KPP Madya Batam: Dari FTZ hingga Toilet


Dalam edisi kali ini Intax melakukan liputan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Batam. Selain memiliki unit khusus yang tidak ada di KPP lain, kantor ini memiliki strategi khusus pengawasan terkait tipikal wajib pajak yang ditanganinya. Menariknya KPP Madya Batam juga tak melupakan kebutuhan dasar para pemangku kepentingannya: toilet bersih.

*

Provinsi Kepulauan Riau merupakan hasil pemekaran dari Provinsi Riau dan terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002. Provinsi ini mencakup lima kabupaten: Bintan Kepulauan, Karimun, Kepulauan Anambas, Lingga, Natuna, dan dua kota: Batam dan Tanjungpinang. Kota terakhir ini terletak di Pulau Bintan serta menjadi ibukota Kepulauan Riau.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

RIHLAH RIZA #11: BEGINT DE VREDE


RIHLAH RIZA #11:

BEGINT DE VREDE

Tanggal 7 Juli 1949, para tokoh nasional yang dibuang penjajah Belanda ke Bangka, mulai meninggalkan Bangka menuju Yogyakarta. Dua minggu sebelumnya penjajah Belanda menarik pasukannya sehingga dengan demikian Yogyakarta kembali menjadi ibu kota tanah air.

Dua kejadian ini merupakan konsekuensi buat Belanda dari hasil perundingan Roem-Royen. Yang pada ujungnya nanti—di tanggal 27 Desember 1949—penjajah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.

Pemulangan tokoh nasional itu kemudian menjadi slogan yang terkenal: Van Bangka Begint de Victorie. Moh. Roem menerjemahkannya dengan: dari Bangka datangnya kemenangan.

**

Di sebuah pagi yang dingin. Bekas hujan semalam masihlah tampak. Rumput-rumput basah. Jalanan pun basah. Debur ombak di pantai depan masih dengan ritme yang sama. Sinar matahari sedikit-sedikit mampu menembus mendung yang masih menggelayuti kota kecil ini. Saya ambil kursi di ruang tamu dan menaruhnya di teras depan. Saya duduk. Menghirup nafas kesegaran pagi dalam-dalam. Hawa segar terasa di rongga dada. Memandang kejauhan laut dari titik cakrawala yang satu ke titiknya yang lain. Ada satu kata yang sesungguhnya mampu untuk menggambarkan apa yang saya rasakan pada saat itu: tenteram.

    Kata-kata sudah menggelegak dalam kuali kalimat, tinggal dituangkan saja ke gelas puisi. Di dalamnya ada balada hitam dan rindu manis. Cukup diaduk perlahan hingga aromanya menguar kemana-mana. Tapi saya membiarkannya imajiner saja. Tak pernah menjelma sajak. Itu juga sudah cukup. Kemudian setelah lama menenggak rasa pagi di depan rumah, saya putuskan untuk mengeluarkan sepeda. Ada satu tempat yang ingin saya kunjungi sejak pertama kali datang ke Tapaktuan. Sebuah tempat bernama pelabuhan Tapaktuan. Ada sekitar dua kilometer ke arah selatan dari mess kami. Ke sanalah sepeda ini akan saya kayuh. Jalan-jalan pagi dengan sepeda adalah sebuah anugerah yang luar biasa di sini. Jalanan sepi dan tanpa polusi.

    Saya mengayuh dengan cepat, kadang lambat. Tak sampai sepuluh menit saya sudah masuk pintu pelabuhan perintis ini. Tidak ada penjagaan. Orang bebas masuk dan keluar pelabuhan. Pakai sepeda, kereta, ataupun mobil hingga di atas dermaganya silakan-silakan saja.

    Banyak pemancing di dermaga itu dengan joran panjang atau cuma bermodal benang saja dan umpan ikan. Di sinilah besar kecilnya umpan menjadi penentu besar dan kecilnya ikan yang didapat. Sungguh ini perwujudan tentang ada harga yang harus dibayar atas semua hal. Umpannya kecil ya hasil yang didapat pun kecil. Umpannya ikan besar maka ikan yang kena pancing pun ikan besar sekali.

