk menatap dinding marmer putih Masjidil Haram yang tertimpa matahari dhuha. Selamat tinggal Masjid Mulia dan I’ll be right back, insya Allah.

*Abraj Al Bait Tower.

***

Bersambung ke Elegi 3.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tak ada yang dicari

10:02 19 Desember 2011

Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar

 

ELEGI 1: PADA PANDANGAN PERTAMA


ELEGI  1: PADA PANDANGAN PERTAMA

Pertanyaan dari seorang sahabat ketika bertamu itu membuat saya berpikir keras, “apa yang paling berkesan selama di tanah suci yang bisa dijadikan pelajaran buat kami?” Pertanyaan ini terus terang menyentak dan membuat saya terdiam. Menjawabnya pun jadi lama, karena saya harus berpikir dulu. Ada beberapa kemungkinan, ini dikarenakan memang tidak ada yang luar biasa di sana atau semuanya luar biasa sehingga sulit menemukan yang paling luar biasa.

Pertanyaan ini pun sejenis dengan pertanyaan seperti ini, “apa yang paling membuat kamu emosional di sana?” Seringkali saya mendengar banyak cerita dari orang, keluarga, dan teman saat pertama kali melihat Kakbah. Tidak ada yang tidak menangis. Tidak ada yang tidak emosional. Tidak ada yang tidak terharu.

Tapi sungguh saya tidak emosional melihat bangunan hitam itu pertama kali dengan nyata di depan mata. Tak ada air mata yang jatuh. Dan saya tidak bisa berpura-pura untuk menangis sesenggukan karena jama’ah yang lain dalam satu rombongan sudah pada menangis.  Saya sampai berkata dalam hati, “hatiku telah mati ya Allah?”

Memasuki Masjidil Haram pertama kali dengan do’a (25/10) melalui pintu Raja Malik ‘Abdul ‘Aziz, masih dengan dua lembar pakaian ihram, rambut masih gondrong, melihat Kakbah pertama kali, lalu menuju sudut Hajar Aswad untuk memulai thawaf umrah sebagai rangkaian pertama dari haji Tamattu’. Di belakang saya ada istri dan sepasang kakek nenek yang mengikuti kami karena terpisah dari rombongan.

“Bismillahi Allahu Akbar…!” seru saya serasa mengangkat tangan kanan memulai thawaf. Saya membaca semua doa dan dzikir yang saya hafal. Dan tentu do’a Robbana Atina ketika melewati Rukun Yamani sampai Rukun Hajar aswad. Bukankah begitu sunnahnya? Bagaimana dengan sunnah Raml? Berlari-lari kecil tiga  putaran pertama thawaf? Tidak bisa dilakukan karena terlalu padatnya pelataran utama Masjidil Haram.

“Banyak dosa membuat hati saya mati,” lagi-lagi saya berpikir demikian. Memikirkan banyaknya dosa, aib, maksiat, tidak diampuninya semua itu, dan tidak diterimanya amal-amal saya malah membuat saya luruh. Dan pada putaran kedua itulah tak ada yang bisa ditahan oleh mata. Semuanya keluar. Deras. Dan pada saat itulah saya tahu antara titik harap dan takut pada-Nya.

*Suasana Thawaf pada tanggal 26 Oktober 2011, saat pertama kali kami datang.

 

Itu yang paling emosional? Tidak. Kalau saya bisa urutkan adalah pada saat wukuf di Arafah, pada saat thawaf wada, dan pada saat ziarah yang terakhir kali di makam nabi saw.

Seperti diketahui bersama kalau Islam telah memerintahkan kepada yang mampu untuk berhaji dan haji adalah wukuf di Arafah. Kami berwukuf di dalam tenda yang telah dipersiapkan. Sudah suci dari hadas kecil dan besar sejak jam 11 karena sebentar lagi pelaksanaan khutbah wukuf dan shalat jama  takdim dhuhur dan asar.

*Suasana pagi tanggal 9 Dzulhijjah 1432 di Arafah.

Mental sudah saya siapkan untuk waktu wajib wukuf itu yaitu sejak tergelincirnya matahari sampai matahari tenggelam. Pun karena waktu wukuf adalah salah satu hari yang terbaik di dunia. Yaitu hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba dari neraka. Saat di mana Allah mendekat. Pun tertawa.. Saat Ia membanggakan kepada para malaikat orang-orang yang bermunajat pada-Nya di hari itu serta berfirman, “apa yang mereka kehendaki.” Piye jal?

