Lebih Sedikit itu Lebih Bahagia


 

Di Amerika Serikat, menimbun barang-barang di rumah menjadi penyakit kejiwaaan. Atau lebih dikenal sebagai Hoarding Disorder. Sebanyak 6% dari jumlah penduduk Amerika Serikat mengalami hal ini. Di Inggris sebanyak 3 juta jiwa.

Sepeda itu masih bagus. Hanya rusak sedikit di pedalnya. Datang ke bengkel sepeda hanya sekadar jadi niat belaka. Tidak pernah terealisasikan berbulan-bulan kemudian.

Mobil mainan dengan kendali jarak jauh berada di samping televisi tabung. Tidak pernah digunakan oleh anak-anak laki-laki saya yang sudah kuliah dan SMA. Juga bukan mainan buat anak perempuan saya yang sekarang sedang senang bermain bola bekel.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA


STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA

 

Judul Buku : Steve Jobs
Penulis : Walter Isaacson

Penerjemah : Word++ Translation Service & Tim Bentang
Penerbit : Bentang, Cetakan Kedua, November 2011
Harga : 119.000
Tebal :xxii + 742

    Kuartal terakhir 2011 dunia perbukuan diramaikan dengan terbitnya buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Buku yang semula direncanakan terbit di tahun 2012 ini dimajukan penerbitannya setelah Sang Pendiri Apple Computer ini meninggal karena kanker pankreas yang dideritanya, Oktober 2011.

    Isaacson secara apik meramu hasil wawancaranya—dengan kerabat, kawan, dan musuh Jobs—menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik. Mulai dari ketika ia kanak-kanak dan merasa ia hanya anak adopsi dan telah ditelantarkan oleh orang tua kandungnya, perjuangannya bersama Steve Wozniak mendirikan Apple, perangnya dengan IBM, perseteruan abadinya dengan Bill Gates, pemecatannya dari Apple, mendirikan NeXT, memadukan teknologi dan seni di Pixar, menguasai Disney, kembali menjadi CEO Apple, meluncurkan banya produk fenomenal, hingga perlawanannya—yang sayang terlambat—dengan kanker.

    Bagaimana Jobs memandang kematian diuraikan pula di bagian akhir buku ini. Kematian dimungkinkan, menurutnya, hanya sebuah tombol on atau off. “Klik, dan akhirnya, engkau pergi selamanya.” Maka wajar saja tombol on atau off tidak pernah diletakkan di setiap peranti Apple.

Penulis buku ini cermat menampilkan Jobs sebagai seorang perfeksionis, inovator sekaligus seniman setara Thomas Alva Edison dan Henry Ford, negosiator ulung, seorang Midas yang mampu merubah Pixar bahkan Apple menjadi perusahaan paling bernilai di seluruh jagat, di samping sikap tidak bertanggung jawab—ternyata meniru dari sikap ayah kandung yang dibencinya itu—terhadap Lisa, anak dari kekasihnya, Chrisann Brennan. Atau ketika ia sering memarkirkan mobilnya yang tanpa plat nomor di tempat parkir khusus buat orang cacat. Aturan tidak berlaku buat dirinya.

Orang seringkali tercengang mendengar cerita kalau ia hanya digaji oleh Apple, pada saat kembalinya di tahun 1997, sebesar $ 1 per tahun tanpa opsi saham. Itu yang ia minta sendiri awalnya. Ia pun sering berkata, “Aku tidak mau orang-orang yang bekerja denganku di Apple mengira aku kembali supaya kaya.” Tetapi faktanya pada saat ia menanggalkan gelar i di depan CEO-nya untuk menjadi CEO ia meminta pesawat jet pribadi Gulfstream V dan opsi saham sebanyak 20 juta lembar saham. Ia semakin kaya. Inilah bentuk distorsi realitas lapangan yang diciptakannya.

