CINTA ITU BUTA


23.25

Membuka surel (surat elektronik) darinya itu membuatku tak mampu untuk tidak merasakan kegundahannya. Tentang sebuah asa atas cinta yang begitu membuncah. Atas sebuah rindu yang tak tertahankan kepada seseorang yang dicinta. Tapi sayangnya ada sebuah gunung tinggi menjulang yang tak mungkin ia singkirkan untuk dapat memiliki wanita idamannya. Wanita itu sudah bersuami.

“Kenapa tidak kau pilih yang lain?” tanyaku pada suatu kesempatan. “Engkau masih muda, kaya, berpendidikan, sudah kerja lagi?”

“Aku tak sanggup untuk tidak memikirkannya sampai saat ini, Za,” katanya resah.

Keresahan itu mewujud, tampak dari raut mukanya. Tak dapat disembunyikan. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri seakan-akan mengenang masa lalu. Tapi pada akhirnya keresahan itu memuarakan dirinya pada gerimis dan hujan yang terasa indah. Sore dan senjanya. Malam dengan bulannya. Lagu-lagu India yang terasa romantis sekali. Apalagi dangdut. What the… pria metropolis penyuka dangdut?

Film India lebih disuka. Mulai dari Mohabbatein, Rab Ne Bana Di Jodi, hingga Kabhi Alvida Naa Kehna. Yang terakhir lebih disukanya karena temanya hampir persis dengan apa yang dialaminya. Bintang filmnya sama pula: Shah Rukh Khan. Ada yang tak berbeda dengan dua orang itu. Sama-sama penyuka gym dan punya sixpack. Aku cukup onepack saja. Mengejar yang limanya hanya sebuah obsesi.

Soundtrack film itu juga ada pada ipod-nya yang kulihat kemarin. Ngomong-ngomong tentang ipod, darinyalah pertama kali aku merasakan kualitas mp3 player yang memang luar biasa. Sehingga aku turut berusaha untuk memilikinya juga. Dia memang teman karibku. Aku boleh buta dan belajar darinya segala tentang Jakarta dan kehidupan siang malamnya. Tetapi tentang cinta, ia yang harus belajar padaku. Cinta itu memang buta. Hingga aku harus membuatnya tersadar pada realita. Menuntunnya ke tempat yang terang.

“Bagaimana kalau saya carikan? Pakai kerudung. Sholihah. Aktivis? Segera. Secepatnya,” desakku. Dia hanya menggeleng. Dengan headset yang tetap terpasang di telinganya. Lamat-lamat dari mulutnya terdengar petikan lirik-lirik india itu:

Dur jaake bhi mujhse

tum meri yaadon main rehna.

Kabhi alvida na kehna.

Halah… “Ngaji…! ngaji…!”teriakku. Aku meninggalkannya segera. Tak lama lagi dia akan menghubungi via gtalk. Hanya aku yang memang mampu untuk mendengarkannya. Semua keluh kesah itu. Aku memang pendengar yang baik. Apapun yang ia ceritakan dalam chatting itu, aku cuma bilang I see…I see. I am listening.

00.32

Aku masih memikirkan temanku ini. Apalagi pada saat ia memandangi foto wanita itu. Jangan bayangkan foto itu ada pada selembar kertas berwarna seperti zaman dahulu yang bisa diselipkan di sela-sela buku. Sekarang eranya sudah moderen. Semuanya sudah ada dalam genggaman. Pada handphone-nya.

Dulu harus meminta-minta untuk mendapatkan satu lembar saja. Itu pun dikasih atau diminta dengan sangat terpaksa. Tetapi sekarang cukup dengan diterima sebagai temannya. Maka foto-foto itu dengan mudah didapat. Facebook memang hebat. Ia menyentuh sisi terdalam sifat manusia. Ingin dikenal dan mengaktualisasikan dirinya.

“Seberapa cantik dia hingga kamu teramat kesengsem padanya?”

“Aku tak peduli Za masalah itu. Ada sesuatu yang unik pada dirinya.”

“Dia tahu kamu mencintainya?”

“Ya…”

“Dan…?”

“Dia membiarkanku seperti ini. Tak ada jawaban iya.”

Aku memahami dan menyetujui sikap wanita itu. Ah, teman. Lupakan saja ia.

06.30

Pagi ini dengan tetap mengingatnya.

Beberapa bulan setelah aku pindah kantor. Ia masih tetap sahabatku yang kukenal. Masih membujang. Masih dengan badan atletisnya tetapi dengan cerita yang lebih seru.

“Za, dia sudah bercerai,”serunya riang.

“Apa? Kamu yang menyebabkan semua ini?”

“Sebejat-bejatnya aku. Aku tak mau menjadi pemecah rumah tangga orang. Dia dicerai sama suaminya.”

“why…?” tanyaku sok londo.

Dia jawab pakai bahasa Inggris sampai aku terbengong-bengong. Entah karena apa yang diungkapkannya atau karena aku tak mengerti cas-cis-cusnya itu, aku hanya: I see…I see. Skor toeflnya memang jauh di atasku.

“Sekarang aku lagi nyetel lagunya Irwansyah Za, Kutunggu jandamu,” tulis dia lagi di chatroom.

Aku tulis Smiley Icon yang pake bacok-bacokkan itu.

“Pffhhhh…Bro, perawan banyak di luaran sana. Tetap saja kau pilih dia. Terserahlah…Pesen aku cuma satu: agamanya bro!.”

Yang tampil di layar kemudian adalah cuma ikon cengengesan.

*

Pagi ini aku masih menunggu undangan dari temanku itu. Yang entah kapan akan datang.

***

Riza Almanfaluthi

dengan seizinnya aku tulis cerita ini.

dedaunan di ranting cemara

08.24 22 Januari 2011

SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU


SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU

Jum’at sore, forum facebook (fb) kami dikejutkan dengan perubahan profil anggota forum yang fotonya berpose tak senonoh. Saat didalami, betul, gambar-gambar dan link-link yang tak karuan sudah ada di dalamnya. Akun fb teman telah di hack. Kayaknya cracking akun fb  sudah mewabah. Teman dan saudara dekat banyak yang telah menjadi korban.

Segera saya ubah passwod fb, mengombinasikannya dengan huruf, angka, dan karakter lain, dan tidak menyamakannya dengan password email. Ini langkah-langkah yang seringkali diremehkan oleh pengguna internet, termasuk saya.

Penghuni rumah juga sudah saya ingatkan untuk segera mengubah passwordnya agar terhindar dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini. Ini untuk kesekian kalinya fb tidak bisa melindungi penggunanya. Fb menjadi sesuatu yang rentan untuk disusupi oleh virus ataupun cracking.

Ahad sore, selagi saya chat fb dengan saudara saya di Tasikmalaya, tiba-tiba masuk sapaan dari teman satu kantor, satu ruangan, satu tim dengan saya. Terjadilah dialog seperti ini:

***

Teman: sore

17:13

Riza:

sore mbak

assalaamu’alaikum

17:13

Teman:

walAikumsaLaM

lagi dmaNa?

17:14

Riza

dirumah mbak. online always. hehehehhe

17:14

Teman: ohh

17:14

Riza:

lagi jjs mbak?

17:17

Teman:

oh

mbak mau cari pulsa

17:18

Riza:

i see… i see…

17:19

Teman:

hehehe

ada gAk

17:19

Riza:

ada2

di tetangga sebelah.

nomornya berapa mbak?

saya pesenin dan kirim segera.

dan yang berapa?

17:20

Teman:

085276897993

yg 100rbu

sekarang ya

ntr uaNg nya dikirim

17:20

Riza:

oke ditunggu mbak….

gampang

17:21

Teman:

ok

17:25

Riza:

mbak pakai internet bankking saya saja yah

17:25

Teman:

udAh isi pulsa nya

17:25

Riza:

belumm…

lagi masuk. tetangga gak ada yang cepean

ke internet banking mandiri saya

tunggu bentar

17:26

Teman:

iya

17:28

Riza:

sudah saya kirim…

17:28

Teman:

udah isi yA

17:28

Riza: iya

udh masuk?