*Jama’ah haji dari negara lain yang berdo’a di luar pagar tenda pada waktu ashar.

Apalagi terasa sekali bagi saya kalau waktu itu seakan-akan waktu yang paling mahal yang pernah dirasa. Waktu yang mungkin hanya dijumpai sekali dalam seumur hidup saja adanya. Waktu yang terasa pendek untuk do’a, talbiyah, Istighfar, tahlil, dan shalawat.

Seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya kalau waktu wukuf itu pun bagi saya seakan-akan waktu terakhir di mana besok akan dihukum mati. Ibaratnya seperti kedatangan malaikat maut yang bilang: “Za, besok pagi kamu mati!” Maka detik itu langsung tobat, langsung minta ampun, berdo’a yang macam-macam untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Teks khutbah wukuf yang dibacakan oleh Ketua Kloter 65 bagi saya terasa indah, seperti pukulan untuk menyadarkan sanubari bahwa masih adanya banyak kesalahan pada diri, serta menghanyutkan dengan do’a-do’a muhasabah panjangnya.

*Suasana sore di Arafah.

Apalagi menjelang maghrib, saya benar-benar harus meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tertinggal dari do’a-do’a itu. Do’a untuk diri, istri, anak-anak, keluarga, teman-teman, tanah air, dan kejayaan umat Islam. Semoga tetesan air mata itu menjadi saksi buat kami.

***

Bersambung ke Elegi 2

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih mencari

10:02 19 Desember 2011

Tags: menara abraj al bait, abraj al bait tower, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar

 

 

Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah


Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah

Di tanah suci macam-macam saja kebiasaan jama’ah haji Indonesia ini. Salah satunya kebiasaan bersandar di tembok atau tiang masjid di tanah air yang ternyata terbawa sampai ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

    Di Masjid Nabawi tampak mencolok wajah melayu, bertubuh kecil, memakai baju batik yang berleha-leha di tiang-tiang masjid sambil menunggu waktu shalat. Ini masih mending karena jama’ah Masjid Nabawi tidaklah sebanyak Masjidil Haram. Kalau di Masjidil Haram kebiasaan itu akan merugikan jama’ah haji sendiri. Mengapa?

Harga shaf di Masjidil Haram sangatlah mahal. Paha yang dilipat bersila menandakan masih adanya tempat yang leluasa untuk bisa diselipi oleh orang lain. Dan itu dimanfaatkan betul oeh jamaah dari negara lain yang tanpa basa-basi meminta kita untuk bergeser walaupun sudah tahu bahwa shaf sudah penuh.

Nah, jamaah haji kita kalau dekat tiang seharusnya duduk merapat tiang agar tidak bisa digeser oleh orang, tetapi karena kebiasaan bersandar itu jadi menyebabkan terlihat mencolok space yang kosong. Mau tidak mau seharusnya dia yang dapat tempat yang nyaman untuk duduk malah disingkirkan oleh jama’ah haji yang melihat adanya ruang yang kosong itu. Karena orang Indonesia orangnya santun, tak enakan, dan ngalahan maka ia pun terpaksa duduk dengan melipat kaki ke dada.

Ada lagi yang lain. Saya pernah menjumpai ibu-ibu jamaah haji Indonesia yang mendekati petugas kebersihan Masjidil Haram dan memohon-mohon dengan sangat sambil mengangkat jari telunjuk menandakan angka satu dan menunjuk-nunjuk kain pel. Artinya ibu-ibu itu meminta kepada Petugas Kebersihan satu helai kain pel. Untuk apa sih? Saya juga tidak tahu. Mungkin buat bahan cerita di tanah air, “nih kain pel asli dari Makkah buat membersihkan Masjidil haram. Asli.” Klenik? Tidak tahu juga. Hanya Allah yang tahu.

