Anakku Ganteng Seperti Orang Pantai


Bersama Mama Tua dan Agus yang sedang menangis.

 

Setelah bersilaturahmi dengan Kepala Badan Pengeloaan Aset dan Keuangan Daerah (BPKAD) Provinsi Papua Pegunungan, Kepala BPKAD Kabupaten Jayawijaya, dan Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Wamena, saya diajak untuk mengunjungi salah satu honai yang ada di pinggiran Wamena.

Di sana ada mumi yang dipertunjukkan kepada kami dengan salah seorang pemuda berpakaian adat Papua. Tentunya lengkap dengan hiasan taring babi di hidungnya. Mumi berusia ratusan tahun ini merupakan warisan budaya Suku Dani di Lembah Baliem.

Kebetulan saat itu banyak mama-mama yang sedang berkumpul. Mereka baru saja selesai mengadakan bakar batu, tradisi memasak khas masyarakat Papua. Kali ini mereka mengadakan bakar batu seusai panen hasil kebun. Menu yang mereka masak hanya ubi dan ayam. “Tidak ada babi,” kata salah satu mama sambil tersenyum.

Kami menerima ubi untuk kami kudap. Sembari itu kami mengobrol dengan mama-mama di sana. Salah satu mama memiliki anak bernama Yosep. Anaknya dulu pernah kuliah di Semarang dan sekarang bekerja di Kalimantan. “Anak saya ganteng seperti orang pantai,” kata sang mama.

Kakak sang mama atau biasa dipanggil mama tua sedang menggendong cucunya yang menggemaskan. “Namanya Agus,” kata sang mama. Wah, namanya “Njawani” sekali, pikir saya.

“Apa karena lahir di bulan Agustus?” tanya saya. Dan mama membenarkan sembari menyebut tanggalnya pula. Saya mendekati mama tua dan meminta Agus untuk saya gendong. Ternyata Agus menangis ketika saya gendong. Akhirnya saya mengembalikan Agus kepada mama tua.

Di saat itulah, perhatian saya tertuju pada tangan kanan mama tua. Empat jari tangan kanannya telah terpotong hingga setengah. Saya kemudian mengetahui bahwa setiap kali ada anggota keluarga dekat yang meninggal, satu ruas jari dipotong sebagai tanda duka yang begitu mendalam. Bagi mereka, rasa kehilangan tidak hanya disimpan di dalam hati, tetapi juga diwujudkan melalui pengorbanan fisik yang akan dikenang seumur hidup. Tradisi tersebut kini telah dilarang oleh pemerintah karena dinilai membahayakan kesehatan dan keselamatan. Bekas potongan jari di tangan mama tua itu tetap menjadi saksi bisu bahwa cinta kepada keluarga dan rasa kehilangan pernah diekspresikan dengan cara yang sangat berbeda dari yang kita kenal.

Saya mengalihkan pandangan dari tangan mama tua. Memandang ke sekeliling. Jadi di sana ada beberapa honai. Ada honai khusus perempuan, honai khusus laki-laki, honai gudang, dan honai dapur. Honai itu beralaskan ilalang kering. Kalau malam, seringkali mereka merebus air untuk membuat kopi—biasanya kopi saset merek Kapal Api. Bara api berasal dari kayu yang dibakar di dalam honai. Tersedia juga ubi-ubian sebagai teman mengudap. Masing-masing honai hanya diterangi satu lampu dari kabel yang terjulur sampai ke tiang listrik di pinggir Jalan Trans Papua.

Anak-anak bermain di sekitar kami. Salah satunya bertelanjang bulat, perutnya buncit, sementara ingus terus mengalir dari hidungnya. Ia berlari ke sana kemari, keluar masuk honai dapur tanpa lelah. Lincah sekali. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu justru membuat dada saya sesak. Di tengah segala keterbatasan, anak itu tetap bermain dengan riang. Sebagai orang luar yang datang berkunjung, saya tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Saat itulah saya semakin yakin bahwa apa yang kami jalani sebagai pegawai Kementerian Keuangan memiliki makna yang tidak kecil. Tugas kami mungkin hanya memastikan penerimaan negara terkumpul dengan baik. Kami tidak membangun sekolah, tidak membuka puskesmas, dan tidak mengaspal jalan. Namun tanpa penerimaan negara yang cukup, semua itu akan jauh lebih sulit diwujudkan.

