Menjumpai Pertengkaran yang Entah Mempertengkarkan Apa


Interior Bandara Mozes Kilangin (Foto milik pribadi)

Namanya Bandara Mozes Kilangin. Awalnya didirikan untuk operasional Freeport di tahun 1970. Kemudian bandara ini dialihfungsikan untuk penerbangan umum pada 2008. Modernisasi dan perluasan bandara dilakukan sejak 2014. Bandara di sisi utara landasan tetap menjadi sarana pendukung utama Freeport dan bandara di sisi selatan landasan menjadi pintu keluar masuk penumpang komersial. Jelas, Bandara Sentani kalau jauh dibandingkan Bandara Mozes Kilangin. Selain luas dan megah, bandara ini memiliki desain dengan perpaduan arsitektur lokal dan modern.

Saya merasakan keunikan tersendiri saat mendengar untuk pertama kalinya nama Mozes Kilangin disebut. Setelah saya menelusurinya di internet, saya mengetahui kalau nama ini diambil dari nama seorang tokoh penting suku Amungme, sebuah suku yang mendiami wilayah pegunungan Mimika. Ia orang Amungme pertama kali yang berhasil tamat pendidikan guru. Ia juga yang memperjuangkan nasib masyarakat adat dan menjadi penengah antara suku, perusahaan, dan pemerintah.

Saya keluar dari tubuh pesawat melalui garbarata dan melihat tulisan PT Freeport Indonesia terpambang jelas di garbarata sebelah. Teman-teman KPP Pratama Timika sudah menunggu kami di luar pintu kedatangan. Mereka mengantarkan kami menuju KPP Pratama Timika, tempat acara Forum P2humas berlangsung. Jaraknya tidaklah begitu jauh dari bandara. Kami menyusuri Jalan Cenderawasih. Jalannya lebar. Terbagi dalam dua jalur. Trotoarnya juga nyaman bagi pejalan kaki.

Akhirnya kami sampai di KPP Pratama Timika. Kantor pajak ini menempati gedung baru. Di belakangnya ada beberapa unit rumah dinas. Salah satunya ditempati oleh Pak Agus Hery Winarso sebagai kepala kantor. Buat pegawai yang tidak kebagian rumah dinas ini, mereka menempati kantor lama yang dijadikan mes.

Pada April 2026, Rumah Susun Negara Kementerian Keuangan diresmikan dan sudah bisa ditempati. Mereka yang tinggal di mes akhirnya pindah ke rusun itu. Otomatis sekarang tidak ada lagi pegawai DJP maupun Kementerian Keuangan yang tinggal di luar rumah dinas atau rusun, kecuali mereka yang memang sudah menjadikan Timika sebagai homebase.

Azan Duhur berkumandang. Sebagian pegawai KPP salat di masjid kampung. Kami keluar dari pintu kecil di pagar belakang kompleks rumah dinas. Pintu itu terbuka jika waktu salat tiba dan selalu dijaga pak satpam. Di balik pintu kecil itu ada Jalan Macarena, jalan menuju Masjid Al-Kahfi. “Masjid ini dibangun oleh para pendatang keturunan Bugis,” kata Mas Tri Bayu Sanjaya, Kepala Subbagian Umum dan Kepatuhan Internal KPP Pratama Timika.

Saya salat jamak qasar di sana. Menyungkurkan wajah kembali untuk menunjukkan ketidakberdayaan saya di debu semesta. Masjidnya bernuansa kuno dengan pintu dan jendela kayu bercat hijau. Modernitas di dalamnya terasa dengan karpet tebal dan AC di beberapa sudut. Menyemprotkan hawa dingin untuk mengusir pengap. Kalau saja Mas Tri tidak segera mengajak saya keluar, saya tentunya sudah merebahkan diri. Meluruskan tubuh selurus-lurusnya. Menikmati sejuknya masjid ini.

Acara forum itu dimulai setelah makan siang sampai menjelang Magrib. Saya tidak akan menceritakan lebih detail lagi. Namun, saya ingin menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi keesokan harinya.

Sebelah kanan saya adalah Pak Kabid P2Humas Kanwil DJP Papabrama, Pak Supriyanto. Sebelah kiri saya adalah Mas Alef.

Jadi, pada saat salah satu teman KPP Pratama Timika mengantarkan kami ke Hotel Horison selepas acara itu, saya bertanya, “Apakah aman kalau pagi-pagi saya jalan kaki, Mas?

