FILANTROPI SANG MUKA MONYET


[CATATAN SENIN KAMIS]:  FILANTROPI

Toyotomi Hideyoshi—yang berwajah seperti monyet – adalah tokoh besar Jepang abad XVI yang mampu menyatukan negeri yang tercabik-cabik dalam perang antarklan selama lebih dari 100 tahun, dan mempunyai konsep diri seperti ini: fokus pada memberi.

…hanya sedikit orang yang menangkap kebenaran ini. Kebanyakan lebih memilih untuk menyimpan sebanyak mungkin untuk diri mereka sendiri dan memberi sedikit mungkin. Itulah sebabnya dompet mereka tidak pernah bertambah tebal.

Maka dalam sebuah kesempatan, ia duduk di tumpukan kepingan emas yang hendak dibagikan senilai 1,17 trilyun rupiah—nilai saat ini, di tengah lapang, di luar gerbang selatan Istana Jurakutei, Kyoto. Orang-orang memalingkan muka saat timbunan itu memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Ia royal kepada pengikutnya.

**

Semakin banyak membaca tidak menjamin seseorang menjadi tahu segalanya. Semakin menulis pun demikian. Kita kembali menjadi bodoh dan bodoh. Betapa banyak ketidaktahuan yang dimiliki yang pada akhirnya memacu kita untuk merenangi samudra ilmu untuk mengikis daki-daki kejahilan.

Begitu pula dengan kata filantropi yang menjadi sesuatu yang baru buat saya beberapa hari belakangan ini. Diawali dengan notes dalam facebook seorang kawan. Pernah mendengar tetapi tak tahu makna dibaliknya. Aih, ternyata filantropi itu adalah sebuah kedermawanan atau cinta kasih kepada sesama.

Kalau demikian, saya bertambah yakin di balik makna kata itu ada sesuatu yang lebih besar lagi bagi para pelakunya. Bukankah ini adalah keadaan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah? Masalahnya sebegitu banyak balasan yang dijanjikan—700 kali lipat ganjaran—tidak menggerakkan hati untuk melakukannya. Mengapa?

Jawabannya adalah karena manusia senantiasa terbelit dengan sikap tamaknya hingga bergunung-gunung emas yang ia dapatkan namun kembali ingin merengkuh gunungan emas yang ada nun jauh di sana. Satu lagi karena ini adalah masalah iman. Dan filantropi adalah pembuktian adanya iman di dalam dada.

Maka berbicara tentang keimanan—karena ia adalah sesuatu yang abstrak, tak kasat mata—ia meyakini bahwa filantropi takkan membuat hartanya berkurang sedikitpun. Bahkan ia menetakkan filantropi adalah solusi atas setiap permasalahannya. Membuat hartanya kian banyak dari hari ke hari.

Ada kisah pembuktian sebuah filantropi seorang kawan. Ia mempunyai anak yang sedang mondok di pesantren. Jauh dari rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar anaknya sakit tipus dan harus dirawat di rumah sakit.

Pada saat yang hampir bersamaan, motornya yang diparkir oleh istrinya di depan rumah untuk ditinggal sebentar sholat Maghrib, hilang. Lenyap dicuri. Dan ia mendengar dari pegawainya kalau STNK (surat tanda nomor kendaraan) mobil yang biasa disewakannya hilang. Sudah jatuh tertimpa tangga tertusuk duri. Tiga cobaan menghentakkannya.

Segeralah ia pergi ke pesantren menjemput anaknya untuk dirawat. Kebetulan uang yang dibawa tidaklah banyak. Sebelumnya ia bertekad untuk menyisihkan sebagian uang yang ada untuk diberikan kepada yang membutuhkannya. Ekspresi kefilantropisannya. Walau dera tak kunjung reda.

Dengan nalar kemanusiawiaannya, sudah barang tentu adalah sesuatu yang wajar jika ekspresi itu ditinggalkan sejenak. Pun ia dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk berbagi. Tapi ia tidak. Bahkan saat yang sempit adalah sebuah bukti keimanan untuk ditunjukkan. Bukan disembunyikan di balik iba. Saat lapang dan mampu adalah saat yang biasa, wajar, dan tak aneh.

Apa yang terjadi setelahnya?

Sepulangnya dari perjalanan yang jauh hingga memakan waktu kerjanya itu, ia mendengar kabar kalau anaknya sudah mulai membaik. Lalu motornya yang hilang akan diganti dengan yang baru oleh dealer, segera. STNK-nya yang lenyap telah ditemukan oleh seseorang. Itu diketahui dari temannya yang kebetulan mendengarkan pengumuman di sebuah radio.

Sebuah kedermawanan menyelesaikan tiga masalahnya sekaligus, tidak pakai lama-lama. Banyak kisah yang mirip seperti ini. Tak bisa dihitung dengan jari. Masih meragukannya?

Hideyoshi tak sereligius Anda, ia tak meragukannya.

 

***

Bahan Bacaan:

The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad VXI, Kitamo Masao, Edited by: Tim Clark

 

Salam filantropi untuk rekan-rekan penulis buku Berkah DJP: Rosafiati Unik Wahyuni,  Kholid, Tang Dewi Sumawati,  Tommy, Marihot Pahala Siahaan, Irwan Aribowo , Dadi Gunadi, Eko Yudha Sulistijono, Tjandra Prihandono, Rini Raudhah Mastika Sari , Agus Suharsono,  Andy Prijanto, Ani Murtini, Raden Huddy Santiadji Musiawan Murharjanto, Rony Hermawan, Martin Purnama Putra , Teguh Budiono, Sri Sulton, Yunita, Windy Ariestanti Hera Supraba,  Yeni Suriany, Ari Saptono, Yusep Rahmat, Joko Susanto, Jeffry Martino, Eli Nafsiah , Desi Sulistiyawati , Atjep Amri Wahyudi , Muhammad Halik Amin, Sandi Syahrul Winata , Afan Nur Denta , Prasetyo Aji , Ari Pardono, Suwandi, Nufransa Wira Sakti, Agus Dwi Putra, Hendro Kusumo , Abdul Hofir, Sarbono, Yacob Yahya, Abdul Gani, Oji Saeroji , Ninoy Estimaria , Tutik Tri Setiyawati, Windhy Puspitadewi , Himawan Sutanto

 

 

Diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/27/filantropi/

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12:39 27 Desember 2010

Advertisements

4 thoughts on “FILANTROPI SANG MUKA MONYET

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s