    Seperti jenis perahu yang digunakan para nelayan pun demikian. Semakin besar perahu yang digunakan maka semakin banyak pula ikan yang didapat. Tetapi ada yang anomali di dunia ini, perahu kecil yang digunakan seorang nelayan tua mampu mendapatkan ikan marlin yang besarnya melebihi besar perahu kecilnya itu. Tapi itu cuma fiksi dalam sebuah buku berjudul The Old Man and The Sea dan ditulis oleh Ernest Hemingway yang apa hendak dikata nobel kesusastraanlah yang didapat.

    Di pelabuhan itu, selain para pemancing, ada yang sekadar jalan-jalan dan melihat dari kejauhan pemandangan laut ataupun perbukitan. Ada juga sedikit keramaian dari nelayan yang menurunkan ikan segarnya yang besar-besar. Sebenarnya pelabuhan ini bukanlah tempat pelelangan ikan, karena untuk pelelangan ikan sudah disediakan tempatnya sendiri oleh Pemerintah Kabupaten Tapaktuan.

    Pelabuhan Tapaktuan bukanlah pelabuhan penumpang melainkan pelabuhan barang. Untuk menuju Pulau Simeulue dengan kapal laut maka pelabuhan Tapaktuan bukanlah tempatnya melainkan pelabuhan Singkil di ujung selatan Provinsi Aceh dan pelabuhan Labuhan Haji, satu setengah jam perjalanan dari Tapaktuan.

    Di pelabuhan Tapaktuan ini ada kapal-kapal besar yang membawa bahan bangunan dari pelabuhan lain di Sumatera. Misalnya besi atau semen Andalas yang dibawa dari pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Butuh waktu dua hari dua malam untuk sampai ke sini. Dan tak sebentar kapal yang membawa belasan ribu sak semen ini untuk menurunkan bebannya. Butuh waktu tiga hari.

    Dari dermaga pelabuhan ini saya bisa memandang penyu yang berkeliaran di bawah tiang-tiang dermaga. Selain itu saya bisa menyaksikan elang laut yang terbang ke sana ke mari dengan bentangan sayapnya yang panjang dan gaya menukik tajamnya ketika menyambar ikan di laut; tali pancing yang menegang karena umpannya dimakan oleh ikan jabung; raut kemenangan pemancing saat mendapatkan ikan; bukit-bukit dengan kabut berarak yang seperti turun dari atasnya menuju laut; matahari pagi yang malu-malu memunculkan wajahnya dari puncak bukit dan balik awan; ombak-ombak yang menghantam bebatuan di sisi lain pelabuhan; perahu-perahu nelayan yang terombang-ambing.

Dermaga Pelabuhan Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Pelabuhan Tapaktuan dari Kejauhan (Koleksi Pribadi)

Para pemancing (Koleksi Pribadi)

Penyu di dermaga Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Kapal Barang dan Kapal Nelayan yang Bersandar (Koleksi Pribadi)

Bukit di Tepi Pantai. Di baliknya terdapat jejak kaki besar Tuan Tapa. Bangunan besar yang terlihat itu adalah gedung olahraga tempat teman-teman KPP main bulutangkis. (Koleksi Pribadi)

Sudut lain dari sebuah bukit yang menjorok ke pantai (Foto Koleksi Pribadi)

Arah timur pelabuhan. Pantai yang berkabut. (Koleksi Pribadi)

    Di atas pasak yang tertancap di dermaga yang biasa dijadikan sebagai tempat mengikat tali kapal, saya duduk dalam hening, memandang kejauhan laut dari titik cakrawala yang satu ke titiknya yang lain. Ada satu kata yang sesungguhnya mampu untuk menggambarkan apa yang saya rasakan pada saat itu: tenteram.

Ketenteraman yang membuahkan sebuah kesadaran bahwa pagi itu saya terjebak dalam tiga benda ini: bahtera, samudera, dan dermaga. Ketiganya sudah cukup membentuk sebuah landscape dari apa yang kebanyakan kita menyebutnya sebagai sajak, prosa, fragmen, drama, cerita pendek, dan novel.

