Konsolidasi Tim Reformasi Perpajakan, DJP Adakan High Level Retreat



Ditjen Pajak mengadakan High Level Retreat Tim Reformasi Perpajakan di Kuta, Denpasar, Bali. Acara ini digelar pada 31 Oktober hingga 4 November 2017. Selama 2017 Tim Reformasi Perpajakan memang telah bekerja keras dalam merealisasikan berbagai program kerja yang telah dicanangkan. High Level Retreat Tim Reformasi ini dilaksanakan dalam rangka mengonsolidasikan kerja tim.

High Level Retreat merupakan salah satu program kerja Tim Reformasi Perpajakan di tahun 2017. “Kita ingin mengonsolidasikan 10 bulan kerja tim selama tahun 2017. Paling tidak ada titik temu akan kemana kita akan menuju,” kata Ketua Tim Pelaksana Tim Reformasi Perpajakan sekaligus Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak Suryo Utomo saat membuka acara retreat ini di Denpasar, kemarin (Rabu, 1/11).
Baca Lebih Lanjut.

Ada Sepotong Pagi


Ketika pagi sudah menjulurkan lidah terangnya, yang saya bisa lakukan di waktu itu adalah bersiap menerima takdirnya, tentu setelah memerintahkan sel-sel di sekujur tubuh untuk tidak bergeming. Sabtu, 28 Oktober 2017, di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta ribuan orang berkelimun. Ada family gathering dan lomba lari di sana. Dan saya memilih yang terakhir untuk bergabung bersama mereka di sepotong pagi itu.

 

Ada sepotong pagi membentang di langit, kutaruh sepotong lainnya di bentangan sepatumu, di sana, aku harap kautemukan setiap keindahan pagi yang ditulis penyair: matahari yang tak bersedih, kabut yang tak melangut, embun yang tak melamun, dan doa dengan tak sedikit asa. Doa baik-baik, sungguh-sungguh, sepenuh seluruh, agar langit gaduh dan riuh.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Oktober 2017

Cerita Lari Jakarta Marathon 2017: Mengejar Melanie


Pada 2015, Esa Marindra Fauzi, seorang teman sekaligus penamat triatlon mengajak saya yang waktu itu sedang bertugas di Tapaktuan untuk mencoba menyeret-nyeret kaki bareng sejauh 21,1 kilometer di palagan Jakarta Marathon. Baru dua tahun kemudian niat itu menjadi nyata setelah saya pindah tugas ke Jakarta.

Ahad pagi yang masih gulita, 29 Oktober 2017, pada saat saya menyerahkan tas di tempat penitipan tas (drop bag area) sebuah colekan menyentuh pundak saya. Ternyata Esa. Kami sama-sama terlambat datang.

Baca Lebih Lanjut.

Aku Menaruh Matamu di Mataku


Aku mengira wajahmu telanjur berdebar saat melihatku memanen bulir-bulir terang di matamu yang asri seperti bungalo di tepian telaga. Saat menyingkap gelap yang menyelinap di halaman-halamanku yang kaubaca. Saat dinding jantungmu belumlah cukup tebal untuk melindungi dari cemburu buta. Saat gemetarmu, tertawamu, kedikmu menyusut menjadi kelopak-kelopak mekar padma. Dan aku mendengarmu. Dan aku terjun menjadi abu setelah kaubakar aku dengan perasaan-perasaan paling dalam perigimu. Dan aku mendengarmu. Dan aku hanyalah sehelai benang yang jatuh dari jalinan zirahmu. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang meraba hurufku dengan bening jari di pejam netramu yang bercahaya. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang menghujani jantungku dengan rinai rindu di putih gaunmu yang merajalela. Sekarang, aku menaruh matamu di mataku.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Oktober 2017

Lagi, lagi, dan lagi. Fotonya Mastah Fotografi #DoF Pak @Harris_motret yang sungguh-sungguh berbunyi ini diinfakkan kepada saya, untuk dikata-katai. 😀 Danke, danke, danke schon, Mastah.

Gletser Dusta di Kulitmu


Nada harus berganti nada agar biola yang kaugesek menjadi perihal rindu yang memukul gendang-gendang telingaku, agar tidak menjadi tawa yang kautabur kepada lantai hitam semenjana, atau agar sekadar helai sayap menutup bahumu muasal pelukku. Cobalah di lidah apiku, agar sekujur gletser dusta di kulitmu, merayap ke jendela dan pergi bersama pagi yang merintih-rintih. Aku adalah hitam di balik punggungmu, atau sekadar bayang di setiap pikirmu. Percayalah…

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
23 Oktober 2017

 

Foto ini sejatinya milik Mastah DOF Pak @harris_motret. Suatu ketika, sambil guyon ia bertanya kepada saya, “Sudah ada belum puisi untuk foto ini?” Ya sudah, dan begitulah adanya captioning dari fotonya yang ciamik tenan itu.

 

Di Tepian Furka Pass


Ketika pagi menyusut menjadi peputih di puncak-puncak ketinggian, di lobi hotel aku sedang menunggu bus warna kuning yang akan membawaku kembali kepada keramaian. Di sinilah aku lalu percaya kepada hidungku yang tak pernah mengelabui tentang aroma kopi yang menguar dari dapur, kepada mataku yang tak pernah mengaburi tentang kaki-kaki kabut dan gunung yang mulai mendekat, tentang pikirku yang tak pernah mengakali tentang kesementaraan dan kekekalan. Di pucuk-pucuk pinus aku taruh bulir-bulir embun untuk dimangsa cahaya. Di deru-deru bus aku taruh mata-mata rabun untuk digilas roda. Besok, aku kembali ke sini, tak membawa sendok dan garpu yang tak perlu. Karena jantungku saja sudah cukup. Dengan detaknya, dengan degup Berlinnya, yang pertama atau pun kedua.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
21 Oktober 2017

Lembayung yang Terlambat Tidur


Tumpukan batu bata roboh masih tak bosan merajam matanya dengan lembayung di suatu senja serupa boneka kuning di pinggiran bantalmu yang sering kauajak bincang-bincang di setiap malam ketika kauhendak mendaki puncak mimpi dan nyeri. Kantuk membuat sujudmu lama.

Malam usai dan dini hari bangkit menuju pintu membuka daunnya yang hijau, menyilakan kucingmu, lagi-lagi kuning, masuk ke haribaan matamu untuk tidur dan menghitung mawar yang tumbuh di sana, aku lupa jantungku pun merekah di tempat yang sama.

Subuh terbangun dengan susah payah memicingkan mata, betapa ia buta dengan pagi yang hendak lewat, menanggalkan rindu putih yang roboh satu per satu dari kepalanya tempat ia menyimpan belati. Aku masih ingat, langit adalah asalmu, tak sulit untuk membiru sebentar lagi.

Adalah benar, kenapa siang selalu menyimpan ribuan umpama? kenapa sore selalu terkecoh untuk cepat tiada? kenapa sarimu yang lembayung dan pernah kaupakai di suatu hari terbakar kobaran senja?

Karena aku adalah bilah bahu pikir dan bingungmu. Barangkali.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
19 Oktober 2017

 

Aku Pernah Berteduh


Dulu aku pernah berteduh
dari hujan rindu yang deras
di langit -langit lidahmu
yang terjejak lidahku,
setelah itu yang ada
hanyalah sisa-sisa badai,
berantakan.
Kita hanyalah
sepasang waktu
di bawah tiang guillotine.
Terbang, terbanglah
melompat, berputar, bersalto
bersama percikan-percikan biru
di jantungmu yang samudra.
Gapai-gapailah.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Commuter Line, 18 Oktober 2017