Goyang Penasaran


Seperti anak kecil yang menemukan bonekanya yang hilang, Salimah mendekapkan kepala Haji Ahmad pada dadanya. Darah yang belum sepenuhnya membeku menetes di tubuhnya. Mata Salimah berair, terpejam. Bibirnya terbuka setengah. Basah.

 

Waktu kecil dulu, setiap kali cerita setan dikisahkan ibu kepada anak-anaknya pasti telinga ini mendongak tajam. Kepekaan telinga kami meningkat beberapa desibel agar tak melewatkan satu kalimat pun yang diucapkan dari mulut ibu dengan disertai wajah kengerian yang luar biasa.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

SALIMAH


Empat hari libur kemarin cukup memuaskan bagi saya. Ada banyak kegiatan yang saya lakukan. Mulai dari merasakan kelezatan pagi yang sejuk hingga membantu kepanitiaan dalam acara peringatan maulid yang diselenggarakan oleh sebuah LSM bernama Salimah (Persaudaraan Salimah) dan mendatangkan pembicara kondang Ustadz Wahfiuddin.
Hari Kamis, nanti dulu saya coba ingat-ingat apa yang telah saya kerjakan pada hari itu. Paginya, cuma santai-santai saja, tidur-tiduran, bercanda dengan anak-anak, baca buku, dan mempersiapkan materi untuk acara nanti malam bersama anak-anak remaja RT.
Sore hari, saya memasang gorden untuk membatasi pandangan dari ruang tamu ke ruang keluarga dan dapur yang ada di bagian belakang. Bor yang saya pinjam dari tetangga sebelah tidak berguna karena ternyata kayu tempat kaitan gordennya ringan dan bisa dilubangi dengan mur biasa. Dengan dibantu saudara kegiatan ini cepat juga selasainya. Sekarang rumah ini ada nuansa barunya dengan tirai lengkung di tengah-tengahnya.
Baru pada malam harinya saya mengisi acara pekanan untuk satu anak kelas enam SD, empat remaja SMP dan SMU, dan dua pemuda lainnya. Seperti biasa saya memulai acara itu dengan membenarkan bacaan AlQur’an mereka, mengecek sholat mereka, memberikan materi hamdalah, dan tanya jawab. Setelah itu tepat pukul 21.00 WIB acara itu selesai.
Hari Jum’at. Sudah dua hari tidak punya semangat menulis. Jadi tidak ada jari-jari lentik (What the…) ini menyentuh tuts-tuts keyboard merangkai kata-kata. Tapi hanya untuk memencet tombol-tombol tertentu dalam permainan game Warcraft III: Frozen Throne. Tidak lama setelah itu, kayaknya saya baca buku deh…Terus apa lagi ya…?
Oh ya, persiapan sholat jum’at, mandi, pakai baju terbaik dan minyak wangi kesturi putih. Setelah itu saya bersama tiga anak kecil pergi ke masjid berkhutbah berbahasa Indonesia di komplek sebelah untuk mendapatkan wejangan yang berharga dan lebih bermutu. Karena biasanya kalau di masjid kampung khothibnya memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Pendek amat bo… cuma lima menit dan saya tidak mengerti lagi.
Siangnya setelah pulang jum’atan, saya pergi ke toko bangunan membeli pernak-pernik untuk kusen baru yang akan dipasang minggu depan untuk menggantikan kusen standar kelas BTN yang mulai rapuh. Tidak lupa saya beli pelitur kelas dua untuk jendela baru.. Kali ini—sori yah—saya mengerjakan sendiri memelitur jendela ini. Masak kerjaan kayak beginian dilimpahkan ke tukang.
Sekitar jam sembilan malam saya pergi ke rumah teman untuk membincangkan kegiatan yang akan diadakan pada hari ahadnya yakni acara Salimah itu. Di sana sudah menunggu banyak teman. Dibicarakan pula tentang agenda kegiatan musim liburan nanti untuk pemuda dan remaja. Acara selesai jam sebelas malam.
Sabtu pagi. Saya punya agenda untuk mengajar kerohanian Islam di SMP Islam Al-Iman. Lalu setelahnya dalam perjalanan perjalanan pulang saya sempatkan mampir dulu ke rumah al-akh untuk bersilaturahim dan menanyakan kabar keluarganya. Tidak lama di sana karena saya harus segera kembali ke rumah. Tetangga saya akan berangkat ke Pekanbaru.
Ya, penempatan barunya menjadi kepala seksi di kantor pajak dengan sistem moderen telah membuatnya berpisah jauh dengan seorang istri dan dua anak-anaknya. Hanya bertahan kurang lebih empat bulan dalam kesendirian, ia memutuskan untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke Pekanbaru. Saya dititipi kunci rumahnya yang akan ditempati, dijaga, dan dirawat oleh seorang al-akh yang lain.
