Bangunkan yang Tidur Itu!


Melania Trump, Grace Eline, dan Joshua Trump duduk di tribun.

Kinan tertidur saat mengantre untuk menyetorkan hafalan Alquran kepada ustaz pembimbingnya pada sore itu. Teman Kinan berusaha membangunkannya. “Tidak usah. Biarkan saja,” kata sang ustaz.

Di lain waktu dan tempat, bocah sepantaran Kinan, Joshua Trump duduk di sebelah kiri Melania Trump. Hanya diselingi satu bangku saja yang diduduki Grace Eline, bocah penderita germinoma. Namun Joshua tertangkap kamera sedang tertidur lelap.
Baca lebih Lanjut.

Advertisements

TUHAN TIDAK PERLU DIBELA?


TUHAN TIDAK PERLU DIBELA?

Ketika kita berbicara tentang Tuhan yang tidak perlu dibela 1) maka kita yakin betul bahwa Allah adalah mahabesar, mahakuat, mahaperkasa. Dengan kemahaanNya, maka Ia tak butuh apapun. Dengan ibadah kita, tak akan menambah perbendaharaan kekayaanNya. Dengan kemungkaran seluruh manusia di muka bumi, tak akan sedikit pun mengurangi kemuliaanNya. Kita beribadah karena kita butuh, tak semata itu adalah kewajiban. Sampai di sini saya sepakat.

Tapi kalimat Tuhan yang tidak perlu dibela itu seringkali menjadi argumentasi bahwa Allah tak perlu pembelaan kita. Dengan demikian Islam pun tak perlu pembelaan dari umatnya. Ketika ada yang berbicara anjinghu akbar dalam sebuah forum maka sepatutnya kita diam. Waktu ada yang menghina nabi Muhammad, ya cukup diam saja. Kalau ada yang bilang ada nabi setelah Rasul Muhammad saw, ya cukup hormati saja pendapat itu karena hanya beda tafsir dalam memandang suatu dalil.

Atau paling banter dengan memberikan nasihat yang baik, tidak memberikan stigma sesat, dan jika tidak berubah, show must go on, hidup terus berlanjut karena Allah saja yang memberikan hidayah dan membolak-balikkan hati seseorang serta tidak ada yang mampu menyesatkan manusia jika manusia itu telah mendapat petunjuk Allah. Dalilnya adalah Al-Maidah ayat 105.

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dengan ayat itu maka kalau ada aliran-aliran yang dianggap sesat oleh umat Islam, ya biarkan saja mereka untuk mendakwahkan ajaran mereka, karena Allah sudah jamin buat orang yang beriman bahwa orang yang beriman itu tidak akan pernah terjerumus dalam kesesatan karena dijaga Allah. Ini menjadi dalil implisit bahwa Allah tidak perlu dijaga, karena Allahlah yang menjaga manusia dari setiap kesesatan.

Atau dengan kata lain pula kalau Jaringan Islam Liberal mendakwahkan pemikirannya maka kalau orang yang beriman tentu tidak akan terpengaruh sama sekali. Juga kalau ada misi dan ajakan dari agama lain maka yang disalahkan adalah umat Islam yang mudah begitu saja kehilangan imannya. Kalau umat sudah diberikan petunjuk Allah maka misi itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Tetapi apakah betul memang demikian?

Ujung dari pernyataan Tuhan yang tak perlu pembelaan itu adalah Islam yang tak butuh pembelaan dari umatnya. Ujung-ujungnya adalah pelemahan semangat jihad umat. Karena umat Islam cukup pasif saja. Cukup menjadi objek derita dari apa yang menimpanya. Mulai dari serangan pemikiran, invasi, pembusukan, perpecahan umat, kemiskinan, kebodohan, pembodohan, penindasan, diskriminasi, penyakit masyarakat, dan semua yang melemahkannya.

Ketika umat dituntut untuk tak perlu pembelaan, maka sebenarnya pula ini menihilkan makna dari iman kepada Allah itu sendiri. Mengapa demikian? Karena ketika kita beriman kepada Allah swt, maka konsekuensinya adalah kita cinta kepada Allah. Cinta ini akan menghasilkan sebuah loyalitas terhadap siapa dan apa yang dicintai Allah serta menghasilkan pelepasan diri dari siapa dan apa yang dibenci Allah.

