11 Tahun The End of The Rainbow



Peraih Pulitzer tiga kali dan penulis kolom di The New York Times bernama Thomas L Friedman pernah menulis artikel yang menarik dan dipublikasikan di harian yang sama pada 29 Juni 2005.

Friedman menulis tentang Irlandia, yang menjadi negara terkaya kedua di Uni Eropa, setelah Luksemburg hanya dalam waktu satu generasi saja. Irlandia memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita lebih tinggi dari Jerman, Perancis, dan Inggris.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”


Beredar Foto Pria Bertopeng Membakar Bendera Bertuliskan “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”
Sumber: Islamedia.co
Islamedia.co – Hari ini Senin(26/5), sebuah akun Facebook Jiwa Singa mengunggah sebuah foto yang menampilkan sosok bertopeng yang membakar kain putih bertuliskan kalimat Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah dalam huruf Arab. Bendera ini dalam literatur Islam dikenal sebagai bendera Rasulullah saat berperang dengan kafir musyrikin Mekkah. 
 
Dalam akunnya saat mengunggah foto tersebut Jiwa Singa menulis, “FYI : Teman saya yang mengirim foto ini tidak anti Islam. Tapi ketika agama atau apapun itu Ideologi, mulai memusuhi dan memaksa, dan bahkan membunuh yang lainnya yang tidak seiman, maka perlawanan tentang hal itu adalah suatu yang memang sudah seharusnya. Termasuk membakar bendera mereka.” 
Atas foto aksi pembakaran yang merupakan kontribusi foto untuk Cronos Zine edisi dua ini menimbulkan pro dan kontra. Salah seorang Facebooker Noor H Dee menyatakan pendapatnya, “Wah wah wah, kenapa begini bro? Itu bendera Islam? Bendera yang dibawa rasul. Ngajakin perang ini namanya.” 
Akun Jiwa Singa menyatakan bahwa aksi ini harus dipahami secara kontekstual bukan secara tekstual. Membaca aksi teman dan pendapat akun Jiwa Singa ini mengingatkan publik pada aksi seorang dosen yang menginjak-injak lafaz Allah. 
Menurut  Abu Faguza Abdullah, selaku pegiat dakwah: “Aksi-aksi demikian seperti unjuk keberanian di Negara yang mayoritas muslim, Pelaku pembakaran dan penyebaran foto ini bisa kena pasal UU ITE.
Link Facebook Penyebar Foto Pembakaran “Bendera Laa Ilaaha Ilallah Muhammadarrasulullah”:
 
[im/mh]
***
Kontribusi Berita untuk Islamedia.

 

ILUSI KATA


ILUSI KATA

 

Ada dalam sejarah seorang perempuan yang jika ia berbicara tak pernah untuk tidak menggunakan bahasa Alqur’an. Misalnya jika dia ditanya apa yang sedang dia kerjakan dan kebetulan sedang membaca maka perempuan itu akan menjawabnya dengan mengutip surat Al-alaq ayat 1 dan seterusnya: Iqra’ bismirabbikal ladziikholaq. Semata-mata agar tidak ada yang keluar dari mulutnya itu sebuah kesia-siaan.

Kalau itu yang terjadi pada kita, luar biasa bukan? Memang butuh modal yang luar biasa juga. Hafal Alqur’an, dekat dengan Al-qur’an, selaras perkataan dan perbuatan dengan Alqur’an. Wadaw, kalau saya? Tepok jidat beneran. Malu saya.

Kalau di tanya, “Za, apa yang sedang kau lakukan sekarang?” Saya tentu tak akan menjawabnya dengan mengutip Yaasiin ayat 72 pada saat saya sedang makan, “Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.”

Pertama karena saya tak hafal ayat-ayat Alqur’an mana yang berbicara tentang makanan. Tahunya sapi betina doang (Al Baqarah) atau hidangan (al Maa’idah maksudnya). Kedua, otak kanan saya—untuk saat ini—hanya bisa menstimulasi bahasa Indonesia. Maafkan saya ya Rabb atas kelemahan ini.

