SAAT TEPAT BACA ULANG: M E L


MEL

(Oleh: Riza Almanfaluthi)

 

Rambu dilarang stop terlihat tampak mencolok. Tetapi betapa banyak, pagi itu, metromini yang masih bertahan untuk menaikkan calon penumpang. Padahal tidak jauh dari sana terdapat beberapa petugas polisi yang membiarkan begitu saja praktik itu.

Setelah penuh terisi, metromini segera melaju dan sang supir berteriak ke arah kenek untuk menyiapkan mel. Besarnya lima ribu rupiah yang diserahkan kepada timer yang berada di ujung jalan. Sudah tahu sama tahu kalau mel itu akan mengalir kepada para petugas.

Teriakan kata mel itu mengingatkan pada peristiwa 22 tahun lampau, cerita tentang para pedagang asongan di Stasiun Jatibarang, Indramayu, yang menjajakan jualan mereka di kereta api jarak jauh dari stasiun ke stasiun.

Mereka tidak dapat naik kereta api sembarangan, karena tidak semuanya berhenti di Stasiun Jatibarang. Kereta api jarak jauh ini hanya berhenti di stasiun tertentu. Jarang ada pedagangnya. Ini berarti tidak ada pesaing. Peluang dagangan laris begitu besar.

Para pedagang asongan punya cara tersendiri untuk dapat naik kereta api tersebut. Jelas, mereka tidak bisa naik dari tempat biasa. Mereka harus menghentikan kereta api itu jauh dari stasiun. Tepatnya di persinyalan yang jaraknya lebih dari 500 meter.

Kereta api tidak selalu berhenti di persinyalan. Maka untuk memastikan kereta api itu berhenti, mereka patungan uang untuk membeli beberapa bungkus rokok. Lalu lima sampai enam bungkus rokok itu diikatkan di patahan ranting pohon. Ketika sebatas pandangan bentuk kereta itu mulai muncul dari kejauhan, mereka segera melambai-lambaikan rantingnya. Galibnya masinis sudah tahu apa maksud mereka.

Kereta itu berhenti, lalu koordinator menyerahkan ranting berbalut beberapa bungkus rokok kepada masinis. Dan sang masinis memberikan kesempatan mereka untuk naik. Dahsyat, kereta baja itu bisa berhenti hanya dengan sebuah ranting. Benar, pada akhirnya mereka pun bisa mendapatkan omzet berlipat-lipat. Itulah mel.

Satu Substansi

Mel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring berarti memberitahukan; menyebutkan (nama, alamat); melaporkan diri. Secara bebas mel dapat diartikan pemberian uang atau natura kepada pihak yang berwenang sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya atau agar tidak dikenakan harga/tarif atau denda semestinya. Tidak ditentukan besar kecil atau banyak sedikitnya pemberian.

Sampai sekarang, mel masih saja terjadi seperti telah diceritakan di awal. Namun ada perubahan istilah. Kalau pemberian itu sedikit, hanya berkisar ribuan hingga ratusan ribu rupiah dan rutin, masih tetap disebut sebagai mel. Tetapi kalau sudah jutaan hingga milyaran rupiah itu bukan mel lagi, ada istilah lainnya seperti uang dengar, uang rokok, uang damai dan lain sebagainya. Beda nama tapi tetap satu substansi yaitu suap.

Walau zaman telah berubah mel senantiasa ada pada setiap lembaga atau badan usaha. Hanya yang mau berubah saja yang dapat mengikisnya. Perubahan status dan manajemen di badan usaha perkeretapian menjadi contoh kalau ranting pada saat ini tidak akan pernah bisa lagi menghentikan laju kereta api. Sulit ditemui para pedagang mengasong di kereta api yang punya strata kelas ini. Lalu bagaimana dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP)?

Sebagai pengumpul uang pajak, lembaga ini begitu disorot oleh masyarakat. Apalagi saat mel masih menjadi budaya yang mendarah daging dan begitu berpola untuk setiap level pelayanan yang diberikan. Mulai dari pelayanan di hulu seperti pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak, pencairan restitusi pajak, sampai penyelesaian keberatan. Semuanya tidak lepas dari perlunya uang terima kasih untuk memperlancar segala urusan perpajakan Wajib Pajak. Saat itu tidak pernah terpikirkan sistem yang membudaya tersebut bisa hilang dari DJP. Memangnya mampu?