Mudahnya adalah cinta kepada Allah akan mewujudkan kerelaan untuk berkorban. Berkorban apa yang dimilikinya—bahkan jiwanya, untuk membela syariatNya, saudara-saudaranya, dan keyakinannya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Akmal menggambarkan bahwa cinta itu butuh pembuktian meskipun tak ada yang meminta. Orang tua mungkin tidak pernah meminta agar anak-anaknya menanggung kehidupannya pada masa tua kelak. Namun orang yang mengabaikan orang tuanya yang sudah renta, maka kecintaannya niscaya dipertanyakan. Kalau istri dimaki orang, tak perlu diminta pun suami harus memberikan pembelaan. Akal siapa pun akan mampu memahami hal ini. Cinta dan pembelaan adalah dua sisi mata uang; jika ada cinta, pasti ada pembelaan. Dengan kata lain, jika tak ada pembelaan pastilah tak ada cinta. 2)

Dan cukupkah ketika melihat penistaan, pembusukan, serta kemungkaran itu umat berdiam diri? Umat cukup pasif? Tidak. Karena diam adalah selemah-lemahnya iman. Kanjeng Nabi SAW pernah berkata, “barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangan, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.” 3)

Ketika dikehendaki bahwa diam adalah laku seorang muslim saat menjadi objek penderita maka sama saja menjadikan umat Islam menjadi umat yang fatalis, umat yang sangat pasif, pasrah, dan tak punya pilihan sama sekali dalam hidup. Tidak. Tidaklah begini tuntutan iman kepada Allah, hari akhir, dan qadha qadarnya.

Dan ketika berhadapan dengan penyeru kesesatan, cukupkah umat diam atau paling banter menasehatinya? Tentu, nasehat adalah jalan agama. Bukankah agama adalah nasehat? Tetapi ketika nasehat sudah direalisasikan, belumlah cukup menyerahkan semuanya kepada Allah yang mahakuasa dan berkehendak atas segala sesuatu, sepanjang mengubah kemungkaran dengan tangan belum pernah dilakukan atau tak terbersit dalam hati untuk melakukannya. Bukankah nasehat itu adalah jalan kedua beramar ma’ruf nahi munkar? Dan setelahnya adalah dengan hati. Walau itu selemah-lemahnya iman.

Memberikan nasehat pun perlu parameter yang jelas untuk mengukur letak sebuah kesalahan. Parameter-parameter yang sudah ditentukan oleh para ulama dalam memandang kesesatan adalah salah satu yang bisa dijadikan contoh.

Majelis Ulama Indonesia mempunyai kriteria untuk menentukan kesesatan sebuah kelompok yang menistakan agama Islam. Dan mau tidak mau fatwa MUI mematok ukuran sesat itu adalah sebuah nasehat. Nasehat yang memberikan stigma agar umat awas.

Dengan kata lain, sebagai umat yang senantiasa bersemangat membela agamanya sebagai bentuk rasa cinta kepada Allah, maka berdiam diri membiarkan kesesatan dan pembusukan terhadap umat adalah memastikan azab Allah turun dan tak akan pernah ada doa dari para hambaNya yang dikabulkan. 4)

Ketika saya ditunjukkan Al-Maidah ayat 105 oleh santri pendukung JIL itu, maka menurutnya, jika saya beriman tentu saya akan menuruti perintah dan permintaan Tuhan yang tidak memerlukan pembelaan. Kalau hati saya tidak buta, saya tentu akan menerima ayat itu. Insya Allah saya bukanlah seperti yang dituduhkannya.

Coba kalau kita cermati Al-Maidah 105 itu, jika bisa dianggap dalil bahwa Tuhan tak perlu dibela maka dalil itu adalah dalil implisit. Ada dalil yang nyata dan lebih eksplisit tentang pembelaan terhadap agama Allah yakni dalam surat Muhammad ayat 7:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, maka Dia menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

dan Al Hajj ayat 40 :

“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.”

Tapi sang santri menolak ayat itu sebagai dalil karena Muhammad ayat 7 digunakan dalam konteks tazkiyyah tauhid melawan penyembah berhala. Ini berarti tak bisa digunakan dalam konteks kekinian jika bukan melawan orang-orang musyrik.