Sabtu siang tidak ada kegiatan besar. Terkecuali menonton berita musibah gempa di Jogja dan malamnya saya harus mengangkat karpet-karpet dan tanaman hias untuk acara Salimah ke tempat yang telah ditentukan, yaitu di aula masjid Baiturrohman Komplek Perumahan Departemen Agama, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.
Ahad pagi, ba’da shubuh saya mengeluarkan dan memanaskan mobil butut tahun tua milik saya yang baru terbeli setengah tahun yang lalu. Seperempat jam kemudian saya pergi lagi menjemput barang-barang di banyak rumah yang belum sempat terambil pada malam sebelumnya. Ada kipas angin, banyak karpet lagi, dan tambahan tanaman-tanaman hias lainnya.
Karena saya tidak mendapatkan izin dari boss untuk standby di acara Salimah itu,
maka pada pukul setengah delapan pagi saya pergi menghadiri acara wajib saya yakni pertemuan pekanan. Permintaan izin ini karena di dalam SMS saya ada kalimat pertanyaan: bolehkah saya tidak hadir? Kalau tidak ada kalimat ini maka ini bukan minta izin tapi cuma pemberitahuan saja. Ini adab yang benar untuk meminta izin. Tapi kebanyakan tidak dipakai karena biasanya izin itu seringkali ditolak kecuali untuk yang syar’i sekali seperti orang tua sakit.
Pertemuan pekanan berakhir pada jam setengah sebelas siang. Banyak yang didapat di sini. Seperti mendengarkan taujih dari Ustadz Ihsan Tanjung melalui vcd tentang Bahaya Zionisme Internasional, taklimat-taklimat, oleh-oleh Musda DPD Bogor kemarin, pengumpulan infaq untuk Bantul dan Palestina.
Saya langsung pergi menuju lokasi acara Salimah. Menyempatkan diri untuk melihat slide yang ditampilkan oleh ustadz Wahfiuddin. Ada informasi baru yang saya peroleh darinya. Dan dirasakan juga tentunya oleh ibu-ibu peserta pertemuan ini. Yakni salah satunya adalah masalah peniupan roh pada janin.
Selama ini berdasarkan pandangan ulama-ulama pesantren dari kitab kuning abad ke-13 masehi bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 120 hari. Ternyata berdasarkan kajian Alqur’an dan hadits serta penelitian moderen diketahui bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 40 hari. Nah loh, kok beda.
Menurut beliau tidak ada yang salah dala Alquran dan alhadits. Yang salah adalah penafsirannya. Karena ulama zaman dahulu tidak didukung dengan metode, alat, dan teknologi yang canggih seeprti sekarang ini.
Beliau menegaskan masalah ini penting karena berkaitan dengan masalah aborsi. Bila memakai patokan yang salah kaprah itu maka berarti ini telah membuang janin yang telah mempunyai ruh. Ini sama saja dengan pembunuhan. Dan pada dasarnya aborsi ini adalah haram hukumnya terkecuali dengan keadaan-keadaan khusus atau uzur syar’i. Seperti adanya penyakit dan kondisi yang akan membahayakan jiwa sang ibu.
Azan dhuhur berkumandang. Acara pun selesai. Saatnya saya bekerja lagi. Mengangkut-angkut barang perlengkapan kembali ke tempat semula. Mondar-mandir dengan mobil carry ini membuat jam terbang mengendarai mobil saya bertambah. Maklum saja, saya sama sekali belumlah lancar untuk mengendarai kendaraan roda empat. Alhamdulillah, tidak ada insiden yang selalu menjadi bayang-bayang ketakutan saya untuk belajar nyetir. Bahkan saya bisa menuruni turunan curam di mana saya pernah terperosok dalam got di Bulan Desember kemarin.
Setelah itu saya istirahat. Tidur-tidur siang. Sampai malam menjelang tidak ada agenda besar. Sejak itu pun tidak ada upaya untuk menulis tentang apa saja. Saya benar-benar istirahat menulis rupanya di liburan panjang ini. Walaupun di senin sebelum fajar ini saya terbangun dengan badan pegal-pegal tapi hati rasanya puas sekali. Liburan panjang ini terasa enak saja dilewati. Entah kenapa. Rezeki dan keberkahan Allah memang tidak hanya dalam bentuk lembaran rupiah saja ternyata. Tapi kepuasan hati, jasmani sehat itu pun menjadi rejeki yang tak ternilai harganya oleh manusia.
Kalau demikian, sudah sepantasnya saya yang telah diberikan nikmat tak terhitung banyaknya oleh Allah untuk senantiasa bersyukur. Bukan begitu…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:15 29 Mei 2006