Tetapi arah angin berubah. Reformasi bergulir. Rezim berganti. Dari sana Indonesia baru lahir. Sebuah pemahaman sama tercipta dengan elok di masyarakat kalau korupsi adalah sebuah virus yang menjadi musuh bersama dan telah membangkrutkan negeri ini. Virus ini begitu akut merusak aparatur pemerintah sebagai kru kapal besar bernama Indonesia. Maka reformasi birokrasi menjadi salah satu gagasan utama penghancurannya. Bahkan menjadi praktik. Tak layu melulu sekadar ide.

Kementerian Keuangan dalam hal ini DJP menjadi pilot project. Sejak tahun 2002 sebagai awal modernisasi hingga akhir 2008 yang mengikat seluruh kantor pelayanan DJP untuk ikut dalam gerbong perubahan itu, maka banyak perubahan yang terus menerus dilakukan. Kaizen! Hingga kini.

Aib Menerima Mel

Perubahan itu melalui banyak cara. Salah satunya dengan membangun kultur organisasi terutama budaya aib untuk menerima mel. Ternyata ini bisa dilakukan. Karena seiring itu pula struktur dan sistem organisasi diubah, kode etik dan nilai-nilai organisasi mulai dikenalkan dan diterapkan, keteladanan melalui para pimpinan disuguhkan, internalisasi terus menerus dilakukan, utama lagi adalah sistem imbalan kerja mulai diperbaiki dan ditingkatkan.

Nurani tak bisa dikelabui, mendapatkan sesuatu yang halal plus ketenangan esoteris lebih dipilih daripada segala ketakjelasan pendapatan ditambah kegelisahan raga dan jiwa. Maka banyak cerita terketengahkan dari budaya aib menerima mel ini. Mulai dari menampik suguhan natura sekecil apapun sampai menolak uang sebegitu besarnya yang “ikhlas” diberikan Wajib Pajak.

Tidak bisa dibayangkan, ketika mel di DJP masyhur diketahui sebagai gerak mekanik masif sebuah mesin organisasi lalu kemudian tiba-tiba lumpuh. Mel menjadi lian. Asing. Memalukan. Sangat individual. Tak lagi menjadi sistem, budaya, bahkan ideologi.

Betapa tidak, andaikan pada saat ini mel masih diterima oleh oknum—pelaku yang muncul sebagai konsekuensi perubahan, ada yang tidak mau menerima nilai-nilai organisasi—maka laku itu dilakukan sendiri-sendiri dan sembunyi-sembunyi. Organisasi tidak tutup mata dan tidak lagi menjadi bungker yang merawat para penghuninya dengan alasan semangat korps yang terbentuk karena ikatan semu berupa pembagian prosentase dari besaran mel yang diterima.

Organisasi yang diam inilah ditengarai oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam bukunya yang berjudul Strategi Pemberantasan Korupsi, sebagai penyebab korupsi. Ialah manajemen yang cenderung menutupi terjadinya korupsi yang dilakukan segelintir oknum dalam organisasi. Pada akhirnya karena sifat tertutup tersebut pelanggaran etika ini justru membelah dirinya menjadi mel dalam berbagai wujud.

DJP tidak tinggal diam, mekanisme pengawasan internal diciptakan. Pengawasan eksternal disusun sedemikian rupa sistemnya bersama pihak ketiga, dengan Komisi Pemberantasan Korupsi misalnya. Pula, capaian yang laik diindahkan adalah kreasi whistleblowing system. Bukankah ini semua realitas faktual yang harus diterima seiring dengan remunerasi yang diperoleh?

Yakinlah, tak akan pernah ada lagi ranting yang bisa menghentikan laju kereta api perubahan di DJP selama budaya aib menerima mel terus menerus dipertahankan dan para pimpinan senantiasa mempertontonkan keteladanannya.

Ini berarti ada marwah diri yang hendak diunggah oleh para pegawai DJP sebagai bagian dari anak negeri kalau mereka tidak mau kalah sama sekali dengan mel.

