JAWABAN BUAT ISMAIL HASANI SI PENUDUH


JAWABAN BUAT ISMAIL HASANI SI PENUDUH

Di setiap masanya, Islam selalu digedor oleh musuh-musuhnya. Tidak hanya dari kalangan luar, dari orang-orang yang berwajah atau bernama layaknya nabi pun tidak kalah tangguhnya untuk ikut ramai-ramai menjadi penghancur agama. Minimal punya penyakit bernama kecemasan luar biasa, tidak percaya dan curiga berlebihan yang lazim disebut paranoid.

Tepatnya saat ini sosok paranoid itu ada pada Ismail Hasani, peneliti SETARA Institute, yang menyatakan dalam sebuah diskusi bahwa TKIT (Taman Kanak-kanan Islam Terpadu) dan SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) sebagai sarana pemupuk benih radikalisme Islam. Bahkan dia mengatakan bahwa lagu-lagu jihad Palestina yang biasa dinyanyikan oleh siswa-siswa lembaga pendidikan tersebut mengancam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan bertentangan dengan Pancasila. Diskusi yang mengetengahkan tema tentang deradikalisasi untuk mengatasi kasus-kasus kekerasan atas nama agama itu diselenggarakan di Hotel Atlet, Jakarta (10/1).

Pernyataan Ismail Hasani sebagian memang tepat. Dulu, di zaman pergerakan nasional, sekolah memang menjadi tempat tumbuhnya sosok-sosok nasionalis radikal dan antikolonial. Ini menjadi dilema bagi penjajah Belanda pada saat itu, di lain pihak sekolah adalah tempat terbaik untuk menghasilkan administratur yang handal buat mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa sekolah memang menjadi tempat yang tepat untuk menyuburkan idealisme.

Sayangnya sekarang Ismail Hasani sama seperti orang-orang Belanda puluhan tahun lampau itu. Takut dengan munculnya benih-benih idealisme. Bedanya Ismail Hasani berkulit coklat, mereka berkulit putih. Dulu yang berkulit putih identik sekali dengan penindas.

Dengan pernyataannya, Ismail Hasani terlihat alergi dengan jihad Palestina seberapapun ia menyangkal. Jihad Palestina adalah perjuangan rakyat Palestina untuk memerangi kesewenang-wenangan dan penindasan yang dilakukan oleh para imperialis dan zionis Israel itu. Dan setiap gerakan perlawanan terhadap kesewenangan-wenangan imperialisme, dalam sejarah, disebut juga sebagai gerakan nasionalisme. Lalu apa yang salah dengan pengumandangan lagu-lagu jihad Palestina tersebut?

Atau semuanya bertitik tolak terhadap definisi nasionalisme yang dipakai oleh Ismail Hasani yang terlihat sempit ala Nicolas Chauvin. Semua orang yang ada di luar batas tanah air mereka tidak dipedulikan dan hanya mengurus semua yang berkaitan langsung dengan apa yang ada di dalam batas wilayahnya.

Islam mengajarkan nasionalisme yang lebih luas dari sekadar itu. Berbuhul pada ikatan akidah esensinya. Jika nasionalisme itu adalah cinta, keberpihakan, rindu, berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman ketidakadilan, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putera-puteri bangsa, memperkuat ikatan kekeluargaan antar anggota masyarakat, menyatukan diri dalam sebuah keluarga besar yang bernama NKRI dengan tetap turut merasakan apa yang saudara-saudara muslim rasakan di belahan manapun, maka Islam mengakuinya. Dan itulah nasionalisme dengan segala kebaikan yang ada untuk tanah air ini.

Yang tidak dibaca oleh Ismail Hasani juga adalah peran serta, opini serta dukungan dari rakyat Palestina terhadap proklamasi kemerdekaan republik Indonesia yang pada saat itu hanya secara de facto. Butuh pengakuan dari bangsa-bangsa lain untuk dianggap berdaulat dan sejajar dengan bangsa merdeka lainnya.

Terkecuali memang Ismail Hasani sudah memakan mentah-mentah tanpa dikunyah tuduhan Israel dan Ameriksa Serikat terhadap gerakan perlawanan Palestina sebagai gerakan terorisme. Maka wajar ia menyamakan lagu-lagu jihad Palestina itu sebagai lagu perusak NKRI. Dan ia membalas dengan tuba partisipasi rakyat Palestina itu untuk kemerdekaan negeri ini.

Ismail Hasani juga lupa dengan sejarah atau memang pemikirannya yang sudah kena virus deislamisasi penulisan sejarah kalau kemerdekaan republik ini diperoleh dengan keringat dan darah yang dikorbankan para ulama dan santri yang mengobarkan semangat jihad untuk melawan penjajah Belanda. Atau aksi jihad yang dilancarkan seorang panglima besar Soedirman yang merupakan mantan seorang guru Moehammadijah.

