Lembayung yang Terlambat Tidur


Tumpukan batu bata roboh masih tak bosan merajam matanya dengan lembayung di suatu senja serupa boneka kuning di pinggiran bantalmu yang sering kauajak bincang-bincang di setiap malam ketika kauhendak mendaki puncak mimpi dan nyeri. Kantuk membuat sujudmu lama.

Malam usai dan dini hari bangkit menuju pintu membuka daunnya yang hijau, menyilakan kucingmu, lagi-lagi kuning, masuk ke haribaan matamu untuk tidur dan menghitung mawar yang tumbuh di sana, aku lupa jantungku pun merekah di tempat yang sama.

Subuh terbangun dengan susah payah memicingkan mata, betapa ia buta dengan pagi yang hendak lewat, menanggalkan rindu putih yang roboh satu per satu dari kepalanya tempat ia menyimpan belati. Aku masih ingat, langit adalah asalmu, tak sulit untuk membiru sebentar lagi.

Adalah benar, kenapa siang selalu menyimpan ribuan umpama? kenapa sore selalu terkecoh untuk cepat tiada? kenapa sarimu yang lembayung dan pernah kaupakai di suatu hari terbakar kobaran senja?

Karena aku adalah bilah bahu pikir dan bingungmu. Barangkali.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
19 Oktober 2017

 

Advertisements

Aku Pernah Berteduh


Dulu aku pernah berteduh
dari hujan rindu yang deras
di langit -langit lidahmu
yang terjejak lidahku,
setelah itu yang ada
hanyalah sisa-sisa badai,
berantakan.
Kita hanyalah
sepasang waktu
di bawah tiang guillotine.
Terbang, terbanglah
melompat, berputar, bersalto
bersama percikan-percikan biru
di jantungmu yang samudra.
Gapai-gapailah.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Commuter Line, 18 Oktober 2017

Hujan Puisi Payung Warna Warni


Jpeg
Payung warna-warni yang menggantung di atas langit-langit Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan.

Puisi adalah karya seni tertinggi dalam kesusastraan. Karena menyajikan keindahan dan pemaknaan yang mendalam. Tidak semua orang diberi anugerah untuk dapat membuat puisi, sebagaimana tidak semua orang dapat menikmati puisi.

Beberapa orang menyatakan bahwa puisi yang baik adalah puisi yang bisa dinikmati. Dan berbicara kenikmatan, maka semua kembali ke soal selera. Menjadi relatif.

Baca Lebih Lanjut

Peron Dua


Sendirian di gerimis, lamis
Aku menunggu kereta di peron dua
Barangkali, kau menghitung entah
dengan aku tak letih-letih
meluruskan saf-saf sajak.

Barangkali, kau menghitung entah
aku sendirian di gerimis, lamis
dengan segelas teh hangat
penuh jejak bibirku di bibir gelas
yang ingin kauhapus dengan bibirmu.

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Soetta, 09 Oktober 2017

Gunung Arjuna


 

Ingatlah, ketika aku menggelepar di suatu pagi,
kuyup dihujani cahaya tak henti-henti,
malu ditelanjangi kabut, awan, langit, dan pohon-pohon tinggi
melayang diterbangi kesiut dingin di genting-genting rumah dan tiang-tiang besi.

Hijau, seperti wangi atarmu, tak ingin pergi,
dari mata, sedikit pikiran, dan hati.
Kelak, punggung-punggungku yang kaudaki
tak akan menjadi abu karena terbakar api.
Padam! ada gerimis bergemuruh di dada kiri.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
06 Oktober 2017
Gambar koleksi Riza Almanfaluthi

Kaubilang


Kaubilang, aku bayi? Ya, aku bayi yang ditimang-timang ibuku, di dalam pesawat terbang, 35.000 kaki di atas permukaan bumi.

Aku bayi  yang sepagian tadi menangis, bertanya-tanya mengapa pesawat ini tak segera terbang, ke angkasa, ke laut, ke gunung, atau mampir ke mejamu, bahkan ke jantungmu. Aku suka mencari warna detaknya, atau sekadar harum darah, atau sebentuk getaran dengan banyak tafsir.

Tolong, jangan berhenti berdenyut, karena sekali berhenti, burung-burung yang ada di halaman dan bersarang di jantungmu itu, mesti tak akan pernah bisa lagi bermain-main di dahan-dahan jantungmu, di daun-daun jantungmu, di ranting-ranting jantungmu, di akar-akar jantungmu. Ah, kalau sudah begitu aku ingin kembali saja ke perut ibuku. 

Aku bayi, yang baru saja dibisiki ibuku tadi barusan, kalau ada pesawat pejabat penting negeri ini mendarat di landasan, dan pesawat sahaya yang dinaiki aku, ibuku, beserta penumpang lainnya ditahan, berhenti, tak boleh terbang dulu oleh menara pengawas. Lama tak masalah, karena waktu mereka lebih penting daripada waktu yang kami miliki. 

Aku bayi, yang barusan terdiam dari tangis dan ditimang-timang ibuku. Ibu, capek ya Bu. Menggendong-gendong aku terus. Menimang-nimangku selalu. Sebentar lagi, Bu. Aku akan tertidur. Sebentar lagi mataku akan terpejam. Sebentar lagi aku akan bermimpi. Sebentar lagi aku akan bawa ibu ke dalamnya. Aku tak mau ibu capek.

Sebentar lagi aku akan menggigil, pulas, lalu berlari-larian dengan mimpi, tertawa-tawa dengan mimpi, bermain-main dengan mimpi, mencubit pipi mimpi, atau pipiku yang dicubit mimpi. Sebentar lagi aku akan menjadi Puisi. Sendirian menjulang di tengah awan. Sebentar lagi aku akan dihujani kabut yang pelan-pelan datang. Lalu ibu akan membangunkanku kalau pesawat ini sudah mendarat. Atau membiarkanku.

Bu, aku lelap dulu ya Bu. Jangan lupa, setelah mendarat, kauganti popokku yang telah penuh ini. 

Baiklah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
35.000 kaki, 4 Oktober 2017

Gemerisik


Bahkan ketika keterisian menjadi nebula, bahkan ketika kekosongan menjadi neruda, bahkan ketika keduanya menjadi aku, Puisi adalah gemerisik daun pisang yang menengadah sambil tabah berdoa di suatu Subuh. Coba kata apalagi yang hendak kausebut?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Jalanan, 2 Oktober 2017