Mur dalam Sepotong Coklat


Kebersamaan sejati bukan soal “tampilan” dari luar, tetapi soal “jiwa” dari dalam. 

​Aku ingin mengatakannya dengan kata “tiba-tiba”, tetapi senyatanya memang tidak ada yang tiba-tiba, karena ada hari yang terlewati mulai dari hari pertama Ramadan hingga saat ini. Malam ke-27 Ramadan.

Di Masjid kompleks kami ini, Masjid Alikhwan, banyak orang berdatangan memenuhinya, mulai dari orang tua sampai anak-anak. Mereka ingin menjadi bagian dari umat yang mendapatkan kemuliaan di malam itu yakni lailatulkadar.

Malam yang dipastikan, ketika seseorang beribadah maka ibadahnya itu lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan.

Di sepertiga malam sampai dua pertiganya ini, ada yang berzikir, tilawah Alquran, salat, membaca buku, bahkan tidur. Nanti sekitar pukul 03.00 mereka akan bersama-sama melaksanakan salat tahajud bareng. Diimami oleh penghafal muda bernama Ustaz Syauqi.

Menjelang jam 01.00 ini tumben nih aku masih bisa melek. Barangkali karena aku tadi sehabis berbuka meminum secangkir kopi arabika Shunda dan segelas lagi robusta Ulee Kareng yang dibuat dengan metode cold brew yang bikin aku mampu melawan kepahitan robusta. Kok malah membicarakan kopi, sih?

Syukurnya besok adalah hari Ahad. Hari libur. Jumat (8/6/2018) lalu adalah hari terakhir bekerja sebelum libur panjang Idul Fitri 2018.

Di malam ini, Haqi dan Ayyasy juga ikut ke masjid, umminya Kinan, dan Kinan sendiri. Tiba-tiba aku teringat tentang kejadian malan kemarin.

Menjelang tarawih, Kinan memakan coklat buatan rumahan. Coklat berisi kacang itu memang nikmat sekali buat kudapan. Ah, engkau tentu pernah merasakannya bukan?

Kinan membuka bungkus keperakan itu dan menelannya dengan pelan, tetapi giginya yang susu itu menggeramus benda yang keras, dan tentu tak sanggup ia telan. Ia mengeluarkan benda kecil itu. Dan kau tahu apa?

Ia adalah mur. Kalau di Teka-teki Silang pertanyaan yang ada adalah: “Pasangan baut.” Wow, syukurnya mur itu tak ditelannya. Kinan melepehkannya.

Barangkali yang bikin coklat ini usai ngebengkel, ia ngecoklat, bikin coklat. Lupa kalau salah satu murnya tumpah ke dalam adonan coklat dan kacang.

Ingatkah engkau dengan kutipan ini: “Ibuku selalu bilang, hidup itu seperti kotak coklat. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada di dalamnya.” Betul sekali.

Sampai di sini, aku mengantuk. Apakah aku butuh kopi? Aku jadi teringat kembali peristiwa seminggu yang lalu, di 10 hari Ramadan kedua, saat belum masa-masanya iktikaf.

Suatu ketika sehabis tarawih dan pertemuan-pertemuan hangat membicarakan nasib dunia, saya diajak teman pecinta kopi untuk kongko-kongko ke sebuah kafe baru yang terletak di Jalan Baru Pemda Cibinong.

Ternyata kafe itu tidak senirwana yang kami bayangkan. Ia hanya menyediakan satu jenis kopi saja: kopi robusta dari Sidikalang. Hmm… (Mengingat nama itu aku mengenang perjalanan malam-malam saat menuju Tapaktuan beberapa tahun lampau)

Ya sudah, setelah mencandra menu yang tersedia saya memesan black coffee. Teman saya memesan yang sama. Ia yang mencatat pesanan di atas kertas kosong yang disediakan kafe.

Beberapa saat kemudian datanglah pesanan itu, seporsi kentang goreng dan kopi hitam dalam wadah French Press untuk satu gelas. Saya menunggu lama satu gelas kopi hitam yang lainya, tetapi kok tidak datang-datang. Sampai kentang goreng itu hendak tandas.