Bung Tomo sudah kadung terkenal dengan teriakan takbir dan seruan jihadnya pada 10 November 1945. Tak terlepas 18 hari sebelumnya, kakek Gus Dur—salah seorang badan pendiri SETARA Institute—yang bernama Kiai Haji Hasyim Asy’ari mendeklarasikan resolusi jihad: perang suci melawan Belanda yang ingin kembali menjajah.

Ada sebuah tuntutan terhadap Ismail Hasani sebagai penuduh untuk membuktikan bahwa menyanyikan lagu-lagu jihad Palestina itu bertentangan dengan Pancasila. Sila yang keberapa? Sila pertamakah? Kedua? Atau sila yang mana? Bukanlah pula nasyid-nasyid jihad Palestina adalah juga lagu-lagu perjuangan. Lalu apakah ada jaminan bila lagu-lagu perjuangan selain nasyid yang jika dikumandangkan akan menghasilkan manusia yang pancasilais?

Amir Sjarifoeddin Harahap, mantan perdana menteri RI yang menandatangani perjanjian Renville, sebelum ditembak mati menyanyikan lagu L’Internationale—lagu kebangsaan kelompok Bolsyevik Uni Soviet—dan Indonesia Raya, padahal ia adalah seorang komunis. Lagu-lagu perjuangan diperdengarkan setiap tahun namun Indonesia masih jago dalam hal korupsi. Jadi akan terlalu sempit bila sebatas lagu menjadi ukuran sosok berkarakter kuat pancasilais.

Dan saya meyakini betul, kalau di TKIT dan SDIT itu diajarkan pula tentang lagu-lagu perjuangan, tidak hanya nasyid jihad Palestina yang menjadi pelengkap acara hiburan pada saat pelepasan murid-muridnya.

Pada akhirnya saya hanya khawatir, bahwa Ismail Hasani cuma menjadi kepanjangan suara dari negara-negara barat yang gemar menuduh serampangan kepada mereka yang berseberangan dengan kepentingan besar negara-negara tersebut. Setelah dulu madrasah dan pesantren dituduh sebagai tempat perkecambahan radikalisme. Sekarang TKIT dan SDIT. Lalu besok apalagi?

Si penuduh wajib memberi bukti dan si tertuduh wajib memberikan sumpah. Kaidah elok untuk Ismail Hasani.

Wallohua’lam bishshowab.

***

 

Riza Almanfaluthi

Penulis dan Blogger

dedaunan di ranting cemara

01.30 Citayam 14 Januari 2011

 

Tags: ismail hasani, setara institute, gus dur, hasyim asy’ari, amir syarifuddin harahap, komunis, palestina, nasyid, amir sjarifoeddin harahap, bolsyevik uni soviet, nasionalisme, imperialisme, israel, zionisme, nicolas chauvin, jihad, radikalisme, terorisme, l’internationale

Advertisements

THAGHUT ITU KECIL!!!


THAGHUT ITU KECIL!!!

Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.

Berikut saya kutip sebagian kisah itu.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…” (Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”.

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…” Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” *)

***

Ada yang selalu saya ingat dari sosok ayah saya saat bercerita tentang orang-orang besar. Ia selalu hafal kalimat-kalimat terkenal yang pernah diucapkan dari para tokoh itu, entah nasional atau dunia, dan ia mengucapkannya secara atraktif di hadapan kami para anak-anaknya sewaktu masih kecil. Itu amat mengesankan bagi saya. Yang sering ia ulang-ulang adalah ucapannya presiden pertama RI, IR. Soekarno. Sampai sekarang pun saya masih ingat walaupun tidak hafal perkataan tersebut. Yaitu tentang bagaimana nenek moyang kita yang berusaha mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia dengan mengucurkan keringat dan darah mereka.

Kali ini pun kiranya aku bergerak untuk mencontoh ayah saya. Ada kalimat yang amat mengharukan dan menggugah saya sehingga hampir-hampir saja saya menangis di depan komputer. “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”

Sungguh inilah natijah (buah) dari syahadatain, yang menolak setiap thoghut yang ingin menjadi setara dengan Pencipta dirinya. Inilah realisasi dari keimanan yang amat kuat hingga mampu merasakan dan mengatakan bahwa kehidupan dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Bila saya ada dalam posisinya, bisa jadi saya akan mengiyakannya, mengaku bersalah, meminta maaf, serta langsung menandatangani surat itu sebelum sang pembawa surat selesai mengucapkan kalimatnya. Tentunya dengan alasan karena saya belum menikmati seluruh kehidupan dunia ini. Na’udzubillah.