Bahtera yang singgah di pelabuhan ini tidaklah itu-itu saja. Bahtera senantiasa dirindu samudera. Karenanya ia tidak berlama-lama di dermaga. Hidup kita pun demikian. Kita tak selamanya di samudera, pun kita tak selamanya di dermaga. Ada jeda yang membuat kita berpisah. Jedalah yang membuat kita dipenuhi hasrat. Hasrat sebuah bahtera yang ingin menumpahkan apa yang ada di dalamnya. Hasrat sebuah bahtera yang ingin mengambil apa saja dari samudera.

    Di dunia ini tak selamanya ada kesedihan, begitu pula tak selamanya ada kegembiraan. Jeda yang akan membuat kita berpikir untuk bisa menempatkan diri dengan sebaik-baik perilaku. Di saat sedih kita paham bahwa kesedihan itu tak selamanya ada, setelahnya akan ada senyum, tawa, dan kegembiraan. Di saat kita gembira kita pun sadar akan ada waktunya sedihnya menjadi raja, sehingga kita mampu mengukur seberapa kadar kegembiraan itu layak untuk ditumpahkan. Pada waktunya semua itu akan berlalu. Yakinlah.

    Ah, pagi di pelabuhan membuat saya banyak merenung. Memang, pagi dan senja di pantai adalah cerita tentang keindahan. Tetapi bagi para nelayan dan pemancing ikan, ini adalah kisah tentang kerja keras dan kesabaran *). Begitu pula dengan tax fighters yang ditempatkan di mana saja di daerah terpencil atau jauh dari keluarganya. Semua berujung pada tanya mampukah ia bersabar. Karena semua itu akan berlalu. Resah dan bahagia senantiasa akan dipergilirkan. Yakinlah.

Matahari sudah mulai meninggi. Sinarnya terasa hangat. Saatnya pergi meninggalkan pelabuhan. Saatnya pergi ke warung kupi, sarapan nasi gurih, dan minum segelas kupi Gayo. Di sana saya akan duduk dalam hening, memandang pinggiran gelas dari pinggiran yang satu ke pinggirannya yang lain. Ada satu kata yang sesungguhnya mampu untuk menggambarkan apa yang saya rasakan pada saat itu: tenteram.

Van Tapaktuan begint de vrede. Dari Tapaktuan datangnya ketenteraman. Itulah yang akan saya tulis.

*) Kutipan Majalah Tarbawi

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Desember 2013

JANGAN PERNAH MENYERAH


JANGAN PERNAH MENYERAH

 

 

Ya Allah Sang Pemilik Keindahan

jika pertemuan dan perpisahan

adalah sebuah kemestian,

maka jadikanlah pertemuan itu indah

dalam pandangan kami

jadikanlah pertemuan itu indah

dalam benak dan hati kami,

sehingga keindahan itu akan tetap

menghiasi hari-hari kami,

pada saat kami berpisah nanti

 
 

Ya Allah, Ya ‘Aziiz

jika pertemuan hanyalah awal

dari sebuah perpisahan,

maka cukuplah kebahagiaan

yang kami bawa pulang,

karuniakanlah kebaikan

yang lebih kepada saudara kami yang akan pergi,

melebihi kebaikan yang ia dapatkan di sini

dan karuniakanlah kebaikan yang sama

kepada saudara kami yang datang kepada kami,

melebihi segala kebaikan

yang ia tinggalkan.

 
 

 
 

            Beberapa harap yang terucap dalam doa di saat acara Pisah Sambut Pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Jum’at (13/5) siang ini. Kami melepaskan lima teman yang akan berpisah.

Dua orang teman kami akan menjadi Account Representative yakni Mbak Nur di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tamansari Satu dan Mas Rio di KPP Duren Sawit. Dua orang lagi tetap menjadi Penelaah Keberatan yakni Mbak Ratna di Kantor Wilayah DJP Banten dan Pak Sudiya di Kantor Wilayah DJP Lampung. Sayangnya dua teman kami yang terakhir ini tidak ikut dalam acara.

Satu lagi adalah Mbak Vivi yang akan cuti di luar tanggungan negara untuk ikut suaminya yang sedang tugas belajar di Adelaide, Australia. Mbak yang satu ini bilang pada sesi  sambutan, “Sudah cukup 13 tahun mengabdi di Direktorat Jenderal Pajak dan kini saatnya saya untuk mengabdi kepada suami.” Tepuk tangan kami menyambut dari akhir kalimatnya itu.