17:29

Teman:

biasa klw bisa isi berApA sihh

?

dari internet bAking

17:29

Riza: 25 ada

gocap ada

cepe ada

ini pas lagi ada duit di rekening mandiri saya mbak

sekarang di kapus kan pake bri

jadi susah

17:30

Teman: bisa isi berapa lagi

17:30

Riza: bri gak secanih mandiri ib-nya

17:30

Teman:

biasA mbaK isi bANyak lo

berapa aja

17:31

Riza:

cuma seitu doan mbak

Jenis Transaksi : Pembelian Voucher Isi Ulang
No. Referensi : 085276897993
No. Voucher : 0011000033699392
Jumlah : Rp. 100.000,00
Tanggal – Jam : 16 01 2011 – 05:26 PM WIB
No. Transaksi : 1101160059374
Status : Berhasil

17:32

Teman:

ohhhhhh

Riza: 17:33

udah masuk?

****

Setelah itu lenyap.

Saya baru “ngeh” ada yang tidak beres dengan ini. Sebenarnya sedari awal sih. Tetapi saya abaikan karena kepolosan husnudzan (berbaik sangka) saya. Keanehan itu adalah pertama teman Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu tidak mengucapkan “assalaamu’alaikum” terlebih dahulu. Bagi saya itu aneh.

Kedua, Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu memosisikan kata ganti orang pertama dengan menyebut dirinya “mbak” setelah saya menyapanya dengan sapaan itu. Selama ini Beliau yang Sebenarnya memosisikannya tetap dengan kata ‘aku” atau “saya”.

Ketiga, ketika Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu bilang “bisa isi berapa lagi” dan “biasa mbak isi banyak lo”. Kalau yang biasa bertransaksi dengan internet banking memang pilihan angkanya cuma itu saja. Tidak ada yang lain.

Husnudzan saya juga karena selama ini dulu, sebelum pindah, atasan saya yang lama kalau beli pulsa terkadang meminta bantuan saya via internet banking. Jadi tak ada kecurigaan selama ini. Dan saya juga beranggapan, meminta tolong untuk dibelikan pulsa bisa jadi dialami oleh banyak orang, seberapapun kondisinya orang tersebut, kaya ataupun miskin, sibuk ataupun menganggur. Kalau lagi darurat bisa juga bukan? Atau lagi malas keluar rumah begitu?

Namun kesadaran saya itu baru ada setelah beberapa saat, setelah transfer itu terjadi. Apalagi kemudian setelah saya bertanya kepada akang Google tentang penipuan meminta pulsa via chat fb. Sudah ada ternyata korbannya.

Segera saya telepon nomor itu. Tidak diangkat. Kebetulan pula saya belum punya nomor  Beliau yang Sebenarnya. Setelah saya mendapatkan nomor Beliau yang Sebenarnya dari teman, saya telepon Beliau yang Sebenarnya. Tidak diangkat. Konfirmasi tetap penting bukan? Apalagi kalau benar bahwa bukan Beliau yang Sebenarnya yang sedang chat dengan saya. Ini untuk menghindari agar tidak ada lagi korban selain saya.

Ba’da maghrib,  Beliau yang Sebenarnya menelepon saya. Tepat dugaan saya. Beliau yang Sebenarnya tidak pernah chat dengan saya. Seratus ribu melayang.

Well, saya berpikir kita memang harus berhati-hati, tetap menjaga kewaspadaan. Kewaspadaan saya saat ada sms masuk minta pulsa juga harus diterapkan di dunia maya. Pun, keteledoran saya banyak membawa pelajaran. Berikut yang di bawah ini bisa disimak:

Harga seratus ribu tidaklah mahal untuk sebuah ide sehingga bisa menghasilkan tulisan ini.

Tidaklah mahal pula hingga artikel ini bisa bermanfaat buat yang lain untuk meningkatkan kewaspadaan sehingga tidak turut menjadi korban. Kewaspadaan beda loh yah dengan su’udzon (buruk sangka).

Cara waspada adalah dengan mengajukan pertanyaan jebakan. Misal: “Kita jadi kan pergi hari minggu besok ke pernikahan teman kita?” Kalau dia jawab iya. Berarti teman chat itu tukang tipu. Karena acara pernikahan sebenarnya hari Sabtu. Banyak sekali sih pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Misal juga: siapa nama cleaning service yang biasa menyiapkan air minum kita setiap paginya? Atau telepon langsung nomor itu dan dengarkan suaranya. Sama dengan yang biasa kita dengar setiap harinya.

Untuk teman yang baru dikenal tak perlu untuk diladeni. Apalagi baru ketemu mau berhutang lewat sms ataupun chat. Jadi “ngeh” pula berbulan-bulan sebelumnya ada “teman” mau berhutang kepada saya via sms padahal baru ketemu. Bisa jadi ini modus yang sama. So, tak perlu mencantumkan informasi privat kita di profil fb. Nomor telepon misalnya. Jangan blak-blakan. Berinternetlah dengan sehat.

Pelajaran lainnya adalah untuk selalu berinteraksi dengan mengikuti forum diskusi (fordis) komunitas-komunitas di dunia maya atau milis-milis. Karena biasanya di sana seringkali diungkap kejadian-kejadian kriminal dan tips atau trik untuk menghindarinya. Terkecuali anggota milis atau fordisnya senantiasa bersikap apatis dan tak mau berbagi.

Kejadian ini juga adalah cara Allah untuk menegur saya. Sudah infak belum hari ini? Infak menjaga kita dari bala dan musibah. Kalau pelit, siap-siap saja yang lebih besar diambil oleh-Nya.

Semoga bermanfaat.

***

Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu = tukang tipu.

Beliau yang Sebenarnya = teman saya yang akun fb-nya dihack.

Riza Almanfaluthi

penulis dan blogger

dedaunan di ranting cemara

09.47 17 Januari 2011.

RESEARCH IN [MOSES] MOTION


RESEARCH IN MOSES MOTION

 

Semalam saya bangun. Tepatnya menjelang tengah malam. Tidak tidur hingga dua jam ke depannya. Mengambil komputer. Menuju ke ruang tengah. Menyalakannya dan membiarkan layar putih kosong di depan saya hingga setengah jam lamanya.

Saya ditemani seekor kecoa yang satu kaki belakangnya lemah tak berdaya. Terseret-seret tubuhnya yang tetap mengilap walau tak pernah mandi seumur hidupnya. Sudah beberapa kali dia lagi-lagi memutar di depan saya–menyusuri tembok. Dia tak pernah mau jauh-jauh dari dinding. Mengapa? Jika ia terjungkal dan jatuh terlentang ia masih dengan mudahnya menggapai dinding itu untuk kembali tegak.

Terdengar suara berisik dari arah dapur. Ternyata si belang yang tak tahu diri sedang menjilati remah-remah makanan di atas piring kotor. Sebenarnya tidak ada celah buat dia masuk ke rumah ini. Kecuali satu hal: jendela di kamar atas terbuka. Ya, betul sekali. Dari sana ia masuk.

Saya pernah berbicara baik-baik dengannya untuk tidak masuk ke rumah ini. Kalau mau makanan lezat silakan untuk mempersiapkan kupingnya yang berpendengaran tajam itu bila ada panggilan dari saya. Bolehlah ia masuk. Eh, dasar kucing. Sudah dibilang baik-baik, dengan atau tanpa panggilan, ia tetap masuk. Ndableg… Ini karena ia—seumur hidupnya—tidak pernah makan bangku sekolahan. Kasihan.

Dan malam itu saya cuma bisa menulis beberapa paragraf seperti ini:

Apa yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan anaknya menunggangi keledai seorang diri? Apa pula yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan dirinya seorang diri menunggangi hewan itu? Apa kemudian yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan dirinya dan anaknya menjadi dua beban berat di punggung hewan yang dikenal bodoh itu?