***

Artikel Juara Pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak 2012

Bisa diunduh di e-magazine Pajak http://www.pajak.go.id/mts_emagazine

Sumber gambar: dari sini

Advertisements

SANGKUR DAN PAJAK


SANGKUR DAN PAJAK

    Saat rakyat membeli pasta gigi di warung-warung kecil ada pajak yang mereka harus bayar. Mereka berhak juga untuk disebut sebagai pembayar pajak. Uang itu dikumpulkan oleh petugas pajak dengan kerja-kerja mereka—baik dipuji ataupun dicaci-maki—selama ini untuk digunakan membiayai pembangunan, tapi apa daya aset negara yang dibeli dari uang pajak dihancurkan sendiri oleh aparat penjaga republik ini.

    Kejadian di Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, menegaskan demikian. Mapolres OKU dibakar puluhan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Artileri Medan (Armed) 15/105 Kodam II Sriwijaya pada Kamis (7/3) pagi. Sebabnya ada anggota TNI yang tewas ditembak oleh anggota Polres OKU sebulan sebelumnya.

    Para prajurit TNI datang ke Mapolres OKU untuk menanyakan perkembangan kasus itu. Aparat polisi menjelaskan bahwa kasus penembakan itu sudah tinggal dilimpahkan, namun diduga saat dialog terjadi kesalahpahaman sehingga terjadi aksi pengrusakan. Mapolres hancur total. Tak hanya sampai disitu, aksi buas itu berlanjut dengan pengrusakan terhadap mobil patroli dan dua pos polisi yang berada di OKU. Dua anggota polres terluka cukup serius.

    Saat pengrusakan itu terjadi 95 anggota TNI membawa sangkur dan senjata lengkap. Itu alat utama sistem senjata (alutsista) yang dibiayai dari pajak dan dibayar oleh rakyat serta dikumpulkan petugas pajak. Miris.

Anggaran Polri-TNI

    Di tahun 2013 ini ada rencana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp1.529,67 triliun. Sekitar 68,14%-nya akan dikumpulkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Ini setara Rp1.042,32 triliun. Lalu berapa bagian untuk Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan TNI dalam struktur APBN 2013?

    Polri telah mengusulkan anggaran ideal untuk institusinya sebesar Rp51,761 triliun. Namun dalam APBN 2013 hanya terpenuhi 88,14% sebesar 45,622 triliun. Dari dana sebesar itu dialokasikan untuk belanja modal sebesar Rp6,821 triliun. Jelas jumlahnya akan berkurang untuk belanja modal yang baru dan telah direncanakan sebelumnya karena sebagiannya digunakan untuk mendirikan bangunan Mapolres OKU yang rusak.

    Sedangkan untuk TNI, pemerintah telah mengalokasikan sebesar 77 triliun. Anggaran terbesar yang melebihi anggaran pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Sebagian besar untuk TNI Angkatan Darat sebanyak 40% (artileri.org).

    Anggaran besar untuk TNI tentu mengisyaratkan kepada dunia bahwa kekuatan persenjataan Indonesia tidak bisa lagi dipandang remeh. Tentu hal ini perlu didukung agar pemenuhan alutsista sampai pada taraf yang ideal di tahun 2024 bisa tercapai. Agar alutsista itu dipergunakan sebaik mungkin untuk melawan musuh-musuh dari luar yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bukan untuk menembaki anak bangsa sendiri.

Sangkur dan Pajak

    Tapi sampai saat ini sepertinya jauh panggang dari api karena esprit de corps yang kebablasan. Kasus bentrokan antara Polri dan TNI selalu berulang. Menurut data Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), sejak 2005 hingga 2012, telah terjadi 26 kali bentrok TNI-Polri yang menewaskan 11 orang, tujuh dari polisi dan empat dari TNI tewas. Korban luka mencapai 47 aparat (Republika, 8/3).

    Ini sangat memprihatinkan. Akar permasalahan harus segera diketahui untuk dicari solusinya. Selain dengan menjalin komunikasi intensif di kedua belah pihak, membuat anggaran yang pro-prajurit sehingga tidak terjadi kecemburuan dari pihak internal dan eksternal, peningkatan kedisiplinan, dan penegakan hukum yang tidak pandang bulu.