“Saya kecewa terhadap Obama,” ujar Jobs suatu ketika kepada Isaacson. “Dia kesulitan menjalankan kepemimpinan karena enggan menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain.” Ya, betul Jobs beda dengan Obama. Dia tak segan-segan bersikap kejam, melukai dan menyakiti ratusan bawahan atau rekan kerjanya dengan kata-kata kasar dan intimidatif. Tapi kebanyakan dari mereka yang disakiti Jobs mengakui bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan setelahnya.

Jobs memang seorang presenter produk yang hebat. Presentasinya penuh dengan kekuatan kata-kata yang luar biasa dan inspiratif. Tetapi menyangka bahwa kata-kata seperti stay hungry, stay foolish atau simplicity is the ultimate sophistication yang sudah menjadi trademark dari Jobs adalah murni dari pemikiran Jobs maka itu adalah salah. Darimana ia mendapatkannya, semua diuraikan dalam buku ini.

Jobs dikenal pula dengan cara berpakaiannya yang khas. Kaos turtleneck, celana jin, dan sepatu olahraganya sudah menggambarkan sosok dirinya seperti apa. Tetapi untuk mendapatkan latar belakang secara eksplisit yang mendasari mengapa ia berpakaian seperti itu maka tidak akan didapatkan dalam buku ini. Padahal Jobs tak akan pernah membuat desain produk, kantor, atau tokonya tanpa ada makna di belakangnya.

Seperti juga Anda akan kecewa kalau Anda ingin mengetahui mengapa inovasinya berupa iPod sampai iCloud selalu didahului huruf i. Atau karena ia pernah menjabat sebagai CEO ad interim atau disingkat iCEO sehingga Jobs—yang terbiasa ingin agar orang lain memusatkan perhatian pada dirinya—terobsesi bahwa produknya pun adalah i daripada produk pesaing lainnya. Penulis sepertinya melewati hal itu.

    Kaver buku ini pun benar-benar memenuhi salah satu filosofi dari Steve Jobs sendiri yaitu kesederhanaan dan keindahan. Hanya ada dua foto Jobs di depan dan belakang buku. Tidak ada tulisan lain kecuali judul buku, nama penulis dan penerbit di depan dan di sisi buku. Tidak perlu ada endosemen dari siapapun atau tulisan best seller di sana, karena nama Jobs sendiri sudah menjadi jaminan buku ini akan menjadi laku keras.

Kita hanya mengetahui Jobs dari pemberitaan media yang mengulas tentang kejeniusannya dalam menghasilkan banyak produk yang bisa mengubah dunia selama tiga dekade. Dengan membaca buku ini maka kita akan semakin menjadi tahu sisi-sisi terdalam dari Jobs, tak hanya sisi-sisi hebatnya, tetapi juga sisi gelap, sisi kepala bertanduk dan dirinya yang berekor.

Jobs sendiri tidak menggunakan haknya untuk membaca terlebih dahulu atas buku ini atau dengan kata lain mengontrolnya. Sebuah hal yang paradoks dari sikap Jobs yang selama ini selalu ingin pegang kendali atas segala sesuatu. Ia hanya ingin Penulis, mantan pemimpin CNN dan manajer editor majalah Time ini, menulis dengan jujur kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya.

    Kesalahan sedikit yang mengganjal dari penulis atau penyuntingnya adalah ketika buku yang ditulis selama dua tahun ini menceritakan tentang Chrissann Brennan bersama Greg Calhoun menempati rumah kecil, mulanya adalah kandang ayam, yang berada di perkebunan Friedland. Apakah ini terjadi pada saat musim semi 1875?

Namun secara keseluruhan buku ini bagus sekali dan pantas ditambah sebagai koleksi perpustaaan. Sangat layak dibaca oleh banyak kalangan terutama pecinta teknologi, manajer yang ingin berkembang, dan terutama sekali para pecinta buku seperti Anda.

**

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

31 Desember 2011

*Dimuat di Berita Pajak Mei 2012 dengan penyuntingan.

 

 

Tags: Steve jobs,steve, apel, ipad,iphone,icloud, thomas alva edison, jobs, apple,applecomputer, iceo,obama, Walter Isaacson