Ayat-ayat itu menurutnya tak bisa digunakan sebagai dalil membela agama Allah ketika misalnya Islam dirongrong oleh mereka-mereka yang mengaku sebagai nabi setelah Muhammad, mengaku sebagai Jibril, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Atau ketika aturan Islam dilecehkan dan diputarbalikkan sedemikian rupa dikemas dengan argumentasi ilmiah.

Bahkan bisa diartikan pula ayat-ayat itu itu tak bisa digunakan dalam konteks perjuangan dakwah di bidang apapun misalnya pendidikan, kesehatan, politik, dan ekonomi umat. Karena maknanya dipersempit sedemikian rupa (sebuah anomali karena biasanya penyeru JIL anti tekstualis).

Kalau kita cermati lebih dalam lagi, tiga ayat ini mempunyai keterkaitan begitu luar biasa. Antara Al Maidah ayat 105 dengan Al Hajj ayat 40 misalnya. Dalam tafsir Ibnu Katsir membahas Al Maidah ayat 105 urusan tidak disesatkan ini tidak akan pernah bisa lepas dari upaya amar ma’ruf nahi mungkar 5). Al Hajj ayat 41 menerangkan siapa orang-orang yang dimaksud dalam ayat sebelumnya dan ternyata salah satunya adalah mereka yang berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Artinya?

Ternyata makna: “tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” hanya akan jalan jika kita beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Simpelnya: selain mendapat petunjuk dari Allah maka kerja amar ma’ruf dan nahi munkar akan membuat kita tidak bisa disesatkan.

Merujuk pada Muhammad ayat 7, jika kita menolong Allah maka ada dua hal yang didapat, yaitu kita akan ditolong Allah dan diteguhkan kedudukan kita. Di mana dalam Al Hajj ayat 41 itu orang yang diteguhkan kedudukannya niscaya mereka melakukan perbuatan antara lain berbuat makruf dan dan mencegah kemungkaran.

Ringkasnya adalah ketika menyatakan Tuhan tidak perlu dibela dengan dalil implisit Al Maaidah ayat 105, malah ini semakin menegaskan bahwa Allah akan menolong orang yang menolongNya dengan semua kemahaanNya.

Tidak akan pernah disesatkan kecuali orang yang mendapat petunjuk dan beramar makruf nahi mungkar. Tidak akan pernah disesatkan kecuali orang yang mendapat hidayah dan membela agama Allah.

Umat Islam adalah umat yang aktif, yang senantiasa bergerak dan berjuang serta bukan umat yang pasif bahkan fatalis. Amar makruf nahi mungkar adalah kerja nyata untuk membendung dan melindungi umat dari setiap kesesatan dan penistaan agama.

Semoga yang sedikit ini bisa dimengerti. Semoga Allah melindungi kita dari setiap kesesatan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai pejuang-pejuang dan pembela-pembela Islam. Semoga Allah menjadikan diri kita penolong-penolongNya.

***

Catatan kaki:

1) Pemikiran Gus Dur yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela;

2) Akmal Syafril, Islam Liberal 101, Depok: Penerbit Indie Publishing, Cetakan Keempat, Februari 2012, halaman 19;

3) HR Muslim dalam Al Iman (49);

4) HR Ahmad dalam musnad-nya, 5/288-289, 391 dari hadits Hudzaifah bin Yaman ra secara marfu’

5) HR Attarmidzi dan HR Ibnu Jarir. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 Hal 168-169;

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02:44 25 April 2012

JAWABAN BUAT ISMAIL HASANI SI PENUDUH


JAWABAN BUAT ISMAIL HASANI SI PENUDUH

Di setiap masanya, Islam selalu digedor oleh musuh-musuhnya. Tidak hanya dari kalangan luar, dari orang-orang yang berwajah atau bernama layaknya nabi pun tidak kalah tangguhnya untuk ikut ramai-ramai menjadi penghancur agama. Minimal punya penyakit bernama kecemasan luar biasa, tidak percaya dan curiga berlebihan yang lazim disebut paranoid.