Tak bermuara sampai di situ. Apa yang diterima oleh sang ayah yang membiarkan hewan yang diciptakan di dunia sebagai tumpangan manusia itu dibiarkan sempurna melangkah dengan tegak tanpa beban berat di atasnya? Dan apa yang diterima oleh sang ayah yang bersama dengan anaknya menggotong keledai sehat wal afiat itu di punggung-punggung mereka bergantian?

Komentar tiada henti yang berujung dengan celaan. Ya, itulah nasib yang diterima mereka. Seperti nasib yang diterima oleh banyak orang yang berusaha untuk mewujudkan sesuatu yang berguna untuk orang lain, minimal untuk diri mereka sendiri.

Semula penduduk dusun itu tak pernah membayangkan mereka mendapatkan kelimpahan air setelah apa yang dilakukan oleh salah satu lelaki dari mereka. Sebelumnya mereka harus berjalan berkilo-kilometer jauhnya untuk mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Lelaki itu dengan penuh ketekunan membuat lubang yang menembus dua bukit hanya untuk mengalirkan air dari mata air ke dusun. Sedikit demi sedikit usaha besar itu dikerjakan dengan diiringi rasa skeptis yang melanda para tetangganya. Cemoohan sudah barang tentu menjadi laku keseharian yang diterima. Setelah bertahun-tahun upaya itu dijalankan, setelah mereka melihat air yang begitu berharga membasahi persawahan mereka maka barulah penduduk dusun mengakui kerja lelaki itu. Syukurnya tidak ada azab yang menimpa mereka para pencemooh itu. Kebahagiaan menjadi milik mereka bersama.

Ini berbeda dengan para pengolok yang mengejek apa yang dilakukan Nuh di saat ia membuat sebuah perahu besar di tengah gurun. Laut jauh darinya. Maka silangan di dahi kepada Nuh menjadi sebuah tingkah dari para lawan ideologinya, pun dengan anaknya yang menjadi bagian mereka. Tak dinyana itulah akhir dari mereka. Bah raksasa menggilas semuanya. Menyisakan perahu yang membawa Nuh dan pengikutnya dari kalangan manusia dan faunanya.

Sejatinya ejekan itu hanyalah perantara turunnya ikab. Ada yang lebih dahsyat lagi: ketika syahwat menduakan Tuhan merajalela. Ini sekadar model dari berlabuhnya sebuah azab. Tanpa ada peringatan.

Namun Tuhan masih pemurah kepada bangsa Yahudi yang sering berbuat kerusakan di muka bumi walau banyak perintah-perintah-Nya didera pengkhianatan. Agar mereka taat dan ingat dengan perjanjian yang mereka buat, maka Tuhan mengangkat Bukit Thursina di atas kepala mereka. Benar-benar di atas kepala yang membuat mereka bergidik tentunya. Taati atau azab ini menimpa. Pun dengan itu, mereka tetap dengan karakter aslinya sebagai pembangkang tulen.

Berpuluh abad kemudian, karakter—mencela, mengejek, membangkang, tak bersyukur—itu seringkali mengemuka. Hatta di tengah banyak musibah yang menimpa bangsa ini. Di suatu saat ketika petinggi negeri ini berkutat menekan perusahaan asing untuk memenuhi keinginan pembagian yang lebih berpihak kepada lokal yang salah satunya adalah dengan memblokir segala konten yang berbau porno, maka bau-bau yahudi itu menjelma dengan salah satu kicauan ejekan seperti ini: “baru aja mencoba akses situs porno via laptop dgn jalur Telkom, lancar abiss!!!! Klo #RIM dtutup diskriminasi tu nmnya.”

*

Malam semakin larut. Komputer sudah saya tutup. Sejenak saya merenung. Dunia sudah renta. Hukuman Tuhan saat ini buat umat Muhammad masih belumlah seberapa dengan yang diterima Bani Israil pada saat itu sebagai bentuk pertaubatan dari penyembahan sapi atas perintah Samiri. “Sebagian dari kalian membunuhi sebagian yang lain.” Hingga Ia memerintahkan Musa untuk menghentikan penebusan dosa mereka itu saat statistik menunjukan angka tujuh puluh ribu jiwa.

Saya bergidik. Dan kecoa di depan saya itu masih terkapar, melonjak-lonjak untuk bangkit.

***

 

Riza Almanfaluthi

penulis dan blogger

dedaunan di ranting cemara

09.11 12 Januari 2011

JAWABAN BUAT ISMAIL HASANI SI PENUDUH


JAWABAN BUAT ISMAIL HASANI SI PENUDUH

Di setiap masanya, Islam selalu digedor oleh musuh-musuhnya. Tidak hanya dari kalangan luar, dari orang-orang yang berwajah atau bernama layaknya nabi pun tidak kalah tangguhnya untuk ikut ramai-ramai menjadi penghancur agama. Minimal punya penyakit bernama kecemasan luar biasa, tidak percaya dan curiga berlebihan yang lazim disebut paranoid.

Tepatnya saat ini sosok paranoid itu ada pada Ismail Hasani, peneliti SETARA Institute, yang menyatakan dalam sebuah diskusi bahwa TKIT (Taman Kanak-kanan Islam Terpadu) dan SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) sebagai sarana pemupuk benih radikalisme Islam. Bahkan dia mengatakan bahwa lagu-lagu jihad Palestina yang biasa dinyanyikan oleh siswa-siswa lembaga pendidikan tersebut mengancam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan bertentangan dengan Pancasila. Diskusi yang mengetengahkan tema tentang deradikalisasi untuk mengatasi kasus-kasus kekerasan atas nama agama itu diselenggarakan di Hotel Atlet, Jakarta (10/1).

Pernyataan Ismail Hasani sebagian memang tepat. Dulu, di zaman pergerakan nasional, sekolah memang menjadi tempat tumbuhnya sosok-sosok nasionalis radikal dan antikolonial. Ini menjadi dilema bagi penjajah Belanda pada saat itu, di lain pihak sekolah adalah tempat terbaik untuk menghasilkan administratur yang handal buat mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa sekolah memang menjadi tempat yang tepat untuk menyuburkan idealisme.

Sayangnya sekarang Ismail Hasani sama seperti orang-orang Belanda puluhan tahun lampau itu. Takut dengan munculnya benih-benih idealisme. Bedanya Ismail Hasani berkulit coklat, mereka berkulit putih. Dulu yang berkulit putih identik sekali dengan penindas.

Dengan pernyataannya, Ismail Hasani terlihat alergi dengan jihad Palestina seberapapun ia menyangkal. Jihad Palestina adalah perjuangan rakyat Palestina untuk memerangi kesewenang-wenangan dan penindasan yang dilakukan oleh para imperialis dan zionis Israel itu. Dan setiap gerakan perlawanan terhadap kesewenangan-wenangan imperialisme, dalam sejarah, disebut juga sebagai gerakan nasionalisme. Lalu apa yang salah dengan pengumandangan lagu-lagu jihad Palestina tersebut?

Atau semuanya bertitik tolak terhadap definisi nasionalisme yang dipakai oleh Ismail Hasani yang terlihat sempit ala Nicolas Chauvin. Semua orang yang ada di luar batas tanah air mereka tidak dipedulikan dan hanya mengurus semua yang berkaitan langsung dengan apa yang ada di dalam batas wilayahnya.

Islam mengajarkan nasionalisme yang lebih luas dari sekadar itu. Berbuhul pada ikatan akidah esensinya. Jika nasionalisme itu adalah cinta, keberpihakan, rindu, berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman ketidakadilan, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putera-puteri bangsa, memperkuat ikatan kekeluargaan antar anggota masyarakat, menyatukan diri dalam sebuah keluarga besar yang bernama NKRI dengan tetap turut merasakan apa yang saudara-saudara muslim rasakan di belahan manapun, maka Islam mengakuinya. Dan itulah nasionalisme dengan segala kebaikan yang ada untuk tanah air ini.