    Rakyat akan melihat dan menilai apa yang akan dilakukan kedua institusi pascakejadian tersebut. Rakyat tidak mau mendengar lagi bahwa pajak yang dibayarnya digunakan untuk membeli alat yang akan membunuh sesama anak bangsa, bahkan untuk menghancurkan aset negara. Di saat negeri ini butuh pembangunan infrastruktur secara besar-besaran untuk meningkatkan perekonomian, di sisi lain ada aparat yang dengan mudah dan ego tingginya menghancurkan infrastruktur. Sayang sekali uang pajak itu. Sayang sekali kerja keras para pegawai pajak. Dan sayang sekali rakyat disuruh membayar pajak untuk sebuah kesia-siaan. Untuk kali ini sangkur dan pajak tidak bisa disatukan.

***

Riza Almanfaluthi

Pegawai Pajak

Pendapat ini hanyalah pendapat pribadi, bukan cerminan dan pendapat resmi dari institusi tempat penulis bekerja.

08:51 10 Maret 2013

18 TAHUN LAMPAU


18 TAHUN LAMPAU

 

Saya tak tahu apakah STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) akan buka pendaftaran enggak di tahun 2012. Tapi melihat antusiasme sebagian para lulusan SMU untuk masuk ke sana, saya jadi tertarik untuk ngetwit bagaimana pengalaman saya ikut ujian seleksi masuk STAN di tahun 1994. Waw, sudah hampir 18 tahun lamanya.

 

  1. #usmstan, melangkahkan kaki ke jakarta tuk daftar stan hanya ikut2an teman dari kampung di Cirebon.
  2. #usmstan milih spesialisasi pajak. Juga ikut2an teman. Punya satu bulan tuk belajar soal2nya.
  3. #usmstan maka belilah buku kumpulan soal stan dari tahun ke tahun di cirebon harganya 20rb. Termasuk mahal tuk saya & waktu itu.
  4. #usmstan belajar siang malam menghabiskan soal2 yg da di buku itu. Krn hanya berharap bisa kuliah gratis. Kampus lain? Boten gadah yatra.
  5. #usmstan habis2an belajar dan doa orangtua jadi upaya meraih cita.
  6. #usmstan sebulan berdarah2. Ini bahasa lebaynya. Pada waktunya pergi ke jkt menginap di rumah saudara bersama teman2.
  7. #usmstan pada hari h nya. Pergi dari cilandak mnuju senayan naik kopaja 66 lebakbulus senen.
  8. #usmstan bertemulah anak kampung dg mereka anak kota. Bawa banyak harapan. Minder jelas ada.
  9. #usmstan senayan yg begitu megah. Itulah pertama kali injakkan kaki di suatu artefak megah peninggalan king soekarno dr dinasti eralama.

     

