DIGERTAK ANJING


pekanbaru


Biasa mulai lari jam 6.30 pagi waktu Tapaktuan, ini berarti waktu yang terlambat di Pekanbaru. Jalanan ramai, padat, dan tidak friendly dengan pelari atau sejatinya karena saya salah arah? Kehendak awal mau susuri jalan lebar pusat kota Pekanbaru malah menyasar ke perumahan dengan jalanan yang barangkali pelari Kenya pun setidaknya akan berpikir dua kali untuk memecahkan waktu terbaiknya.

Jalanan yang menanjak itu menggetarkan saya. Mental tangguh belum ajeg terbangun. Membuat saya harus mengubah rute lari pagi di kota Madani ini. Saya masuk ke sebuah perumahan yang mayoritas penghuninya adalah Tionghoa. Menyusuri pinggiran sungai, melewati banyak kelenteng yang semarak dengan hiasan menyambut tahun baru imlek, dan tentunya makhluk berkaki empat: anjing.

Anjing pertama nongkrong di pinggiran jalan. Warnanya hitam. Dia sempat menengok kepada saya. Dia bergeming. Saya cukup waspada. Tetapi dia asyik menikmati pagi, acuh dengan keberadaan saya yang bergegas dan terengah-engah menyusuri kilometer kelima.

Anjing kedua saya temui ketika saya berbelok ke kanan, ke sebuah jalan buntu dengan palang kayu. Masih jauh sih ujungnya, tapi di ujung itu anjing jenis herder ini benar-benar di tengah jalan, sepi pula, tak ada orang. Benar-benar dengan kepala mendongak saat melihat saya. Seperti pengawal makam Firaun di piramid Giza. Ini bikin jiper. Tak mungkin saya melewatinya. Saya tak mau ambil risiko, sebelum saya head to head dengan anjing itu, saya putar balik. Saya bukan Cesar Millan, dog whisperer itu.

Saya harus segera keluar dari kompleks ini untuk kembali susuri jalanan ramai Pekanbaru. Persis di jalanan terakhir yang akan saya lalui menuju gerbang kompleks ini, tiba-tiba seekor anjing keluar dari sebuah rumah dengan salakannya yang nyaring. Mengejutkan. Sempat kaget dan berhenti sambil berteriak hush hush hush. Dia berhenti tak melanjutkan. Hmpfff…akhirnya saya lanjut lari lagi. Syukur, anjing itu tak mengejar, kalau tidak, saya tak tahu apakah jurus jongkok masih berlaku ampuh menghadapi anjing di zaman moderen ini.

Benar-benar tak tahu. Apakah selain DNA, ketakutan terhadap jongkoknya manusia juga diwariskan dari para indukan anjing kepada generasi penerusnya? Hati-hati Nak, kalau manusia jongkok itu berarti ia sedang bersiap-siap melempar batu yang akan membuatmu lari terkaing-kaing. Jadi berhentilah. Jangan mengejar. Benar-benar tak tahu.

Ketidaktahuan saya juga sejalan apakah anjing-anjing itu jantan atau betina. Padahal di Tapaktuan, masalah jenis kelamin itu penting dalam sebuah acara syukuran. Kambing yang dipotong haruslah jantan. Ini soal gengsi. Kambing jantan lebih mahal tapi dagingnya lebih sedikit daripada kambing betina. Padahal kalau sudah dibumbui dengan bumbu kari Aceh yang khas itu dan kalau telah masuk mulut kita tidaklah akan tahu daging yang sedang kita kunyah ini apakah daging dari kambing jantan atau betina.

Di Tapaktuan jarang saya temui anjing. Setelah dua tahun di sana baru saya menemukan sepasang anjing yang sedang mengais-ngais sampah di jalanan Tapaktuan di waktu shubuh. Itu pun mereka lari terbirit-birit ketika saya pura-pura jongkok. Mereka takut.

DNA mereka terwariskan bersama ketakutan melihat manusia jongkok. Tapi entahlah kalau pitbull yang berada di hadapan saya. Takut? Bisa jadi.

Tetaplah berlari.

Hog…hog…!!!

Catatan lari:

Tanggal Lari : 4 Februari 2016

Lokasi Lari : Kota Pekanbaru

Jarak tempuh : 10 km

Waktu tempuh : 01 jam 3 menit 34 detik

Pace : 6:21 menit/km

Kalori : 659 Kcal

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Pekanbaru, 4 Februari 2015

2 thoughts on “DIGERTAK ANJING

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s