Yang tidak dibaca oleh Ismail Hasani juga adalah peran serta, opini serta dukungan dari rakyat Palestina terhadap proklamasi kemerdekaan republik Indonesia yang pada saat itu hanya secara de facto. Butuh pengakuan dari bangsa-bangsa lain untuk dianggap berdaulat dan sejajar dengan bangsa merdeka lainnya.

Terkecuali memang Ismail Hasani sudah memakan mentah-mentah tanpa dikunyah tuduhan Israel dan Ameriksa Serikat terhadap gerakan perlawanan Palestina sebagai gerakan terorisme. Maka wajar ia menyamakan lagu-lagu jihad Palestina itu sebagai lagu perusak NKRI. Dan ia membalas dengan tuba partisipasi rakyat Palestina itu untuk kemerdekaan negeri ini.

Ismail Hasani juga lupa dengan sejarah atau memang pemikirannya yang sudah kena virus deislamisasi penulisan sejarah kalau kemerdekaan republik ini diperoleh dengan keringat dan darah yang dikorbankan para ulama dan santri yang mengobarkan semangat jihad untuk melawan penjajah Belanda. Atau aksi jihad yang dilancarkan seorang panglima besar Soedirman yang merupakan mantan seorang guru Moehammadijah.

Bung Tomo sudah kadung terkenal dengan teriakan takbir dan seruan jihadnya pada 10 November 1945. Tak terlepas 18 hari sebelumnya, kakek Gus Dur—salah seorang badan pendiri SETARA Institute—yang bernama Kiai Haji Hasyim Asy’ari mendeklarasikan resolusi jihad: perang suci melawan Belanda yang ingin kembali menjajah.

Ada sebuah tuntutan terhadap Ismail Hasani sebagai penuduh untuk membuktikan bahwa menyanyikan lagu-lagu jihad Palestina itu bertentangan dengan Pancasila. Sila yang keberapa? Sila pertamakah? Kedua? Atau sila yang mana? Bukanlah pula nasyid-nasyid jihad Palestina adalah juga lagu-lagu perjuangan. Lalu apakah ada jaminan bila lagu-lagu perjuangan selain nasyid yang jika dikumandangkan akan menghasilkan manusia yang pancasilais?

Amir Sjarifoeddin Harahap, mantan perdana menteri RI yang menandatangani perjanjian Renville, sebelum ditembak mati menyanyikan lagu L’Internationale—lagu kebangsaan kelompok Bolsyevik Uni Soviet—dan Indonesia Raya, padahal ia adalah seorang komunis. Lagu-lagu perjuangan diperdengarkan setiap tahun namun Indonesia masih jago dalam hal korupsi. Jadi akan terlalu sempit bila sebatas lagu menjadi ukuran sosok berkarakter kuat pancasilais.

Dan saya meyakini betul, kalau di TKIT dan SDIT itu diajarkan pula tentang lagu-lagu perjuangan, tidak hanya nasyid jihad Palestina yang menjadi pelengkap acara hiburan pada saat pelepasan murid-muridnya.

Pada akhirnya saya hanya khawatir, bahwa Ismail Hasani cuma menjadi kepanjangan suara dari negara-negara barat yang gemar menuduh serampangan kepada mereka yang berseberangan dengan kepentingan besar negara-negara tersebut. Setelah dulu madrasah dan pesantren dituduh sebagai tempat perkecambahan radikalisme. Sekarang TKIT dan SDIT. Lalu besok apalagi?

Si penuduh wajib memberi bukti dan si tertuduh wajib memberikan sumpah. Kaidah elok untuk Ismail Hasani.

Wallohua’lam bishshowab.

***

 

Riza Almanfaluthi

Penulis dan Blogger

dedaunan di ranting cemara

01.30 Citayam 14 Januari 2011

 

Tags: ismail hasani, setara institute, gus dur, hasyim asy’ari, amir syarifuddin harahap, komunis, palestina, nasyid, amir sjarifoeddin harahap, bolsyevik uni soviet, nasionalisme, imperialisme, israel, zionisme, nicolas chauvin, jihad, radikalisme, terorisme, l’internationale

[CATATAN SENIN KAMIS]: BORJUIS MINANGKABAU


[CATATAN SENIN KAMIS]: MERDEKA…!!!

 

    Pada zaman kemerdekaan dulu uluk salam dengan meneriakan kata merdeka dan mengepalkan tangan adalah sebuah kebanggaan. Ada sebuah rasa nasionalisme yang membuncah di dalam dada. Begitupula dengan memakai kopiah atau peci hitam sebagai simbol dari kaum intelektual dan kaum pergerakan nasional. Bahkan seorang komunis pun tanpa rasa segan untuk memakainya.

    Sekarang? “Tak laku…!” teriak bapak saya yang hidup di empat zaman ini: Jepang, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Kopiah pun hanya dipakai untuk seremonial belaka. Jika kopiah itu tampak bagus, yang memakainya adalah para pejabat yang baru dilantik atau para lelaki yang habis ijab kabul, entah yang pertama kali atau yang keberapa kalinya. Jika rada-rada kumal, yang pinggirannya terlihat kusam, ini berarti yang memakainya adalah orang yang suka ke masjid.

    Tapi teriakan bapak saya itu tak dapat mengusir pengakuannya bahwa kemerdekaan yang diraih dengan susah payah oleh para pendahulu telah bisa dinikmati oleh banyak kaum di negeri ini. Termasuk dirinya.

Tanpa memungkiri ketidakmerataan pembangunan di sebagian wilayah republik ini, hasil pembangunan benar-benar dirasakan oleh bapak saya dan para pelancong lainnya yang ingin mengisi liburan tahun baruan di tempat-tempat wisata Jawa Barat. Jalanan mulus dan pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan pengunjung.

    Terpikir betapa kenikmatan yang dirasakan saat ini bermula dari perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang dan pendiri negara ini. Dan kebanyakan dari mereka yang berjuang itu tak merasakan hasil-hasil pembangunan. Entah karena dimakan usia atau karena nasib yang tak berpihak kepada mereka.

    Sekarang teriakan itu tak akan menggema lagi terkecuali di film perjuangan atau sinetron situasi komedi. Atau sekadar cerita yang didongengkan setiap malam sebagai pengantar tidur. Bahkan keluar dari mulut bau dan badan yang tak pernah mandi selama beberapa tahun di pinggir jalan karena orang menganggapnya “enggak genap”.

Seperti Mao Tse Tung, yang selama 27 tahun tidak pernah mandi dan sikat gigi hingga giginya menghitam. Bedanya adalah setiap hari ia meminta kepada para pelayannya untuk menggosok seluruh badannya dengan air hangat. Mao Tse Tung pun tidak gila. Cuma seorang megalomania tulen yang sanggup mengorbankan puluhan juta rakyatnya untuk memenuhi ambisinya. Teriakannya pun berbeda, yang ada adalah: ” bunuh! bunuh! bunuh!” kepada rakyat ataupun lawan-lawan politik yang mengkritik, melawan, dan membangkangnya.

Semangat yang bersenyawa dalam jiwa Aidit sebagai salah satu murid ideologi Mao. Padahal Aidit adalah pemuda yang disukai Hatta sebelum dirinya mulai beraliran kiri. Dan waktu membalikkan Aidit untuk menghujat Hatta sebagai Borjuis Minangkabau pada pidatonya di dalam sidang DPR, 11 Februari 1957.

Padahal pula ia adalah salah satu yang menculik Dwi Tunggal ke Rengasdengklok. Dan sempat membuat Soekarno marah pada dua hari sebelumnya. Soekarno berkata, “ini batang leherku”, kepada para pemuda yang mengutarakan keinginan dan mendesak agar dirinya segera mengumumkan proklamasi.

Lalu Soekarno, bertahun-tahun kemudian, tak mampu melepaskan ideologi revolusinya dengan tidak mengikutkan PKI sebagai pilarnya. Maka yang terjadi adalah hilangnya kemerdekaan untuk berbicara, berpendapat, dan berkeadilan. Masyumi dan PSI—dua partai anti-PKI—dibubarkan. Pada saat itu, tak cuma teriakan, “Merdeka…!!!”, tetapi juga dengan teriakan lanjutannya: “Hidup Bung Karno…!!!, Hidup Nasakom…!!!, Ganyang Masyumi…!!!”.

