Perahuku Bernama Lupa


Perahuku bernama lupa
mencintai sepucuk bunga
yang jatuh meleleh di pipimu.
kauambil selembar waktu
untuk kauusap
segala bias setengah nyata.

perahuku bernama lupa
tak pernah abadi
karena ia cuma kertas
bukanlah besi karsani
buat menentang serantang badai
sambil bertanya:
siapa aku? siapa kamu?

perahuku bernama lupa
cuma gula dalam kopi.
aku akan berlayar mengaduk
gurun yang memar.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 03 Juni 2015

Mengapa Saya Dikenakan Pajak Restoran dan Service Charge?


Kemarin, ada surat elektronik dari Pak Moko yang menanyakan tentang pajak. Berikut pertanyaannya:

Selamat pagi,

Pak Riza saya mau bertanya. Apakah untuk pajak restoran yang ditagihkan ke kita, itu beanya dibayarkan ke negara apa masuk ke retribusi daerah? Dan saya mau bertanya untuk pajak service yang besarnya 5% itu kenapa juga ditagihkan ke pelanggan? Jadi kalau dijumlahkan, besarnya pajak yang harus dibayar ke pelanggan 15% (PPN 10% + Service 5%). Apakah itu ada aturannya di dalam undang-undang dan kalau kita sebagai pelanggan berhak menolak besaran pajaknya itu?

Trims

Moko

Baca Lebih Lanjut.

Di Titik Didih Kerinduan


Malam lebaran di salah satu sudut Semarang.

Suara mirip peluit mencelat dari ketel yang isinya air mendidih. Uap panasnya berontak dan buru-buru keluar dari celah sempit di ujung moncong ketel seperti iblis dengan bala tentaranya ketika azan Magrib 1 Syawal besok berkumandang.

Mereka kembali merapatkan barisan, berkoordinasi, dan membagi tugas mengembalikan manusia kepada kesesatan setelah sebulan mereka dipenjara. Mereka ingin agar kawan-kawannya dari kalangan manusia yang sudah suci dibasuh Ramadan, kembali menjadi anggota yang akan menemani mereka di neraka.

Baca Lebih Lanjut.

Membeli Martabak di Bulak


MEMERANGKAP***Senja.

Ketika kami tiba di Masjid Alhusna, Kinan langsung menuju saf terdepan saja.  Tak ada yang menemaninya. Umminya Kinan sedang tak enak badan jadi tak bisa salat id. Sedangkan kami bertiga segera masuk ke dalam ruangan utama masjid.

Hari ini lebaran. Kami kembali salat di masjid ini. Mengulang ritual setahun sekali. Khatibnya berkhotbah selama 30 menit yang isinya diingat dengan baik oleh Kinan. Di antaranya tentang nyamuk, organ tubuhnya, alat untuk menusuk korban, dan obat bius yang dipakai satoan itu saat menggigit manusia.

Baca Lebih Lanjut.

Mur dalam Sepotong Coklat


Kebersamaan sejati bukan soal “tampilan” dari luar, tetapi soal “jiwa” dari dalam. 

​Aku ingin mengatakannya dengan kata “tiba-tiba”, tetapi senyatanya memang tidak ada yang tiba-tiba, karena ada hari yang terlewati mulai dari hari pertama Ramadan hingga saat ini. Malam ke-27 Ramadan.

Di Masjid kompleks kami ini, Masjid Alikhwan, banyak orang berdatangan memenuhinya, mulai dari orang tua sampai anak-anak. Mereka ingin menjadi bagian dari umat yang mendapatkan kemuliaan di malam itu yakni lailatulkadar.

Baca Lebih Lanjut.