Orang Indonesia saja yang demikian? Tidaklah. Jama’ah haji Pakistan seringkali menggerak-gerakkan jari-jari mereka seperti menulis ketika habis shalat di lantai Masjidil Haram. Entah apa yang ditulis. Mungkin nama mereka agar bisa datang lagi ke Mekkah. Apalagi waktu di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Suatu tempat pertemuan Nabi Adam dengan Siti Hawa. Kalau jamaah haji yang lain pakai spidol, mereka tidak. Cukup dengan menggunakan jari tangan mereka.

*Jurus Tulisan Tanpa Bayangan?

Selain itu di Jabal Rahmah ini banyak sekali foto-foto yang bertebaran. Foto sendiri atau foto berdua. Katanya kalau meninggalkan foto di sini atau menulis di batu-batunya bisa dipanggil lagi untuk berkunjung ke tempat itu atau jodohnya awet.

  • Salah satu foto yang saya temukan. Ada nama di balik foto itu.

  • Lembaran foto lainnya. Ada nama mereka berdua di balik foto itu.

Karena melihat kebiasaan itu, maka seringkali para askar atau penjaga yang bertugas di Jabal Rahmah menegur dan melarang mereka untuk melakukan hal tersebut. Karena tidak pernah ada syari’atnya untuk itu. Syukurnya kami pun tidak melakukan itu. Berdoa di sana pun tidak.

Di sekitar tugu yang berada di puncak Jabal Rahmah tampak terlihat dijaga ketat sekali oleh para askar. Para askar yang berbaju gamis, berjenggot panjang, dan bersurban itu senantiasa berteriak serta menasehati para peziarah untuk tidak menyentuh tugu dan berdoa menghadap tugu persis, tetapi diminta oleh mereka untuk menghadap kiblat. Kalau tidak dijaga, maka tugu Jabal rahmah rawan jadi tempat shalat, thawaf, dan dicoret-coret.

Kalau yang berziarahnya itu terlihat bermuka melayu maka yang dihadapkan adalah askar dari Malaysia. Kalau orang Afrika maka askar yang ditugaskan adalah askar yang berkulit hitam dan mampu berbahasa orang Afrika. Jadi para askar yang bertugas di sana dari berbagai macam bangsa pula.

*Tampak para askar sedang menjaga tugu di puncak Jabal Rahmah

Ada lagi yang menarik. Seringkali kita melihat kalau di sekeliling tembok Kakbah itu banyak sekali orang yang menyapu kopiah, peci, surban, sajadah, baju mereka ke tembok Kakbah. Awalnya saya menduga, semua barang itu nanti akan jadi barang kenang-kenangan dan tidak akan pernah dicuci karena bekas kena batu dinding Kakbah. Mungkin bagi sebagian orang iya. Kemudian saya berbaik sangka kalau mereka itu sebenarnya memang hanya ingin mengetahui wangi Kakbah itu seperti apa.

Karena ternyata, sebelum shalat jama’ah dimulai, dinding Kakbah yang steril dari manusia karena dijaga ketat para polisi itu, selalu diberi minyak wangi oleh petugas khusus. Begitu pula dengan hajar aswadnya. Nah itu yang diperebutkan oleh seluruh jama’ah di dekat Kakbah ketika imam selesai salam bahkan sebelum imam selesai mengucapkan salam pertamanya. Saat pertama itulah kopiah, peci, surban, sajadah, baju menyapu bersih wangi parfum Kakbah.

Jadi siapa bilang kalau hajar aswad itu selalu wangi. Wanginya itu wangi sebelum dicium oleh puluhan ribu orang. Baru tercium wangi kalau Anda jadi yang pertama mencium hajar aswad. Tentu itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Mau?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

selalu berdoa untuk pertemuan itu

22.41 15 Desember 2011

Tags: hajar aswad, jabal rahmah, jurus tulisan tanpa bayangan, jurus, Kakbah, masjidil haram, masjid nabawi, mekkah, makkah, mecca, macca, medinah, madinah, kota nabi

MUSTAJAB BANGEEET…


MUSTAJAB BANGEEET…

    Bagaimana cara bertemu dengan teman yang kita tidak tahu nomor kloternya berapa, tinggal di sektor mana, rumah pondokannya berapa? Suatu hal yang mustahil saya mencari satu orang di antara ratusan ribu jama’ah Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru mata angin kota Makkah.