Teriakan merdeka sudah teredusir menjadi jargon untuk membasmi saudara sebangsa dan setanah airnya. Bukan lagi untuk penyemangat melawan Jepang ataupun Belanda.

Dan kini, untuk meneriakkannya pun tak lagi sebagai sebuah kebutuhan untuk melepaskan diri dari belenggu perasaan inferior sebagai bekas bangsa terjajah. Tetapi karena teriakan itu: “tak laku…!” kata bapak saya dengan keras. Meski untuk ditukar dengan sepersepuluh liter beras pun. Bahkan mereka yang sering menengadahkan kopiah buluk di jembatan penyeberangan atau lampu-lampu merah, memasang muka memelas sambil berkata: “Pak tolong pak saya belum makan…” adalah lebih mampu untuk mendapatkan berkilo-kilo beras pulen.

Harga diri dijungkirbalikkan oleh waktu tanpa mampu lagi berteriak: “Merdeka…!!!”

 

***

Salam buat kalian berdua: Hadi Nur dan Masyita Nur Palupi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:47 03 Januari 2010

 

    
 

    Tags: masyumi, Mohammad hatta, soekarno, jepang, belanda, orde lama, orde baru, orde reformasi, aidit, mao tse tung, mao ze dong, psi, pki, dwi tunggal, rengasdengklok.

 

            


 

CATATAN AWAL TAHUN: IZRAILISME


CATATAN AWAL TAHUN:

IZRAILISME

 

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

***

01 Januari 2011

    Tadi malam saya bersyukur sekali bisa tidur nyenyak. Tanpa terganggu sedikit pun suara berisik nyanyian kodok dari orang-orang yang membuang-buang duitnya untuk terompet, petasan, dan kembang api.

    Shubuh berjama’ah di masjid hanya dihadiri oleh 5 orang ditambah Ayyasy yang dari jam tiga pagi tidak bisa tidur. Kebanyakan yang bermalamtahunbaruan tidak shalat shubuh di masjid. Kalaupun tidak tahun baruan juga masjid tetap sama kosongnya.

    Pagi ini, ingin sekali saya berangkat ke Salawu, Tasikmalaya. Berkumpul dengan keluarga besar di sana yang lagi hajatan kawinan. Tapi sayangnya kondisi Bapak lagi tidak fit—pagi ini saat saya tengok di kamarnya, asam uratnya kambuh lagi, kakinya bengkak.

Kinan tadi malam panas banget. Setelah dikasih obat penurun panas dan dipeluk dalam ketelanjangan dada Alhamdulillah sebelum adzan shubuh berkumandang, suhu badannya sudah mulai turun. Tapi kembali ini menyurutkan tekad untuk bisa berbondong-bondong pergi ke Salawu dengan semangat 45.

Saya berharap, keluarga di sana bisa memaklumi atas ketidakdatangan saya. Karena saya pun sebenarnya amat rindu dengan Salawu dan kebersamaannya.

Kemarin saya ditanya oleh teman tentang revolusi resolusi diri. Saya diam saja. Tak tahu akan menjawab apa. Tetapi pagi ini saya jadi tertarik untuk mengungkapkan ini. Yang pasti saya berharap dengan harapan yang sama dengan orang-orang lain: tahun depan adalah lebih baik daripada tahun kemarin.

Lebih khusus lagi saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain dengan lebih baik. Bisa tetap semangat menulis. Setiap hari. Menjadi petugas banding yang profesional dan punya integritas. Dari semuanya: keluarga adalah tetap nomor satu. Lebih cinta lagi pada Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, dan Kinan. Terbukti saya tidak bisa berpisah dengan mereka sehari pun dengan riang gembira.

Masih banyak lagi yang lain untuk diungkapkan. Tetapi biarlah itu menjadi sesuatu yang privat buat saya. Orang lain biarlah dengan urusannya masing-masing.

Tentang Indonesia? Berharap negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang hanya takut kepada Allah. Bukan yang takut kepada Amerika, Rusia, China, Eropa, Australia, Israel, beserta antek-anteknya. Dengan segala isme-isme yang menjadi jargon dan sesembahannya seperti imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, dan ….…… (titik-titik ini buat isme-isme yang berperikebinatangan lain yang tak sempat terpikirkan di pagi ini).

Kalau pemimpin hanya takut pada Yang Diatas, ia tak peduli dengan pencitraan, ia tak peduli dengan topeng, ia tak peduli dengan kroni-kroninya, ia tak peduli mau dipilih lagi atau tidak. Yang dipedulikannya adalah bagaimana negeri ini bisa jadi negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghoffur. Rakyatnya bisa makan semua. Bisa sehat semua. Bisa sekolah semua. Taqwa semua.

Tentang Indonesia lagi? ya, korupsi enggak ada lagi di muka buminya. Sayangnya para pembenci korupsi selalu berteriak-teriak kepada aparat pemerintah untuk tidak korupsi sedangkan nilai-nilai kejujuran sendiri tidak menjadi sesuatu yang inheren pada diri mereka. Ini sama saja seperti menggarami air lautan. Benahi diri dulu. Introspeksi diri dulu. Sudah jujurkah saya? Kalau sudah dan berkomitmen untuk selalu jujur, bolehlah berteriak. Hancurkan korupsi! Ganyang koruptor!

Pula bagi pengelola negeri ini—pemimpin dan aparaturnya, seberapa keras teriakan para mahasiswa dan rakyat untuk mengingatkan jangan korupsi, ya mbok didengar. Pasang telinga baik-baik. Kalau perlu cek ke dokter THT, untuk memastikan gendang telinganya masih utuh atau sudah bolong. Karena keutuhan gendang telinga menjadi ukuran budek atau tidaknya. Kalau sudah budek, memang dimaklumi untuk tidak mendengar suara-suara itu. Tapi memang enak jadi budek? Apa?! Apa?!

Yang lebih parah lagi adalah kalau nuraninya sudah budek walaupun telinganya tidak budek. Kalau bahasa langitnya adalah buta, tuli, dan bisu. Seberapapun kerasnya peringatan dan teguran untuk tidak korupsi, tetap saja dijabanin untuk hanya dapat memuaskan hawa nafsunya.

Kalau sudah demikian yang hanya dapat mengingatkan adalah malaikat izrail yang sudah mulai cawe-cawe (menyapa): “Halo Bang? Sudah siap?… pelan-pelan atau kasar nih? Bisa dipilih sih, tapi pilihannya bukan sekarang, tapi waktu masih dikasih kesempatan hidup.”

Itu saja. Tak lebih dan tak kurang. Hanya sedikit harapan, yang kata orang sih resolusi diri. Yang pasti saya berkeinginan kepada Allah agar Izrailisme tak menyapa saya pada hari ini.

Semoga terkabul. Amin.

***

 

Riza Almanfaluthi

abdi negara yang lagi belajar jujur

dedaunan di ranting cemara

06.43 01 Januari 2011

 

 

TAGS: imperialisme, kapitalisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, zionisme, stalinisme, leninisme, maoisme, aiditisme, munafikisme, skeptisme, izrailisme, Ummu Haqi, Haqi, Ayyasy, Kinan, salawu, tasikmalaya.

http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/01/catatan-awal-tahun-izrailisme/

 

FILANTROPI SANG MUKA MONYET


[CATATAN SENIN KAMIS]:  FILANTROPI

Toyotomi Hideyoshi—yang berwajah seperti monyet – adalah tokoh besar Jepang abad XVI yang mampu menyatukan negeri yang tercabik-cabik dalam perang antarklan selama lebih dari 100 tahun, dan mempunyai konsep diri seperti ini: fokus pada memberi.