Mas Rio

Mbak Nur

Mbak Vivi

 

Setelah menerima cenderamata mereka didaulat untuk bernyanyi bersama-sama. Saya tak tahu lagu apa itu awalnya, tetapi ketika tiba pada baris reffrain sepertinya itu lagu ada band,

walau badai menghadang
ingatlah ku kan selalu setia menjagamu
berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

Saya juga tak hafal lagunya . Ini pun hanya menyalin dari internet. Mendengar lagu itu teman-teman sampai pada ikutan bernyanyi dan mengangkat kedua tangannya lalu menggoyangkannya ke kanan dan kiri. Sayang tidak ada pohon di sana. Kalau enggak, pasti MC-nya, Kang Awe, akan bilang: “yang dipohooon goyaaanng…!”

Setelah itu diperkenalkan teman-teman yang baru datang. Ada 10 orang. Satu per satu diperkenalkan. Tiba-tiba, sebelum dilanjutkan ke acara berikutnya, aku seperti merasa sendiri. Walau di tengah keramaian. Dan segera saya pun beranjak untuk meninggalkan acara itu. Entahlah, siang itu saya ingin sendiri. Tulisan ini pun sepertinya harus berakhir sampai di sini.

Satu kalimat buat yang meninggalkan kami, jangan pernah menyerah dalam kondisi apapun. Semangat!!! Semoga Allah memberikan keberkahan di setiap waktu yang dimiliki.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ask: what do you feel today? my answer: I am very happy

07.52 am 14 Mei 2011

     

 

 

 

 


 

 

VISIT TASIKMALAYA


VISIT TASIKMALAYA

Dari perjalanan dinas saya sejak bulan Oktober 2009 bisa jadi perjalanan ke Tasikmalaya adalah perjalanan yang paling mengesankan. Hingga membuat saya berusaha untuk menuliskannya di sini.

Ke Tasikmalaya ada kewajiban yang harus saya tunaikan di sana. Saya harus meminta penjelasan dari Wajib Pajak tentang kelalaiannya tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan selama dua tahun berturut-turut.

Oleh karenanya perjalanan itu saya rancang sedetil mungkin. Mulai dari mencari hotel yang representatif, alamat Wajib Pajak dan kantor pajak setempat, serta transportasi yang harus saya tempuh, dan tentunya tak lupa tempat kuliner yang mengasyikkan.

Syukurnya saya dibantu sama teman maya saya di sana. Yang nama aslinya dan raut mukanya pun baru saya tahu ketika saya mengunjungi kantor pajak tempat ia bekerja. Bahkan ia menawarkan suaminya untuk mengantarkan saya ke hotel, ke lokasi Wajib Pajak, dan ke Pool Bus Budiman saat saya akan pulang ke Jakarta.

Kamis (3/12) pagi itu saya mengawali perjalanan dengan menaiki Kereta Lis Listrik (KRL) Bojonggede Express. KRL yang sepengetahuan saya biasa berhenti di Stasiun Manggarai ternyata berhenti di stasiun yang lebih jauh lagi yaitu Cikini.

Sampai di sana saya langsung pergi ke loket untuk membeli tiket KRL yang menuju arah sebaliknya yaitu Stasiun Kalibata. Di loket sudah banyak antrian. Antrian siapa? Ya antrian orang yang baru turun dari kereta yang sama dengan saya untuk membeli tiket pulang sore harinya. Masalahnya adalah pas antri itu ada pesan dari pengeras suara bahwa KRL yang menuju Depok akan segera sampai Stasiun Cikini dari Stasiun Gondangdia.

Segera setelah mendapatkan tiket itu saya dengan tas ransel di punggung dan laptop di tangan berlari ke atas untuk mengejar KRL. Pas banget. Saya melihat kereta sudah berjalan pelan dan saya masih sempat meloncat masuk ke dalam KRL. Alhamdulillah. Phuih…setelahnya segera saya update status facebook dulu. J

Sampai di Stasiun di Kalibata saya tidak segera ke Kantor. Saya isi perut dulu yang sedari tadi belum terisi dan sudah mulai terasa perih. Setelahnya saya baru ke kantor untuk menemui dua teman saya yang akan berangkat sama-sama ke Bandung. Niatnya saya menumpang mobil teman saya itu lalu kami akan berselisih jalan di Bandung. Karena tujuan kami memang berbeda.

