Trans-Pacific Partnership: Berisiko Buat Indonesia? (1)


Setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden, Amerika Serikat hengkang dari Trans-Pacific Partnership (TPP) di awal 2017. Meskipun demikian, ini tidak membuat gamang 11 negara anggota lainnya. Mereka berkeinginan untuk melanjutkan perjanjian perdagangan bebas berstandar tinggi itu. Bagaimana dengan Indonesia yang upayanya hanya sebatas melakukan studi?

Empat tahun lalu, tepatnya pada November 2013, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) mengeluarkan jurnal kajian edisi ke-16 yang berjudul Implikasi Kerjasama Trans-Pacific Partnership Guna Meningkatkan Peran Indonesia di Kawasan ASEAN dalam Rangka Ketahanan Regional.

Baca Lebih Lanjut.

Trans-Pacific Partnership: Berisiko Buat Indonesia? (2)


Di bagian pertama (di sini) dijelaskan tentang TPP dan hasil kajian dari Lemhannas. Berikut lanjutannya:

Kajian Ditjen Pajak

Akan banyak peraturan yang harus diubah jika Indonesia ikut di dalamnya. Termasuk aturan perpajakan.

Terkait Itu, Subdirektorat Dampak Kebijakan, Direktorat Potensi Kepatuhan dan Penerimaan, Ditjen Pajak telah mengeluarkan kajiannya di tahun 2016 yang berjudul Kesepakatan Trans Pacific Partnership: Peluang atau Ancaman bagi Indonesia?

Baca Lebih Lanjut.

Tujuh Hal Monumental di 2017, Dagang-El Salah Satunya


 

Banyak program, kegiatan, dan isu pajak yang mengemuka di 2017. Tujuh di antaranya monumental sebagai landasan kokoh bagi pengamanan penerimaan pajak ke depan.

Pertama, Amnesti Pajak. Pemerintah memberikan kesempatan kepada wajib pajak untuk mengungkapkan kesalahan atau kealpaan terkait kewajiban perpajakan di masa lampau, tanpa dikenakan sanksi maupun tuntutan hukum dengan membayar sejumlah uang dengan nilai atau persentase berdasarkan perhitungan tertentu.

Baca Lebih Lengkap.

Tak Ada Derek dan Sabari Pagi Ini


“BULAN DESEMBER***ini saya baru lari 12 kilometer. Jadi bagaimana supaya saya bisa mempersiapkan diri buat lari 30 kilometer di malam tahun baru dari Depok ke Bogor?” tanya saya kepada bujang ganteng itu. Ia juga ikut di even Tugu ke Tugu ini.

“Besok Minggu Half Marathon saja,” jawabnya. Baiklah. Akhirnya saya canangkan target besok pagi hari Ahad ini saya akan lari 24 kilometer. Setara 80% dari 30 kilometer. Kata pelari pro sih begitu katanya. Minimal kalau latihan ya ambil 80% dari jarak tempuh lomba.

Baca Lebih Lanjut.

Menjinakkan Lapar


(Juanda, Juanda)
Tentangmu adalah sepiring remah yang menempel di pipi senja. Gembil. Cuma langit Jakarta yang bisa bercerita begitu. Juga karena aku bergerak lebih cepat daripada ingatan yang tergenang di pikiranmu. Lebih cepat surut. Lebih dapat diucap mulut. Malam jadi ingin diputar kilat pada tape recorder yang sebentar lagi musnah. Untuk berada di side B.

(Gondangdia, Gondangdia)
Pohon-pohon seperti pelari maraton. Ia tak mudah lelah memantik matamu bercahaya, hidup, dan tak mudah lupa. Ia tak butuh ikan-ikan mujair untuk memakan daun-daun ingatannya apalagi kenanganmu untuk menggemukkannya. Percayalah, ia yang paling tabah memotong tubuhnya untuk dijadikan kertas. Di sanalah puisi-puisi tentangmu kutulis, untuk kaubaca, dan diserahkan kepada api.

(Cikini, Cikini)
Api di sebatang korek api. Meluruhkan laparku dalam segelas kopi. Tak cukup sekerat roti. Sediakan setelaga mimpi. Sungguh laksmi.

(Manggarai, Manggarai)
Aku terjun ke dalamnya. Ke dalammu.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Commuter Line nan Sesak, 20 Desember 2017 .