…hanya sedikit orang yang menangkap kebenaran ini. Kebanyakan lebih memilih untuk menyimpan sebanyak mungkin untuk diri mereka sendiri dan memberi sedikit mungkin. Itulah sebabnya dompet mereka tidak pernah bertambah tebal.

Maka dalam sebuah kesempatan, ia duduk di tumpukan kepingan emas yang hendak dibagikan senilai 1,17 trilyun rupiah—nilai saat ini, di tengah lapang, di luar gerbang selatan Istana Jurakutei, Kyoto. Orang-orang memalingkan muka saat timbunan itu memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Ia royal kepada pengikutnya.

**

Semakin banyak membaca tidak menjamin seseorang menjadi tahu segalanya. Semakin menulis pun demikian. Kita kembali menjadi bodoh dan bodoh. Betapa banyak ketidaktahuan yang dimiliki yang pada akhirnya memacu kita untuk merenangi samudra ilmu untuk mengikis daki-daki kejahilan.

Begitu pula dengan kata filantropi yang menjadi sesuatu yang baru buat saya beberapa hari belakangan ini. Diawali dengan notes dalam facebook seorang kawan. Pernah mendengar tetapi tak tahu makna dibaliknya. Aih, ternyata filantropi itu adalah sebuah kedermawanan atau cinta kasih kepada sesama.

Kalau demikian, saya bertambah yakin di balik makna kata itu ada sesuatu yang lebih besar lagi bagi para pelakunya. Bukankah ini adalah keadaan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah? Masalahnya sebegitu banyak balasan yang dijanjikan—700 kali lipat ganjaran—tidak menggerakkan hati untuk melakukannya. Mengapa?

Jawabannya adalah karena manusia senantiasa terbelit dengan sikap tamaknya hingga bergunung-gunung emas yang ia dapatkan namun kembali ingin merengkuh gunungan emas yang ada nun jauh di sana. Satu lagi karena ini adalah masalah iman. Dan filantropi adalah pembuktian adanya iman di dalam dada.

Maka berbicara tentang keimanan—karena ia adalah sesuatu yang abstrak, tak kasat mata—ia meyakini bahwa filantropi takkan membuat hartanya berkurang sedikitpun. Bahkan ia menetakkan filantropi adalah solusi atas setiap permasalahannya. Membuat hartanya kian banyak dari hari ke hari.

Ada kisah pembuktian sebuah filantropi seorang kawan. Ia mempunyai anak yang sedang mondok di pesantren. Jauh dari rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar anaknya sakit tipus dan harus dirawat di rumah sakit.

Pada saat yang hampir bersamaan, motornya yang diparkir oleh istrinya di depan rumah untuk ditinggal sebentar sholat Maghrib, hilang. Lenyap dicuri. Dan ia mendengar dari pegawainya kalau STNK (surat tanda nomor kendaraan) mobil yang biasa disewakannya hilang. Sudah jatuh tertimpa tangga tertusuk duri. Tiga cobaan menghentakkannya.

Segeralah ia pergi ke pesantren menjemput anaknya untuk dirawat. Kebetulan uang yang dibawa tidaklah banyak. Sebelumnya ia bertekad untuk menyisihkan sebagian uang yang ada untuk diberikan kepada yang membutuhkannya. Ekspresi kefilantropisannya. Walau dera tak kunjung reda.

Dengan nalar kemanusiawiaannya, sudah barang tentu adalah sesuatu yang wajar jika ekspresi itu ditinggalkan sejenak. Pun ia dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk berbagi. Tapi ia tidak. Bahkan saat yang sempit adalah sebuah bukti keimanan untuk ditunjukkan. Bukan disembunyikan di balik iba. Saat lapang dan mampu adalah saat yang biasa, wajar, dan tak aneh.

Apa yang terjadi setelahnya?

Sepulangnya dari perjalanan yang jauh hingga memakan waktu kerjanya itu, ia mendengar kabar kalau anaknya sudah mulai membaik. Lalu motornya yang hilang akan diganti dengan yang baru oleh dealer, segera. STNK-nya yang lenyap telah ditemukan oleh seseorang. Itu diketahui dari temannya yang kebetulan mendengarkan pengumuman di sebuah radio.

Sebuah kedermawanan menyelesaikan tiga masalahnya sekaligus, tidak pakai lama-lama. Banyak kisah yang mirip seperti ini. Tak bisa dihitung dengan jari. Masih meragukannya?

Hideyoshi tak sereligius Anda, ia tak meragukannya.

 

***

Bahan Bacaan:

The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad VXI, Kitamo Masao, Edited by: Tim Clark

 

Salam filantropi untuk rekan-rekan penulis buku Berkah DJP: Rosafiati Unik Wahyuni,  Kholid, Tang Dewi Sumawati,  Tommy, Marihot Pahala Siahaan, Irwan Aribowo , Dadi Gunadi, Eko Yudha Sulistijono, Tjandra Prihandono, Rini Raudhah Mastika Sari , Agus Suharsono,  Andy Prijanto, Ani Murtini, Raden Huddy Santiadji Musiawan Murharjanto, Rony Hermawan, Martin Purnama Putra , Teguh Budiono, Sri Sulton, Yunita, Windy Ariestanti Hera Supraba,  Yeni Suriany, Ari Saptono, Yusep Rahmat, Joko Susanto, Jeffry Martino, Eli Nafsiah , Desi Sulistiyawati , Atjep Amri Wahyudi , Muhammad Halik Amin, Sandi Syahrul Winata , Afan Nur Denta , Prasetyo Aji , Ari Pardono, Suwandi, Nufransa Wira Sakti, Agus Dwi Putra, Hendro Kusumo , Abdul Hofir, Sarbono, Yacob Yahya, Abdul Gani, Oji Saeroji , Ninoy Estimaria , Tutik Tri Setiyawati, Windhy Puspitadewi , Himawan Sutanto

 

 

Diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/27/filantropi/

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12:39 27 Desember 2010

SETAN JINGKRAKAN SAMBIL NYANYI GENJER-GENJER


SETAN JINGKRAKAN SAMBIL NYANYI GENJER-GENJER

Apa yang paling banyak diklik di blog saya sejak blog itu eksis sampai tulisan ini dibuat? Ini dia statistiknya:

Setengah dari kapasitas full stadion Gelora Bung Karno Senayan pernah mengklik artikel mengenai ambeien ini. Ini kisah yang saya tulis ulang tentang bagaimana cara teman saya mengatasi ambeien parahnya dengan hanya menggunakan obat-obatan tradisional. Untuk mau jelasnya baca yang ini.

Kalau kata ‘”ambeien” diketikkan di Google, artikel itu menduduki peringkat kedua, walaupun sudah ditulis sedari Maret 2008. Diprediksi lebih dari 50.000 orang Indonesia pernah punya gejala sakit ini. Pertanda banyak yang belum mampu untuk mengatur pola makannya yang sehat.

Santai saja Saudara, ambeien ini tidak mematikan, tapi hanya mengurangi kuantitas kualitas hidup saja. Jangan malu, karena Anda tidak sendiri, minimal 50.000 orang adalah teman Anda. Dan jumlah ini akan bertambah seiring dengan waktu selama blog ini masih hidup. Argonya jalan terus. Saya turut senang menyebarkan cara hebat atasi sakit ini. Insya Allah banyak orang yang terbantu dengan metode ini. Minimal sebagai antisipasi kalau-kalau saya juga kena penyakit ini.

Nah, kalau homepage kita abaikan saja yah. Selanjutnya adalah artikel mengenai akikah. Hebat euyyy, minimal lebih dari 33.000 orang mulai melaksanakan sunnah ini. Artinya setidaknya mereka sudah mulai memahami syariat Islam. Artikel ini tentang contoh kata-kata yang biasanya ditulis di kertas lalu ditaruh di besek makanan selamatan/akikahan. Mau baca artikelnya di sini.

Yang menarik lagi adalah ternyata blog saya ini sering jadi referensi untuk mendapatkan ilmu kebal. Padahal yang saya tulis bukan kebal di fisik tapi kebal di ruhaninya. Buktikan saja dengan bertanya sama Kakak Google, gunakan clue: ilmu kebal. Baca artikelnya di mari aja.