Dengan kaitan itu, suatu saat saya menemukan banyak sekali status di facebook yang dibuat oleh teman-teman ABG saya yang sedang pada jatuh cinta. Biasanya kalau malam minggu dinding home facebook saya diramaikan oleh celotehan mereka. Sampai dini hari juga mereka always
stay tune.

Status mereka itu contohya seperti di bawah ini, dan biasanya ada teman—atau teman—mereka yang menanggapinya. Kalau saya yang ditanya itu maka saya akan menulis atau berkomentar atau menjawab dengan rasa bahasa yang lain.

A = Anak Baru Gede (ABG), B = Temannya ABG, Saya = Saya sendiri

Cinta

A     : Apakah kau mencintaiku?

B    : ya,aku mencintaimu

Saya    : Diam adalah cintaku yang tak terkatakan buatmu

Cemburu

A    : Cemburu ya…?

B    : ya,jelas    

Saya     : Kau tahu musim salju? Turunnya antara akhir November hingga akhir Februari. Setelahnya adalah musim semi. Dan aku adalah musim semi yang marah karena salju turun hingga Maret akan berakhir.

Rindu

A    : Merindukanku?

B    : Betul sekali

Saya    : Aku adalah tanah kerontang di penghujung musim kemarau.

 

Butuh

A    : I need you

B    : Sekali……….

Saya    : Aku adalah pelangi yang adanya ada jika hujan tiba sebelumnya. Hujan itu adalah kau.

 

Bahagia

A    : Hari ini aku bahagia sekali…

B    : Sama.

Saya    : kau bahagia? aku tujuh huruf itu untukmu.

 

Kantuk

A    : Nguantuuuuuk…

B    : Boboooooooo…

Saya    : Biarkan malam beristirahat sejenak dari celotehanmu. Masih ada hari esok.

 

Bunga

A    : Ada yang bisa berikan aku setangkai bunga?

B    : Nih, segepok.*(*%$(&(

Saya    : Mengapa kau meminta bunga? Bukankah kau adalah bunga itu sendiri?

 

Sakit

A    : Atit kepala… L

B    : Cepat sembuh yah…

Saya    : Jadikan aku paracetamolmu.

 

Dipuji

A    : Makasih ya, emang engkau yang terbaik?

B    : Iya dong.

Saya    : Aku mi’raj ke langit ketujuh.

 

Lapar

A    : Malam-malam lapar.

B    : Ayuk sini makan berdua.

Saya    : Aku potong bulan separuh, kutaruh di atas piring. Nih…

 

Lupa

A    : Forget me…

B:    : Tak bisa

Saya    : Aku tak bisa meminta matahari untuk terlambat terbit satu detikpun besok

 

Berbunga-bunga

A    : Kau membuatku berbunga-bunga

B    : J

Saya    : Tak hanya senyum, masih akan banyak bunga lagi

Dan sebagainya.

Dedy Corbuzier dan David Copperfield boleh dibilang ahli dalam ilusi optik. Saya bisanya cuma memulung, mengumpulkan, dan memilah kata-kata untuk dapat diilusikan. Hanya yang memfungsikan otak kanannya yang bisa menikmatinya. Dan hanya AlQur’an sebaik-baik perkataan. Penyair di zamannya pertama kali muncul sampai sekarang tak mampu untuk menandinginya. Di dalamnya tak ada ilusi. Yang ada hanya kebenaran sejati. Hanya satu itu.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20.58 26 Mei 2011

SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU


SAYA KORBAN PENIPUAN VIA FACEBOOK ITU

Jum’at sore, forum facebook (fb) kami dikejutkan dengan perubahan profil anggota forum yang fotonya berpose tak senonoh. Saat didalami, betul, gambar-gambar dan link-link yang tak karuan sudah ada di dalamnya. Akun fb teman telah di hack. Kayaknya cracking akun fb  sudah mewabah. Teman dan saudara dekat banyak yang telah menjadi korban.