  10. #usmstan ujian dimulai. Dimulai dg bismillah dan selesailah sampai siang. Cemas &berharap. Puluhanribu peserta yg diterima cuma ratusan.
  11. #usmstan setelah itu tak ngapa2in. Mnunggu saja. Seperti biasa malam dilalui dg numpang mnonton tv di hotel. Di rumah gak punya tv.
  12. #usmstan sampai pada waktunya di suatu malam. Sambil nonton tv pake telepon umum dilobi hotelnelpon temen di jakarta yg pantau kelulsan.
  13. #usmstan dulu gak spt skg. Gak ada hp, gak ada pager, internet apalagi. Dan sang teman yg telah pantau itu bilang kalau dia enggak lulus
  14. #usmstan dan saya? “kamu lulus,” katanya. Lemas dan gembira campur aduk kayak somay. Langsung sujud sukur di bawah tatapan banyak orang.
  15. #usmstan saya langsung pulang rumah. Beritahu ibu & bapak.Ibu berlinang air mata. Saatnya pergike jakarta. Satu2nya calon cpns dlm bani.
  16. #usmstan pelajaran yg bisa sy ambil: 1. Kerja keras tak mngeluh kejar masa depan 2. Doa tiada henti 3. Ridha dan doa orangtua.Itu kunci.
  17. #usmstan ini kunci yg bisa dipake siapa saja. Yg durhakasama orang tua niscaya gagal masuk stan. Kalobisa itu istidraj. Lena dari Allah.
  18. #usmstan tahun depannya adik saya lulus stan juga. Dia jurusan akuntansi. Sekarang dia di BPKP. Kami berdua jd kebanggaan orang tua.
  19. #usmstan kakak beradik masuk stan. Walau ada isu kami nyogok panitia #usmstan. Duit darimana? Dari.mbah sangkil?
  20. #usmstan Belajar tiada henti kuncinya. Yg bisa masuk bersyukurlah bisa ngalahin banyak orang. Yg belum lulus masih ada 2 kesempatan lg.
  21. #usmstan kalo masih belum bsa jg percayalah hidup tak berhenti. Masih banyak jalan menuju kesuksesan.
  22. #usmstan setelah diterima di stan perjuangn belum berhenti. Bhkan semakin keras berdarah2 lagi. Tapi itu ceritanya nanti. Skg yg penting
  23. #usmstan manfaatkan waktu sebaik mungkin dg belajar.
  24. #usmstan itu saja kali yah. Ohya jadilah orang yg + thinking. Khusnudhan sama Allah. Yakin Ia beri yg terbaik dg kamu masuk stan or not.
  25. Semoga bermanfaat. Teruslah hidup.

Habis ngetwit kayak gini, mulai jam 12 malamnya saya tidak bisa tidur sampai pagi. Maag kembali menyerang. Gara-gara tak bisa menjaga makanan dalam seminggu itu. Makan mie ayam tambah saos dan sambal pedas, sambel padang yang warnanya ijo itu, makan indomi rebus saat perut kosong, dan kebanyakan saos ayam goreng tepung. Akhirnya sabtu, minggu, dan senin cuma bisa di rumah. Menjadi pelajaran penting kalau sudah begini. Semoga tak terulang. Kepada para teman makan saya tolong ingatkan saya kalau sudah menyendok yang di atas itu. Terima kasih.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

7 April 2012 16:05

 

Gambar dari sini.

 

Tags: stan, sekolah tinggi akuntansi negara, pajak, akuntansi, bpkp, usmstan 2012, usmstan, senayan, kopaja 66, soekarno, orde lama

Madzi dan Koruptor


 

MADZI DAN KORUPTOR

Ngetwit di Twitter bisa berpahala dan bisa juga dosa. Apalagi kalau ngetwitnya itu dilakukan oleh orang yang punya follower ribuan. Bisa berpahala jama’ah bahkan sebaliknya, dosa jama’ah pula.

Berpahala karena ini menginspirasi banyak pengikutnya untuk sadar dan melakukan kebaikan. Bukankah Kanjeng Nabi pernah bilang untuk orang yang menunjukkan kebaikan maka pahalanya sama dengan yang melakukan kebaikan itu sendiri.

Akan berdosa jika kicauan itu menginspirasi orang untuk berbuat keburukan atau menempatkan prasangka-prasangka yang belum pasti kebenarannya di hati dan pikiran masing-masing. Kalau sudah tersimpan dalam memori susah untuk dihilangkannya. Maka nilai dalam Islam sudah membuat sebuah rambu kalau dzan (sangkaan) itu kebanyakan adalah dosa.

Bahas mani dan madzi panjang lebar di Twitter @syukronamin yang JIL ini memang keterlaluan. Sampai akhirnya berkicau begini:

Kamu lagi berduaan dg pacar, keluar madzi? Jangan panik. Cukup basuh madzi tsb. Jadi tetep bisa shalat jamaah berdua kan?

Jadi buat yg pacaran misalnya. Waktu lagi puasa, gara2 horny keluarlah madzi. Maka puasanya tdk batal. Jelas kan?

    Ya beginilah kalau orang-orang JIL punya pikiran. Karena dalam otak mereka adalah sebuah kewajaran sebuah energi kesalehan bercampur dengan energi kemaksiatan sekaligus. Ulil pintar mengaderisasi generasi penerusnya.