Sungguh mudah mengucapkan dan mengajarkan materi-materi tarbiyah tentang Syahadatain dan Ma’rifatullah, tapi teramat berat dalam merealisasikannya karena di sana ada musuh abadi yang senantiasa mengintai dan menghalangi-halangi, setan dan hawa nafsu.

Bagi saya Syaikh Asysyahid Sayyid Quthb adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu merealisasikan nilai-nilai tarbiyah islamiyah dalam sebenar-benarnya kehidupannya. Maka dari akhir orang yang seperti itu mengapa masih banyak orang menghinakannya sedang ia terbukti mampu untuk menjual kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya sedang orang-orang yang berbicara sinis tentangnya belumlah teruji dengan pahit manisnya jihad fi sabilillah melawan thagut.

Sungguh ia akan dikenang dengan pemikirannya dan semangat jihadnya yang tak pernah mati. Bahkan orang sekelas Gamal AbdulNasser, Yusuf Kalla dan Hendropriyono pun tak akan mampu mematikannya. Ia mati tapi sesungguhnya ia tetaplah hidup.

Sungguh tidak ada jihad sebelum iman.

Allah Maha Besar! Thaghut itu kecil!

***

*) Kutipan kisah diambil dari sebuah situs internet.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:47 30 Juli 2009

setelah sekian lama tidak menulis

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS


Thursday, June 15, 2006 – ABB: IKON PERLAWANAN HEGEMONI AS

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS

Kemarin (Rabu, 14/06), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang setelah menjalani hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan potong remisi 4 bulan dalam tuduhan terkait dengan peledakan Bom Bali I dan Bom Marriot.
Tuduhan yang menjadi dakwaan itu pun masih saja disematkan oleh banyak media nasional kepadanya pada saat ini ketika memberitakan pembebasannya. Padahal kalau mereka tidak lupa—atau memang disengaja dilupakan oleh mereka—bahwa dakwaan yang menjadi dakwaan primer yakni terkait dengan peledakan bom bali itu tidak terbukti di persidangan.
Yang membuatnya ditahan adalah karena dakwaan subsidernya yaitu pembuatan Kartu Tanda Penduduk yang tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar Undang-undang Keimigrasian. Dakwaan yang bisa saja menimpa banyak orang di Indonesia karena bukan rahasia umum lagi kalau penduduk Indonesia masih banyak yang memiliki KTP ganda dan tidak melalui prosedur yang sebenarnya.
Jelas sudah bahwa penahanannya adalah benar-benar pesanan dan di bawah tekanan dari negara-negara yang mengaku paling demokrasi, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terutama Australia sebagai kaki tangan setianya. Walaupun hal ini dibantah dengan keras oleh pemimpin pada dua masa pemerintahan terakhir republik ini.
Tekanan yang pada akhirnya berhasil membuat sebuah detasemen kepolisian antiterorisme dengan nama Detasemen 88—Angka 88 ini diambil dari jumlah korban warga Australia pada saat Bom Bali I. Yang juga bisa dituntut oleh semua pihak dengan pertanyaan: “memang yang menjadi korbannya warga Australia saja?”
Pu ini adalah tekanan yang membuat sebagian mata buta dengan kondisi yang diderita oleh ABB pada saat ia akan ditahan. Walaupun ia masih benar-benar sakit dan dalam perawatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo, ia tetap diangkut dengan paksa seperti pesakitan atau hewan buas yang akan membuat kerusakan. Dalam perjalanan ke Jakarta pun ia tidak diperbolehkan untuk buang air kecil. Sungguh ini adalah suatu kezaliman.
Padahal banyak sekali para koruptor di negeri ini hanya bermodalkan secarik surat keterangan dokter atau vonis kesehatan seperti kerusakan otak permanen masih dapat berleha-leha menikmati udara bebas. Dan tidak mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang dialami oleh ABB. Lagi-lagi hukum ditegakkan kepada orang-orang yang tidak berduit dan tidak berdaya.
Namun kini pembebasannya disambut dengan gembira, tidak hanya oleh santrinya tapi juga oleh banyak tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Kepulangannya dikawal dan disambut oleh ratusan santri di Ngruki, Solo.
Saat tiba di sana ia memberikan tausyiah pertamanya di pesantren AlMukmin. Ia menegaskan kembali bahwa garis perjuangan yang ditempuh oleh Nurdin M Top adalah salah atau keluar dari jalur yang sebenarnya. Yang benar adalah dengan dakwah yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang benar kepada masyarakat. Dan ia tegaskan bahwa inilah yang dibenci oleh Amerika dan musuh-musuh Islam.
Pernyataan yang tegas dan membuktikan dirinya masih sebagai ikon perlawanan terhadap hegemoni AS sebagai negara superpower dan superzalim. Di dalam tubuhnya yang ringkih masih ada api perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh dunia Islam. Dan masih ada semangat membara dalam upaya penegakan syari’at islam di muka bumi Indonesia ini.
Kini ia akan kembali mengajar di pesantrennya. Sebagaimana jawaban atas pertanyaan dari para wartawan saat ditanya apa yang akan ia lakukan setelah pulang dari penjara. Ya, mengajar dan mendidik kader-kader yang terus dan selamanya akan memperjuangkan umat Islam terlepas dari setiap kezaliman yang menimpanya. Dan dalam penegakan syariat Islam yang rahmatan lil’alamin di tanah air ini. Semoga.