Tepatnya saat ini sosok paranoid itu ada pada Ismail Hasani, peneliti SETARA Institute, yang menyatakan dalam sebuah diskusi bahwa TKIT (Taman Kanak-kanan Islam Terpadu) dan SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) sebagai sarana pemupuk benih radikalisme Islam. Bahkan dia mengatakan bahwa lagu-lagu jihad Palestina yang biasa dinyanyikan oleh siswa-siswa lembaga pendidikan tersebut mengancam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan bertentangan dengan Pancasila. Diskusi yang mengetengahkan tema tentang deradikalisasi untuk mengatasi kasus-kasus kekerasan atas nama agama itu diselenggarakan di Hotel Atlet, Jakarta (10/1).

Pernyataan Ismail Hasani sebagian memang tepat. Dulu, di zaman pergerakan nasional, sekolah memang menjadi tempat tumbuhnya sosok-sosok nasionalis radikal dan antikolonial. Ini menjadi dilema bagi penjajah Belanda pada saat itu, di lain pihak sekolah adalah tempat terbaik untuk menghasilkan administratur yang handal buat mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa sekolah memang menjadi tempat yang tepat untuk menyuburkan idealisme.

Sayangnya sekarang Ismail Hasani sama seperti orang-orang Belanda puluhan tahun lampau itu. Takut dengan munculnya benih-benih idealisme. Bedanya Ismail Hasani berkulit coklat, mereka berkulit putih. Dulu yang berkulit putih identik sekali dengan penindas.

Dengan pernyataannya, Ismail Hasani terlihat alergi dengan jihad Palestina seberapapun ia menyangkal. Jihad Palestina adalah perjuangan rakyat Palestina untuk memerangi kesewenang-wenangan dan penindasan yang dilakukan oleh para imperialis dan zionis Israel itu. Dan setiap gerakan perlawanan terhadap kesewenangan-wenangan imperialisme, dalam sejarah, disebut juga sebagai gerakan nasionalisme. Lalu apa yang salah dengan pengumandangan lagu-lagu jihad Palestina tersebut?

Atau semuanya bertitik tolak terhadap definisi nasionalisme yang dipakai oleh Ismail Hasani yang terlihat sempit ala Nicolas Chauvin. Semua orang yang ada di luar batas tanah air mereka tidak dipedulikan dan hanya mengurus semua yang berkaitan langsung dengan apa yang ada di dalam batas wilayahnya.

Islam mengajarkan nasionalisme yang lebih luas dari sekadar itu. Berbuhul pada ikatan akidah esensinya. Jika nasionalisme itu adalah cinta, keberpihakan, rindu, berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman ketidakadilan, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putera-puteri bangsa, memperkuat ikatan kekeluargaan antar anggota masyarakat, menyatukan diri dalam sebuah keluarga besar yang bernama NKRI dengan tetap turut merasakan apa yang saudara-saudara muslim rasakan di belahan manapun, maka Islam mengakuinya. Dan itulah nasionalisme dengan segala kebaikan yang ada untuk tanah air ini.

Yang tidak dibaca oleh Ismail Hasani juga adalah peran serta, opini serta dukungan dari rakyat Palestina terhadap proklamasi kemerdekaan republik Indonesia yang pada saat itu hanya secara de facto. Butuh pengakuan dari bangsa-bangsa lain untuk dianggap berdaulat dan sejajar dengan bangsa merdeka lainnya.

Terkecuali memang Ismail Hasani sudah memakan mentah-mentah tanpa dikunyah tuduhan Israel dan Ameriksa Serikat terhadap gerakan perlawanan Palestina sebagai gerakan terorisme. Maka wajar ia menyamakan lagu-lagu jihad Palestina itu sebagai lagu perusak NKRI. Dan ia membalas dengan tuba partisipasi rakyat Palestina itu untuk kemerdekaan negeri ini.

Ismail Hasani juga lupa dengan sejarah atau memang pemikirannya yang sudah kena virus deislamisasi penulisan sejarah kalau kemerdekaan republik ini diperoleh dengan keringat dan darah yang dikorbankan para ulama dan santri yang mengobarkan semangat jihad untuk melawan penjajah Belanda. Atau aksi jihad yang dilancarkan seorang panglima besar Soedirman yang merupakan mantan seorang guru Moehammadijah.