Segera saya ubah passwod fb, mengombinasikannya dengan huruf, angka, dan karakter lain, dan tidak menyamakannya dengan password email. Ini langkah-langkah yang seringkali diremehkan oleh pengguna internet, termasuk saya.

Penghuni rumah juga sudah saya ingatkan untuk segera mengubah passwordnya agar terhindar dari perbuatan yang tidak bertanggung jawab ini. Ini untuk kesekian kalinya fb tidak bisa melindungi penggunanya. Fb menjadi sesuatu yang rentan untuk disusupi oleh virus ataupun cracking.

Ahad sore, selagi saya chat fb dengan saudara saya di Tasikmalaya, tiba-tiba masuk sapaan dari teman satu kantor, satu ruangan, satu tim dengan saya. Terjadilah dialog seperti ini:

***

Teman: sore

17:13

Riza:

sore mbak

assalaamu’alaikum

17:13

Teman:

walAikumsaLaM

lagi dmaNa?

17:14

Riza

dirumah mbak. online always. hehehehhe

17:14

Teman: ohh

17:14

Riza:

lagi jjs mbak?

17:17

Teman:

oh

mbak mau cari pulsa

17:18

Riza:

i see… i see…

17:19

Teman:

hehehe

ada gAk

17:19

Riza:

ada2

di tetangga sebelah.

nomornya berapa mbak?

saya pesenin dan kirim segera.

dan yang berapa?

17:20

Teman:

085276897993

yg 100rbu

sekarang ya

ntr uaNg nya dikirim

17:20

Riza:

oke ditunggu mbak….

gampang

17:21

Teman:

ok

17:25

Riza:

mbak pakai internet bankking saya saja yah

17:25

Teman:

udAh isi pulsa nya

17:25

Riza:

belumm…

lagi masuk. tetangga gak ada yang cepean

ke internet banking mandiri saya

tunggu bentar

17:26

Teman:

iya

17:28

Riza:

sudah saya kirim…

17:28

Teman:

udah isi yA

17:28

Riza: iya

udh masuk?

17:29

Teman:

biasa klw bisa isi berApA sihh

?

dari internet bAking

17:29

Riza: 25 ada

gocap ada

cepe ada

ini pas lagi ada duit di rekening mandiri saya mbak

sekarang di kapus kan pake bri

jadi susah

17:30

Teman: bisa isi berapa lagi

17:30

Riza: bri gak secanih mandiri ib-nya

17:30

Teman:

biasA mbaK isi bANyak lo

berapa aja

17:31

Riza:

cuma seitu doan mbak

Jenis Transaksi : Pembelian Voucher Isi Ulang
No. Referensi : 085276897993
No. Voucher : 0011000033699392
Jumlah : Rp. 100.000,00
Tanggal – Jam : 16 01 2011 – 05:26 PM WIB
No. Transaksi : 1101160059374
Status : Berhasil

17:32

Teman:

ohhhhhh

Riza: 17:33

udah masuk?

****

Setelah itu lenyap.

Saya baru “ngeh” ada yang tidak beres dengan ini. Sebenarnya sedari awal sih. Tetapi saya abaikan karena kepolosan husnudzan (berbaik sangka) saya. Keanehan itu adalah pertama teman Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu tidak mengucapkan “assalaamu’alaikum” terlebih dahulu. Bagi saya itu aneh.

Kedua, Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu memosisikan kata ganti orang pertama dengan menyebut dirinya “mbak” setelah saya menyapanya dengan sapaan itu. Selama ini Beliau yang Sebenarnya memosisikannya tetap dengan kata ‘aku” atau “saya”.

Ketiga, ketika Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu bilang “bisa isi berapa lagi” dan “biasa mbak isi banyak lo”. Kalau yang biasa bertransaksi dengan internet banking memang pilihan angkanya cuma itu saja. Tidak ada yang lain.