*****
Adzan shubuh bergema, saya matikan liputan 6 pagi itu. Ada bening-bening di mata, seperti bening-bening dulu kala saat beliau di tarik dan dibawa paksa dari rumah sakit. Sungguh bencana apa lagi yang akan menimpa negeri ini ketika banyak ulama yang dihina dan dicaci maki. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara
saat ada uneg-uneg yang membuncah
07.30 s.d. 08:28
15 Juni 2006

INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”


INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”

Saya rindu menulis. Menulis di Ciblog tentunya. Hampir dua pekan tanpa ide yang menggelayut di benak. Dan tanpa ada tarian jari di atas keyboard. Kali ini, hari ini, saya benar-benar rindu menulis. Menulis apa saja. Menulis di Ciblog tentunya.
Kemarin di kantor, setelah tiga hari lamanya saya kembali cuti untuk pulang ke kampung halaman, teman satu seksi saya yang baru saja memegang Majalah Tempo terbaru setengah berteriak berkata: “Hei, ada Riza di Majalah Tempo!” Sambil menunjuk kaver depan majalah tersebut yang bergambar foto blur seorang muda berkenggot , berbaju putih, tangannya kirinya menyibak baju di bagian dadanya. Di balik pakaian itu ada beberapa benda seperti jam weker, jalinan kabel, dan dinamit.
Tangan kanannya memegang sebuah buku tebal yang ia dekatkan ke dadanya. Ada tulisan besar-besar berwarna kuning kontras dengan background-nya yang berwarna hitam. Judulnya: CATATAN HARIAN SEORANG TERORIS. Lalu di bawahnya ada sebuah nama dari gambaran orang tersebut: Gempur alias Jabir.
Teman saya lalu bilang: “Cuma ada bedanya nih dengan Riza. Kalau di sini lebih kurusan.” Saya penasaran dengan foto itu, dan bergegas menghampiri sang teman untuk melihat dengan jelas kaver majalah itu. Saya memperhatikannya dengan seksama. “Betul sih¸amat mirip dengan saya,” pikir saya. Tapi sungguh saya bukan seorang teroris. 
Selain itu, kemarin juga, saya benar-benar ekstra kerja keras. Saya benar-benar merencanakan dengan detil seluruh kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Dengan mencatatnya dalam buku agenda tentunya. Ada dua puluhan kegiatan. Urusan kantor dan urusan pribadi. Dan setiap satu atau dua kegiatan itu selesai saya melingkari nomornya. Ada kepuasan yang sangat saya rasakan. Ternyata enak loh kalau kita benar-benar merencanakannya terlebih dahulu semua kegiatan yang akan kita lakukan esok hari.

Jadi ingat salah satu ayat dalam Alqur’an:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr, 59:18)