Bung Tomo sudah kadung terkenal dengan teriakan takbir dan seruan jihadnya pada 10 November 1945. Tak terlepas 18 hari sebelumnya, kakek Gus Dur—salah seorang badan pendiri SETARA Institute—yang bernama Kiai Haji Hasyim Asy’ari mendeklarasikan resolusi jihad: perang suci melawan Belanda yang ingin kembali menjajah.

Ada sebuah tuntutan terhadap Ismail Hasani sebagai penuduh untuk membuktikan bahwa menyanyikan lagu-lagu jihad Palestina itu bertentangan dengan Pancasila. Sila yang keberapa? Sila pertamakah? Kedua? Atau sila yang mana? Bukanlah pula nasyid-nasyid jihad Palestina adalah juga lagu-lagu perjuangan. Lalu apakah ada jaminan bila lagu-lagu perjuangan selain nasyid yang jika dikumandangkan akan menghasilkan manusia yang pancasilais?

Amir Sjarifoeddin Harahap, mantan perdana menteri RI yang menandatangani perjanjian Renville, sebelum ditembak mati menyanyikan lagu L’Internationale—lagu kebangsaan kelompok Bolsyevik Uni Soviet—dan Indonesia Raya, padahal ia adalah seorang komunis. Lagu-lagu perjuangan diperdengarkan setiap tahun namun Indonesia masih jago dalam hal korupsi. Jadi akan terlalu sempit bila sebatas lagu menjadi ukuran sosok berkarakter kuat pancasilais.

Dan saya meyakini betul, kalau di TKIT dan SDIT itu diajarkan pula tentang lagu-lagu perjuangan, tidak hanya nasyid jihad Palestina yang menjadi pelengkap acara hiburan pada saat pelepasan murid-muridnya.

Pada akhirnya saya hanya khawatir, bahwa Ismail Hasani cuma menjadi kepanjangan suara dari negara-negara barat yang gemar menuduh serampangan kepada mereka yang berseberangan dengan kepentingan besar negara-negara tersebut. Setelah dulu madrasah dan pesantren dituduh sebagai tempat perkecambahan radikalisme. Sekarang TKIT dan SDIT. Lalu besok apalagi?

Si penuduh wajib memberi bukti dan si tertuduh wajib memberikan sumpah. Kaidah elok untuk Ismail Hasani.

Wallohua’lam bishshowab.

***

 

Riza Almanfaluthi

Penulis dan Blogger

dedaunan di ranting cemara

01.30 Citayam 14 Januari 2011

 

Tags: ismail hasani, setara institute, gus dur, hasyim asy’ari, amir syarifuddin harahap, komunis, palestina, nasyid, amir sjarifoeddin harahap, bolsyevik uni soviet, nasionalisme, imperialisme, israel, zionisme, nicolas chauvin, jihad, radikalisme, terorisme, l’internationale