Kami berangkat pukul 08.20 pagi. Saya amat menikmati perjalanan itu. Karena saya akan ke Bandung walaupun sekadar lewat dan Tasikmalaya tentunya. Dua daerah yang amat berkesan bagi saya. Tasikmalaya apalagi. Daerah yang berpemandangan dan berpegunungan menarik. Membuat saya ingin selalu berpuisi.

Mobil kami keluar pintu tol Buah Batu. Di pertigaannya kami berpisah. Dua teman kami itu sudah dijemput oleh Wajib Pajak menuju lokasinya. Sedang saya? Jalan kaki menuju Pool Taksi Blue Bird yang akan mengantarkan saya menuju Pos Kontrol Bus Budiman di Cileunyi. Ongkosnya Rp75.000,00. Mau ngirit ongkos tidak naik Travel Cipaganti malah ngorot. He..he…he… Sama saja ini sih…

Kurang lebih jam dua belas siang saya sudah berada di atas Bus Budiman Bandung Tasikmalaya. Mulailah saya menikmati pemandangan sepanjang jalan itu. Tentunya dengan kenangan masa kecil saat liburan sekolah yang selalu diajak untuk menyusuri pematang sawah di Salawu, Tasikmalaya.

Tiga jam diguncang di atas Bus akhirnya saya sampai di pinggiran kota Tasikmalaya. Dari sana saya naik angkot 05 dan 01 menuju Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tasikmalaya yang berada di Jalan Sutisna Senjaya. Cukup dengan setengah jam perjalanan kurang lebih.

Untuk apa sih saya ke KPP itu? Ah, seperti biasa tradisi perjalanan dinas di kantor kami , saya harus meminta tanda tangan pejabat di KPP setempat sebagai penanda saya telah datang di lokasi. Dan birokrasinya tak berbelit-belit cukup diwakili oleh Kepala Subbagian Umum Pak Herman yang kebetulan pula adalah orang Depok surat jalan saya sudah ditandatangani.

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Pak Herman akhirnya saya tinggal menuju hotel yang direkomendasikan Ummu Fayi, yaitu Hotel Asri yang berada di Asia Plaza di Jalan K.H. Zaenal Mustofa. Sebelumnya juga saya sudah melakukan
pencarian di Google dan saya mendapatkan testimoni dan foto yang bagus tentang hotel itu. Apatah lagi saya mendapatkan diskon khusus 30% karena dari instansi pemerintah dengan memakai Government Rate.

Niatnya langsung menuju hotel tetapi terbersit di hati saya untuk bertemu dengan Ummu Fayi. Tentunya tak ada salahnya untuk bersilaturahim atawa kopi darat. Dan betul kalau silaturahim itu menambah rezeki. Buktinya setelah bertemu pertama kali dengannnya saya sudah ditawari untuk diantar oleh suaminya. Terimakasih Umm…

Dan tak lama bertemu pertama kali dengan suaminya kami sudah langsung akrab. Langsung nyambung kata Kang Hendra Sentosa—nama suami Ummu Fayi—itu. Ikatan batin yang dijalin oleh hubungan akidah dan tarbiyah membuat kami mampu meruntuhkan sekat-sekat kaku.

Saya diantar oleh Kang Hendra menuju hotel untuk check in. Hotel itu berada di atas Mal Asia Plaza. Fasilitas internetnya bagus, ada hotspotnya. Walaupun cuma di lobby yang tidak seperti Hotel Bentani Cirebon yang bisa sampai ke kamar masing-masing.

Setelah check in, saya menuju kamar untuk menaruh barang-barang. Dan Kang Hendra, sudah saya ajak untuk sarapan pagi bersama di hotel keesokan harinya sebelum berangkat ke lokasi Wajib Pajak.

Karena siang belum makan saya menuju ke area food court.
Ndak ada yang istimewa di sana. Di Jakarta juga banyak. Saya pesan siomay biasa saja. Setelah itu saya langsung ke kamar karena saya merasa seperti buaya air asin yang berada di kolam air tawar. Bukan habitatnya!

