Puisi ini ada di dalam buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan. Video ini dibuat sekali ambil. Disutradarai oleh kawan saya bernama Pak Harris Rinaldi. Tentunya saya mengucapkan terima kasih banyak atas semuanya. Untuk teman-teman yang ingin mengetahui dan memiliki buku itu silakan klik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi. Buku ini tidak terlihat seperti penampakan pada foto di bawah ini yang tebal sebegitunya. Total ada 68 halaman dan sudah cetakan kedua.
Tidak Ada Tempat Sembunyi di Ukraina
Will Smith menampar Chris Rock pada saat ajang Academy Award 2022 berlangsung. Disiarkan secara luas ke seluruh dunia momen itu membuka mata dan pikiran kita. Kejadian di belahan dunia mana pun bisa diketahui dalam jangka waktu yang singkat.
Ini menegaskan dua hal sama yang juga sedang berlangsung pada saat ini di Ukraina. Dua hal itu adalah internet cepat dan media sosial. Saya tidak akan terlalu menukik terlalu dalam kepada peristiwa yang terjadi di Dolby Theatre, Hollywood, Los Angeles, California. Namun, lebih tepatnya pada dua negara yang sedang bertikai ini.
Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko
Sabtu pagi itu, setelah salat subuh, saya segera check out dari tempat saya bermalam. Saya kemudian memesan taksi daring menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Jalanan lengang sehingga mobil yang saya tumpangi tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.
Saya kemudian mengantre di konter maskapai penerbangan untuk mendapatkan kertas fisik boarding pass. Sesuatu yang mestinya tidak saya lakukan karena ternyata di sudut lain bandara ada mesin untuk mencetak boarding pass secara mandiri.
Continue reading Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko
Tertawa yang Benar Sesuai Kamus
Testimoni Seseloki Seloka di Pinggir Selokan: Bagaikan Gelombang Ombak di Pantai Selatan
Beberapa waktu lalu, kawan saya sekaligus pembaca buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan bernama Ikhwanudin membagikan foto dan narasi tentang kesaksiannya saat membaca buku sajak-sajak saya tersebut.
Ia menuliskannya di saat sedang menunggu kereta api malam yang akan membawanya ke Semarang. Ia kemudian menyebarkan foto dan narasi itu di grup Whatsapp dan akun Instagramnya. Tentunya buat saya, apa yang dilakukannya sangat berharga. Saya berterima kasih kepadanya.
Seperti Matahari, Tanah Basah, dan Pelangi Seusai Hujan
Jumat itu saya bersilaturahmi kepada Ibu Aan Almaidah Anwar atau A3. Beliau biasa diinisialkan seperti ini. Adanya di lantai 25 Gedung Mar’ie Muhammad Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.
Sesaat hendak menuju meja kerjanya yang tidak berada di ruangan khusus—karena sudah menerapkan metode flexible working space (WFS)—panggilan menyeruak.
Nidya Hapsari: Hidup itu Maraton, Bukan Sprint
Di lantai 16 Gedung B Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, INTAX menyambut Nidya Hapsari yang datang berseragam khas Kementerian Keuangan warna biru dipadupadankan dengan sweater biru tua dan kerudung motif coklat tua. Tanda pengenal bertali panjang hitam tergantung di lehernya.
Nidya menampik tawaran INTAX untuk meminum kopi. “Tadi pagi saya sudah minum kopi,” kata perempuan penggemar amerikano dingin ini dari balik maskernya. Kegemaran meminum kopi tumbuh ketika ia kuliah di Australia. “Masyarakat sana tuh embracing the coffee culture. Kopi sudah jadi kebutuhan,” ujarnya. Sampai sekarang Nidya masih menyimpan cangkir kopi andalan yang ia selalu bawa saat di sana.
Sebuah Testimoni: Buku Sajak di Awal Tahun yang Layak Anda Baca
Salah satu pembaca buku tingkat akut adalah Sigit Raharjo. Ia juga pembaca buku puisi Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.
Ia menuliskan ulasan singkat di akun Instagramnya dengan nama @om.sig. Buat saya ulasannya berharga. Apa katanya setelah mendapatkan dan membaca buku tersebut?
Langsung saja kita simak testimoninya.
Psikologi Uang: Sabar dan Tamak
Seperti Steven Spielberg, sebagian masyarakat Indonesia tergiur investasi dengan imbal hasil tak masuk akal.
Pada pertengahan Desember 2021 lalu, terbongkar investasi bodong alat kesehatan hingga mencapai Rp1,2 triliun. Tergoda dengan keuntungan luar biasa, investor menyerahkan uangnya untuk dikelola. Bukannya untung, malah bencana yang datang. Mereka tertipu investasi yang menggunakan skema Ponzi.
Di Balik Layar Seseloki Seloka di Pinggir Selokan

Tidak tebersit dalam benak saya untuk menerbitkan buku kumpulan sajak dalam waktu dekat. Sebabnya, saya sedang menulis buku lain dengan tema khusus.
Apa daya, diselingi dua proyek buku formal dari kantor konsentrasi saya terpecah. Saya belum sempat meneruskan naskah buku keempat saya itu.