Percikan Pengakuan


Percikan air mata ibu yang kehilangan anak-anak yang didamba.
Aku!

Percikan debu dari batu yang dilempar para pemuda.
Aku!

Percikan batu bata runtuh dari tembok-tembok kudus nan tak ternoda.
Aku!

Percikan doa ke ujung langit untuk segenggam mahardika.
Aku!

Percikan debum di roket buat kota-kota mereka.
Aku!

Percikan senyum di paras wajah para syuhada.
Aku!

Percikan aib untuk kaututupi dengan wangi cendana.
Aku!

Percikan nasib pengharap surga dari samudra dosa.
Aku!

Percikan api di ujung-ujung peluru yang menembus dada.
Aku!

Percikan apa lagi setelah hari hari penuh renjana?
Aku?

Mengaku: aku.

Mengaku-aku.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Sebuah tugu, 17 Desember 2017

Sembunyi Segala Bebunyi


Ketika aku tiba di wadahmu sepenuh tabah
Aku ​berenang di kulitmu yang ​menggenang
Aku mereguk airmu seteguk dua teguk.

Aku kesedihan yang menjadi hujan.
Aku mata air kesepian yang keletihan.
​​Aku sembunyikan ​segala bebunyian

Aku riakmu tanpa gelombang
Aku cerminmu tanpa bayang
Aku teduhmu tanpa ​rindang ​

kapankah aku menjadi bedinda
di haribaan kata-kata
di haribaan kata
di haribaan
di

mu.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 14 Desember 2017
Instagram from @natgeo photo by: @jayaprakash_bojan

Tenggelam di Sisimu yang Menyala


dan aku tenggelam di sisimu yang menyala
dan aku memelukmu dengan cahaya
dan aku menyaksikan pungguk di dahan semboja

dan aku seperti tembikar yang ada di dasar laut jawa
dan aku seperti terbakar berada di panas bara jiwa
dan aku seperti belukar meranggas di kiri dada.

di suatu bangku kayu, tukang ketoprak menghampiri.
ia menyerahkan sepiring sajian untuk dinikmati.
“puisimu tak akan bisa membuat pedas ketoprak ini,”

katanya. langit meringis. lalu gerimis.
rinduku majal. terpental-pental.
hari ini hari apa? malam ini malam apa?

dari jauh, pungguk masih menatapku kasihan
kami beradu pertanyaan
harimau pertanyaannya atau banteng
ketaton pertanyaanku yang akan menang?

sepiring ketoprak itu tandas,
pedasku dibawa terbang,
dan aku ingin  tenggelam di sisimu yang menyala
dan aku ingin memelukmu dengan cahaya

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Citayam, 10 Desember 2017

Instagram Picture and Featured Artist: @dotzsoh

 

Sentilan di Sentul: Konsinyering atau Konsinyasi?


Judul pertemuannya menyelentik urat kebahasaan saya.

Saya meluruh. Dengan seluruh. Seperti bunyi yang ada di ujung petir. Apa coba?

 

Di suatu masa, salah satu bagian Tim Reformasi Perpajakan mengadakan sebuah rapat di luar kantor, tepatnya di sebuah hotel di bilangan Tangerang pada pertengahan 2017. Rapat itu berjuluk panjang yang diawali dengan kata konsinyering pada sebuah latar belakang (backdrop) besar yang dipasang di panggung rapat.

Saya ingat, ini adalah rapat dengan jenama konsinyering yang pertama kali saya ikuti selama saya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Dalam percakapan, kata ini biasa disingkat juga dengan kata konser.

Baca Lebih Lanjut.

Seperti Aku Mencintai



Aku mencintai pagi
seperti aku mencintai matahari
ia pemilik janji untuk para petani
dan para penjala di rawa-rawa sepi

Aku mencintai pagi
seperti aku terbangun dari mimpi
setelah mendayung sampan sendiri
menuju segalamu yang nisbi

Apalah aku sebagai biru
merah yang membatu
jingga yang memburu
dan seluruh warna purbamu

Genggaman di pangkuanmu
bisikan di suatu hari:
aku mencintaimu
seperti aku mencintai pagi

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
2 Desember 2017

Terima kasih kepada Mas @herrywondo yang telah menghibahkan foto ini, supaya bisa dikata-katain, supaya bisa dipuisi-puisiin, supaya bisa di-caption, supaya bisa…ah sudahlah. Terima kasih banyak, Mas. Danke schön.