CINTA ITU BUTA


CINTA ITU BUTA

23.25

Membuka surel (surat elektronik) darinya itu membuatku tak mampu untuk tidak merasakan kegundahannya. Tentang sebuah asa atas cinta yang begitu membuncah. Atas sebuah rindu yang tak tertahankan kepada seseorang yang dicinta. Tapi sayangnya ada sebuah gunung tinggi menjulang yang tak mungkin ia singkirkan untuk dapat memiliki wanita idamannya. Wanita itu sudah bersuami.

“Kenapa tidak kau pilih yang lain?” tanyaku pada suatu kesempatan. “Engkau masih muda, kaya, berpendidikan, sudah kerja lagi?”

“Aku tak sanggup untuk tidak memikirkannya sampai saat ini, Za,” katanya resah.

Keresahan itu mewujud, tampak dari raut mukanya. Tak dapat disembunyikan. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri seakan-akan mengenang masa lalu. Tapi pada akhirnya keresahan itu memuarakan dirinya pada gerimis dan hujan yang terasa indah. Sore dan senjanya. Malam dengan bulannya. Lagu-lagu India yang terasa romantis sekali. Apalagi dangdut. What the… pria metropolis penyuka dangdut?

Film India lebih disuka. Mulai dari Mohabbatein, Rab Ne Bana Di Jodi, hingga Kabhi Alvida Naa Kehna. Yang terakhir lebih disukanya karena temanya hampir persis dengan apa yang dialaminya. Bintang filmnya sama pula: Shah Rukh Khan. Ada yang tak berbeda dengan dua orang itu. Sama-sama penyuka gym dan punya sixpack. Aku cukup onepack saja. Mengejar yang limanya hanya sebuah obsesi.

Soundtrack film itu juga ada pada ipod-nya yang kulihat kemarin. Ngomong-ngomong tentang ipod, darinyalah pertama kali aku merasakan kualitas mp3 player yang memang luar biasa. Sehingga aku turut berusaha untuk memilikinya juga. Dia memang teman karibku. Aku boleh buta dan belajar darinya segala tentang Jakarta dan kehidupan siang malamnya. Tetapi tentang cinta, ia yang harus belajar padaku. Cinta itu memang buta. Hingga aku harus membuatnya tersadar pada realita. Menuntunnya ke tempat yang terang.

“Bagaimana kalau saya carikan? Pakai kerudung. Sholihah. Aktivis? Segera. Secepatnya,” desakku. Dia hanya menggeleng. Dengan headset yang tetap terpasang di telinganya. Lamat-lamat dari mulutnya terdengar petikan lirik-lirik india itu:

Dur jaake bhi mujhse

tum meri yaadon main rehna.

Kabhi alvida na kehna.

Halah… “Ngaji…! ngaji…!”teriakku. Aku meninggalkannya segera. Tak lama lagi dia akan menghubungi via gtalk. Hanya aku yang memang mampu untuk mendengarkannya. Semua keluh kesah itu. Aku memang pendengar yang baik. Apapun yang ia ceritakan dalam chatting itu, aku cuma bilang I see…I see. I am listening.

 

00.32

Aku masih memikirkan temanku ini. Apalagi pada saat ia memandangi foto wanita itu. Jangan bayangkan foto itu ada pada selembar kertas berwarna seperti zaman dahulu yang bisa diselipkan di sela-sela buku. Sekarang eranya sudah moderen. Semuanya sudah ada dalam genggaman. Pada handphone-nya.

Dulu harus meminta-minta untuk mendapatkan satu lembar saja. Itu pun dikasih atau diminta dengan sangat terpaksa. Tetapi sekarang cukup dengan diterima sebagai temannya. Maka foto-foto itu dengan mudah didapat. Facebook memang hebat. Ia menyentuh sisi terdalam sifat manusia. Ingin dikenal dan mengaktualisasikan dirinya.

“Seberapa cantik dia hingga kamu teramat kesengsem padanya?”

“Aku tak peduli Za masalah itu. Ada sesuatu yang unik pada dirinya.”

“Dia tahu kamu mencintainya?’

“Ya…”

“Dan…?”

“Dia membiarkanku seperti ini. Tak ada jawaban iya.”

Aku memahami dan menyetujui sikap wanita itu. Ah, teman. Lupakan saja ia.

06.30

Pagi ini dengan tetap mengingatnya.

Beberapa bulan setelah aku pindah kantor. Ia masih tetap sahabatku yang kukenal. Masih membujang. Masih dengan badan atletisnya tetapi dengan cerita yang lebih seru.

“Za, dia sudah bercerai,”serunya riang.

“Apa? Kamu yang menyebabkan semua ini?”

“Sebejat-bejatnya aku. Aku tak mau menjadi pemecah rumah tangga orang. Dia dicerai sama suaminya.”

“why…?” tanyaku sok londo.

Dia jawab pakai bahasa Inggris sampai aku terbengong-bengong. Entah karena apa yang diungkapkannya atau karena aku tak mengerti cas-cis-cusnya itu, aku hanya: I see…I see. Skor toeflnya memang jauh di atasku.

“Sekarang aku lagi nyetel lagunya Irwansyah Za, Kutunggu jandamu,” tulis dia lagi di chatroom.

Aku tulis Smiley Icon yang pake bacok-bacokkan itu.

“Pffhhhh…Bro, perawan banyak di luaran sana. Tetap saja kau pilih dia. Terserahlah…Pesen aku cuma satu: agamanya bro!.”

Yang tampil di layar kemudian adalah cuma ikon cengengesan.

*

Pagi ini aku masih menunggu undangan dari temanku itu. Yang entah kapan akan datang.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dengan seizinnya aku tulis cerita ini.

dedaunan di ranting cemara

08.24 22 Januari 2011

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s