Cerita Lari: Kejadian Lagi, Digerebek Belasan Anjing


Sebuah tempat dan waktu.

Angin berembus kencang di Gunung Geulis bakda Subuh ini. Tetapi tidak menyurutkanku untuk segera memulai lari pagi. Sudah ada target 13 km di depan. Rutenya sudah kupatok: memutari lapangan golf. Seumur-umur belum pernah ke lapangan golf.

Ada tiga hari latihan lari yang mesti kuselesaikan pada pekan ini. Hari Jumat (19/7) ini adalah hari kedua setelah kemarin saya menuntaskan 13 km yang pertama. Total ada 39 km untuk pekan ini.


Minggu depannya adalah masa tapering menjelang Bandung Marathon. Targetnya cukup berlari 5 km selama dua kali saja.
Nah, pagi ini aku berlari santai. Sebelumnya, aku tidak melewatkan pemanasan. Ini mah penting banget yah. Supaya larinya benar.

Di lapangan golf ini ada jalan buat mobil golf. Pas banget buat trek lari. Aku mulai lari ke arah kiri. Tentu trek lari ini mengikuti alur lapangan golf yang bergelombang, naik turun itu. Ya sudah dilakoni saja. Yang penting selesai 13 km.

Di suatu titik ada jalan keluar dari trek lari itu. Menuju jalan aspal yang lebih besar lagi dan sepi. Aku belok kanan dan menuju ketinggian lagi.

Tiba-tiba dari jarak 50 meter dari posisiku, keluar seekor anjing dari semak-semak. Ia menyeberang ke sebuah rumah yang berhalaman luas. Ia menyempatkan diri untuk menggonggong sekali saja kepadaku. Aku masih santai.

Yang selanjutnya tidak santai. Karena ternyata ia keluar lagi dengan membawa rombongan anjing. Banyak. Banyak. Aku tidak sempat menghitung. Belasan. Lebih malah.

Mereka menggonggong dengan serunya dan mulai menghampiriku yang berlari-lari kecil. Deg!!!

Aku sudah pengalaman dikejar anjing saat lari. Kalau satu, gampang, tinggal teriak dan menunduk pura-pura ambil batu. Tetapi ini banyak!! Banyak!! Aku digerebek belasan anjing.

Walaupun deg begitu, aku masih tidak panik. Aku langsung berdiri menghadapi mereka, sambil mengacungkan tangan tinggi-tinggi ke atas kepala dan berteriak, “Hush!! Hush!! Hush!!” Mereka mundur. Aku pun mundur. Pas mundur ini mereka maju lagi. Aku pun maju kembali ke arah mereka sambil tetap mengacungkan tangan ke atas.

Pelajaran menonton video bertahan hidup di Instagram dan The Dog Whisperer Cesar Millan di televisi kabel berguna saat ini. Aku terapkan langsung. Aku tidak boleh memberikan punggung kepada mereka. Karena sekali aku membelakangi, mereka pasti mengejarku.

Aku benar-benar bersemuka dengan para anjing dengan meninggikan aura keberanianku. Aku enggak boleh takut karena mereka makhluk yang bisa membaca rasa takut. Untungnya anjing-anjing itu bukan pasukan Parademon dalam Justice League yang memangsa rasa takut setiap makhluk hidup. Sekali takut, habis kita.

Aku tak menerapkan posisi jongkok kali ini. Untuk pura-pura ambil batu. Enggak. Enggak kulakukan. Sebab soal mereka begitu banyaknya.

Maju mundur, maju mundur ini sampai tiga kali. Sampai ada ibu-ibu berjilbab (aku pikir dia adalah pemilik gerombolan anjing ini) keluar dari rumah sambil bilang pakai Bahasa Sunda kurang lebih begini: “Sudah lewat aja. Cuekin aja!”

Bagaimana bisa cuek kalau aku mundur, mereka tetap maju, menggonggong, dan mengejarku. Eh, ibu- ibu itu pergi saja entah kemana. Masuk lagi ke rumahnya kali.

Peta Lari di lapangan golf. Yang dilingkari adalah lokasi pertemuanku dengan gerombolan anjing.

Ya sudah, aku menghadapi mereka kembali sendirian. Aku harus berpikir keras untuk keluar dari kondisi seperti ini. Anjing-anjing ini anjing-anjing muda.

Aku mundur pelan-pelan. Mereka maju. Tetapi ketika aku maju mereka malah mundur. Aku sengaja menjulurkan tanganku agar bisa mengelus-elus kepala mereka. Sekalian najis. Enggak apa-apa. Kan, bisa dibasuh juga sampai suci. Makanya aku menjulurkan tangan kembali. Enggak ada yang mau kubelai. Mereka menolak rencana belaianku.

Puncaknya aku mundur pelan-pelan lagi. Mereka maju dengan membawa gerombolan yang lebih banyak. Termasuk para krucil mereka. Dan tiba-tiba mereka langsung diam dan masuk kembali ke halaman rumah. Seperti ada batin yang terhubung di antara mereka untuk mencukupkan gonggongan dan gertakan mereka kepadaku.

Pyuh, mimpi apa aku semalam? Tidak. Aku tidak bermimpi. Aku tertidur pulas.

Ya sudah, aku tidak meneruskan lari ke arah depan. Soalnya kalau nanti balik lagi pasti aku lewat jalan itu lagi dan menghadapi kembali gerombolan itu.

Aku kembali menuju lapangan golf dan memutarinya sebanyak dua kali untuk menuntaskan 13 km.

Alhamdulillah. Hari ini menjadi cerita yang tak bisa dilupakan. Ceritamu hari ini bagaimana?

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
19 Juli 2019

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.