MILITANSI SEBATAS SOMAY DAN CENDOL


MILITANSI SEBATAS SOMAY DAN ES CENDOL

Yang sering twitteran dan mampir ke hashtag #IndonesiaTanpa JIL insya Allah tahu kalau Senin malam (15/5) Hard Rock FM mengundang Akmal Sjafril (anti JIL) untuk dialog dengan Abdul Moqsith Ghazali, tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL).

Moqsith tidak bisa hadir karena istrinya sakit dan pihak Hard Rock FM telah mengundang berbagai tokohnya untuk menggantikan Moqsith. Seperti Ulil Abshar Abdilla, Lutfie Assyaukanie, dan kawan-kawan. Tetapi semuanya saling lempar sampai-sampai acara itu hanya diisi oleh Akmal Sjafril.

Pembatalan diskusi itu sebenarnya memunculkan sebuah pandangan kalau JIL yang digadang-gadang oleh banyak tokoh “cendekiawan” hanya nama kosong belaka. Mengapa? Karena untuk menghadirkan satu tokoh dan demi mempertahankan gagasan mereka saja tidak bisa. Padahal diskusi ini adalah cara elegan daripada tweetwar di Twitter.

Seringkali mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang anti kekerasan dan selalu mengedepankan dialog. Tetapi malam tadi fakta meruntuhkannya. Mereka sejatinya adalah pendukung kekerasan ala tweetwar. Mereka lebih suka ngebuli dan berucap kata kotor di Twitter daripada diskusi dan dialog. Kata bangsat (yang diucapkan Saidiman) dan anjing (yang diteriakkan RoriUddarojat) sudah jadi makian biasa. Tak mungkin keluar dari hati yg bersih. Tetapi itulah liberal. Anti aturan.

Harusnya mereka berani datang untuk diskusi. Pun karena tempatnya adalah tempat netral, tempat sebagian besar komunitas mereka sering kongkow-kongkow dan bukan di masjid. Tak perlu khawatir kalau Front Pembela Islam (FPI) datang atau diskusi itu akan dihadiri oleh banyak massa seperti yg terjadi di Universitas Islam Jakarta (UIN) beberapa tahun silam.

Tak perlu khawatir dihujat oleh peserta diskusi. Wong yang ada cuma host, Akmal Sjafril , dan penelepon. Kalau karena takut biasanya yang takut itu karena punya salah. Atau karena diskusinya cuma di radio yang pendengar terbatas. Tidak seperti di televisi yang bisa juga nampang jual muka?

Atau karena cuma Akmal Sjafril yang datang dan dia tidak selevel dengan mereka. Akmal Sjafril baru menulis dua buku. Dia pun cuma lulusan strata dua. Dia juga bukan santri. Akmal sekelas santri pesantren kilat ramadhan. Kalau demikian adanya, sejarah kembali memutar ulang jarumnya. Dulu Nurcholis Madjid pernah meremehkan ustadz Daud Rasyid karena belum bergelar Doktor dan cuma MA.

Tapi memang kecendekiawanan seseorang bukan dinilai dari gelar yang diraih dan statusnya melainkan dari kekuatan narasinya. Akmal Sjafril telah membuat mereka takut karena kekuatan narasi itu. Akmal cuma jebolan INSISTS sebuah grup diskusi yang belum lama eksis daripada Komunitas Utan Kayu atau Freedom Institute atau bahkan dari JIL itu sendiri.

Dengan ketidakhadiran mereka dalam diskusi tadi malam semakin meyakinkan saya kalau JIL itu cuma nama doang yang dikarbit media tapi minim militansi. Contohnya Guntur Romli yang enggak datang ke Hard Rock FM karena honornya yang hanya pantas untuk beli somay dan es cendol. Mana buktinya?

(Sumber gambar dari sini)

Ketidakhadiran mereka pun meyakinkan saya kalau hukum menghadapi mereka itu fardu kifayah sama seperti hukum memandikan jenazah. Tidak perlu banyak-banyak orang untuk mengurusi itu. Tak harus semua potensi umat dikerahkan melawan mereka. Cukup orang-orang yang konsisten dan fokus untuk itu. Orang-orang itu layak dijadikan jenderal besar melawan mereka. Jenderal besar perang pemikiran. Dan upaya memperluas dukungan dengan mencari dan menjadikan pendukung-pendukung Indonesia tanpa JIL sebagai prajurit-prajurit perang pemikiran itu tetap perlu sekali.