    Tapi di sana tidak ada yang mustahil. Tinggal berdoa saja di depan Kakbah, di sebuah tempat yang paling mustajab, di waktu yang mustajab, dengan 100% keyakinan pada Allah, maka tunggu dan biarkan mekanisme doa itu berjalan sendirinya untuk kita. Dan saya hanya terlongong-longong ketika teman saya itu muncul di hadapan saya begitu saja. Terpana. Tak dinyana. Tak terduga. Allah Akbar.

Mustajab banget doa di sana. Banyak sekali doa yang dikabulkan. Oleh karenanya tak pandang sepele semua keinginan saya panjatkan. Dengan bahasa Arab ataupun pakai bahasa orang Bojong. Doa kecil ataupun doa besar. Maksudnya? Doa kecil itu semisal minta supaya saya tak ada masalah pada saat mengantri toilet di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMINA). Doa besar semisal agar saya bisa dikumpulkan dengan orang-orang yang saya cintai di Firdaus A’laa bersama Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Saran saya buat yang mau berangkat haji di tahun-tahun mendatang adalah siapkan stok doa sebanyak mungkin. Doa berbahasa Arab yang sudah kita hapal, kita pahami betul maknanya sehingga tak sekadar diucapkan di lisan. Bahkan jika kita hanya punya satu doa andalan—doa sapu jagat, Robbana aatina—tak mengapa itu diulang ribuan kali atau menjadi doa pada saat thawaf dan sa’i. Jika sudah selesai dengan doa yang berbahasa Arab berdoalah dengan doa berbahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang kita kuasai. Allah Maha Mendengar.

Jangan malu untuk buka-buka buku pada saat doa di sana. Buku paket doa dan dzikir yang dibagikan pemerintah di tanah air itu juga bisa mencukupi. Atau dengan buku yang dibagikan pada saat kita mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Di buku itu ada tulisan Arabnya dan terjemahannya. Saya pakai buku yang terakhir dan membaca terjemahannya di saat berdoa karena saya anggap isinya bagus banget.

Jangan sepelekan buku dzikir dan doa yang dibagikan oleh pemerintah yang isinya juga bagus-bagus. Mentang-mentang tak ada keterangan doa ini dari hadits (Nabi) atau dibuat oleh siapa jadi enggak dipakai. Padahal buku doa dan dzikir dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS) pun sama bae. Enggak ada keterangan doa itu riwayat dari siapa atau ditakhrij oleh siapanya.

Keuntungan yang dimiliki oleh orang-orang Makkah dan Madinah adalah mereka punya tempat yang mustajab untuk berdoa—di Makkah yakni di Multazam sedangkan di Madinah yakni di Raudhah—yang bisa mereka kunjungi kapan saja. Tak ada kendala jarak dan waktu.


Tampak seorang Pakistan berdoa dengan khusyu’ memandang Kakbah

di lantai paling atas tempat sa’i Masjidil Haram (18/11)

Tapi Allah Mahaadil, Allah memberikan kepada kita—kaum Muslimin secara keseluruhan—saat yang mustajab untuk kita berdoa. Oleh karena betapa susahnya kita doa di tempat yang mustajab itu maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya saat-saat yang tepat itu dan jangan sekali-kali meremehkannya. Saat-saat itu adalah antara lain waktu sahur, sepertiga malam terakhir, turun hujan, antara adzan dan iqamat, berbuka puasa, dan pada saat khatib jumat duduk.

Berdoalah apa saja sesuai hajat kita dengan sepenuh hati. Pun dengan adab-adab doa yang telah kita ketahui bersama antara lain seperti memulai dan mengakhirinya dengan mengucapkan rasa syukur dan shalawat, mengangkat tangan, khusyuk, serta penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan Allah.

Satu hal lagi adalah ada saat berdoa yang mustajab yang tidak bisa dimiliki oleh kaum muslimin hatta penduduk Makkah dan Madinah sekalipun kecuali mereka yang berhaji yaitu pada saat wukuf di Arafah. Jangan sia-siakan waktu yang enam jam itu untuk kita tuntaskan semua hajat kita dengan doa. Waktu itu dimulai saat tergelincirnya sampai terbenamnya matahari.

