11 Tahun The End of The Rainbow



Peraih Pulitzer tiga kali dan penulis kolom di The New York Times bernama Thomas L Friedman pernah menulis artikel yang menarik dan dipublikasikan di harian yang sama pada 29 Juni 2005.

Friedman menulis tentang Irlandia, yang menjadi negara terkaya kedua di Uni Eropa, setelah Luksemburg hanya dalam waktu satu generasi saja. Irlandia memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita lebih tinggi dari Jerman, Perancis, dan Inggris.

Baca Lebih Lanjut.

APPLE VS GOOGLE: Perseteruan Korporasi Besar yang Melahirkan Revolusi Teknologi Digital



Judul Buku    :     Apple vs Google: Perseteruan Korporasi Besar yang Melahirkan Revolusi Teknologi Digital

Penulis        :    Fred Vogelstein

Penerbit    :     Bentang

Cetakan    :     2015

Tebal        :     viii + 372 hal

Kematian perusahaan ternama di industri teknologi ini benar adanya dan sudah memakan banyak korban. Akankah terulang lagi?

Apple dan Google terkenal sebagai perusahaan peraup laba terbesar dan pencipta inovasi penting. Apple dengan iPhone dan Google dengan Androidnya. Jauh sebelum itu Apple menciptakan Macintosh dan iPod. Google dengan mesin pencari kelas wahid. Memang ada beda. Ini seperti sesuatu yang tidak bisa dipertarungkan. Yang satu menghasilkan perangkat keras, sedangkan yang lainnya dengan perangkat lunaknya.

Lalu apa yang diperebutkan oleh dua perusahaan terbesar di dunia ini? Platform. iPhone dan Android sedang memperebutkannya. Pemenang perseteruan ini biasanya mendapatkan pangsa pasar dan laba melebihi 75%. Yang kalah hanya bisa berjuang agar bisa bertahan.

Baca Lebih Lanjut.

STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA


STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA

 

Judul Buku : Steve Jobs
Penulis : Walter Isaacson

Penerjemah : Word++ Translation Service & Tim Bentang
Penerbit : Bentang, Cetakan Kedua, November 2011
Harga : 119.000
Tebal :xxii + 742

    Kuartal terakhir 2011 dunia perbukuan diramaikan dengan terbitnya buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Buku yang semula direncanakan terbit di tahun 2012 ini dimajukan penerbitannya setelah Sang Pendiri Apple Computer ini meninggal karena kanker pankreas yang dideritanya, Oktober 2011.

    Isaacson secara apik meramu hasil wawancaranya—dengan kerabat, kawan, dan musuh Jobs—menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik. Mulai dari ketika ia kanak-kanak dan merasa ia hanya anak adopsi dan telah ditelantarkan oleh orang tua kandungnya, perjuangannya bersama Steve Wozniak mendirikan Apple, perangnya dengan IBM, perseteruan abadinya dengan Bill Gates, pemecatannya dari Apple, mendirikan NeXT, memadukan teknologi dan seni di Pixar, menguasai Disney, kembali menjadi CEO Apple, meluncurkan banya produk fenomenal, hingga perlawanannya—yang sayang terlambat—dengan kanker.

    Bagaimana Jobs memandang kematian diuraikan pula di bagian akhir buku ini. Kematian dimungkinkan, menurutnya, hanya sebuah tombol on atau off. “Klik, dan akhirnya, engkau pergi selamanya.” Maka wajar saja tombol on atau off tidak pernah diletakkan di setiap peranti Apple.

Penulis buku ini cermat menampilkan Jobs sebagai seorang perfeksionis, inovator sekaligus seniman setara Thomas Alva Edison dan Henry Ford, negosiator ulung, seorang Midas yang mampu merubah Pixar bahkan Apple menjadi perusahaan paling bernilai di seluruh jagat, di samping sikap tidak bertanggung jawab—ternyata meniru dari sikap ayah kandung yang dibencinya itu—terhadap Lisa, anak dari kekasihnya, Chrisann Brennan. Atau ketika ia sering memarkirkan mobilnya yang tanpa plat nomor di tempat parkir khusus buat orang cacat. Aturan tidak berlaku buat dirinya.