Husnudzan saya juga karena selama ini dulu, sebelum pindah, atasan saya yang lama kalau beli pulsa terkadang meminta bantuan saya via internet banking. Jadi tak ada kecurigaan selama ini. Dan saya juga beranggapan, meminta tolong untuk dibelikan pulsa bisa jadi dialami oleh banyak orang, seberapapun kondisinya orang tersebut, kaya ataupun miskin, sibuk ataupun menganggur. Kalau lagi darurat bisa juga bukan? Atau lagi malas keluar rumah begitu?

Namun kesadaran saya itu baru ada setelah beberapa saat, setelah transfer itu terjadi. Apalagi kemudian setelah saya bertanya kepada akang Google tentang penipuan meminta pulsa via chat fb. Sudah ada ternyata korbannya.

Segera saya telepon nomor itu. Tidak diangkat. Kebetulan pula saya belum punya nomor  Beliau yang Sebenarnya. Setelah saya mendapatkan nomor Beliau yang Sebenarnya dari teman, saya telepon Beliau yang Sebenarnya. Tidak diangkat. Konfirmasi tetap penting bukan? Apalagi kalau benar bahwa bukan Beliau yang Sebenarnya yang sedang chat dengan saya. Ini untuk menghindari agar tidak ada lagi korban selain saya.

Ba’da maghrib,  Beliau yang Sebenarnya menelepon saya. Tepat dugaan saya. Beliau yang Sebenarnya tidak pernah chat dengan saya. Seratus ribu melayang.

Well, saya berpikir kita memang harus berhati-hati, tetap menjaga kewaspadaan. Kewaspadaan saya saat ada sms masuk minta pulsa juga harus diterapkan di dunia maya. Pun, keteledoran saya banyak membawa pelajaran. Berikut yang di bawah ini bisa disimak:

Harga seratus ribu tidaklah mahal untuk sebuah ide sehingga bisa menghasilkan tulisan ini.

Tidaklah mahal pula hingga artikel ini bisa bermanfaat buat yang lain untuk meningkatkan kewaspadaan sehingga tidak turut menjadi korban. Kewaspadaan beda loh yah dengan su’udzon (buruk sangka).

Cara waspada adalah dengan mengajukan pertanyaan jebakan. Misal: “Kita jadi kan pergi hari minggu besok ke pernikahan teman kita?” Kalau dia jawab iya. Berarti teman chat itu tukang tipu. Karena acara pernikahan sebenarnya hari Sabtu. Banyak sekali sih pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Misal juga: siapa nama cleaning service yang biasa menyiapkan air minum kita setiap paginya? Atau telepon langsung nomor itu dan dengarkan suaranya. Sama dengan yang biasa kita dengar setiap harinya.

Untuk teman yang baru dikenal tak perlu untuk diladeni. Apalagi baru ketemu mau berhutang lewat sms ataupun chat. Jadi “ngeh” pula berbulan-bulan sebelumnya ada “teman” mau berhutang kepada saya via sms padahal baru ketemu. Bisa jadi ini modus yang sama. So, tak perlu mencantumkan informasi privat kita di profil fb. Nomor telepon misalnya. Jangan blak-blakan. Berinternetlah dengan sehat.

Pelajaran lainnya adalah untuk selalu berinteraksi dengan mengikuti forum diskusi (fordis) komunitas-komunitas di dunia maya atau milis-milis. Karena biasanya di sana seringkali diungkap kejadian-kejadian kriminal dan tips atau trik untuk menghindarinya. Terkecuali anggota milis atau fordisnya senantiasa bersikap apatis dan tak mau berbagi.

Kejadian ini juga adalah cara Allah untuk menegur saya. Sudah infak belum hari ini? Infak menjaga kita dari bala dan musibah. Kalau pelit, siap-siap saja yang lebih besar diambil oleh-Nya.

Semoga bermanfaat.

***

Dia yang Tak Perlu Disebut Namanya Itu = tukang tipu.

Beliau yang Sebenarnya = teman saya yang akun fb-nya dihack.

