PEREWA


 


 

anak-anak puyuh riuh rendah kembali ke sarang

nikmatilah itu

enyami setiap dukanya

peluklah setiap sukanya

karena tak tempo lagi kau menitis garuda

tapaki gunung

terjangi awan-awan putih

renangi angin

hidup itu pendaran cinta dan benci

sebentuk perkelahian bergelimang madu dan berlumus nanah

semua menjadi raja pada waktunya

kukuh!

perewa!

tabah serupa hujan yang tumbuh di desember

anak-anak puyuh ribut kembali ke sarang

tak lama lagi menjelma garuda

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 3 Januari 2015

Foto: istimewa

Punai Riuh


 

 


 

Segelas sunyi yang biru kutenggak siang ini. Ia lebih kupercaya dari senja yang cepat mangkir. Sebentuk lamunan lupa kutulis di atas kalender 2014 yang hampir selesai. Ingin rasanya membuang semua dalam sekejap lelap. Tapi bilah pedang matahari memanggang asbes mes hingga ke dalamnya. Aku terbakar. Makanya aku buka pintu lebar-lebar mempersilakan angin pantai duduk di atas kulitku. Sambil disaksikan punai-punai riuh kekenyangan. Atau kucing betina yang melihatku penuh curiga dan kaget tak kepalang, kabur ketakutan. Listrik sedari pagi pergi tanpa pamit. Sialkota kecil ini memang tak bisa akur dengannya. Aku tak peduli. Nantinya dia akan kembali jam lima sore sambil membawa dan menggandeng gelap. Kini, biarkan aku teguk segelas sunyi yang biru di ruang tengah dengan angin pantai yang sudah mulai memelukku. Barangkali hanya tulisan-tulisan suci yang membuatku tetap waras. Kubaca setiap hari. Tanda aku masih serupa hamba. Kupanggil dirimu Ya. DatangdatangBuru-buruPergipergiKuhabiskan segelas sunyi yang biru sampai lupa dari tadi sudah 100 derajat celcius. Mulutku hancur. Di depan mes ini rumput-rumput yang belum terpotong terpingkal-pingkal mentertawakanku. Kutenggak segelas sunyi yang biru, cuma itu yang bisa kulakukan di November yang panas. Aku menunggu malam dengan sangat. Saat aku bisa merasakan sepotong kangen. Kangen yang pagi, tipis, dan mawar.

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ditulis untuk jejak kata Tapaktuan

Tapaktuan, 10 November 2014

Ilustrasi via fineartamerica.com

Teh dan Cutter di Suatu Hari dengan Matahari Cuma Jadi Pajangan


2013-04-29 08.39.43

Setumpuk pekat teh dan gula pasir terajang cairan panas, menggeliat kesakitan. Uap nanahnya menguar kemana-mana terbang melayang, menyelinap, dan memberontak hingga masuk ke hidung berdebu dan minggat tanpa pamit ke langit-langit yang dengan duka-cita menyambut. Kurang ajar. Ia tak tahu kalau aku kedinginan semalam dan butuh kehangatannya. Sedetik yang baru saja lewat, kita tak tahu untuk apa kita minum teh? Merayakan senin atau membuang gulana yang sudah jadi daki di leher? Sampan di ujung dermaga kayu ini telah siap melayarkanmu, dan terjun bebas di Niagara. Selamat pagi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

29 April 2013

 

 

S A L J U


S-A-L-J-U

hanya ada salju

tak ada yang lain

yang lebih putih di bulan Desember

aku nanar menatap pepohonan

karena ia menjelma menjadi dirimu

dalam sengkarut jiwa

yang menghapus jejak-jejak kaki

bahkan ingatan akan sakura

aku terbakar dalam dingin

merepih jilatannya yang tak berkesudahan

di dahan rantingmu

aku siap terbang

menjadi elang

mengangkasa

dan mencumbu rahasiamu

hitungan hari bersimbah detik-detik

lalu ia terhenti selamanya.

**

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

26 November  2012

janaka mencari jejak


janaka mencari jejak

**

mencari jejakmu di rerimbunan nafas

adalah aku tanpa kresna di kurusetra

pada siapa hujan pamit hunjamkan ode-ode purba

ghaibkan semua

petang memanggang menang

redupkan genderang perang

panah-panah patah jadi jumlah tak terbantah

setelahnya, aku merinjani dalam luruhmu

seperti supraba yang mengerang padaku:

kau bukan pandawa

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12 Januari 2012

 

gambar diambil dari sini

Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud


Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud    


Tidak tahu pada apa yang merana di Situ Buleud, aku datang mencangklong takdir dengan rambut basah sisa-sisa gerimis petang tadi, seperti raja yang tersandung selendang nyai-nyai tonil. Tidak tahu pada apa yang bahagia di Situ Buleud, aku merajuk pada angin yang telah menemukan tempatnya untuk bersembunyi di kisi-kisi tubuh, seperti pengemis rakus menatap lubang kuburan yang akan menelannya besok. Tidak tahu pada apa yang tak ingin pergi di Situ Buleud, aku mendengar teriakan daun jatuh bersalto berkali-kali di udara menghinaku: “hai, itu perempuanmu!” Waktu jadi nol seketika.