Kebanyakan dari jama’ah haji Indonesia hanya memanfaatkannya sebentar yaitu pada saat dimulainya khutbah wukuf sampai selesainya. Atau paling lama sampai waktu ashar tiba. Saran saya adalah berdoalah sampai benar-benar maghrib tiba. Saya merasakan sekali betapa waktu itu terasa pendek dan teramat berharga. Seperti merasa waktu itu hanya akan mampir cuma sekali dalam seumur hidup. Seperti merasa hanya punya waktu sehari saja untuk hidup di dunia atau mau dihukum mati besok harinya. Oleh karenanya di penghujung waktu itu saya ulangi semua hajat dan keinginan terbesar saya dan minta agar saya bisa kembali untuk menjumpainya.

Semoga kita bisa menjumpai saat itu dan memanfaatkan waktu yang terbaik untuk berdoa dengan sebaik-baiknya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lagi, bukan di depan bangunan hitam itu kita dipertemukan

03.15 11 Desember 2011

LANGIT BIRU DI SIANG MAKKAH


LANGIT BIRU DI SIANG MAKKAH

Senin (5/12) dini hari, bus rombongan dari Bandara Soekarno Hatta menuju asrama haji Bekasi itu melewati jalan tol yang sudah sepi. Lampu papan iklan yang besar-besar di pinggir jalan itu dengan beraneka produk yang ditawarkan telah memastikan saya bahwa saya sudah benar-benar kembali ke negeri tercinta. Saya seperti kembali dari sebuah keterasingan menuju peradaban.

    Bagaimana tidak, 40 hari lamanya saya tak pernah tahu sama sekali tentang kondisi tanah air. Tak pernah buka internet, buka email, baca koran, atau nonton televisi. Kalau yang terakhir bisa saya lakukan selama 9 hari terakhir di Madinah tetapi pada kanal televisi kabel berbahasa arab dan Inggris yang memberitakan seputar tanah Arab dan Eropa.

    Dalam hari-hari itu saya merasa benar-benar hanya terkoneksi dengan langit. Berusaha menghapus sisi-sisi kelam apa yang ada pada diri dan untuk semata-mata mencari ridha Sang Penguasa Langit dan Bumi. Bahasa sederhananya adalah di sana itu untuk ibadah, ibadah, dan ibadah. Lalu sampai pada suatu titik semua yang saya lakukan itu—dengan segala kekurangan yang ada—bisa diterima oleh-Nya tanpa riya dan sum’ah.

    Lebih dari 40 hari pula saya tidak menulis. Menulis tentang apapun. Tak ada buku diari yang penuh dengan coretan seperti catatan harian para pengelana Barat itu. Tak ada. Semuanya hanya saya rekam dengan mata lalu disimpan di otak. Dan yang saya rasakan sekarang adalah betapa kapasitas otak ini sudah tak bisa lagi untuk menahan beban mati ini. Harus segera dikeluarkan. Maka malam ini kembalilah saya menulis.

    Menulis begitu banyak pengalaman yang ada. Saking banyaknya yang menarik, baru, dan ingin saya ceritakan itu membuat saya bingung untuk memulai dari mana. Tetapi yang pasti akan ada yang tertulis—insya Allah—walau tidak sistematis seperti cerita haji di blog-blog yang lain. Saya hanya menulis yang saya sedang suka, hampir lupa, dan harus segera dituliskan. Ada sebuah harap cerita yang tertulis ini bisa bermanfaat buat yang lain. Jika tidak? Anda tahu apa yang harus Anda lakukan.

    Sebuah permohonan maaf dari saya jika ada email yang belum sempat saya balas, pertanyaan konsultasi yang belum terjawab, blog yang tak ada tanda-tanda kehidupan selama hari-hari itu, notifikasi facebook yang terabaikan, permintaan pertemanan yang tiada respon, dan segalanya. Semoga maaf ini bisa diterima. Seperti langit biru di atas Makkah yang menerima semua yang tertuju padanya. Banyak doa, harap, dan menara.

*Babul Malik Abdul Aziz—16 November 2011

    Lalu kapan mulai berceritanya? Nantilah. Ini sudah jam 2 pagi. Waktunya untuk tidur. Tidurlah…

***

Riza Almanfaluthi

bukan di bangunan hitam itu kita dipertemukan

dedaunan di ranting cemara

02.00 10 Desember 2011