Empat Hal Ini Menjawab Mengapa Mental Free Athletes Berbeda dengan Mental Orang Biasa



Teman-teman. Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Sudah 2,5 tahun saya berkecimpung dengan dunia Freeletics. Alhamdulillah saya masih konsisten untuk berlatih. Walaupun tentu dengan usaha yang lebih dikarenakan kesibukan dan ketiadaan waktu.

Sewaktu di Tapaktuan saya masih sempat untuk berlatih di pagi hari sebelum ke kantor atau di sore hari sebelum Magrib datang.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Freeletics Pada Saat Sibuk: Top 3 Quickest Freeletics Bodyweight Workout



Sebuah komentar masuk di blog saya. Dari seorang pembaca blog bernama Aca Wahyu Bangkit. Komentarnya begini, “Tulisan-tulisan tentang Freeletics dari Mas, jadi salah satu motivasi saya menyelesaikan program Freeletics setiap minggunya. Terima kasih banyak Mas.”

Alhamdulillah kalau tulisan saya banyak manfaat buat orang lain. Setidaknya menginspirasi orang lain untuk bergerak. Kali ini saya akan membagi sebuah artikel yang sekiranya juga bermanfaat buat teman-teman pembaca. Buat mereka yang sudah berusaha untuk menekuni Freeletics namun menghadapi kendala bagaimana mempertahankan konsistensi apalagi di saat pekerjaan menumpuk dan menyita waktu.

Baca Lebih Lanjut.

Testimoni yang Menginspirasi



Ada seseorang yang bertanya kepada saya dengan memakai jalur pribadi di sebuah aplikasi percakapan. Ia bertanya begini, “Mas Riza, masih jalan terus Freeleticsnya?” Sebuah pertanyaan yang biasa dan barangkali diajukan karena di blog saya sudah jarang artikel yang saya tulis bertemakan Freeletics.

Saya jawab waktu itu dengan kalimat, “Alhamdulillaah masih.” Sampai catatan ini saya tulis saya tetap konsisten untuk menjalankannya. Saya sudah di level 65. Telah 863 latihan saya jalani. Berat badan masih stabil di kisaran 60 kg sampai dengan 62 kg. Bahkan di Ramadhan 1437 H lalu berat badan saya sampai menyentuh angka 56 kg.

Baca Lebih Lanjut.

DIGERTAK ANJING


pekanbaru


Biasa mulai lari jam 6.30 pagi waktu Tapaktuan, ini berarti waktu yang terlambat di Pekanbaru. Jalanan ramai, padat, dan tidak friendly dengan pelari atau sejatinya karena saya salah arah? Kehendak awal mau susuri jalan lebar pusat kota Pekanbaru malah menyasar ke perumahan dengan jalanan yang barangkali pelari Kenya pun setidaknya akan berpikir dua kali untuk memecahkan waktu terbaiknya.

Jalanan yang menanjak itu menggetarkan saya. Mental tangguh belum ajeg terbangun. Membuat saya harus mengubah rute lari pagi di kota Madani ini. Saya masuk ke sebuah perumahan yang mayoritas penghuninya adalah Tionghoa. Menyusuri pinggiran sungai, melewati banyak kelenteng yang semarak dengan hiasan menyambut tahun baru imlek, dan tentunya makhluk berkaki empat: anjing.

Anjing pertama nongkrong di pinggiran jalan. Warnanya hitam. Dia sempat menengok kepada saya. Dia bergeming. Saya cukup waspada. Tetapi dia asyik menikmati pagi, acuh dengan keberadaan saya yang bergegas dan terengah-engah menyusuri kilometer kelima.

Baca Lebih Lanjut.

RUNNING IN THE RAIN



Langit Cibinong mulai gelap di pagi itu. Tapi keramaian di Jalan Tegar Beriman Pemda Cibinong masih tampak. Jalanan yang bersih dari pedagang sekarang, banyak memberi ruang kepada para pengguna jalan terutama mereka yang mau berolah raga di pagi minggu ini.

Pemuda-pemudi jalan-jalan santai. Aroma parfum menguar kalau saya melewati serombongan dari mereka. Ke mal atau olah raga? Bisa dihitung dengan jari yang benar-benar olah raga atau lari.

Baca Lebih Lanjut.

MY FIRST HALF MARATHON



Di Tapaktuan saya masih ragu bawa sepatu lari atau tidak. Tapi daripada kelamaan mikir akhirnya saya bawa ke Banda Aceh. Kebetulan Senin nanti ada dinas di sana.

Dari Tapaktuan malam hari naik travel Sempati. Di travel saya usahakan sebisa mungkin buat tidur. Alhamdulillah bisa. Jadi insya Allah belum berasa capek walau menempuh jarak 500km-an. Tiba di Banda Aceh jam 7.45 pagi.

Sampai di hotel langsung ganti kostum dan pakai sepatu lari walau belum sarapan. Sayang banget kalau hari Ahad tak dipakai buat lari. Kali ini saya punya tekad buat lari sejauh 21,1 km. Belum pernah mencoba. Paling jauh 15 km, itu pun bulan Maret 2015 lalu.

Setelah pemanasan sebentar dan aktifkan GPS di Garmin langsung lari. Tentu sebelumnya doa dulu buat dikuatkan oleh yang Maha Kuat, Allah swt. Bismillah.

Baca Lebih Lanjut.

FREELETICS WOCHE 15: 300! My Hell Week



Tiga ratus orang Sparta, menghalangi ratusan ribu pasukan Persia di sebuah celah sempit “Gerbang Panas” Thermophylae, 2495 tahun lalu. Unjuk kekuatan itu melegenda. Menjadi sebuah simbol atas sebuah kegigihan dan kekuatan melawan sebuah kemustahilan.

**

Hujan di Jumat (17/4) pagi itu tak henti-hentinya mengguyuri Tapaktuan. Derasnya tak terkatakan lagi. Kalau sudah demikian walaupun durasinya sebentar alamat mes akan kebanjiran. Dan betul, Bang Koen dan Bang Toels yang berjaga di sana sudah beri pesan kalau air sudah mulai naik. Terpaksa saya cabut dari kantor untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

  Baca Lebih Lanjut