Kemarin juga, dalam sebuah forum diskusi, ada pula yang mengomentari avatar dan signature saya. Katanya: “avatarnya kok bikin merinding, suka perang yah”. Ya, avatar saya adalah penggambaran wajah dari seorang bersurban ala Afghanistan. Bertampang Arab. Dan tentunya dengan janggut lebat yang menjuntai ke bawah. Seram euy… Teman-teman di SJPhone pun sudah menjuluki avatar ini dengan penggambaran diri seorang Osama bin Laden.
Tidak hanya itu, signature saya pun amat lekat dengan dunia peperangan. Untuk yang satu ini adalah foto tiga orang prajurit yang sedang tiarap dengan senjatanya masing-masing di medan Perang Dunia I.
Kalau memang merindingnya hanya karena avatar saya yang mirip-mirip dengan penggambaran sosok-sosok Taliban dan musuh Amerika Serikat (AS), bagi saya ini tidak jadi masalah. Tapi kalau sudah termakan stereotip musuh-musuh Islam maka saya tidak terima. Mengapa seseorang Yahudi dibolehkan menyimpan dan memelihara janggut untuk mengamalkan kepercayaannya, tetapi bila seorang Muslim berbuat demikian, dia dianggap ekstrim, pengganas, fundamentalis, dan teroris. Sungguh, sungguh amat diskriminatif.
Lalu kalau ditanya tentang suka atau tidaknya peperangan. Jelas saya sebagai manusia biasa tidak suka peperangan. Saya orang yang cinta damai bung…Tetapi pula, jikalau Islam sudah memerintahkan untuk memerangi musuh, maka mau tidak mau dan sudah menjadi kewajiban entah fardhu ‘ain atau kifayah untuk maju berperang dan berjihad di jalan Allah.
Jika kita ikhlas maka kematian kita tidak akan pernah ada ruginya. Pahala besar bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah yakni masuk surga tanpa dihisab. Subhanallah. Dan sungguh, sebagaimana semboyan yang selalu digelorakan dalam dakwah ini: Allah tujuan kami. Muhammad teladan kami. Alqur’an petunjuk kami. Jihad jalan kami. Kematian Syahid adalah cita-cita kami. Maka bagaimana saya akan menjadikan kematian syahid itu bukan menjadi cita-cita saya?
Gempur alias Jabir menulis dalam catatan hariannya sebagaimana diungkap oleh Tempo: “Sesungguhnya perjalanan jihad penuh dengan onak dan duri, dibayangi rasa takut, kelaparan, dan hilangnya nyawa…”. Kalaupun benar Jabir menulisnya saya menyetujuinya 100% untuk pernyataan yang ia tulis tersebut.
Tapi ada perbedaan mendasar antara saya dengan Jabir pada jalan jihad yang ditempuh yakni tidaklah seperti yang ia yakini dengan menebarkan ledakan di mana-mana (kalaulah ini benar ia yang melakukannya).
Kali ini jihad saya adalah menebarkan kebaikan kepada semua orang. Agar saya bisa mendapatkan persiapan untuk bekal di akhirat nanti. Bagaimana saya bisa mengembangkan multilevel kebaikan itu dengan mencari downline kebaikan sebanyak mungkin. Itu saja untuk saat ini.
Tapi bila suatu saat jalan jihad melawan thogut besar dan kecil, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan itu sudah terbentang di depan mata dan ada perintah untuk melawannya maka saya harus siap. Tapi ada pertanyaan besar selanjutnya, “apakah saya akan menjadi orang yang dipilih oleh Allah untuk itu?” Jangan-jangan saya malah akan tergantikan dengan umat yang lain karena tidak sanggup dan tidak amanah untuk memikul beban dakwah itu? Allohua’alam. Tapi setidaknya saya selalu punya cita-cita, niat, dan azzam untuk berjihad dan syahid di jalan Allah. Sungguh ini bukan jalan para “teroris” (tuduhan basi dari musuh-musuh Islam).
Insya Allah tekad itu selalu ada di dada karena Allah.
Kiranya saya cukupkan sampai di sini tulisan ini. Kiranya pula kerinduan akan menulis, menulis di Ciblog tentunya, sudah terpuaskan. Pula karena jam setengah sepuluh pagi ini saya harus pergi melakukan kunjungan kepada Wajib Pajak yang akan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Ini jihad pula bukan? Melakukan sebuah tugas Negara?.
Salam ukhuwah dari saya kepada antum semua pecinta kebenaran.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai Satu Kalibata
09:23 13 Juni 2006