Riza Almanfaluthi

penulis dan blogger

dedaunan di ranting cemara

09.47 17 Januari 2011.

MANUSIA LENGKAP


MANUSIA LENGKAP

Sore ini saya terperangah dengan banyaknya buku yang teramat menarik di rak-rak itu. Judul-judul yang terpampang di sampulnya menggoda saya untuk membelinya. Sungguh, kalau saja saya tak mengingat betapa banyak yang harus dibeli untuk si Bungsu, saya akan borong itu buku.

    Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di toko buku terkenal ini. Dan sekali datang sungguh langsung menyesakkan dada kalau saya tak sanggup untuk membeli semua buku yang diincar. Saya pikir saya harus punya target untuk dapat memilikinya. Dengan mencicil satu dua buku di setiap bulan misalnya.

    Ah, kalau saja saya tak mengingat waktu yang ada, tentu saja saya akan berlama-lama di sana hingga toko itu tutup. Membaca dan banyak membaca. Hingga dahaga akan ilmu itu terpuaskan. Bukannya sok pintar atau dianggap berilmu, tapi itu memang sudah menjadi kebutuhan. Minimal saat buku itu termiliki, keberadaannya dapat mengusir bosan ketika naik kereta rek listrik. Lebih berguna daripada sekadar menebak-nebak tak karuan berapa lama lagi kereta ini sampai di stasiun terdekat.

    Banyak buku yang ingin saya miliki. Temanya juga banyak. Tentang dunia perwayangan beserta tokoh-tokohnya. Ini gara-gara “racun” Gunawan Mohammad dalam catatan pinggirnya yang banyak mengisahkan jagat para dewa dan ksatria itu.

Tema tentang sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pun menarik minat saya. Terutama berkaitan dengan Mataram Islam dan format mutakhirnya yang terpecah menjadi empat, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Ada lagi buku bagus lagi, tapi harganya tak kira-kira. Atlas Perang Salib, Fikih Jihad Syaikh Yusuf al-Qaradhawy, Antara Mekkah & Madinah harganya di atas rongatus ewuan (dua ratus ribuan). Hanya Kitab Shalat Fikih Empat Mazhab yang harganya di bawah itu.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku yang tidak saya bidik. Tapi membeli buku yang kebetulan sempat tertangkap oleh mata. Bukunya Jonru—pegiat Forum Lingkar Pena pastinya sudah tahu tentang orang yang satu ini. Buku berjudul Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat itu menarik perhatian saya. Kayaknya renyah untuk disantap otak saya. Ringan dan gurih. Enggak perlu mikir banyak. Itu konklusi sementara saya.

Tidak berhenti di situ. Sebelum meninggalkan toko buku itu, saya sempatkan diri ke bagian buku murah. Yang kisaran harganya mulai dari goceng (lima ribu rupiah) sampai ceban-go (15 ribu rupiah). Ternyata…wow. Bagus-bagus banget. Tebal-tebal lagi. Terutama novel-novel terbitan Penerbit Hikmah.

Suer…kalau enggak ingat Kinan, saya ambil semua. Saking bingungnya saya sempat lama mikir. Buku mana yang harus dipilih. Tentu ada kriterianya. Buku yang benar-benar bisa habis dibaca. Selain itu. No way…nanti saja!

Pilihan itu jatuh pada dua buku ini. Laskar Pelangi The Phenomenon, buku yang sempat saya idam-idamkan tapi tidak jadi dibeli karena relatif mahal pada waktu itu. Yang kedua adalah Evo Morales:
Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika. Terus terang saja, buku murah itu kondisinya bagus sekali. Masih dalam plastik. Bukunya Jonru saja masih kalah—tidak dibungkus plastik.

Tiga buku murah lainnya yang bercerita tentang Blackberry, Facebook, dan Google saya abaikan. “Lain kali saya akan beli kalian,” pikir saya dengan tekad membaja dan semangat 45. Maklum duit di dompet cuma tinggal 14 ribu rupiah. Mepet banget untuk sampai ke rumah.