Orang seringkali tercengang mendengar cerita kalau ia hanya digaji oleh Apple, pada saat kembalinya di tahun 1997, sebesar $ 1 per tahun tanpa opsi saham. Itu yang ia minta sendiri awalnya. Ia pun sering berkata, “Aku tidak mau orang-orang yang bekerja denganku di Apple mengira aku kembali supaya kaya.” Tetapi faktanya pada saat ia menanggalkan gelar i di depan CEO-nya untuk menjadi CEO ia meminta pesawat jet pribadi Gulfstream V dan opsi saham sebanyak 20 juta lembar saham. Ia semakin kaya. Inilah bentuk distorsi realitas lapangan yang diciptakannya.

“Saya kecewa terhadap Obama,” ujar Jobs suatu ketika kepada Isaacson. “Dia kesulitan menjalankan kepemimpinan karena enggan menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain.” Ya, betul Jobs beda dengan Obama. Dia tak segan-segan bersikap kejam, melukai dan menyakiti ratusan bawahan atau rekan kerjanya dengan kata-kata kasar dan intimidatif. Tapi kebanyakan dari mereka yang disakiti Jobs mengakui bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan setelahnya.

Jobs memang seorang presenter produk yang hebat. Presentasinya penuh dengan kekuatan kata-kata yang luar biasa dan inspiratif. Tetapi menyangka bahwa kata-kata seperti stay hungry, stay foolish atau simplicity is the ultimate sophistication yang sudah menjadi trademark dari Jobs adalah murni dari pemikiran Jobs maka itu adalah salah. Darimana ia mendapatkannya, semua diuraikan dalam buku ini.

Jobs dikenal pula dengan cara berpakaiannya yang khas. Kaos turtleneck, celana jin, dan sepatu olahraganya sudah menggambarkan sosok dirinya seperti apa. Tetapi untuk mendapatkan latar belakang secara eksplisit yang mendasari mengapa ia berpakaian seperti itu maka tidak akan didapatkan dalam buku ini. Padahal Jobs tak akan pernah membuat desain produk, kantor, atau tokonya tanpa ada makna di belakangnya.

Seperti juga Anda akan kecewa kalau Anda ingin mengetahui mengapa inovasinya berupa iPod sampai iCloud selalu didahului huruf i. Atau karena ia pernah menjabat sebagai CEO ad interim atau disingkat iCEO sehingga Jobs—yang terbiasa ingin agar orang lain memusatkan perhatian pada dirinya—terobsesi bahwa produknya pun adalah i daripada produk pesaing lainnya. Penulis sepertinya melewati hal itu.

    Kaver buku ini pun benar-benar memenuhi salah satu filosofi dari Steve Jobs sendiri yaitu kesederhanaan dan keindahan. Hanya ada dua foto Jobs di depan dan belakang buku. Tidak ada tulisan lain kecuali judul buku, nama penulis dan penerbit di depan dan di sisi buku. Tidak perlu ada endosemen dari siapapun atau tulisan best seller di sana, karena nama Jobs sendiri sudah menjadi jaminan buku ini akan menjadi laku keras.

Kita hanya mengetahui Jobs dari pemberitaan media yang mengulas tentang kejeniusannya dalam menghasilkan banyak produk yang bisa mengubah dunia selama tiga dekade. Dengan membaca buku ini maka kita akan semakin menjadi tahu sisi-sisi terdalam dari Jobs, tak hanya sisi-sisi hebatnya, tetapi juga sisi gelap, sisi kepala bertanduk dan dirinya yang berekor.

Jobs sendiri tidak menggunakan haknya untuk membaca terlebih dahulu atas buku ini atau dengan kata lain mengontrolnya. Sebuah hal yang paradoks dari sikap Jobs yang selama ini selalu ingin pegang kendali atas segala sesuatu. Ia hanya ingin Penulis, mantan pemimpin CNN dan manajer editor majalah Time ini, menulis dengan jujur kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya.

    Kesalahan sedikit yang mengganjal dari penulis atau penyuntingnya adalah ketika buku yang ditulis selama dua tahun ini menceritakan tentang Chrissann Brennan bersama Greg Calhoun menempati rumah kecil, mulanya adalah kandang ayam, yang berada di perkebunan Friedland. Apakah ini terjadi pada saat musim semi 1875?

Namun secara keseluruhan buku ini bagus sekali dan pantas ditambah sebagai koleksi perpustaaan. Sangat layak dibaca oleh banyak kalangan terutama pecinta teknologi, manajer yang ingin berkembang, dan terutama sekali para pecinta buku seperti Anda.

**

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

31 Desember 2011

*Dimuat di Berita Pajak Mei 2012 dengan penyuntingan.

 

 

Tags: Steve jobs,steve, apel, ipad,iphone,icloud, thomas alva edison, jobs, apple,applecomputer, iceo,obama, Walter Isaacson