Komidi Putar


Ramadan-ramadan yang macam-macam mencari-cari cara-cara agar aku yang kaku ini masih fasih mengingat sore-sorenya di suatu waktu ketika aku pergi jalan-jalan ke pasar malam menikmati azan yang sebentar lagi singgah lelah. Maka aku pilih komidi putarnya sembari mengingatmu yang tak mau kuajak untuk duduk di atasnya dan berputar-putar seperti darwis kota ini mencari cinta-Nya. Engkau yang pernah bilang kepadaku, “Biar aku di bawah saja, karena cinta-Nya kutemukan disudut-sudutmu, maka aku mencintaimu.” Sejak itu, aku selalu ingin menaiki komidi putar,  agar aku bisa tetap berada di pikiranmu, walaupun engkau sudah menghilang bersama huruf terakhir ikamah suatu Magrib. Aku ingin berbuka dengan pikiran yang manis tentangmu.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Sahur, 02 Juni 2018
Photo by @mmuheisen check out his feed for more.

For Solo Trombone



Apakah engkau tahu trombon? Itu adalah alat musik tiup logam. Abbie Conant sanggup memainkan terompet besar itu dengan baik dan profesional.

Suatu ketika Munich Philharmonic Orchestra mengundangnya untuk sebuah audisi. Audisi pertama itu dilakukan secara buta. Maksudnya para pelamar memainkannya di balik tabir. Para Juri murni hanya mendengar dan menilai dari suara yang dihasilkan trombon tanpa melihat siapa yang memainkannya.

Baca Lebih Lanjut.

Di Tubuh Perkamen


Petang ini didaulat untuk membacakan beberapa bait puisi yang sedang merayakan hari jadinya ke-49. 

Kaucatat sajak di tubuh perkamen
yang warnanya semerbak
menjadi bahan bakar suluh
di sebuah duli

Kausemat ucapan selamat datang di gerbang praja
yang lelah dari semua hiruk pikuk
menjadi bedinde
di janabijana

Kautabuh kata-kata  di gendang telinga
Berdebum-debum perihal agar benderang
menjadi Harun
di sisi Musa

Hari ini,
Kauundang waktu datang ke sebuah pesta
Ia yang  menjadi badut tambun
bersekutu  dengan apa saja

Hari ini,
Waktu yang kauundang
menghentikan dirinya sendiri
membacakan kisah abadi
akhir ceritanya:
Raharja selamanya
Untuknya
Untukmu.

Selamat ulang tahun, Pak.

 

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Mei 2018
Photo by @rorahtrk

Menunggu Kartu Lebaran


Aku menunggu kartu lebaran
di penghujung bulan
untuk kau kirimkan
pada masa silam

Aku menunggu coretan
di kertas karangan
sambil membayangkan
bulan bertengger di kegelapan

Aku menunggu kartu lebaran
diantar pak pos
mengetuk-ngetuk pintu pagar
Ada suraaaaat!!!

Aku menunggu coretan
maaf lahir dan batin
dari jemarimu yang semesta
seharum tepian surgaloka

Aku menunggu kartu lebaran
untuk kusemat di dada
sepanjang rusuk waktu
dan helaian kenangan

Aku menunggu coretan
yang tak pernah ada lagi
diganti huruf-huruf tegak
itu juga asal kopas.

Aku menunggu kartu lebaran
musnah kaubakar sendirian
abunya sampai di pikiran:
engkau yang masih rebahan

:di gigir ramadan.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
18 Mei 2018
Photo by @fennelmk. Check out his feed for more. 

Bagaimana Rasanya Kopi Ini?


IMG-20180510-WA0020_1

Bagaimana rasanya kopi ini? tanyamu kepadaku di suatu pagi yang meringkuk. Aku memetik semua partikel di udara kemudian memasukkannya ke dalam lumbung hidungku. Seperti pertapa di Kathmandu yang merajang dingin, aku menjawabnya sederhana: rasanya kopi, tanpa warna.

Di sepanjang titik-titik, engkau berkehendak mengecat seluruh kain yang ada di kota ini serupa warna kerudungmu yang pernah kaupakai di sebuah malam. Tetapi warnanya tak cukup satu. Dan engkau hanya bisa berteriak, nyatanya yang kau dapatkan hanya hitam jelaga.

Esok pagi, kutemui kau sedang berdiri di gerbang kota. Mengetuk dada setiap orang yang lewat, mendengar degup mereka satu-satu. Untuk kaucari warna jembatan nirwana. Di jantung orang yang sedang jatuh cinta.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11 Mei 2018