HADITS PALSU TENTANG JIHAD AKBAR


17.01.2006 – HADITS PALSU TENTANG JIHAD AKBAR

Jihad dewasa ini berkembang menjadi suatu topik yang banyak dibicarakan dan ditulis oleh orang-orang yang bahkan belum pernah melewatkan waktu mereka satu menitpun di medan perang. Berbagai individu Muslim ini menjabarkan apa yang dimaksud dengan jihad dan apa yang bukan. Di antara yang mereka sebutkan adalah bahwa memelihara dan membesarkan anak adalah jihad, berdakwah adalah jihad, mengajak orang lain untuk pergi ke masjid adalah jihad, merendahkan pandangan adalah jihad, dan lain sebagainya.
Hanya sedikit ulama yang menjelaskan makna jihad sebagaimana yang dipahami dan dijelaskan oleh ulama dari mazhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali, yaitu jihad dalam pengertian linguistik berarti “berusaha/berjuang dengan sungguh-sungguh” dan dalam pengertian syari’ah berarti “berperang menghadapi musuh Allah”. Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah Shahih Bukhari, menyatakan bahwa setiap kali kata “fi sabilillah” di sebut dalam Al-Qur’an dan Sunnah, maka hal itu berarti Jihad.
Hanya sedikit ulama yang benar-benar menunaikan kewajibannya mengajak orang lain untuk menyembah Alloh SWT dan mematuhi perintah-Nya. Hanya sedikit ulama yang menerangkan kewajiban jihad dalam Islam dengan semestinya. Dan para ulama ini adalah mereka yang pernah terjun langsung dalam jihad.
Mereka telah mencium bau mesiu, mereka telah merasakan kepulan debu peperangan, keringat mereka mengucur deras di bawah hujan tembakan dan bom musuh. Tidak seorang ulama pun yang pernah terjun langsung ke medan perang yang mengatakan bahwa bangun menegakkan shalat shubuh atau memelihara dan membesarkan anak di lingkungan sekuler dan kafir adalah jihad.
Pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa jihad adalah seperti apa yang disebutkan di atas, adalah pendapat mereka yang sudah kalah sebelum berperang menghadapi musuh orang kafir, pendapat mereka yang bersedia untuk tunduk pada kemauan musuh, yang setuju atas perbuatan orang kafir, yang malu untuk pergi berjihad, yang berusaha untuk menyenangkan hati orang kafir dengan memenuhi tuntutan mereka untuk tidak mengakui jihad sebagai suatu peperangan.
Bertentangan dengan apa yang dikatakan individu muslim ini, salah satu definisi tepat apa yang digunakan orang-orang non-muslim, dalam mengartikan jihad adalah “Perang Suci” (Holy War). Jihad adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam bentuk peperangan secara fisik, yang dilakukan karena sebab-sebab yang agung, suci, dan mulia, yaitu dalam rangka menegakkan Kalimatullah SWT. Kebanyakan orang non-muslim telah memahami jihad dalam definisi ini, namun berbagai individu muslim ini selalu menentang dan menyatakan ketidaksetujuannya jika jihad diartikan sebagai Holy War. (Azzam Publication, 8: 2002).
Tulisan ini tidak akan membicarakan tentang hukum berjihad (fardu ‘ain atau fardhu kifayah) yang sudah jelas dalam Kitabullah, dan Hadits-hadits Nabi, dan telah disepakati oleh para imam mazhab fuqoha salaf maupun khalaf. Namun disini akan diuraikan tentang suatu perkataan bahwa jihad memerangi musuh adalah jihad kecil atau seringkali dianggap sebagai jihad dalam arti sempit., dan ini banyak diungkapkan oleh mereka yang merasa cendekiawan muslim di tanah air ini.
Banyak disinyalir bahwa jihad memerangi musuh agama adalah termasuk jihad kecil (jihadul ashghar). Sedang yang dikatakan sebagai jihad besar (jihadul akbar), adalah memerangi hawa nafsu.
Pendapat tersebut didasarkan pada sebuah riwayat:
“Kita telah melaksanakan jihad kecil, dan akan menuju jihad besar”. Para sahabat bertanya: “Apakah jihad akbar itu wahai Rasulullah?” Rasul menjawab: “Yaitu jihad melawan hawa nafsu.”
Sebagian umat Islam berupaya mengalihkan pandangan umat Islam terhadap pentingnya jihad, mempersiapkan diri, berniat melaksanakan dan mengmalkannya. Tetapi pada kenyataannya, dalil yang digunakan tersebut bukanlah sebuah hadits, demikianlah kata Ibnu Hajar Al-Asqalany di dalam Tasdidul Qaus. Tetapi yang benar adalah perkataan Ibrahim bin ‘Ailah. Memang ungkapan tersebut sangat populer di kalangan umat Islam, sehingga tampak sebagai hadits.
Al-‘Iraqy di dalam Takhriju Ahaditsil Ihya’ mengatakan: “Hadits tersebut oleh Imam Baihaqy dengan sanad dhaif, dari Jabir. Al-Khatib juga meriwayatkan hadtis tersebut di dalam buku sejarahnya, dari Jabir.
Andaikan hadits ini shahih, makna yang dikandung bukan berarti mengenyampingkan persoalan jihad. Sebab, jihad itu dilakukan di dalam rangka melakukan penyelamatan terhadap negara Islam atau menolak serangan musuh dari wilayah Islam. Tetapi yang terkandung dalam hadits tersebut ialah wajib melawan hawa nafsu, sehingga sikap hati menjadi ikhlas hanya karena Alloh. (Imam Hasan Al Banna, 81).