Di sepanjang perjalanan saya gelisah, karena tak sabar untuk segera membaca ketiga buku yang saya beli itu. Lebih gelisah lagi karena saya ingin membagi perasaan saya ini kepada Anda semua Pembaca. Oleh karenanya saya tulis ini untuk Anda.

Teringat dengan ucapan Francois Bacon—membaca menciptakan manusia lengkap—saya menginginkan Anda untuk banyak membaca. Saya juga. Membaca adalah langkah awal untuk menulis. Pun, dengan itu kita akan merasa betapa ilmu yang kita miliki teramatlah sedikit. Sedikit sekali…

Ayo…membaca.

***

 

Tags: facebook, google, blackberry, penerbit hikmah, francois bacon, goenawan mohamad, catatan pinggir, evo morales, jonru, jonriah ukur, laskar pelangi, laskar pelangi the phenomenon, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, Praja Mangkunegaran, forum lingkar pena, flp, yusuf al qaradhawy

diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/11/manusia-lengkap/

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad bukan malam panjang

21.17 11 Desember 2010

BUKAN FACEBOOK TAPI GOOGLE


BUKAN FACEBOOK TAPI GOOGLE

 

Namanya Any. Teman lama saya waktu di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah lulus dari SMP tahun 1991 saya melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Nepal. Terakhir bertemu dengannya tahun 1994. Itu pun karena ada surat yang mampir ke kost-kostan saya darinya yang meminta saya untuk singgah ke rumahnya. Maklum zaman dulu belum ada telepon genggam, belum ada sms (short message service), belum ada internet, chatting mirc, surat elektronik (email), Google, Twitter, apalagi Facebook.

Setelah itu kita sibuk dengan urusan masing-masing, mulai dari urusan kuliah, merantau, bertahan hidup di belantara ibukota, kerja, menikah, beranak pinak, sampai badai Facebook melanda Indonesia hingga ke pelosoknya. Pernah suatu saat, di kisaran tahun 2003 sampai dengan 2005—kalau tidak salah—saya baru ingat kalau saya punya teman dekat bernama Any itu. Lalu saya berusaha melacaknya.

Saya mulai telepon 108 untuk mencari nomor telepon rumahnya yang berada di komplek Pekerjaan Umum (PU) Jatibarang. Akhirnya dapat, ternyata rumah itu sudah ditinggali oleh orang lain dan keluarga Any sudah pindah ke Bandung. Kebetulan pula kalau penghuni rumah baru itu adalah teman Ibu saya. Akhirnya sekalian saya tanyakan kemana saya harus menghubungi keluarga Any itu.

Ibu yang menerima telepon saya itu memberikan nomor telepon genggam ayahnya Any. Segera saya menelponnya. Saya kenal dengan beliau dan beliau kenal dengan saya karena saya sering belajar bersama di rumahnya Any. Tapi mungkin karena sudah lama tidak bertemu, dan pertemuan itu pun hanya melalui telepon, kiranya beliau rada segan untuk memberikan nomor telepon Any pada saya. Tapi pada akhirnya saya dapatkan juga nomor telepon genggam Anaknya itu. Saya catat semua nomor telepon itu di buku harian saya.

Berbekal nomor itu saya menghubungi Any. Akhirnya kami dapat berbincang-bincang setelah lama tidak ketemu. Menyenangkan sekali dapat cerita darinya. Sudah sama-sama berkeluarga, masih tinggal di Bandung, akan tinggal di Purwakarta adalah sekelumit tentang dirinya. Setelah itu selesai. Kami sibuk dengan urusan masing-masing.

Awal 2010, Facebook sudah mampir di rumah saya dengan jaringan kabel yang disalurkan dari rumah tetangga satu RW. Cukup dengan membayar iuran murah setiap bulannya. Awalnya saya tidak antusias dengan Facebook, tapi ketika saya bertemu seorang teman SMP pada akhirnya saya berusaha untuk mencari teman-teman yang lain. Apalagi kalau sudah ada foto jadulnya. Jadinya bisa mengenang masa lalu.