INULISASI


25.01.2006 – INULISASI

INUL, GUS MUS, GUS DUR
Masyarakat Indonesia kini digemparkan kedua kalinya oleh Inul dengan adanya pengharaman Bang Haji Rhoma Irama atas lagu-lagunya yang dinyanyikan oleh Inul, Annisa, Uut dan kawan-kawan. Alasannya mereka telah menjual erotisme dalam musik dangdut yang telah diperjuangkan oleh Bang Haji dalam tiga dekade terakhir untuk menjadi musik kelas atas yang disegani oleh siapapun.
Terelepas dari hukum syar’i mengenai musik, maka kita dapat melihat betapa pada masa sekarang, seseorang yang benar-benar dan jelas-jelas mengumbar aurat dan erotisme seksuil dihadapan ribuan bahkan jutaan pasang mata, telah dibela habis-habisan oleh para penggemarnya mulai dari kalangan artis sendiri, para wartawan, pakar hukum, feminis, pembela HAM, para “kyai”, bahkan DSH Netters pun turut turun tangan.
Secara kasarnya jelas sekali terdapat dua kubu disini. Kubu pertama “FPI” (Front Pembela Inul) yang dibelakangnya banyak juga terdapat para kyai Jawa Timur, dan kubu kedua kubu anti Inul yang dibelakangnya ada MUI (Majelis Ulama Indonesia bukan Majelis Urusan Inul), Front Anti Pornografi dan Pornoaksi, serta Bang Haji Rhoma Irama dengan PAMMI-nya.
Di sini tidak perlu saya ungkapkan argumen dari kubu kedua, yang diungkapkan disini adalah argumen kubu pertama antara lain sebagai berikut:
1. Konsultan Hukum menyatakan bahwa ia akan mengumpulkan sejuta tanda-tangan untuk terus mendukung kreatifitas Inul (yang menurut kalangan dari Kubu Kedua kreatifitas Inul hanya sebatas kreatifitas pantat belaka, maaf);
2. Feminis menyatakan bahwa telah terjadi ketidakadilan gender;
3. Salah satu Artis Sinetron penggerak demo mendukung Inul menanggapi seruan Bang Haji dengan menyatakan bahwa Tuhan yang mana yang diserukan Bang Haji? Dan umat yang mana dibelakang Bang Haji? Tak perlu bawa-bawa agama dong dalam urusan beginian?;
4. Pembela HAM menyatakan bahwa telah terjadi pemasungan terhadap seseorang untuk berkreatifitas;
5. Gus Mus (Mertuanya Ulil Absar Abdilla) menyatakan bahwa goyangannya Inul merupakan goyangan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci;
6. Gus Dur menyatakan bahwa tidak ada yang berhak melarang seseorang tampil di TV kecuali Mahkamah Agung.
Ada tambahan beberapa komentar lagi dari DSH Netters, salah satunya pernah berujar bahwa ada hikmah yang dapat diambil dari “ngebornya” Inul. Bahkan ada yang sampai menyatakan bahwa “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya”.
Komentar dari konsultan hukum, feminis, artis sinetron, pembela HAM sepertinya tak perlu ditanggapi pula karena kita tahu siapa mereka. Tentunya mereka memandang dari satu sisi saja yakni sisi “berkesenian”nya Inul.
Komentar dari salah satu DSHNetters tentang ada hikmah yang dapat diambil sudah ditanggapi oleh Saudara kita Al-Itsar yang pada intinya kita harus melihat terlebih dahulu seberapa besar mudharat atau manfaat yang timbul dari “sesuatunya” Inul itu dan kita tahu dengan jelas mudharatnya ternyata sangat jauh lebih besar dari manfaatnya.
Yang perlu “sedikit” (tidak perlu banyak-banyak soalnya kalau terlalu banyak buang-buang energi saja) kita cermati adalah komentar-komentar dari dua kyai kita ini, yang dua-duanya adalah juga satu daerah dengan Inul, sama-sama orang Jawa Timur.
Saya tidak tahu apakah pembelaan mereka terhadap Inul karena sama-sama satu daerah atau karena Inul adalah salah satu ikon yang akan menjadi maskot PKB kelak di 2004? Semoga saja tidak. Semoga pembelaan mereka semata-mata karena membela Muslim yang “teraniaya” (menurut mereka), tapi anehnya pembelaan mereka sepertinya tidak terlihat ketika benar-benar terjadi penganiayaan bahkan sampai terjadi pengusiran dan penghilangan nyawa atas ribuan saudara-saudara Muslim yang ada di Ambon dulu? Allohua’lam.
Kalau berargumen bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan lalu mengapa kita diperintahkan Allah bahwa untuk selalu memusuhi musuh yang nyata yakni Iblis dan para syaitan yang jelas-jelas mereka adalah juga ciptaan Tuhan juga.
