Mawar yang Mencipta Sejarah


​Mawar selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik di sekolah dasar negeri itu. Secara tidak sadar ia yang anak pasar menjadi wakil anak-anak proletar sebagai pesaing anak-anak kelas aristokrat seperti guru, pegawai negeri sipil, atau orang-orang kaya lainnya di sekolah itu. Rangking kelasnya selalu di antara dua nomor ini: 1 atau 2.

Pernah suatu ketika, ia tidak mengikuti les salah satu pelajaran yang diajarkan oleh guru sekolah. Apa yang terjadi? Ia mendapatkan nilai jelek. Sedangkan mereka yang mengikuti les berbayar itu nilainya tinggi-tinggi. Mawar yakin ini bukan karena ketidakmampuannya dalam mencerna pelajaran, melainkan semata karena ia tidak ikut les itu. Pun, karena ia tak sanggup untuk membayar biaya les itu.

Waktu berlari, zaman berganti. Tiba-tiba Mawar sudah kelas 6 saja. Di suatu kelas Bahasa Indonesia gurunya memerintahkan para siswa untuk membuat sebuah karangan dengan tema: mau kemana setelah lulus SD?

Mawar menulis dalam karangannya itu. Ia ingin masuk SMP Negeri 3 Semarang. What? Sebuah sekolah elit dengan orang-orang kaya berserakan di sana. Butuh nilai tinggi untuk bisa masuk ke sana. Sang Guru membaca karangan Mawar. Sambil melirik Mawar ia berkata, “Bagaimana bisa masuk ke sana kalau nilaimu masih jeblok?” 

Mawar tercekat. Ya, dalam tes sebelum ujian triwulanan nilainya cuma dapat 36 dari 5 mata pelajaran. Tetapi pertanyaan guru Bahasa Indonesia itu benar-benar menggugahnya untuk bangkit dan mengejar cita-citanya. 

Sejak saat itu Mawar belajar tambah giat. Apalagi saat guru lesnya—sebut saja Pak pardi—yang beragama Katolik itu baiknya minta ampun. Gurunya hanya menyediakan kaleng dengan lubang yang ada di atasnya untuk diisi seikhlasnya oleh murid-muridnya. Mawar selalu menyisihkan uang 500 perak untuk disisihkan. Uang sejumlah itu masih bernilai tinggi di akhir dekade 80-an tentunya. 

Pak Pardi bilang kepada Mawar, “Ciptakanlah sejarah untukmu. Sejarah untuk dirimu sendiri.” Kata-kata Pak Pardi menyemangati Mawar. Pula, Pak Pardi meyakini kemampuan anak yatim ini. Kemiskinan yang menjerat keluarga Mawar tidak membuat Mawar berkecil hati.

Langit bergerak cepat. Dunia berputar-putar diporosnya tak bosan-bosan. Ujian berlalu dan selesai begitu saja. Saat dipanggil untuk menaruh tiga cap jari di atas ijazah dan sertifikat Nilai Ebtanas Murni (NEM), ia ditanya oleh guru, “Mawar, kamu mau tahu nilai kamu enggak?” 

Jelas, ditawarkan seperti itu tak elok dirinya untuk menolak. Pelan-pelan guru itu membuka kertas putih yang sengaja untuk menutupi nilai agar tidak diketahui siswa yang akan cap tiga jari. 

“Empat puluh satu koma delapan puluh tujuh,” kata guru itu. “Kamu bisa masuk SMP Negeri 3 Semarang.” 

“Alhamdulillah.”

Mawar mekar. Sumringah. Semesta mendukungnya. Akhirnya ia akan masuk SMP yang banyak didamba anak seumurannya untuk bisa masuk ke sana. Tidak hanya itu yang membuat kelopak Mawar semakin mengembang. Ada hal lain. Lebih seru. Lebih ramai daripada suara derai hujan yang jatuh ke atas atap rumah seng. 

Di sebuah acara perpisahan sekolah. Dalam sebuah acara pemberian hadiah dan penganugerahan. Pembawa acara mengumumkan peraih NEM terbaik sekolah itu adalah, jeng…jeng…jeng…!!!

“Mawar!!!”  Mawar benar-benar tak menyangka. Berita ini mengejutkan dirinya. Ia akhirnya bisa menjadi yang terbaik.   Pak Pardi senang luar biasa. Mawar merekah. Kelopaknya bertebaran di mana-mana. Satu kalimat Pak Pardi menggugahnya. Melecutnya.

Sampai pada akhirnya Mawar bisa masuk ke sebuah komunitas baru untuk berjuang lebih keras lagi, terlebih ia sebagai anak pasar harus menyesuaikan diri dengan suasana yang ada. Tapi itu cerita lain yang kelak akan dikisahkan lagi nanti. 

Di sebuah waktu sahur, sebelum doa bersama, Mawar menceritakan itu sambil menghembuskan nafas berulang kali. Matanya memerah untuk menahan embun itu tumpah. Saya melirik kepada anak laki-laki yang duduk di hadapannya, di meja makan itu, “Tuh Nak, bisakah kau belajar dengan giat untuk menciptakan sejarah. Sejarah untuk dirimu sendiri?”

Anak laki-laki itu cuma bisa  tersenyum. Sebuah senyum milik Mawar. Sama. “Insya Allah,” katanya.

“Semua keberhasilan yang kamu peroleh, kamulah juga yang akan menikmatinya. Bukan kami,” kata saya. “Orang tua cuma bisa tersenyum dan bahagia melihat anaknya berhasil. Dunia dan akhirat.”

Sayup-sayup suara muratal tanda waktu subuh akan menjelang terdengar dari masjid nun jauh di sana. 

Dini hari itu Mawar mencandra kami dengan sebuah kalimat yang diingat dari berpuluh-puluh tahun lampau. Sebuah kalimat positif untuk para pewaris. “Ciptakanlah sejarah. Sejarah untuk dirimu sendiri.”

Kamu kapan, Sayang?

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tangerang, 15 Juni 2016

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s