Biasanya setelah saya menemukan teman-teman lama di Facebook, ditambah kalau sudah teman satu geng, saya berusaha meneleponnya atau minimal kirim sms. Tapi tidak selalu bermula dari Facebook, terkadang dari teleponan atau sms-an itulah saya dapat menemukan kawan-kawan lama. Dan kemudian meng-add-nya di Facebook. Contohnya Sabtu kemarin (20/3), saya baru meng-add dua teman lama setelah saya ngobrol dan sms-an dengan mereka. Ternyata mereka juga punya akun di Facebook.

Dan Ahad pagi, saya teringat dengan Any. Mungkin dari dua teman itulah saya jadi teringat kembali. Saya coba search di Facebook. Saya masukkan kata kunci ani (dengan huruf i) dan parameter lokasi Kediri tempat asalnya dulu. Banyak nama yang mirip dengannya tapi bukan dia yang saya cari.

Setengah putus asa. Soalnya saya sudah berusaha mencarinya sejak awal tahun 2010. Via Facebook ataupun Google tempat saya biasa bertanya sesuatu. Bahkan saya coba menghubungi nomor yang sudah pernah saya catat di buku harian. Nomor dia dan nomor bapaknya. Semua nomor itu tidak dikenal lagi. Pencarian itu berhenti di pertengahan Februari 2010.

Nah, Ahad itu (21/3) saya coba lagi. Sekarang di Google. Saya kombinasikan dengan tanda kutip agar pencarian bisa terspesifisikasi lagi. Misal namanya Ani Putri Oktaviani (bukan nama sebenarnya), ya saya tulis di Google “Ani Putri Oktaviani”. Enggak dapat, ya saya ubah lagi. Sekarang “Ani Putry Oktaviani”, enggak dapat juga. Saya coba dengan “Ani Putri Oktavianti”, bingo…! Ketemu!

Saya masih ragu. Tapi dua parameter yang mencirikan dia sudah ada. Nama lengkapnya dan lokasinya di Bandung. Yang paling surprise bagi saya, di sana ada nomor teleponnya juga. Mantap, dagang juga nih anak. Otak bisnisnya jalan.

Saya langsung menghubunginya. Setelah salam , terdengar suara dari seberang. Saya masih enggak ngeh. Betul nih Any? Saya bertanya dengan hati-hati, “Bu, apakah betul ini Ibu Any yang dulu pernah sekolah di Indramayu dan Jatibarang?” Dia sepertinya kelihatan bingung. Tapi herannya dia sudah langsung menebak suara saya. “Riza yah…!” hebat euy…

Yah sudah…pencarian berakhir. Saya sudah cukup puas menemukannya. Man jadda wa jada. Saya meyakininya betul, kalau orang yang berupaya keras untuk menggapai sesuatu, pasti dia akan dapatkan hasilnya. Entah kapan ia akan dapatkan.

Setelah itu saya minta dia ikutan gabung dan unggah foto-foto lama di Facebook. Banyak teman-teman SMP sudah menanti. Segera saya kabarkan pertemuan itu ke teman-teman. Saya kirimkan nomornya kepada mereka. Setidaknya untuk bisa saling komunikasi, menjalin silaturahim, dan memperluas jejaring. Pasti akan menambah rezeki dan memperpanjang umur.

Ya, terkadang bukan Facebook tapi Google yang mempertemukan kami dengan indahnya. Akan lebih indah lagi kalau pertemuan dengan teman-teman lama itu benar-benar pertemuan sejati di surga-nya Allah swt. Kita semua berharap begitu. Betul begitu Any…?

***

Untuk Hariyanto Abu Muhammad Fayyaz Mumtaz, Sulaeman Nawwaf, Any FO…adalah sebuah kehormatan bagi saya jika saya dapat berkumpul bersama kalian di surga-nya Allah kelak. Amin.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09:15 22 Maret 2010