Dengan Menyebut Nama


Dengan menyebut nama, aku kerap menemukan namamu seperti aku selalu menjumpai puisi yang kutulis dalam draf email lalu tak sengaja terhapus dan aku harus menulis ulang kata-kata yang tak sempat menjadi sajak dan kini telah bersemayam tenteram di langit-langit perut singa nan malas bersama kenangan, kamu, dan sesuatu yang buruk.

***
Riza Amanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Agustus 2018

Mas, Sore ini Aku Terbang


View this post on Instagram

"Mas, sore ini aku terbang." Pesawat landas aku pulas.  Aku terbangun wajahku memerah.  Dinding kabin dan kursi memerah. Wajah penumpang juga memerah. Baju mereka juga merah seperti bajuku. O, aku baru tahu sebenarnya  ada senja yang menempel di mana-mana  tak mau lepas seperti  parasmu dari kepalaku suaramu dari mulutku tatapmu dari mataku suratmu dari penaku. Oh ya, aku tadi tinggalkan puisi  di bangku ruang tunggu  barangkali engkau mau melarungkan di segara putih. Aku ingin berenang.  Aku ingin melayang. "Mas, sore ini aku terbang." . . . *** Riza Almanfaluthi Dedaunan di ranting cemara 7 Agustus 2018 36.000 kaki . . #wording #words #puisi #puisipendek #puisisederhana #sajak #sajakpendek #sajaksederhana #poem #poetry #poet #puisimalam #sajakmalam #puisipagi #sajakpagi #puisikopi #kopimalam #kopi  #sajakkopi #dedaunan #dedaunandirantingcemara #quotes #quotesoftheday

A post shared by Riza Almanfaluthi (@riza_almanfaluthi) on

 

“Mas, sore ini aku terbang.”
Pesawat landas aku pulas.
Aku terbangun wajahku memerah.
Dinding kabin dan kursi memerah.
Wajah penumpang juga memerah.
Baju mereka juga merah seperti bajuku.
O, aku baru tahu sebenarnya
ada senja yang menempel di mana-mana
tak mau lepas seperti
parasmu dari kepalaku
suaramu dari mulutku
tatapmu dari mataku
suratmu dari penaku.
Oh ya, aku tadi tinggalkan puisi
di bangku ruang tunggu
barangkali engkau mau
melarungkan di segara putih.
Aku ingin berenang.
Aku ingin melayang.
“Mas, sore ini aku terbang.”

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
7 Agustus 2018
36.000 kaki

Air Terjerang


Air terjerang: Aku meriang
Memanggil-manggil sejumput bubuk kopi
Aku seharusnya tak minum kopi malam ini
Aku meriang: centang perenang.

Hikayat yang kautulis selalu kuingat
tentang dewi yang tak pernah merasakan sakit
walau ia merana mendendangkan kesepian di atas bukit
kabut adalah nada terakhir saat pagi mendekat

Air terjerang: asap menjelma
Membawa sisa-sisa mahagelap
Engkau ingat: aku lupa
Sekarang ada yang selalu kaudekap
Aku meriang: centang perenang.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
7 Agustus 2018
Photo by Angie Leatham

Aku Pernah Menciummu di Suatu Waktu


Aku pernah menciummu di suatu waktu. Kutemui warna hujan, wangi kabut, lembut pena, dan taman-taman basah. Aku pernah menciummu di suatu waktu. Kutemui padang ilalang, darah jerapah, sedikit kenangan, dan sajak-sajak marah. Aku pernah menciummu di suatu waktu. Engkau menghilang. Aku menghilang. Di lidah-lidah hyena resah.


***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
1 Agustus 2018
Via @shemimages

Karena Aku Siput


 

Karena aku siput yang selalu membawa ruangmu ke mana-mana.
Lelah.
Karena aku siput yang meninggalkan rindu di ujung daun mengkudu.
Rebah.

***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
29 Juli 1976
Via @discoverocean

Tetapi Aku Mengenalmu


Tetapi aku mengenalmu– Seperti pinggan yang mengumpulkan nasi uduk, tempe orak-arik, krupuk, bihun, bawang goreng, dan ikan peda– Bersemayam di ufuk pagi– Ah, aku ingin mengambil seremah nasi yang menempel di sudut bibirmu dengan jemari sajakku.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 Juli 2018

Menggambar Langit-langit Malam Semarang


Aku menggambar langit-langit malam Semarang menjadi terang dengan bunga-bunga api, warna-warni, dan segala pekik. Seterang pikiran yang tanpa gelisah mendesahkan dari bibir sepotong takbir ke sudut-sudut luka dan kota yang lama telah mengering. Hujan, hujan, hujan yang menua dan purba datangi, basahi, rintiki segantang jantung yang berdegup kencang dan tak mau untuk tak menyebut namamu dan ukuran sepatumu. Sepatu yang tak boleh basah dan bergetah ketika datang ke sebuah pertemuan-pertemuan kecil di sebuah pesta. Bibir-bibir kecil menyebut-nyebut ya sittir, ya sittir, ya sittir.

 

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01 Syawal 1439 H
Photo by @yasyalmanfaluthi check out his feed for more.

Perahuku Bernama Lupa


Perahuku bernama lupa
mencintai sepucuk bunga
yang jatuh meleleh di pipimu.
kauambil selembar waktu
untuk kauusap
segala bias setengah nyata.

perahuku bernama lupa
tak pernah abadi
karena ia cuma kertas
bukanlah besi karsani
buat menentang serantang badai
sambil bertanya:
siapa aku? siapa kamu?

perahuku bernama lupa
cuma gula dalam kopi.
aku akan berlayar mengaduk
gurun yang memar.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 03 Juni 2015

Komidi Putar


Ramadan-ramadan yang macam-macam mencari-cari cara-cara agar aku yang kaku ini masih fasih mengingat sore-sorenya di suatu waktu ketika aku pergi jalan-jalan ke pasar malam menikmati azan yang sebentar lagi singgah lelah. Maka aku pilih komidi putarnya sembari mengingatmu yang tak mau kuajak untuk duduk di atasnya dan berputar-putar seperti darwis kota ini mencari cinta-Nya. Engkau yang pernah bilang kepadaku, “Biar aku di bawah saja, karena cinta-Nya kutemukan disudut-sudutmu, maka aku mencintaimu.” Sejak itu, aku selalu ingin menaiki komidi putar,  agar aku bisa tetap berada di pikiranmu, walaupun engkau sudah menghilang bersama huruf terakhir ikamah suatu Magrib. Aku ingin berbuka dengan pikiran yang manis tentangmu.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Sahur, 02 Juni 2018
Photo by @mmuheisen check out his feed for more.

Di Tubuh Perkamen


Petang ini didaulat untuk membacakan beberapa bait puisi yang sedang merayakan hari jadinya ke-49. 

Kaucatat sajak di tubuh perkamen
yang warnanya semerbak
menjadi bahan bakar suluh
di sebuah duli

Kausemat ucapan selamat datang di gerbang praja
yang lelah dari semua hiruk pikuk
menjadi bedinde
di janabijana

Kautabuh kata-kata  di gendang telinga
Berdebum-debum perihal agar benderang
menjadi Harun
di sisi Musa

Hari ini,
Kauundang waktu datang ke sebuah pesta
Ia yang  menjadi badut tambun
bersekutu  dengan apa saja

Hari ini,
Waktu yang kauundang
menghentikan dirinya sendiri
membacakan kisah abadi
akhir ceritanya:
Raharja selamanya
Untuknya
Untukmu.

Selamat ulang tahun, Pak.

 

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Mei 2018
Photo by @rorahtrk