Dalam sebuah buku lain disebutkan: Perkataan: “Kita kembali dari jihad kecil (peperangan) menuju jihad besar”, yang oleh sementara orang disebut sebagai hadits, secara fakta adalah salah, dan merupakan karangan belaka yang tidak memiliki dasar. Sebenarnya perkatan ini adalah ucapan Ibrahim bin Abi Ablah, seorang generasi penerus dan bertentangan antara isi dan realita.
Ibnu Taimiyah di dalam Al-Furqan PP.44-45 menulis: Hadits ini tidak mempunyai sumber yang shahih dan tidak seorang ahli hadits dan ulama pun yang diketahui pernah meriwayatkannya. Jihad melawan orang kafir adalah perbuatan yang paling mulia dan yang lebih penting lagi, jihad adalah perbuatan yang paling penting demi kemanusiaan.
Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa hadits ini adalah hadits dhaif (lemah) karena sumbernya adalah Khalaf bin Muhammad bin Ismail Al-Khiyam . AlHakim berkata, “Hadits riwayat orang ini tidak dapt dipercaya”. Abu Ya’la Al-Khalili berkata: “Orang ini sering memalsukan hadits, seorang yang sangat lemah dan meriwayatkan hadits yang tidak dikenal” (Masyari-ul-Asywaq, Ibnu Nuhas (1/31).
Perawai lainnya adalah Yahya bin Al-Ula, seorang yang dikenal sebagai pendusta dan pemalsu hadits (Ahmad). Amru bin Ali, An-Nasa’I, dan Ad –Daraqutni menyatakan, “Haditsriwayat orang ini tidak diakui”. Ibnu Adi menyatakan, “Hadits riwayat orang ini adalah palsu” (Tahzibut-Tahzib 11/261-262). Ibnu Hajar berkata, “Dia dituduh telah memalsukan hadits”. (At-Taghrib). Ad-Dhahabi mengatakan , “Abu Hatim berkomentar bahwa orang ini bukanlah seorang perawi hadits, Ibnu Ma’in menggolongkannya sebagai seorang yang lemah, dan Ad-Daraqutni berkata bahwa orang tersebut dapat diabaikan”. (Syeikh Abdullah Azzam, 75: 2002).
Mengapa pula perlu diuraikan derajat perkataan tersebut di sini adalah karena banyak dari kaum muslimin yang mendasari dirinya untuk tidak ikut berjihad hanya karena hadits palsu ini. Dengan ini pula beragam makna tentang jihad muncul ke permukaan. Kalangan yang mengaku ‘aliran Islam yang santun’ menekankan konsep jihad demikian dengan gencarnya.
Golongan intelektual tak ketinggalan mengatakan, menuntut ilmu termasuk jihad, dan lain sebagainya. Bahkan saking takutnya dengan segala yang berbau jihad, maka mereka yang getol menyeru jihad ditangkapi, dan ada ide untuk menutup pondok pesantren dan lembaga yang diduga keras mengajarkan jihad dalam kurikulum pendidikannya. Bahkan tidak mungkin yang menulis artikel inipun dicap sebagai FUNDAMENTALIS ISLAM, ISLAM RADIKAL, PENGIKUT ABU BAKAR BA’ASYIR, dan lain sebagainya.
Sekalipun masih banyak lagi hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai jihad diantaranya ialah amar ma’ruf nahi munkar, tetapi pada prinsipnya, bagi para pelakunya tidak akan mendapatkan syahadah kubra dan pahala sebagai mujahid. Sebab pahala ini sangat dikhususkan kepada mereka yang gugur di medan pertempuran fi sabilillah.
Sebagaimana pula disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal (Shahih Al-Jami’ no. 2828) bahwa “Ibadah yang paling tinggi nilainya adalah jihad”.
Sungguh beda nilainya antara tembaga, perak , emas, platina, alumunium, yang kesemuanya adalah logam. Dan sungguh beda imbalan yang akan di dapat oleh orang yang mengucurkan keringatnya dan darahnya di medan peperangan bila ia ikhlas dengan orang yang mengucurkan keringatnya karena mengetik artikel ini saking ruangannya tak ber-AC.
Joserizal Jurnalis pun berjihad dengan pisau bedahnya, Dyah Risang Ayu pun berjihad dengan penanya, Neno Warisman pun berjihad dengan seminarnya, Hidayat Nur Wahid pun berjihad dengan partainya, Tamsil Linrung pun berjihad dengan dananya untuk mewujudkan penerapan syari’at Islam di Sulawesi Selatan, semuanya berjihad —sekali lagi—dengan keahliannya.
Namun sungguh berbeda pahala yang akan diterima oleh tukang becak asal Tegal yang sudah berada di tanah jihad di Palestina dan telah menjadi syahid di sana atau dengan Habib Rizieq Syihab yang tidak hanya berkoar menyerukan dan membuka posko pendaftaran jihad namun sudah berangkat ke Iraq melalui Yordania untuk membunuh tentara agresor Amirikiyyah wal Britaniyyah.
Sekali lagi sungguh amat berbeda pahala yang akan mereka terima, karena ini berbanding lurus dengan segala kesusahan dan kengerian di medan perang, yang juga berbanding lurus pula dengan azab yang akan mereka (para mujahiddin) terima bila ia tidak ikhlas berjihad karena-Nya semata namun hanya karena mengharap pujian manusia belaka.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Q.S. Al-baqoroh: 216).
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati;bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka…(Q.S. Ali Imron: 169). Allohu a’lam bishowab.