***

29 Januari 2012

Riza Almanfaluthi, seorang PNS, penulis yang lahir di Indramayu 36 tahun lalu. Berpendidikan terakhir sarjana strata dua dan sekarang tinggal di Bogor. Pernah mengikuti Basic Writing Training for Beginner dan bergabung di Forum Lingkar Pena Depok sejak tahun 2007. Aktif menulis sebagai blogger dalam blog pribadinya di https://dirantingcemara.wordpress.com sampai sekarang.

Cerita pendeknya Titin Baridin mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik diskusi bulanan FLP Depok Agustus 2007. Puisi-puisinya pernah menjadi pemenang kedua dalam perlombaan Menulis Puisi Al Amanah Fair 2011.

Gambar diambil di sini

bias


Bias


*

hujan mengetuk jendela

aku terjaga

“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu

derit reot mencoba membuat garis lurus di tengah

“namamu siapa?”

“derai!”

 

hujan meramaikan sudut menjadi onggokan hidup

aku terjun pada kebekuan

apa yang kau inginkan derai?

jawabmu bagiku adalah

:sepucuk tanya untuk kau kirimkan pada drupadi

“jika api menjadi debu, kapan kau akan injakkan kaki di bara hati?”

ah, pasopati di balik punggung membara.

derai menjadi partikel

fana tapi ada

 

tapi di sebelah kamar

hujan mengetuk jendela

“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu

terlelap dalam hutan mimpi jadi kunci untuk lari

aku bias

menjadi bunga di atas meja

tanpa nama

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas krl tanah abang bogor, aku teringat drupadi

17:54 23 desember 2011

 

Gambar di ambil dari sini

mana minamu?


mana minamu?

Sajakku di malam ini adalah diam yang mengelana ratusan kilometer, memasuki celah bawah pintu, merayap dinding-dinding rumahmu, menusuk lubang kunci kamar, dan membeku di depan cermin. Sebaskom air hujan dengan dua tiga riak kecil adalah berisik dari cermin yang mendadak retak. Sebuah gema: mana minamu?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

23.45 – 16 Oktober 2011

menunggu jawab


menunggu jawab

 

 

 

di dalam kereta

yang lari berderit-derit

di pinggir jendela

dengan hitam menganga di kaca

kau kelanakan pikiran

pada pelangi angan

bertopang pada sebelah tangan

meneguhkan keberadaan diri

ada gumpalan tanya

menggelembung di labirin memori

menyumbat jawab hingga

mengering, sekarat, dan mati

adakah?

mengapa?

dan untuk apa?

untuk itu aku mengunci kata

menjadi patung pinggir jalan

tak berdaya

susah untuk bicara

aku tahu engkau tahu

kilatan daun lontar setiap sore

adalah jawab sesungguhnya

jika engkau mengerti
ya jika kau mengerti

 

*****

 

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21.46 11 Februari 2011

 

Yang pulang untuk kembali


yang pulang untuk kembali

(((***)))

siapakah dia yang membawa

tiga ikat papirus tebal

di tengah-tengah malam

membukanya

membacanya

diterangi kunang suram

di atas kencana

yang membawanya pulang

siapakah dia berkemul selimut

merepih dingin

berlapikkan bantal kecil hijau

melandaskan mimpi-mimpi sedikit

tak acuh pada titah-titah

yang bertengger

berkicau

mengacaukan malam

di atas kencana

yang membawanya pulang

jika kau tanya itu padaku

aku akan menjawabnya

siapa dia gerangan:

dia yang hari ini memerintahkan bentala

untuk berputar lebih cepat

dia yang hari ini membawa senja di jubahnya

dia yang hari ini membawa gempita di setiap laku

dia yang hari ini dengan bulan setengah di wajahnya

dia yang hari ini dengan mata dan senyum yang tiada pahitnya

dia yang menatah hari ini menjadi adiwarna

dia yang malam ini di atas kencana

yang membawanya pulang

untuk kembali…

itu cuma tanda tanya

***

riza almanfaluthi

tulus

dedaunan di ranting cemara

01.28 15 Februari 2011