Istirahat? Tidak! Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang benar-benar tidak ada kaitannya dengan kunjungan saya ini. Pekerjaan penyelesaian putusan pelaksanaan banding sebanyak tiga berkas. Senin harus selesai. Sebelum maghrib saya sudah menyelesaikan satu berkas risalah.

Habis Isya saya keluar untuk makan malam. Seperti yang saya baca di sebuah blog yang tidak di-update lagi tentang perjalanannya di Tasikmalaya saya mencoba untuk makan nasi ayam goreng Hen-Hen, sekitar 300 meter dari Mal Asia Plaza. Dan sungguh lidah saya masih kurang berkenan, terlalu manis, kayaknya diolah pakai bumbu bacem. Pantas saja blogger itu cuma memberi nilai dua dari skala lima. Tak bisa dibandingkan dengan Sari Raos Bandung yang ada di dekat Masjid Kauman dan Alun-alun Pekalongan.

Setelahnya saya segera pulang ke kamar. Istirahat? Tidak lagi. Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan itu. Dapat satu berkas. Barulah saya bisa tenang. Satu berkas lagi kapan? Saya bertekad habis sholat shubuh berkas risalah itu sudah bisa saya selesaikan.

Saatnya untuk tidur. Kapan tidur? Lagi-lagi penyakit saya kambuh: tak bisa tidur di tengah suasana baru. Dan saya hanya bisa terlelap pada jam dua pagi. Aduh…

Shubuh bangun. Saya melanjutkan lagi pekerjaan tersisa. Konsenstrasi sebentar. And show must go on… Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Pekerjaan sudah selesai semua. Saya siap-siap untuk sarapan dan pergi ke tempat Wajib Pajak. Jam delapan pagi kurang Kang Hendra sudah menjemput saya. Setelah sarapan bersama kami cabut menuju Linggajaya, Mangkubumi. Lokasinya dekat dengan SMPN 6 Tasikmalaya.

Saya bilang ke Kang Hendra untuk tidak menunggu saya karena sudah pasti pertemuan ini akan berjalan lama. Saya hanya meminta padanya untuk menunjukkan rute angkot yang menuju hotel agar waktu pulang nanti tidak tersasar.

Uhh…ternyata perusahaan garmen PMA itu tak sebesar yang saya bayangkan. Kecil dan terpencil. Tapi yang sungguh luar biasa para pekerjanya sebagian besar memakai pakaian, kerudung atau jilbab seragam serta kain warna hijau yang talinya diikatkan di leher dan pinggang mereka.

Kurang lebih dua jam kemudian saya sudah menyelesaikan acara pembinaan, konsultasi, dan foto-foto lokasinya. Terpenting lagi Wajib Pajak sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kewajiban perpajakannya seperti penyampaian SPT Tahunan PPh Badan.

Kang Teddy—wakil perusahaan—kemudian mengantarkan saya ke hotel karena dia butuh software e-spt masa dan tahunan yang ada di harddisk eksternal saya yang ketinggalan di hotel. Kalau dia yang butuh bolehlah saya menumpang mobilnya. Kalau dia tidak butuh biarlah saya pulang sendiri, tak perlu diantar dan cukup numpang angkot sahaja. Ohya Kang Teddy ini tinggalnya di Ciamis dan sempat menjadi calon Bupati Ciamis dari jalur independen walaupun tidak terpilih.

Setelah selesai urusan dengan Kang Teddy saya pergi ke Masjid untuk Sholat Jum’at yang berada dekat dengan tempat parkir Mal Asia Plaza. Masjidnya kecil hingga tidak bisa menampung para jama’ah. Inti khutbah jum’atnya adalah ajakan untuk berkomitmen pada Alqur’an dan Sunnah yang kalau memegangnya pada saat ini seperti memegang bara api dan karena sesungguhnya umat Nabi Muhammad pada akhir zaman akan dianggap sebagai orang asing. It’s oke uraian ustadz salafy itu.

Sampai di kamar hotel telepon dari front office sudah berdering. Menanyakan kapan saya akan check out. Saya bilang sampai sekitar pukul 3 atau 4 sore. “Akan ada charge tambahan,” kata perempuan di seberang sana. Tidak apa-apa saya bilang. Soalnya saya mau istirahat dan tidur untuk menggantikan waktu yang terlewat tadi malam.