Noken Buatan Mama

Perasaan itu bukan muncul hanya karena perjumpaan hari itu. Selama berada di Papua, saya beberapa kali menyaksikan kenyataan serupa. Di Jayapura, saya pernah melihat seorang mama mengais tempat pembuangan sampah. Di kesempatan lain, saya melihat seorang bapak melakukan hal yang sama. Sehari sebelum berangkat ke Wamena, ketika saya berjalan kaki dari Entrop menuju Abepura, langkah saya disusul cepat oleh seorang laki-laki asli Papua.

“Bapak mau kemana?” tanya saya.

“Ke Pasar Youtefa,” jawabnya.

“Bapak kerja apa?” tanya saya lagi.

“Enggak punya pekerjaan.”

“Lalu ke Pasar Youtefa buat apa?”

“Ketemu orang-orang dan jual noken.”

Ia menunjukkan noken hasil karya ibunya. Ada kulit kerang kecil sebagai hiasan. Saya membayangkan, berapa banyak orang yang hari itu akan membeli noken? Berapa lama ia harus menunggu sampai ada pembeli yang tertarik? Dan kalau tidak ada yang membeli, bagaimana ia memenuhi kebutuhan keluarganya hari itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala saya. Saya sadar, kemiskinan tidak bisa diselesaikan hanya dengan rasa iba. Orang-orang seperti mereka tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan, akses pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang layak, infrastruktur yang membuka keterisolasian, serta ekonomi yang memberi ruang untuk hidup lebih sejahtera. Semua itu membutuhkan kehadiran negara.

Perjalanan kali ini terasa berbeda bagi saya. Saya tidak lagi melihat pajak hanya sebagai angka dalam laporan penerimaan atau target yang harus dicapai. Di balik setiap rupiah yang berhasil dikumpulkan, ada harapan agar semakin banyak anak dapat tumbuh sehat, tanpa stunting, semakin banyak orang tua memperoleh layanan kesehatan, semakin banyak kampung terhubung oleh jalan, dan semakin banyak masyarakat yang memiliki kesempatan memperbaiki kehidupannya.

Dalam konteks di Papua ini, saya senang ada kabar yang menggembirakan dari Kepala BPKAD Provinsi Papua Pegunungan, Noak Tabo. Ia mengatakan, kalau Jalan Trans Papua yang menghubungkan antara Jayapura dan Wamena sejauh 585 km telah tersambung sepenuhnya, dampaknya akan sangat besar bagi kehidupan masyarakat. Distribusi barang akan menjadi lebih cepat dan efisien. Bahan bakar minyak tidak lagi harus diangkut melalui jalur udara yang biayanya sangat mahal. Kawasan-kawasan ekonomi baru diperkirakan akan tumbuh di sepanjang jalur tersebut, membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Semua itu tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan di situlah saya kembali teringat pada peran yang dijalankan oleh seluruh penggawa Direktorat Jenderal Pajak di Tanah Papua. Peran yang tidak main-main. Kerja yang membawa harapan adanya kesejahteraan yang merata buat masyarakat Papua.

Belum Fasih

Ketika kami berpamitan, saya berinisiatif menyalami satu per satu bapak-bapak dan mama-mama yang sejak tadi menemani kami. Sambil menjabat tangan mereka, saya mengucapkan, “Wa! Wa! Wa!” Sebuah ungkapan terima kasih dalam bahasa setempat yang saya pelajari hari itu. Mereka pun serempak membalas dengan ucapan yang sama.

Di tengah udara pegunungan yang sejuk, sapaan sederhana itu terasa begitu hangat. Rasanya seperti membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar dokumentasi perjalanan: sebuah pengingat bahwa di balik setiap tugas negara, selalu ada manusia yang menjadi tujuan akhirnya.

“Wa-nya ada huruf h di belakangnya, Pak. Tipis saja. A-nya juga panjang,” kata Mas Gianto. “Waaah! Waaaah! Waaaah!”

Saya mengulang kembali seruan itu seperti ujarannya. Sampai di Kota Wamena pun saya masih belum dianggap fasih melafalkannya oleh Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan Wamena itu.

Petang turun dengan cepat. Embusan angin dari Gunung Trikora membalut Baliem membuat gigil. Sebentar lagi kota ini akan sepi sekali. Padahal jam baru menunjukkan pukul 19.15.

Bandara Wamena di pagi hari, 6 Juli 2026.
Bersama Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan Wamena Mas Gianto.
Gunung Trikora dari kejauhan.
Umbi yang dimasak melalui bakar batu. Manis rasanya.
Bersama Milli di honai Pasir Putih.
Bersama pace-pace usai bakar batu.
Coba lihat sekali lagi. Berapa jumlah jari mama tua yang dipotong?

***
Riza Almanfaluthi
7 Juli 2026

Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/

Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.