Belum lagi ghibah dan fitnahnya terhadap para ustadz dan keluarganya. Kepada Ustadz Yusuf Mansur yang dituduh sebagai ustadz matre, Ustadz Anis Matta sebagai koruptor di Banggar, dan Ustadz Salim Seggaf dan istrinya yang suka minta suap. Sama FPI? Apalagi. Tahu sendiri bukan kalau bicara suatu aib, bila benar jatuhnya kepada ghibah bila salah jatuhnya fitnah. Salut kepada Ustadz Yusuf Mansur mengomentari lulusan Universitas Yaman itu dengan: “semoga makin tawadhu’, banyak baik sangkanya, dan lebih banyak doanya.”

Nah, yang lebih seru lagi adalah saat @Gus_Sholah mengomentari pemberitaan Koran Tempo yang berjudul: Dhana, Kakak Kelas Gayus. Gus Sholah ngetwit begini: “Bg mrk, korupsi mgk adl cita2 sjk kuliah. Saya tahu dari retweet mbak @Listya_rien yang menanggapi Gus Sholah: “Statement anda menyakiti byk org gus..”

Terus terang yang tampak banget Gus Sholah sebut “mereka” itu bukan Dhana ataupun Gayus tetapi almamaternya. Apa? Sebut saja STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Ya sudah saya ikut komentari pernyataan beliau. Inilah egalitarianisme dunia maya. Seseorang yang sudah buka akun Twitter siap-siap untuk diuji argumentasi atas setiap pernyataan yang dibangunnya oleh siapapun ia. Dan itu harus diterima. Jika tak sudi, tutup saja akunnya. Pindah ke Mount Everest. Sepi dan aman cuma berteman dengan Yeti.

Gus, perkenalkan saya Riza kakak kelas Gayus dan adik kelas Dhana. Yang pasti jadi koruptor bukan cita-cita saya. Saya juga orang yang banyak dosa, tapi ingin jadi lebih baik. Dan jadi koruptor sekali lagi bukan sebuah cita. Pesantren dan universitas terkenal seperti UI bisa juga kita tanyakan kepada para alumni atau mahasiswanya: koruptor jadi cita-cita? Karena ada juga para koruptor itu punya latar belakang pendidikan dari pesantren dan UI. Tentu tak elok saya generalisir kepada dua institusi itu bahwa santri dan mahasiswanya punya cita-cita sebagai koruptor. Itu saja Gus. Maaf mengganggu siangnya.

Gus Sholah membalasnya. Tentang cita-cita saya tidak menjadi koruptor, beliau bilang, “Pasti dan syukur.” Tentang almamater beliau bilang, “dari pesantren dan ITB almamater saya tentu ada juga koruptor.” Tentang pernyataan @Listya_rien, Gus Sholah bilang: “tak bermaksud menyakiti.” Tentang Dhana dan Gayus, beliau bilang: “2 orang itu oknum, tdk mewakili yg lain.”

Tentang oknum saya juga bisa bilang: “Maafkan saya Gus. Kalau Gayus saya bisa katakan oknum. Tapi untuk Dhana saya tak bisa katakan oknum, selagi saya tahunya dari koran dan selama Pak Hakim belum memutuskan bersalah. Saya hormati asas praduga tak bersalah, tak semata dia dari instansi yang sama, tapi siapapun ia.”

    Ya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Selagi jari bisa mengetik, selagi mata bisa melihat, selagi telinga masih bisa mendengar, selagi mulut masih bisa bicara. Kita semua, apapun almamaternya, Insya Allah tak punya cita-cita untuk jadi seorang koruptor sewaktu dilantik jadi sarjana. Karena kita sepakat kalau korupsi itu harus dihilangkan seperti madzi yang najis itu. Kalau enggak, sholatnya batal, tidak sah. Sholat tapi masih korupsi, sholatnya jadi tanpa makna.

    Semoga kita, termasuk saya yang masih belajar untuk jadi bersih dan dijauhi dari dosa ini, dilindungi oleh Allah swt. Amin.

***

http://birokrasi.kompasiana.com/2012/02/26/madzi-dan-koruptor/

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 26 Februari 2012.