Ini sebuah pembuktian kalau di jaman buah-buahan yang serba canggih seperti Blackberry dan Apple ini masih saja orang suka percayaan yang kayak gituan. Ditembak sama peluru pun, batok kepalanya juga akan pecah berantakan. Mati kagak enak, akidah tergadai, setan jingkrakan sambil nyanyi genjer-genjer, punya teman abadi di neraka. Kita semua berlindung kepada Allah dari semua itu.

Itu saja Saudara, statistik di atas sudah menggambarkan semuanya. Tak perlu berpanjang kata.

Wassalam.

***

Salam buat teman-teman yang ada dan pernah di Seksi Pengawasan dan Konsultasi II KPP PMA Empat: bang Torang Sitanggang, mas Herpranoto, mbak Vera Dameria, Ari Purwanti, Ihsan Tukang Parabola, Mbak Yusrinah, Mas Maman, mas Suyanto di Pontianak—semoga cepat kembali, mas Erfan—semoga cepat kembali juga, mas Oktana yang ada di Jepang—semoga cepat lulus, Ayub Laksono di BKF, mas Harsoyo yang ada di Negeri Madura, bang Erwinsyah Marpaung—semoga cepat berkumpul kembali dengan keluarga, Ibu Linda Napitupulu yang ada di Pengadilan Pajak, mbak Nana Ardiana, dan Ibu Mona Junita Nasution.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

06.57 24 Januari 2010

 

Tags: genjer-genjer, akikah, akikoh, aqiqah, aqiqoh, kata ucapan aqiqoh, kata-kata akikah, kata-kata aqiqah, kata-kata untuk kelahiran bayi, kelahiran bayi, selamatan, selamatan kelahiran bayi, ucapan akikah, ucapan akikoh, ucapan aqiqah, ucapan aqiqah anak, ucapan aqiqoh, ucapan dalam berkat, ucapan dalam besek, ucapan syukuran kelahiran bayi, ucapan untuk kelahiran bayi, a hun wasir, ambeien, ambeyen, obat ambeien, obat ambeien tradisional, obat ambeiyen, obat ambeyen, obat ambeyen tradisional, obat herbal, obat herbal ambeien, obat herbal ambeyen, obat manjur, obat manjur ambeien, obat manjur ambeyen, Obat Tradisional, obat tradisional ambeien, obat tradisional ambeyen, obat tradisional wasir, obat wasir, wasir

[CATATAN SENIN KAMIS]: TELEPON UMUM


[CATATAN SENIN KAMIS]: TELEPON UMUM

Rasanya aneh setelah sekian lama tidak menggenggam gagang telepon umum. Lima hingga delapan tahunan lebih sepertinya. Dan gayanya seperti itu-itu saja. Ada kotak besar. Ada celah sempit untuk memasukkan uang logaman 500-an. Ada celah besar untuk koin yang tak terpakai. Kumpulan tombol angka. Layar untuk menampilkan jumlah uang dan nomor telepon yang dituju. Gagang telepon dengan kabel ulir berwarna perak. Warna biru mendominasi kotak, kubah atas, dan tiangnya.

    Dua uang recehan saya masukkan. Terlihat angka 1000 di layar. Saya mencoba untuk menekan tombol nomor handphone (hp) tujuan. Tapi cuma tiga angka yang muncul. Selanjutnya di layar tidak ada gerakan apa-apa. Saya mencoba bertanya kepada dua anak SMU yang sedang berdiri di kotak sebelah.

    “Teh, telepon umum ini tidak bisa ke handphone yah?”

    “Enggak bisa Bang, kalau warnanya biru tidak bisa,” jawab salah satunya.

    “Maksudnya?”

    “Iya, kalau warna kotaknya oranye baru bisa menelepon ke hp, kalau yang biru enggak bisa.”

    Dan saya melihat tidak ada yang berwarna oranye di jejeran telepon umum Stasiun Citayam ini. Saya baru “ngeh” kalau ada perbedaan-perbedaan seperti itu. Perkiraan saya yang semula bahwa telepon umum sekarang sudah canggih sehingga bisa menelepon kemana saja ternyata salah.

    Tapi ya itu tadi. Sudah lama sekali saya tidak menggenggam gagang telepon umum, karena sejak lama telah tergantikan perannya dengan hp. Saya jadi teringat pada waktu era kejayaan telepon umum di tahun 90-an. Orang antri saat menelepon. Panjang berderet-deret. Apalagi kalau malam minggu, tambah panjang lagi antriannya. Sampai-sampai ada tulisan di atas kotak telepon itu,” Bicara Secukupnya.” Yang tak peduli, biasanya akan mendapat deheman sampai gerutuan dari orang yang dibelakangnya.

    Seiring dengan berjalannya waktu, aksi vandalisme pun menghiasi tempat-tempat di mana telepon umum berada. Mulai coretan nomor telepon “panggil aku”, iklan pijat, cacian jorok, perusakan, sampai mancing pulsa dengan uang logam yang diikat benang. Banyak pula telepon umum yang tak berfungsi.

    Bagi yang tidak mau antri dan pembicaraannya didengar orang lain serta bisa berlama-lama menelepon, Warung Telekomunikasi (Wartel) bisa menjadi solusi. Walaupun masih juga terjadi antrian jika wartel di daerah itu terbatas dan ramai banget. Pada saat itu wartel menjadi alternatif berinvestasi bagi pengusaha kecil. Maka wartel pun tumbuh berkembang bak cendawan di musim hujan.

    Antrian di telepon umum, ramainya wartel, dan kebutuhan untuk selalu berkomunikasi pada masa itu menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi di saat Telkom tidak mampu memenuhi permintaan masyarakat untuk memberikan sambungan tetap. Apalagi regulasi pertelekomunikasian masih memperkenankan Telkom buat memonopoli bisnis menggiurkan itu.

    Masih diingat, bagaimana perlu waktu yang lama untuk bisa mendapatkan nomor sambungan tetap. Dan sepertinya masyarakat rela untuk antri berjam-jam demi mendapatkan nomor itu. Nomor telepon rumah sepertinya menjadi sebuah alat untuk eksistensi diri bagi masyarakat pedesaan yang agraris dan perkotaan yang baru tumbuh. Atau hanya untuk mendapatkan fasilitas kredit.

    Yang mau cepat untuk mendapatkan nomor telepon rumah, ada juga masyarakat yang beralih ke penyedia layanan telekomunikasi lainnya—perusahaan ini pun harus menjadi partner bagi Telkom—tapi sayang kualitasnya buruk. Karena sinyal telekomunikasi tidak melalui jaringan kabel melainkan melalui jaringan wireless dengan antena khusus sebagai penerima sinyal radionya.

    Zaman berubah. Regulasi berubah. Monopoli Telkom pun dicabut. Berbondong-bondong perusahaan telekomunikasi tanpa kabel melalui jaringan GSM (Global System for Mobile Communications) dan CDMA (Code Division Multiple Access) datang ke Indonesia. Produsen hp dunia pun menjadikan Indonesia sebagai salah satu pangsa pasar yang menggiurkan.

    Kemunculan pertama kalinya ditandai dengan masih mahalnya hp dan nomornya. Bagaimana SIM Card masih menjadi barang yang tak terjangkau. Di sekitar tahun 2000 nomor biasa saja dijual dengan harga 500-ribuan apalagi dengan nomor cantiknya.

Di tahun-tahun sebelumnya hp hanya menjadi tontonan yang ada di sinetron-sinetron Indonesia atau film-film hongkong. Itupun bentuknya seperti balok kayu seukuran setengah lengan orang dewasa. Cukup untuk menimpuk anjing sampai terkaing-kaing.

Yang masih hanya bisa bermimpi mendapatkan hp, pelipur laranya adalah pager. Semacam alat untuk menerima pesan tertulis (SMS). Untuk mengirim pesan ke nomor pager yang lain perlu menelepon operatornya terlebih dahulu. Tidak praktis. Terbukti kemunculan penyedia jasa layanan ini tidak bertahan lama.

