Perempuan itu dan Sebuah Dojo



Di pagi yang bising dan buru-buru. Di hari ketiga Ramadan. Di hari pertama berkantor buat para pekerja. Dalam commuter line yang menghimpit sesak. Suara dari pelantang yang berusaha memecahkan gendang telinga menyerantakan kepada penumpang yang akan turun di stasiun berikutnya bahwa perhentian di hadapan adalah Stasiun Cawang. Saat itu kereta listrik ini baru saja berangkat dari Stasiun Duren Kalibata.

Bergegas saya menggeser maju ke arah pintu. Beranjak dari lapis kelima untuk menuju lapis-lapis terdepan, bahkan kalau bisa lapis pertama. Tak mudah melalui lapis-lapis itu. Butuh upaya mengempiskan jasad dan tenaga lebih agar bisa menggeserkan tubuh dan melewati rintangan badan yang kebanyakan lelaki ini. Sambil tak henti-hentinya keluar kata maaf dan permisi dari mulut. Sembari berharap Ramadan sanggup melembutkan hati orang yang berpuasa agar tak keluar kesah atau cacian karena desakan tubuh saya yang barangkali menyakitkan dan mengganggu kenyamanan mereka.

Sekarang, saya berada di lapis kedua. Tas saya angkat dan tempelkan ke dinding di atas pintu kereta tepat di atas kepala seorang perempuan yang ekor rambutnya berkali-kali menyapu hidung saya walau saya sudah berusaha menyingkir sejauh mungkin. Anda tahu seberapa pun jauhnya, itu tak lebih jauh dari jangkauan tulang leher kita.

Wajahnya ditutup masker. Ia sedang menunduk dan melihat telepon genggamnya. Ia sedang membaca sesuatu. Sebuah saat yang berarti ia sedang membuka diri walau tanpa sepengetahuannya.

Di commuter line tak ada yang namanya privacy dari apa yang kita lihat di sebuah layar telepon genggam. Kecuali ia memakai layar penghitam yang orang tak bisa melihat kecuali dirinya sendiri. Ada yang main game, baca berita, bercakap-cakap melalui aplikasi, Facebook-an, Twitter-an, Instagram-an, dan lain-lain kelakuan. Dan jangan salahkan para penumpang yang lain. Di dalam kereta, secara naluri para penumpang akan melihat sesuatu yang dirasa bisa mengusir rasa bosan, mereka akan mencari titik fokus yang bagus dan dinamis. Mereka yang berada di tengah dan dihimpit banyak orang, apa yang mereka lihat? Tak ada, kecuali tubuh-tubuh manusia.

Beruntunglah yang berada di hadapan jendela karena mereka bisa seenaknya melihat banyak fokus yang tak membosankan di sana. Atau mereka yang berdiri di depan dinding kereta dengan iklan artis yang memegang telepon genggam terbaru karena ia bisa dengan penuh selidik melihat detil wajah cantik artis itu. Atau mereka yang persis di bawah televisi kereta api yang menayangkan berbagai informasi apapun.

Stasiun Cawang beberapa ratus meter lagi di depan. Perempuan itu masih membaca sesuatu yang ternyata sebuah aplikasi dengan tulisan arab berjejal di bagian atas layar dan ada terjemah di bagian bawahnya. Membaca Alquran kiranya, pikir saya. Mata saya berusaha menjauh dari layar telepon genggamnya menatap keramaian di balik pintu kereta yang bergerak cepat menjadi pemandangan basi di belakang. Tapi layar telepon genggam itu memiliki magnet yang besar untuk menarik dan membetot kembali mata saya kepadanya.

Oh, bukan Alquran. Semacam aplikasi zikir, pikir saya lagi. Tulisan arab itu terbaca, kalau saya tak salah ingat:


Allahumma anta Rabbiy, laa ilaha illa anta, khalaqtaniy wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu, a’udzubika min syarri maa shana’tu, abu’u laka bini’matika ‘alayya, wa abu’u bidzambiy, faghfirliy fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta

Artinya : “Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji-Mu, semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat (yang Engkau anugerahkan) kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau.”

Saya membaca nama aplikasinya. Oh, ia sedang membaca Alma’tsurat. Subhanallah. Mantap nian. Di tempat sempit dan waktu yang tak memungkinkan ia sempat-sempatnya membaca zikir itu. Tiba-tiba ia menengok ke belakang dan mengajukan pertanyaan ini: “Mau turun, Pak?” Sebuah pertanyaan yang saya jawab dengan singkat saja, “Ya.”

Stasiun Cawang menyerah untuk dijejaki oleh puluhan orang yang turun dari commuter line itu. Saya turun sambil membawa sebentuk kekaguman. Banyaknya bukan kepada perempuan itu, melainkan kepada orang yang telah membuat susunan zikir pagi dan petang itu. Dengan ijtihadnya ia menyusun zikir yang biasa diucapkan Rasulullah saw, lalu menuliskannya untuk menjadi sebuah buku, yang sekarang sudah berada dalam sebuah aplikasi dan dibaca oleh begitu banyak orang dari zaman ke zaman.

Bisakah kita menghitung berapa banyak pahala kebaikan yang mengalir buat dirinya dan bisa mengantarkannya ke jannah Allah swt? Semoga menjadi amal jariyahnya.

Lalu saya mencandra kepada diri sendiri, seberapa banyak buku yang dimiliki dan dibaca apakah akan mampu mengantarkan ke surganya Allah swt? Juga dengan banyak tulisan dan gambar yang dibuat, bisakah memastikan mampu menjadi jalan terbaik ke sana? Jangan-jangan. Ah, jangan-jangan.

Setelah kejujuran, maka kebermanfaatan sebaiknya menjadi mata uang yang berlaku di mana saja. Ramadan menjadi titimangsa dan dojo terbaik buat berlatih menjadi jujur dan bermanfaat buat yang lain. Setelah itu barulah boleh kita memetik daun yang bernama: bahagia. Di sini dan di sana. Insya Allah.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Lantai 16, 30 Mei 2017

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s