Buku dan Kopi Pagi


Di atas pesawat Pak Muchamad Ardani membaca buku kedua saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Ia kemudian menulis panjang atas pembacaannya itu di akun Facebook-nya. Buat saya itu adalah sebuah kehormatan.

Maka benarlah yang William Gibson katakan kepada kita, “Ketika Anda bertemu dengan seorang penulis, Anda bukan bertemu dengan pikiran yang menulis buku. Anda bertemu dengan tempat pikiran itu tinggal.”  Berikut testimoninya.

Saya belum pernah bertatap muka secara langsung dengan lelaki keren bernama Riza Almanfaluthi ini. Namanya dikenal seantero DJP. Di balik meja kerjanya, tim Humas Pajak selalu menyapa para wajib Pajak dan para karyawan dengan narasi yang indah.

Saya beruntung bisa berteman dg Mas Riza, awal mula pertemanan kami di media sosial dimediasi oleh Bu Kaji Muktia Farid.

“Pakdhe njenengan sudah kenal Mas Riza, orang Humas Pajak?”

“Belum, kenapa Mbak?”

“Tulisan e apik-apik lho.”

Setelah berteman dan membaca tulisan-tulisannya yang bukan kaleng-kaleng. Saya banyak belajar dari Mas Riza dalam menuangkan gagasan dan ide. Banyak tulisan yang terlihat ringan akan tetapi memberi efek luar biasa. Dikemas dengan sederhana bahkan sangat sederhana.

Ketika Buku kedua nya yang berjudul “Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini” terbit, segera pesan dan minta dibuatkan tulisan khusus di halaman depan dan tanda tangan.

Buku setebal 185 halaman ini habis sekali baca saat perjalanan Jakarta Banda Aceh. Ketika mulai take off segera saya cecap lembar demi lembar tulisan yang penuh dengan makna. Bahkan Irfan Junaidi Pemred Republika mengatakan “Hikmah yang penting dalam kehidupan bisa kita pelajari dengan renyah melalui kisah-kisah yang termuat dalam buku ini”.

Banyak cerita dalam tulisan tersebut dengan latar belakang Aceh. Sehingga dengan mudah Saya bisa lebih merasakan tulisan tersebut. Sebelum tugas di Kantor Pusat Pajak, Mas Riza pernah bertugas di Tapak Tuan. Kota kecil di selatan Aceh. Kota di tepi pantai yang indah, hamparan pasir putih nya tidak kalah elok dengan pantai di Bali.

Pada halaman 76 berjudul “7 Ikhtiar dalam 7 Tahun” dibuka dengan quote seorang karib kerabat, yang saya kenal baik lewat kamera, Wida Dan Premandaru. “Ikhtiar hanyalah tangga bahwa kita serius dalam pinta, adapun rida Allah adalah tujuan kita”.

Rida Allah adalah tujuan kita, kalimat ini sangat luar biasa. Mencerminkan sikap keikhlasan seorang hamba dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Orang Jawa bilang “sing seleh wae urip kuwi”. Maksud nya bahwa hidup harus pasrah pada Sang Maha Kuasa.

Pada halaman 80 Saya tercekat lalu tergugu, ketika air mata deras membasahi pipi. Sembari terus menempelkan pipi pada jendela pesawat nomer 40A. Bangku pesawat dengan huruf A hampir selalu Saya pilih agar bisa menikmati pemandangan dan mengabadikan momen kala ada pemandangan menarik.

Di halaman ini, ditulis sebuah dialog dalam bahasa Jawa. “Mugo mugo ya Mas, mugo – mugo Mas karo mBak segera diparingi momongan” . Yang dilantunkan oleh Sang Ayah sembari memeluk Mas Ndaru, Saya biasa memanggil. Selepas umroh masih di tanah suci. Membaca salah satu fragmen penting anak manusia ketika berikhtiar. Ndaru selama ini aktif dalam kegiatan sosial keagamaan. Menyediakan inkubator gratis bagi bayi yang baru lahir adalah salah satu aktifitas nya. Jauh dari profesi seorang pegawai Pajak.

Saya bisa merasakan betapa Ndaru dan istri nya bersabar dari tahun ke tahun agar dapat buah hati, tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Meski ada sahabat yang durasi waktunya dua kali lipat Ndaru ketika diberi momongan.

Buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini dibagi dalam 3 Bab yaitu Spirit, Kulasentana dan Nuraga. Hampir seluruh tulisan lekat dengan keseharian sebagai manusia biasa dan PNS Kemenkeu. Cara bertutur Mas Riza sungguh tertata dengan baik. Saran agar memperbanyak istighfar, lalu berdo’a dan kemudian tawakal ketika menghadapi sebuah masalah, disampaikan tanpa ada kesan menggurui. Meski materi yang disampaikan sama dengan khotib diatas mimbar.

Terima kasih banyak Mas Riza, tidak cukup lagi rasanya menulis lagi hal-hal baik dari buku ini. Isinya daging semua tulisan njenengan.

Semoga saya kena virus menulis seperti njenengan.

Wassalam
Banda Aceh 16/03/2020

**

Buat teman-teman yang hendak memesan buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini yang sudah memasuki cetakan keempat silakan mengisi formulir berikut:

https://forms.gle/2XtH4KEPG9wqgYVq9

Sinopsis buku ini bisa dibaca pada tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/2020/02/24/buku-kedua-itu-terbit-orang-miskin-jangan-mati-di-kampung-ini/

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
17 Maret 2020

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.