Rujukan:
1. Al-Qur’an yang mulia;
2. Join the Caravan, Syeikh Abdullah Azzam, Azzam Publication, 2001;
3. Laa Izzata illa bil Jihad, Imam Hasan Al-Banna, Generasi Kita Press.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2003
Diedit 18:00 15 Januari 2006

Cuma Kisah Sederhana (3)


Cuma Kisah Sederhana (3)

Dalam sebuah halaqoh (pertemuan) di sebuah masjid di bilangan Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seorang Syekh berasal dari Timur Tengah yang juga veteran perang Afghanistan sedang memberikan taushiyah kepada sekelompok anak muda yang dengan tekun menyimak semua perkataannya dengan bantuan seorang penerjemah.
Pada saat mereka asyik mendengarkan, tiba-tiba Sang Syekh terdiam saat melihat kedatangan seorang tua yang memasuki masjid tersebut. Ini membuat yang lainnya terheran-heran. Ditambah pula Sang Syekh tidak lagi melanjutkan taushiyahnya. Bahkan beliau meminta semua hadirin yang ada dalam halaqoh tersebut untuk diam sejenak.
Sang Syekh tampaknya tertegun dan terus memandangi orang tua yang saat itu sedang melakukan shalat. Beberapa saat, orang tua itu sudah menyelesaikan shalatnya. Setelah berdzikir dan berdoa, ia pun melangkahkan kakinya keluar masjid sambil tak lupa mengucapkan salam kepada peserta halaqoh.
”Subhanallah,” seru Sang Syekh.
”Ada apa Ustadz?” seorang hadirin bertanya keheranan.
”Masya Allah,” ucap Sang Syekh tidak menjawab.
”Memang ada apa Ustadz?” tanya hadirin yang lain.
Terlihat Sang Syekh masih melantunkan dzikirnya lagi nyaris tanpa terdengar. Hening sejenak.
”Tahukah kalian apa yang sedang aku rasakan,” tanya Sang Syekh dibantu oleh penerjemah.
”Tidak Ustadz!,” jawab hadirin hampir serentak.
”Saat aku melihat orang tua yang memasuki masjid tadi, hatiku langsung tergetar. Aku merasakan keteduhan yang sungguh luar biasa saat melihatnya. Aku merasakan seperti ada cahaya yang memancar darinya. Cahaya ketenangan. Cahaya yang hanya dimiliki oleh para orang sholih. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang bangun di sepertiga malam terakhir. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang ikhlas. Mahasuci Allah dan Segala Puji hanya untuk Allah yang telah mempertemukan aku dengan orang tua sepertinya,” tutur Sang Syekh panjang.
”Oleh karena itu aku meminta kalian untuk diam sejenak sampai orang tua itu selesai melaksanakan hajatnya. Sambil aku menikmati apa yang Allah berikan kepadaku. Nikmat merasakan ketenangan, kekhusyu’an, dan keteduhan dari orang tua itu. Sungguh, sungguh, sungguh luar biasa orang tua itu,” lanjutnya lagi. “Aku harus belajar banyak kepada dirinya, kepada kalian aku sarankan pula untuk menggali ilmu padanya.”
”Tahukah kalian siapakah dia?” tanya Sang Syekh kepada para hadirin.
”Ia adalah pemilik yayasan pendidikan Islam di sebelah Masjid ini Ustadz, ”jawab salah satu hadirin. ”Masjid ini pun dikelola oleh yayasan tersebut.”
”Ustadz Hasib namanya.”
***
Natijah (buah) dari keimanan seseorang dapat dirasakan oleh orang disekitarnya, yang tentunya pula memiliki kadar keimanan yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan dalam tataran orang biasa pun natijah itu dapat dirasakan. Dengan tutur katanya yang halus, keteduhan yang terpancar dari wajahnya, sikapnya yang lemah lembut, pancaran mata yang menyejukkan, tiada yang keluar dari mulutnya kecuali kebaikan dan hujjah yang kuat.
Dengan keteguhan, kesabaran, dan kesalihan yang ia miliki maka siapa yang tidak mengenal Ustadz Hasib, seorang yang menjadi ’awwalun’ dalam pergerakan dakwah kontemporer di bumi Indonesia ini. Yang kemudian pergerakan tersebut memasuki dan menempuh salah satu dari sekian banyak wasilah (sarana) dalam berdakwah, menjadi sebuah partai Islam berlambang dua bulan sabit yang mengapit padi menguning.
Saatnya semua itu tidak hanya dirasakan oleh Sang Syekh, tapi seluruh umat di penjuru tanah air ini, bahkan kepada semua golongan. Karena sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil’alamiin.
Allohua’lam bishshowab.

dedaunan di ranting cemara
masih mencari kisah-kisah pencerahan lainnya
22:42 12 Desember 2005