Teman saya menghampiri pramusaji kafe kemudian menanyakan segelas kopi hitam yang kami pesan. Pramusaji itu memberitahukan bahwa pesanan sudah tersaji semua, karena dalam kertas itu tertulis:

  • Black coffee;
  • French Frees.

Pramusaji itu mengira teman saya salah tulis, seharusnya French Fries (kentang goreng) sesuai menu yang ada di daftar menu.

Sedangkan yang dimaksud teman saya—orang Betawi Sunda ini—adalah French Press, yaitu kopi hitam yang disajikan dalam gelas berpiston, sebagaimana gelas itu banyak terlihat di samping toples-toples berisi kopi.

F dan p memang sering menyelip tak karuan. Di perkataan dan di tulisannya.

Akhirnya ia memesan satu lagi kopi hitam French Press untuk menemani kami menyesapi kepahitan di malam-malam Cibinong yang bertambah ramai menjelang sahur itu.

Dan engkau perlu tahu kebersamaan kami itu hanya sebentar. Sebagaimana kebersamaan yang pernah aku buat pada waktu berbuka puasa bersama di rumahku yang kuselenggarakan untuk keluarga-keluarga dekatku.

Ya, selalu saja kebersamaan membuat kita lupa bahwa setelahnya ada sebuah niscaya: kita akan kembali berpisah. Namun, pun, dengan jenak pertemuan itu ada ceceran perasaan yang tertinggal, membekas di dasar jantung masing-masing. Apakah itu?

Inilah yang kusebut sebagai bahagia. Ramadan, bagiku, selalu menjadi hulu kebahagiaan dan mata air ketenangan. Petang itu, kami,yang diikat dengan pernasaban berkumpul di rumah kecil kami untuk berbuka bersama dan bercengkerama.

Tiba-tiba tentang pernasaban itu, aku diberi nasihat seperti ini, sore tadi.

“…Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (Hadis sahih Muslim)

Jangan pernah merasa bangga dengan nasab, lalu merasa cukup dengan itu sehingga membuat kita bersantai diri hingga lemah dalam beramal.

Apapun itu, matahari harapan yang terbit di malam ini adalah kami dikumpulkan kembali, kelak di firdaus-Nya.

Ah, Ramadan memang membuat semua indra kita sensitif. Pun, peka terhadap kebenaran, sesuatu yang menyentuh perasaan. Sesuatu di masa lalu yang membuat kita terkenang. Seperti ingatan pada malam tarawih dan sebuah tajug yang gelap dan lembap.

Dulu waktu masih kecil, sesudah salat tarawih di tajug milik tetangga kami, kami selalu mengejar imam dan penceramahnya untuk diminta paraf atau tanda tangannya sebagai bukti kami telah salat menjadi makmum dan mendengar ceramahnya.

Lalu kami antre, berbaris rapi di depan pengurus tajug yang telah membawa nampan berisi bermacam-macam jajanan. Ia lalu membagikannya kepada kami–anak-anak SD ini–yang menerima dengan senang hati dan riang gembira.

Berpuluh tahun kemudian, malam ini, di sebuah masjid, saya diminta parafnya oleh dua perempuan kecil. Yang satu mencatat ala kadarnya isi kultum dan yang satunya lagi hampir lengkap. Tak ada yang lain lagi. Bagaimana suasana Ramadan masa kecilmu?

Ramadan hampir berakhir. Seharusnya banyak kisah yang ingin kusampaikan kepadamu, tetapi ada yang harus kukejar di malam-malam dan hari-hari terakhir Ramadan ini. Bahkan sesuatu yang membuatku hidup seperti membaca dan menulis pun tak kuasa mampu mengalihkan aku daripadanya. Kuakhiri sampai di sini. Kita berjumpa lagi usai Ramadan. Insya Allah.

Mas Haqi dan Mas Ayyasy tergeletak tidur.
Jalanan berkabut di dini hari.
Sini, sini, aku teken.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
27 Ramadhan 1438 Hijriah.

“Kebersamaan sejati bukan soal “tampilan” dari luar, tetapi soal “jiwa” dari dalam” dikutip dari bukunya Ayub Yahya yang berjudul Menonton dengan Hati: Refleksi dan Informasi dari Dunia Bola.

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s