Buku Kedua Itu Terbit: Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini


Buat saya menjadi narablog (blogger) itu sudah cukup sebenarnya. Buku pertama saya terbit di tahun 2015 oleh Penerbit Bunyan, Bentang Pustaka saat saya masih di Tapaktuan, Aceh Selatan. Itu juga karena penerbitnya yang kemudian menawarkan kepada saya untuk membukukan tulisan-tulisan saya. Saya persilakan dan selesai.

Lima tahun berlalu, tidak ada yang dilakukan selain untuk terus menulis dan menulis. Dan mas Harris Rinaldi pada sekitar bulan Oktober 2019 datang kepada saya lalu bertanya, “Kapan bukunya terbit?” Ia orang kedua yang bertanya di pekan itu tentang hal yang sama.

Saya tersentak. Terpantik. Akhirnya saya kebut untuk menyeleksi naskah buku yang kemudian pada Februari 2020 ini terbit secara indi. Buku ini berjudul Orang Miskin jangan Mati di Kampung Ini.

Jadi dengan penerbitan indi ini mohon dimaklumi saja kalau pun saya santuy dalam memasarkannya.

Maka dari itu, semoga buku ini menjadi manfaat buat teman-teman saya. Terima kasih kepada semua yang sangat antusias memesan buku ini pada kesempatan pertama. Itu saja sudah melegakan saya.

Sekarang saya memiliki pengalaman baru yang luar biasa dalam memproses kelahiran buku kedua ini. Seperti yang kata mas Anang Anggarjito bilang kepada saya: “Akhirnya masuk dalam level yang lebih tinggi lagi, penulis buku.”

Sebuah pujian yang saya malu untuk mendakunya. Sebabnya saya memiliki keinginan bahwa buku ini bermanfaat dan bergizi buat para pembaca.

Seperti beberapa hal di dalam buku ini:

Di kota kecil ini praktis tidak ada penduduknya—100% imigran Italia—meninggal muda karena serangan jantung atau menunjukkan tanda-tanda penyakit jantung, penyakit luka lambung, tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol, kecanduan obat terlarang, dan sangat sedikit memiliki catatan kejahatan, serta hampir tidak seorang pun yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ternyata mereka memiliki rahasianya. Tiga puluh tahun kemudian dilakukan penelitian lagi di masyarakat itu. Hasilnya berubah secara radikal. Ya, karena mereka merusak sendiri kunci rahasia itu.

Hal lain kita bisa melihat dua negara seperti Cile dan Honduras. Cile perekonomiannya lebih bagus daripada Honduras. Pendapatan orang miskin Cile masih dua kali lipat pendapatan orang miskin di Honduras. Pertanyaannya kemudian diajukan, “Siapa yang lebih bahagia? Orang miskin di Cile atau orang miskin di Honduras?” Logika menjawab tentu orang miskin di Cile. Ternyata salah. Berdasarkan penelitian, yang lebih bahagia adalah mereka orang-orang miskin di Honduras. Apa sebab? Karena jarak pendapatan orang miskin di Honduras dengan pendapatan rata-rata penduduk tidak jauh. Beda dengan yang ada di Cile, jurang pendapatan masyarakatnya menganga lebar. Ujungnya stres dan cemas melulu.

Tetapi kecemasan yang sama dialami juga oleh pasangan yang telah lama menunggu jabang bayi selama 27 tahun dengan penuh kesabaran. Dengan ikhtiar dan beberapa amalan, keajaiban itu terjadi. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi itu menjadi saksi peristiwa pencarian detak jantung janin itu.

Buku sejenis chicken soup ini adalah kumpulan tulisan Riza Almanfaluthi di berbagai media elektronik atau seperti Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi katakan, buku ini adalah katalog dari begitu banyak hikmah dalam hidup manusia.

Riza bekerja sebagai aparatur sipil negara di Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan. Untuk menunjang pekerjaan utamanya dalam mengelola situs web Pajak.go.id dan media sosial Direktorat Jenderal Pajak, narablog di rizaalmanfaluthi.com ini telah mendapat sertifikat kehumasan dengan kompetensi Humas Ahli dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi dan Lembaga Sertifikasi Profesi London School Public Relations pada 2017.

Pemilik akun Instagram @riza_almanfaluthi ini menyukai menulis sejak menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tulisannya pernah dimuat di Jawa Pos, Republika, Serambi Indonesia, Berita Pajak, Majalah Pajak, Media Keuangan, e-Magazine DJP, Intax, Pintoe Aceh, dan media lainnya. Aktivitasnya saat ini selain menjadi editor, memberikan pelatihan menulis, dan menjadi juri dalam berbagai lomba menulis, ia mengajar di Politeknik Keuangan Negara STAN.

Untuk pemesanan buku silakan mengisi tautan berikut https://forms.gle/2XtH4KEPG9wqgYVq9 dan sebagai konfirmasi hubungi melalui telepon atau Whatsapp kepada Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi di 087742649595 atau Riza di 0817795050.

Squ, Komikus @pengenjadibaik:
Dulu saya mengenal penulis pertama kali sebagai narablog (blogger) Dedaunan di Ranting Cemara dengan tulisan-tulisannya yang bukan cuma bagus dan enak dibaca, tetapi juga menginspirasi. Dan ketika tahu penulis membukukan tulisan-tulisan lamanya, saya langsung mencari judul Mel di daftar isi. Yes! Ada! Mel adalah salah satu judul tulisannya yang menjadi favorit saya. Membaca dan mengenal gaya menulisnya membuat kita—terutama saya—ingin juga bisa berbagi banyak hal melalui tulisan.

Eko Novianto Nugroho, Penulis Buku:
Saya berulang-ulang mengatakan, menulis adalah satu hal dan buku adalah satu hal lain. Tetapi pada penulis buku ini, sejak awalnya pun, saya bilang dia harus menerbitkan buku. Kapasitasnya berada di ruang atas dari standar kehidupan saya dan kalau saya malu menyarankannya menulis buku, kita akan kehilangan kesempatan menandai cita rasa tulisannya. Alhamdulillah. Semua baik-baik. Dan kita bisa menikmati bukunya sekarang.

Ellina Supendi, Konsultan Keluarga:
Tulisannya ringan, tetapi isinya mendalam. Begitu pikiran saya saat membaca buku Riza Almanfaluthi ini. Membuat saya melakukan permenungan sekaligus terinspirasi. Penulis memang produktif dan aktif di dunia kepenulisan hingga ke urusan pekerjaannya. Perbanyak tulisan seperti ini dan jangan berhenti menulis.

Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini

a. Judul buku : Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini
b. Penulis : Riza Almanfaluthi
c. Jenis buku : Nonfiksi
d. Kategori : Pengembangan Diri
e. Penerbit : Maghza Pustaka
f. Tahun terbit : Februari 2020
g. Cetakan : Pertama
h. ISBN : 9786025824555
i. Jumlah hal. : 203 halaman
j. Dimensi buku: 14cm x 20,5cm
k. Berat : 200 gram
l. Harga buku : Rp65.000,00 (di luar ongkos kirim).

31 thoughts on “Buku Kedua Itu Terbit: Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.