Sekarang hp murahnya minta ampun. Nomornya apalagi. Noceng (Rp2000,00) juga sudah dapat. Gratis malah kalau kita beli sekalian hp-nya. Dan bagaimana dengan telepon umum, wartel, wireless phone, pager? Ada yang masih bertahan dan juga lenyap sama sekali digilas perkembangan teknologi dan ketatnya persaingan dari para operator telekomunikasi.

Pager hilang ditelan bumi. Telepon umum masih di beberapa tempat. Kebanyakan sudah menjadi rongsokan. Wireless phone mati perkembangannya. Wartel rontok satu demi satu terkecuali di pedesaan yang menara BTS (Base Transceiver Station) operator seluler-nya belum berdiri. Telepon rumah? Sudah jadi onggokan yang jarang dipakai di rumah. Telkom sekarang sudah tak acap menawarkan sambungan tetapnya, yang ada hanya tawaran kepada para pelanggan tetap untuk ikut dalam program sambungan internet dan jaringan CDMA-nya.

Memang sesuatu yang stagnan tidak akan abadi. Ia akan kalah. Itu takdirnya. Untuk memenangkannya adalah pada inovasi yang mendarah daging di setiap karya. Telkom masih tetap eksis hingga kini karena inovasi pada produk layanannya. Sahamnya tetap menjadi blue chip. Ratelindo tak mau untuk mengulangi kegagalannya di masa lalu dengan bertiwikrama menjadi Esia.

Inovasi berpijak pada kemauan dan kemampuan untuk berkembang diri. Dengan kerja keras tentunya. Ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang tak bisa ditinggalkan. Inovasi dan ilmu pengetahuan adalah kepingan yang berkelindan. Tak bisa dipisahkan.

Seharusnya demikianlah pula saya, hingga tak ketinggalan zaman untuk mengikuti perkembangan dari tidak berkembangnya telepon umum. Maka tak perlu untuk menanyakan itu kepada dua anak SMU kiranya saya mengetahui.

“Bang…nih koinnya ketinggalan,” tegur anak SMU itu dari kejauhan.

“Ambil saja…!”

***

Thanks banget buat teman-teman Banding dan Gugatan 2, Direktorat Keberatan dan Banding: AA Yoga, Arya, Rifun, Ipung, Indra Gunawan, Mas Dibjo, Unesa-ja, Kang Awe, Nona Avrida Rombe, Leyjun, Mbak Ana, Mas Bayu, Uda Zai, 3S (Mas Suroto, Sapto, Safar), Chris, TP (Teguh Pambudi), Mbak Dian Angraeni, Elvina, Bro Ton, mas Adiprasetyo, Daeng Idham Ismail, Mas Faisal, AA Widi, AA Iman, AA Heru.

 

 

CATATAN SENIN KAMIS untuk Forum Diskusi Portal DJP

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:05 20 Desember 2010

    
 

 

 

 

 

    
 

    

PEMANDI MAYAT


PEMANDI MAYAT

    Yang menulis dan membaca artikel ini adalah calon mayat. Tentunya tak perlu tersinggung untuk dikatakan demikian. Karena sewaktu-waktu kita akan menjadi layon tak berguna. Entah sedetik setelah ini atau 100 tahun yang akan datang.

    Sudah siap? Belum. Saya mau hidup seribu tahun lagi. Itu kata-kata kita di dalam hati. Tapi sayangnya malaikat maut tak mau mendengar kata hati itu. Ia cuma sudah siap bergerak sesuai dengan waktunya. Tak maju dan tak mundur.

    Sayangnya saya sering lupa kalau malaikat maut senantiasa mengincar kehidupan. Yang ada adalah bagaimana mengejar kenikmatan duniawi selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Menggesakan obsesi. Memburu antusiasme. Melelahkan diri bergumul dengan cita dan sejuta keinginan.

    Barulah tersadar kalau ada pengumuman di masjid: “Innalillaahi wainnailaihi rooji’uun 3x. Telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang Bapak Fulan bin Fulan pada pukul 23.00 WIB hari ini di Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Jenazah akan dikuburkan besok hari. Kita doakan semoga segala amalnya diterima Allah swt.”

    Dan setelah itu, pengurus Rukun Tetangga (RT) akan datang ke rumah meminta kepada saya agar tim pengurusan jenazah masjid kami bersiap untuk mengurus semuanya. Memandikan, mengafankan, menyolatkan, serta mengantarkannya ke liang lahat.

    Tubuh yang kaku menyadarkan saya betapa kenikmatan yang diburu setiap saat itu tak berguna lagi. Tak bisa menolongnya. Perlahan setiap usapan berbalur sabun, siraman air ke seluruh tubuh, sekaan handuk kering, gotongan tubuh ke kain putih yang terhampar, peletakan kapas di setiap lubang dan persendian, pembungkusan yang membebatkan, simpulan dengan tujuh ikatan, membuat saya senantiasa ingat betapa saya akan menjadi objek dari semua itu. Suatu saat.

    Dzikrul maut (mengingat kematian) betul momen itu. Malamnya, saya cuma bisa tercenung. Merenung wajah almarhum di pelupuk mata. Merenung seberapa banyak amal yang akan dibawa sebagai bekal.

    Dunia? Cita? Obsesi? Nafsu? Hasrat? Syahwat? Sirna semuanya ke laut. Tidak butuh. Terlupakan. Tergantikan. Seperti dijatuhkan dari pesawat yang sedang terbang di ketinggian 10000 kaki. Untuk tersadar dari mimpi dan angan yang muluk-muluk. Pantas saja disebut dalam agama kalau maut adalah pemutus segala kenikmatan. Buat yang mati dan yang hidup—yang mau memikirkannya tentu.

    Saya bersyukur saya dapat bergabung dalam tim itu. Tim yang walaupun dulu banyak anggotanya, sekarang cuma dua orang saja, saya dan pengurus masjid yang lain. Bersyukur kenapa? Sudah pasti, selalu diingatkan tentang nasehat besar itu.

    Tapi yang namanya dunia dengan segala pesonanya atau lemahnya imun iman saya, terkadang dzikrul maut itu hanya bisa bertahan dua atau tiga hari. Setelahnya sama saja dengan hari-hari biasa. Apa harus memandikan mayat lagi baru ingat mati? Apa harus ada yang meninggal dulu lalu ingat mati kembali. Tanya yang kebanyakan tak berjawab.

    Dzikrul maut itu ibarat vitamin. Terlalu sedikit tak berefek apa-apa. Terlalu banyak malah jadi penyakit. Tidak menjadi peka. Sensitivitasnya berkurang. Bisa diuji pada para penunggu kamar jenazah di rumah-rumah sakit atau para penggali kuburan.

    Maka wajarlah Umar bin Khaththab menjarangkan untuk datang ke Ka’bah di masjidil haram, karena takut ia tidak akan bisa merindu lagi saat jauh darinya. Takut sensitivitasnya hilang.

    Saudaraku, tak perlu menunggu kematian untuk dapat mengingat tentang sebuah ajal dan kemudian kita bisa merenunginya serta mengambil hikmah, karena akhir hayat itu bisa datang kapan saja. Oleh karenanya yang terpenting adalah sudahkah kita packing amal kebajikan ke dalam tas perjalanan abadi kita?

    Belum dan belum banyak? Ayo bareng-bareng dengan saya mempersiapkannya. Tapi patut dicatat, bukan sebagai pemandi mayat peran itu saya lakoni.

***

Artikel ini untuk teman-teman di forum shalahuddin. Semoga bermanfaat.

 

 

 

    Riza Almanfaluthi

    dedaunan di ranting cemara

21.32 16 Desember 2010

 

Tags: dzikrul maut, memandikan jenazah, mengurus jenazah, umar bin khaththab, umar al faruq, antikebal, ilmu kebal, belajar ilmu kebal, cara pengurusan jenazah, fikih janaiz