Harusnya kalau Gus Mus tetap ngotot bahwa goyangan Inul itu ciptaan Tuhan, kiranya perlu ditambahkan dibelakangnya dengan kalimat “yang wajib kita perangi” karena asal muasalnya dari syaitan yang berusaha menggoda manusia dengan bangkitnya syahwat dan bukan dari Allah langsung, karena Allah adalah Maha Suci dan Maha Sumber Kebajikan. Lagi-lagi di sini kita memakai logika ‘aqidah, logika Asmaul Husna.
Bahkan argumen “goyangan Inul itu betul-betul ciptaan Tuhan kalau ia melakukannya hanya di depan suaminya” terbukti keliru besar karena ternyata goyangan itu dilakukan Inul tidak hanya di dihadapan suaminya saja namun di depan jutaan pasang mata yang bukan muhrimnya. Jadi jelas sekali itu bukan ciptaan Tuhan Yang Maha Suci.
Kalaupun subjek pelakunya bukanlah Inul tapi para istri yang berusaha menyenangkan hati para suaminya, bisa-bisa yang timbul dalam benak para suami yang tak kuat iman adalah fantasi seks dengan citra Inul (maaf) yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam.
Tentang komentar Gus Dur, kita pun tahu beliau hanya tahu dari bisikan orang-orang di samping beliau. Semoga dengan silaturahim Bung Haji dengan beliau, membuka “mata” dan “mata hati” kita tentang perlunya mengedepankan etika moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sudah satnya kita perlu mengusahakan adanya televisi Islam yang berasal dari umat, oleh umat, dan untuk umat.
Ada satu keresahan dalam hati saat mula terjadi Inulisasi ini, yakni saat MUI yang beranjur kepada umatnya. Tak ada sambutan hangat bahkan pertanyaan, hujatan, cacian kepada sebagian ulama kita.
Contohnya pembelaan sebagian teman-teman saya di kantor, dan anehnya sebelum melakukan pembelaan terhadap Inul mereka akan memulainya dengan kalimat berikut ini: “saya tahu Islam telah melarang hal yang demikian, tapi bla…bla…bla…” Sebelum pernyataan itu berubah menjadi perdebatan panjang. Saya hanya berbicara demikian: “stop…stop…stop…itu saja, pakai yang di awal kalimat itu”. Saya tak tahu hukum mana lagi yang begitu sempurna mengatur kehidupan kecuali Al-Islam.
Adalagi teman saya yang lain bertanya, “mengapa harus Inul bukan yang lainnya yang lebih erotis dan lebih gila lagi?” Menurut saya itu karena Inul yang ini begitu di Blow up dan dibesar-besarkan oleh media. Kalau kita membiarkan yang satu ini muncul dengan adem ayem saja maka Inul lainnya akan senantiasa menghiasi layar televisi kita dengan santainya dan tanpa rasa bersalah. “ Satu-satu Bung…..!”
Teman saya yang satu lagi bertanya, “kenapa tidak memberantas terlebih dahulu VCD porno yang jelas-jelas meresahkan masyarakat? Lagi-lagi saya bilang “satu-satu Bung…” dan MUI pun sudah tak perlu memfatwakan haramnya VCD Porno karena Islam sudah dengan jelas dan terangnya menjelaskan tentang keharamannya.
Di sini pun karena pemerintah dan kaum feminis di satu sisi dan masyarakat anti pornografi di sisi lain masih berdebat dalam hal definisi pornografi. Menurut saya mengingkari kewajiban menutup aurat itu sudah merupakan aksi porno itu sendiri.
Yang lebih miris lagi, banyak orang berbondong-bondong untuk segera berdiri di belakang kemaksiatan, melihat semua ini bagaimana Allah akan segera menghilangkan segala azab dan bencana yang menimpa bangsa dan Negara ini. Sungguh dunia ini terbalik.
Akhirnya bersyukurlah kepada Allah atas “penglihatan” yang diberikan-Nya kepada kita, sehingga kita langsung jelas melihat mana yang sesungguhnya haq dan mana yang sesungguhnya bathil. Sehingga kita tak perlu tersesat terlebih dahulu untuk menuju yang haq itu. Untuk itu, tak lupa pada setiap akhir sholat selalu kita lafalkan” Ya Alloh tunjukilah yang haq itu haq sehingga kami bersegera untuk selalu menujunya, dan tunjukilah yang bathil itu bathil sehingga kami pun bersegera untuk selalu menjauhinya.”
Semoga tulisan ini bukan juga untuk membuat Inul semakin di Blow Up.
“Teu aya dei ugi abdi ucapkeun, mung salam ukhuwah, kahormatan, hapunten ka sadayana ti abdi, saudara seiman. Allohua’lam bishowab.
riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2004
Diedit 12:38 24 Januari 2006