NA ADONG HEPENG


NA ADONG HEPENG

 

Mau cerita saja kejadian hari kamis di pekan lalu. Pagi itu di depan pasar Citayam ban meletus. Doorrr!!! Saya kira ban motor orang lain. Ternyata ban belakang motor saya. Terasa ada yang berbeza. Terasa bergoyang.

Kejadiannya jam 05.37 pagi. Sedangkan jadwal Kereta Rel Listrik (KRL) pukul 05.45. Ya sudah saya dorong motor ke tempat penitipan motor. Untung tak jauh cuma 100 meter-an. Yang terpenting adalah menitipkan motor dulu. Naik KRL dulu. Ke kantor dulu. Absen dulu. Alhamdulillah tak telat. Tak jadi dipotong. Motor mah urusan belakangan.

Dua hari sebelumnya, seorang teman bercerita kalau ada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ban motornya bocor. Lalu ia meninggalkan motornya sampai sore sama tukang tambal ban. Dianya kemana? Ke kantor. Kok meninggalkan motor dinas di abang tukang tambal ban? Semuanya demi absen.

Eh, ini kejadian pada saya. Tapi saya meninggalkannya di tempat penitipan motor. Pagi masih dimudahkan. Tapi sorenya harus ekstra kerja keras. Niatnya ngelembur karena banyak pekerjaan di kantor. Tapi tak jadi karena harus urus motor dulu. Takutnya nanti tak ada tukang tambal ban yang buka malam-malam.

Oleh karena itu jam lima sore langsung cabut. Sampai di Stasiun Citayam jam 18.15. Sholat dulu, lalu ke tempat parkiran. Ditawarkan pompa tangan untuk isi angin. Posssss… 1000 kali pompaan juga taka akan pernah bisa. Ban luar sobek karena sudah tipis. Berarti ada robekan besar di ban dalam.

Segera saya menuju ke tukang tambal ban. Ban luar dibuka. Betul juga ban dalamnya pecah sepanjang 3 cm. Saya pikir percuma kalau ditambal dengan ban luarnya yang masih sobek. Kudu beli ban luarnya juga. Saya tanya pada sang tukang berapa harga banya. “Seratus empat puluh limar ribu rupiah,” katanya.

Ngok… Duit di dompet cuma Rp 65 ribu. ATM pun jauh. Malas ambil duitnya. Jadi saya bilang ke Si Lae-nya: “Lae, simpan SIM saya ditambah Uang saya,mau? Besok saya bayar lunas.” Si Lae-nya diam saja. Geleng kepala. “Oh tak bisaaa,” katanya.

“Ya sudah ditambah KTP saya, bagaimana?”

Tetap saja dia tak mau. SIM ditambah KTP ditambah Rp 65 ribu, tetap tidak mau juga?

“STNK saja,” kata dia.

Ya sudah saya girang mendengarnya. Cek dompet. Pooosssss….Tak ada. Ngik.

“Yaaah gak ada Lae. Ketinggalan di rumah. Bagaimana kalau SIM, KTP, duit 65 Ribu ditambah hp saya?” Harga hp seken saya itu 10 kali lipat harga ban itu. Terlalu tinggi ya? Ya sudah 5 kali saja deh.

Ogah. Dia diam bae. Idealismenya tak bisa dibeli. Tik…tik…tik…gerimis jatuh. Saya memutuskan untuk menambal ban dalamnya saja. Mendengar putusan itu Si Lae-nya sudah merasa segan saja bawaannya.

“Tak bisa ditambal nih,” katanya. Saya ngotot, “sudah tambal saja, masih bisa kok.” Pada akhirnya dia menambal juga. Soor…soor…soor…suara hujan. Deras banget. Petir sambar-menyambar. Depan toko sudah tergenang air setinggi lutut bebek. “Lae, nanti yang bolongnya dilapis ban dalam bekas yah, ” kataku padanya.

Saat dia menambal ban, saya berpikir sampai tidak motor ini ke rumah. Minimal ke ATM dulu dan setelahnya sekalian ke bengkel beli ban luar. Si Lae menunggu tambalan matang menonton tv siaran langsung Inter Milan lawan Liga Selection. Saya berdiri menatap rinai hujan dan merenungi nasib. Merenungi kenapa Si Lae ini masih tak percaya sama saya. Hihihi tampang jenggot tak bisa jadi garansi.