Terpenting pula kita meyakinkan diri bahwa kebatilan mereka akan selalu kalah. Karena mereka sejatinya rapuh seperti rumah laba-laba. Semoga kita dilindungi Allah dari setiap kesesatan. Tetap berjuang.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ngetwit 16 Mei 2012 yang ditulis ulang pada:

16:12 18 Mei 2012

 

Tags: Abdul Moqsith Ghazali, moqsith, ulil, Ulil Abshar Abdilla, Lutfie Assyaukanie, Twitter,Tweetwar, Saidiman, Front Pembela Islam, FPI, Universitas Islam Jakarta, UIN, Akmal Sjafril, Nurcholis Madjid, Daud Rasyid,INSISTS,Komunitas Utan Kayu, KUK, Freedom Institute, Guntur Romli,Hard Rock FM, Indonesia tanpa JIL, perang pemikiran, #indonesiatanpajil, #itj

UANG JUDI TIDAK BERKAH


UANG JUDI TIDAK BERKAH

Bermula dari surat pembaca yang dikirimkan Taufik Karmadi yang dimuat di harian Kontan hari Rabu tanggal 17 Februari 2010 yang tulisan hampir samanya ternyata juga dikirimkan ke harian Bisnis Indonesia dan dimuat pada tanggal yang sama tentang masalah judi, maka karena ini menyangkut masalah yang amat sensitif bagi saya sebagai seorang yang beragama maka saya pun mengirimkan tulisan tanggapan.

Tanggapan itu hanya dikirimkan ke harian Kontan saja. Dan Alhamdulillah dimuat di harian itu pada hari Sabtu tanggal 20 Februari  2010.

Bagi saya ini sudah masuk dalam wilayah perang pemikiran. Dan sudah menjadi kewajiban bersama bagi yang mampu untuk melawannya. Selama tidak masuk pada kekerasan fisik maka perlawanan ini sah-sah saja. Namanya juga negara demokrasi. Tentunya tugas ini sekali lagi bukan tugas saya semata, tapi tugas semua yang merasa sekulerisme adalah hal yang patut dilawan.

Selamat menikmati.

Tanggapan saya yang dimuat di Harian Kontan tanggal 20 Februari 2010.

UANG JUDI TIDAK BERKAH

Ada hal yang perlu ditanggapi dari surat Taufik Karmadi di harian ini (17/2) tentang tuntutan untuk melegalisasi dan melokalisasi judi. Kembali Malaysia menjadi tolok ukur sebagai negara mayoritas muslim dalam kasus ini. Padahal Malaysia bukanlah ukuran kebenaran bagi umat beragama.

Sayangnya juga Taufik Karmadi menuntut bahwa untuk merumuskan kembali masalah judi ini tidak perlu bersentuhan dengan MUI dan masyarakat muslim. Jelas ini menciderai nilai-nilai demokrasi yang memungkinkan mayoritas memengaruhi pengambilan keputusan.

Ia pun menyimpulkan bahwa judi bisa membantu pembangunan bila dikelola dengan benar seperti yang Ali Sadikin lakukan di Jakarta. Bagi seorang muslim, judi itu haram sudah jelas. Pun keberhasilan pembangunan itu tidak hanya dilihat secara kasat mata namun juga ada tidaknya keberkahan. Berkah di sini adalah selalu bertambahnya kebaikan. Kaya tapi tidak berkah itu percuma. Artinya bisa saja kesemrawutan Jakarta saat ini karena dulu pernah dibangun dari harta yang tidak halal dan tidak berkah itu.

Jika dengan alasan tidak dilegalisasinya judi akan menyebabkan maraknya judi liar yang semakin memiskinkan rakyat miskin maka itu bukan pokok permasalahan. Maraknya judi dikarenakan ketidaktegasan dari aparat penegak hukum untuk memberantasnya sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang.

Riza Almanfaluthi

PNS Direktorat Jenderal Pajak

Tinggal di Puri Bojong Lestari Tahap 2, Pabuaran, Bojonggede