Riza Alhamdulillah Itu bukan Namaku.


Beberapa hari yang lalu saya bersua dengan seorang kawan yang berdinas di kantor pajak Poso nan pelosok. Namanya Mas Danang Nurcahyo. Pertemuan itu selepas salat zuhur di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta.

Saya kaget dengan penampilan barunya. Kali ini lebih kurus daripada yang pernah saya jumpai di pertemuan yang terakhir. Ya, benar. Sewaktu pertama kali menginjakkan kakinya di Poso 2 tahun 8 bulan yang lalu berat badannya 84 kg. Kini sekitar 74 kg saja. Luar biasa.

Ya, ia merayakan kesenyapan dengan hal yang positif. Ia olahraga berlari dan Freeletics. Ia juga diet dengan mengurangi nasi, gula, serta tepung-tepungan. Dan berhasil.

Katanya ia terinspirasi dengan saya sewaktu di Tapaktuan. Wah, saya jadi ikut senang. Pertanyaannya memang apakah kita harus dijauhkan dengan keluarga dulu baru bisa berubah? Tentu enggak yah. Jangan.

Di akhir pertemuan ia memesan buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Tentu dengan senang hati saya langsung menyerahkan buku itu dan menandatanganinya. Pas saat saya menulis nama saya di bawah tanda tangan itu kok yang saya tulis adalah Riza Alhamdulillaah. Padahal nama saya kan Riza Almanfaluthi.

Kebetulan yang tertulis baru empat huruf di depan: “Alha”. Jadi masih bisa diperbaiki sedikit. Sebaiknya memang di saat meneken itu tidak boleh diselingi ucapan lain supaya benar, supaya tak salah, dan bisa fokus.

‘Ala kulli hal, terima kasih atas kunjungannya dan semoga bukunya bermanfaat dan bisa mencerahkan. Ayo menulis. Salam.

Buat teman-teman yang ingin mengetahui lebih jauh apa isi buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini silakan memesannya dengan mengisi formulir ini. Mangga.

https://forms.gle/2XtH4KEPG9wqgYVq9

Sinopsis buku ini bisa dibaca pada tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/2020/02/24/buku-kedua-itu-terbit-orang-miskin-jangan-mati-di-kampung-ini/

Omong-omong, malamnya ternyata kejadian betul saya menulis secara lengkap nama Riza Alhamdulillaah secara tidak sengaja di buku lain. Ya sudah, enggak apa-apa.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
26 Februari 2020

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.