Eh…ketika baru saja terlelap tidur, pintu sudah digedor. Saya lupa memasang tanda “do not disturb” di pintu. Benar juga patugas kebersihan hotel mengatakan kamar akan dibersihkan. Saya bilang saya sudah memperpanjang waktu check out saya. “Enggak ada koordinasi juga nih pegawai,” kata saya dalam hati.

Setelah itu otomatis saya tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Akhirnya saya packing untuk persapan pulang. Saya pikir saya nanti bisa tidur di Bus. Ternyata pada saat check out saya
tidak dikenakan biaya tambahan lagi. Jam tiga sore Kang Hendra sudah datang menjemput untuk mengantarkan saya ke Pool Bus Budiman.

Di Pool Bus Budiman pemberangkatan terdekat adalah pukul 16.00 WIB. Sebentar lagi, karena sekarang sudah jam setengah empat. Dan betul tepat pukul empat sore sesuai jadwal bus itu berangkat menuju Kampung Rambutan, Jakarta. Tepat sih tepat. Tapi masalahnya bus itu ngetem dulu di terminal Tasikmalaya dan baru berangkat lagi jam lima sore. Lama yah…

Ada kejadian yang membuat saya was-was yaitu pada saat pengisian solar di SPBU 34-46114 yang letaknya di antara jalur pool dan terminal Tasikmalaya. Pada saat yang sama ada juga Bus Budiman jurusan Bandung Yogyakarta yang mengisi solar bersebelahan dengan bus kami.

Dengan santainya sang kenek bus itu menyalakan korek api dan merokok di depan pintu yang jaraknya dengan selang pengisian solar itu kurang lebih dua sampai tiga meter. Petugas SPBU mendiamkan saja. Bukankah ini amat berbahaya? Di SPBU itu sudah terpampang dengan tulisan besar-besar: DILARANG MEROKOK. Saya kirim sms ke nomor pengaduan yang tertera di mesin SPBU agar bisa ditindaklanjuti. Saya tidak tahu apakah ada proses follow-upnya atau tidak.

Perjalanan ke Jakarta saya nikmati betul sampai bus sudah memasuki wiayah Malongbong, Garut. Pegunungan yang berkabut tebal di atasnya, jalanan yang berkelak-kelok, sawah-sawah yag terhampar, mega yang bermendung hitam semuanya saya rekam di otak saya sebagai sejumput memori yang tak mungkin akan terlupakan, Insya Allah.

Sisa-sisa kilometer tersisa menuju Bandung saya nikmati dengan tidur lelap. Terbangun saat bus sudah berada di tol Padalarang. Lalu berlanjut tidur lagi hingga bus benar-benar memasuki terminal Kampung Rambutan tepat pukul 22.00 WIB. Benar kata Kang Hendra perjalanan Tasikmalaya-Jakarta itu cukup ditempuh dengan lima jam saja.

Untuk sampai ke rumah tidak seperti di Tasikmalaya yang kemana-mana bisa ditempuh dalam jangka waktu 15 menit. Saya harus naik angkot 112 menuju Depok. Turun di Pertigaan Ramanda lalu nyambung dengan angkot 05 hingga turun di Komplek Aira atau Depag. Di sana menunggu sebentar sekitar lima menit lalu muncul tukang ojek yang ternyata pernah menjadi pengantar dan penjemput anak saya sekolah. Kebetulan nih…

Kurang lebih jam 12 malam saya sampai dirumah. Cek anak-anak yang sudah terlelap, saya pun siap-siap untuk istirahat agar bisa mempersiapkan diri rapat kerja keesokan harinya di Cipanas, Puncak.

Terimakasih Allah yang telah melancarkan perjalanan saya. Dan terimakasih pada semuanya terutama untuk Ummu Fayi Ibu Desi Sulistiyawati dan Kang Hendra Susanto semoga Allah memudahkan urusan kalian karena telah memudahkan urusan saudaranya di Tasikmalaya.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

***

Riza Almafaluthi

dedaunan di ranting cemara

di dinginnya Cipanas yang menggigit

06 Desember 2009 07.16