Lain kali kita bahas tentang generalisasi.

3 HARI


3 HARI

    Tiga hari diberi tugas untuk menjadi anggota tim penyunting Buku Berbagi Kisah (Berkah) 2 Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di sebuah hotel di bilangan Tanah Abang membuat saya semakin tahu kalau di DJP itu banyak penulis yang berbakat. Buktinya ada salah satu dari mereka yang tiga tulisannya lolos dari empat lebih kriteria penilaian yang telah disepakati oleh tim penilai dan editor. Termasuk kredibilitas kesehariannya di kantor. Luar biasa.

    Penilaian ketat itu membuat banyak juga tulisan yang memperoleh nilai tinggi di seleksi pertama namun gagal di seleksi berikutnya. Seperti karena temanya yang tidak unik atau hampir sama dengan tulisan lain yang berada dalam satu kelompok besar tema. Atau gagal dalam seleksi terakhir seperti penilaian keseharian di kantornya. Tulisannya memang bagus tetapi di kantor kerjanya enggak beres atau sering bolos, mohon dimaafkan kalau tulisannya memang tidak akan pernah bisa lolos.

    “Tidak adakah ruang untuk konfirmasi, klarifikasi, dan pertobatan di sini?” tanya saya pada forum. Jelas ada untuk dua yang pertama tetapi yang ketiga sepertinya tak memungkinkan dikarenakan buku ini diharapkan sebagai cerminan nyata dari para penulis. Jadi tak sekadar bisa menulis tapi sejalankah antara omongan atau tulisan dengan perbuatan atau integritasnya.

    Di tiga hari itu saya jadi tahu juga kalau tak banyak dari para penulis itu yang menulis bersih tanpa turun tangan dari para editor. Hatta masalah penggunaan kutipan buat kalimat langsung banyak yang tidak tahu. Di sinilah pentingnya tim penyunting untuk membereskan masalah itu. Tak sekadar itu jika memang diperlukan tim penyunting bisa memangkas tulisan hingga separuhnya.

    Pun, di tiga hari itu saya menemukan sebuah tulisan bagus. Tim juri juga memberikan nilai yang tinggi. Dan semua sepakat bahwa tulisan itu memang layak masuk. Karena keindahan bahasanya, alurnya, dan gaya penceritaannya. Tetapi ketahuan juga kalau itu cuma fiksi. Duh, sayangnya.

    Di tiga hari itu bahkan saya menemukan sebuah tulisan yang lebih bagus lagi. Dan ini bisa menutupi kekecewaan sebagian dari kami karena cerita yang cuma fiksi itu. Tulisan bagus yang biasa saya temukan di kolom oh mama oh papa dari majalah Kartini. Saya sampai merinding saat membaca dan mengeditnya—kebetulan saya yang ditugaskan untuk menyuntingnya.

Dan saya semakin tahu bahwa sebuah tulisan yang dibuat oleh seseorang yang mengalami langsung dari peristiwa pokok yang diungkap dalam tulisannya itu jelas lebih indah dan lebih bagus daripada tulisan yang dibuat dari orang yang hanya sekadar membayangkan saja. Padahal ia bukanlah seseorang yang menjadikan menulis sebagai kesenangannya. Salut buatnya. Tabik.

Di tiga hari itu yang terpenting lagi saya mendapatkan banyak hal lain. Seperti semangat menulis yang ditularkan dari Asma Nadia, bagaimana cara mengedit dari Mbak Nanik Susanti, dan cerita tentang integritas luar biasa dari pegawai pajak yang sudah 30 tahun mengabdi dan tidak mau disebut namanya itu.

Terakhir, dari sekian banyak kalimat kuat yang disampaikan Asma Nadia ada yang menggugah saya: “Jangan sampai ketidaksempurnaan tulisan itu menjadikan Anda berhenti untuk menulis.” Maka, ini sebuah nasehat buat saya dan mereka yang ingin menulis yaitu jangan pernah sekali pun untuk berhenti menulis sampai akhir nafas kita.

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ada saya atau tidak ada saya, jangan pernah berhenti untuk menulis

00.14 – 16 Oktober 2011

    Gambar diambil dari sini.