Ketika Sebagian Orang Ingin Menjauh, Ia Memilih Datang


Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi berangkat ke Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tadi pagi, 20 Agustus 2026. Sebagai project coordinator program Asar Humanity dan mitra Jepang, ia akan bertugas di sana selama sebulan.

Sejak Sabtu, 15 Agustus 2026 rangkaian gempa terjadi di berbagai daerah di NTT. Berdasarkan data BNPB per Kamis, 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia sudah mencapai 72 jiwa.

Maulvi bukan kali ini saja menjalankan tugas kemanusiaan. Sebelumnya, ketika bencana Cianjur terjadi pada November 2022, Maulvi turut mengevakuasi jenazah korban dari timbunan tanah.

“Saya melihat tangan yang tersembul dari lumpur. Saya tarik tangan itu. Eh, ternyata tangan itu putus. Saya sampai kaget,” tutur sarjana psikologi Universitas Gunadarma ini.

Pada Mei 2024, kecelakaan maut menimpa bus rombongan SMK Lingga Kencana Depok di Ciater, Subang. Sebanyak 11 siswa meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Pemerintah Kota Depok mengerahkan 52 ambulans ke lokasi. Maulvi turut ke sana sebagai sopir ambulans. Ia kembali ke Depok dengan membawa salah satu korban yang jasadnya sudah tidak utuh lagi.

Ada pekerjaan yang dilakukan karena keahlian. Ada pula pekerjaan yang hanya dapat dilakukan karena keberanian. Namun, pekerjaan kemanusiaan seperti ini membutuhkan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya, yaitu kesediaan untuk tetap hadir ketika keadaan membuat sebagian orang ingin menjauh.

Maulvi menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak banyak bicara tentang keberaniannya kalau tidak ditanya. Bahkan mungkin ia tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Baginya, ada ambulans yang harus dikendarai, ada jenazah yang harus diantar, ada keluarga yang menunggu, dan ada tugas yang harus dituntaskan.

Namun, ada satu pengalaman yang tidak mudah ia lupakan. Pernah suatu ketika, sepulang dari mengantarkan jenazah ke Tegal, Maulvi berhenti di swalayan yang berada di area SPBU. Pada saat ia beristirahat itu, Maulvi melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau lampu rotator ambulans menyala sendiri. “Saya yakin dengan seyakin-yakinnya kalau lampunya sudah saya matikan,” kata Maulvi.

Dan pagi ini, satu jam menjelang Subuh, Maulvi kembali berangkat. Kali ini menuju Nagekeo. Saya membantu mengangkat segala perlengkapannya ke mobil daring yang sudah menunggu di depan rumah.

Maulvi tahu tugas sebulan ke depan tidak akan mudah. Gempa telah meninggalkan korban jiwa, luka, kehilangan, dan ketakutan. Akan ada jenazah yang harus dievakuasi. Akan ada keluarga yang harus didampingi. Akan ada perjalanan panjang, medan yang tidak mudah, dan mungkin malam-malam tanpa tidur yang cukup. Ia tetap berangkat. Sebagai manusia ia tetap memiliki rasa takut dan ia tahu bahwa di balik rasa takut itu ada orang-orang yang membutuhkan seseorang untuk datang.

Dan pagi ini, seseorang itu adalah Maulvi.

Maulvi di depan masjid terdampak bencana gempa Cianjur.
Maulvi berjaket kuning setibanya di bandara NTT.

***
Riza Almanfaluthi
20 Agustus 2026

Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.