Anehnya dingin-dingin begitu saya beli teh botol dingin. Haus. Walau ada air putih di tas. Sepuluh menit kemudian selesai penambalan.

“Berapa Lae?”

” 8000,” katanya.

Saya tak bisa pulang langsung karena hujan masih deras. Tulalit tulalit weeeks hp samsulku mati kehabisan daya. Lengkap sudah. Tersandera. Unconnecting people. Setengah jam lamanya saya menunggu hujan reda. Ternyata tak betah juga. Langsung saya ambil keputusan untuk menerobos rerimbunan hujan ini. Yang penting selamatkan dulu barang-barang elektronik di bawah jok. Saya tak bawa jas hujan. Tak pernah menyiapkan soalnya. Karena jarak rumah dengan stasiun dua kilo saja.

Setelah tas ransel kugendong dipunggung. Grung…pelan-pelan saya mengendarai motor. Duduknya juga tak bisa di tengah jok. Di ujung jok saja agar bebannya tak sampai ke ban belakang.

Tak pakai jas hujan. Tak pakai jaket. Tak pakai helm (jangan ditiru). Tak pakai topi. Pelan-pelan lagi. Telak banget hujan leluasa menyetubuhi saya. Maksud saya, hujan telak menguyupiku. Setelah 600 meter lewat saya mampir ke ATM. Berrrr… alat pendingin ATM bertiup menambah dingin yang saya rasakan. Ambil hepeng. “Lae, nih aku adong hepeng,” batinku.

Saya segera naik motor lagi dan menemukan bengkel. Ya sudah saya sekalian mampir. Yang terpenting menemukan ban luar dengan merek dan kualitas apapun. Harga ban denganmerek random yang tak jelas itu Rp150 ribu. Bisa kurang goceng kalau pasang sendiri. Ngok, memangnya saya punya alatnya apa? Jadi tetap tuh itu barang saya beli.

Lebih dari 15 menit Si Mas itu memasang ban. Tapi kayaknya 20 menit lebih deh. Di tengah pemasangan ban itu hujan mereda. Ehh pas selesai, baru menempelkan
tangan di stang motor, hujan kembali datang. Tapi tak apa, aku tetap harus menerobos hujan. Yang penting saya segera bisa sampai rumah.

Sekarang, dengan ban berperforma maksimal, saya bisa geber kecepatan. Herannya setiap saya tambah kecepatan, hujan pun semakin deras. Saya pun berkejaran dengan hujan. Semuanya basah. Sepatu basah. Baju basah. Kepala basah. Tas basah. Kuyup semua.

Sayang enggak ada rombongan penari di belakang saya. Dua puluh orangan begitu. Dan saya juga tak bawa tambur besar. Kalau ada kan saya bisa nyanyi India. Dung dung tak tak dung dung tak tak. Tum …namaste. Nyanyi apa yaaaah? Kasih tau enggak yaaa….? Pokoknya suasana mendukung banget buat setting film India. Tiang listrik dan pohon banyak.

Sedang membayangkan itu, motor sudah sampai di rumah. Tiiin…tiiin…klakson motor berbunyi. Pintu rumah dibuka. Langsung saya memasukkan motor ke dalam rumah. Apa yang terjadi setelah ini kawan? Kinan datang menyambutku. “Ujan-ujan ya Bi?” tanyanya. Ini dia foto Kinan di suatu hari:

Langsung lenyap capek saat melihatnya. Bahagia. Walau tampang saya tampang tak bisa dipercaya tapi wajah saya tetap disambut dengan gembira olehnya.

Jam setengah sembilan lebih saya sampai rumah. Ini berarti 3,5 jam dari kantor. Dan selesailah sudah timeline twitter yang saya buatkan narasinya ini. Cuma mau cerita saja.

Khattam.

 

Riza Almanfaluthi

dedauan di ranting cemara

ngetwit tanggal 25 Mei 2012

08.14 pagi.

 

Tags: citayam, lae, batak, kinan, shah rukh khan

Advertisements

One thought on “NA ADONG HEPENG

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s