“Aman kok, Pak. Saya biasa lari pagi,” jawab Mas Alef Rasyidi Pababbari, Kepala Seksi Pelayanan KPP Pratama Timika.

Mendasarkan jawaban itu, menjelang waktu Subuh, saya turun ke lobi hotel. Saya sudah memakai jam lari, sepatu lari, dan celana training. “Kak, masjid terdekat di mana?” tanya saya.

“Oh, Bapak keluar dan belok ke kanan. Nanti ketemu rumah makan padang lalu masuk lorongnya. Di sana ada masjid,” jawab resepsionis itu.

Saya mengikuti petunjuknya—seharusnya jangan memakai kata itu karena petunjuk hanyalah milik Allah. Saya mengikuti arahannya dan tidak jauh dari hotel saya menemukan musala, bukan masjid, yang berada di lantai dua. Beberapa orang sudah berada di dalamnya. Dari cara berpakaiannya mereka merupakan bagian dari Jamaah Tabligh. Usai salat Subuh, salah satu dari mereka ada yang maju ke depan dan membaca beberapa hadis dari sebuah kitab. Setelah itu mereka melakukan musyawarah. Saya melipir keluar dan bersiap untuk jalan kaki.

Dari rumah makan padang, saya menyusuri Jalan Budi Utomo sampai menemukan tugu besar bernama Tugu Eme Neme. Penamaan tugu ini berasal dari bahasa suku Amungme yang berarti bersatu dan bersaudara. Dari tugu itu saya belok kanan ke Jalan Belibis. Terus terang saja selama berjalan kaki itu saya memasang mode waspada. Setiap ada orang bawaannya curiga melulu. Ya, ini sekadar antisipasi kerawanan dari pemalakan dan orang mabuk.

Tugu Eme Neme di saat Subuh (Foto milik pribadi).

Sesampainya di depan Gereja Gloria Timika Indah saya putar balik menuju Tugu Eme Neme kembali. Dari tugu itu saya berjalan ke arah timur dengan tetap menyusuri Jalan Belibis. Di suatu titik saya putar balik lagi menuju tugu dan hotel.

Setibanya di hotel, angka digital di jam lari saya belum genap 5 km. Masih kurang 2,5 km lagi. Akhirnya saya menyusuri Jalan Cenderawasih ke arah barat. Ternyata dari jauh terlihat ada bundaran besar di ujung jalan. Bundaran ini dinamakan Bundaran Smart City. Di tengah bundaran ada sekumpulan patung berpakaian adat suku Kamoro.

Nah, sebelum sampai bundaran itu saya menjumpai sebuah peristiwa. Suasananya sudah mulai terang. Saya melihat beberapa pemuda sedang berkumpul di depan gang. Di depan lapak jualan yang kosong. Salah seorang di antara mereka sudah mulai berteriak tidak karuan. Lalu menuju tengah jalan. Dua orang kemudian menyusul. Kini sudah ada tiga orang di tengah jalan. Salah satunya sudah mulai menghentikan motor-motor yang hendak lewat. Ketiganya seperti orang yang sedang bertengkar. Yah, ternyata saya masih menemukan orang mabuk di Timika ini.

Saya mempercepat langkah. Di Bundaran Smart City, saya belok kiri ke Jalan Wage Rudolf Supratman. Tidak terlalu jauh dari bundaran, saya putar balik menuju hotel lagi. Sempat turun hujan yang membuat saya lari terbirit-birit. Saya melewati tiga orang tadi yang masih bertengkar atau mempertengkarkan apa. Tidak lama berlari, hujan itu berhenti. Saya pun jalan kaki kembali.

Patung Suku Kamoro di Bundaran Smart City Timika (Foto milik pribadi).

Di depan hotel, saya langsung mematikan jam lari. Kini angka digitalnya menunjukkan 5,25 km dengan waktu tempuh selama satu jam sembilan menit. Kalau ditotal, aktivitas saya sudah dua jam lamanya yang dihitung sejak keluar dari pintu kamar hotel.

Sakarya, kakek Srintil, dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Thohari, pernah memberikan wejangan kepada warga Dukuh Paruk. “Kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya.”

Jalan-jalan pagi saya demikian juga adanya. Berkali-kali berbalik arah, kembali ke tugu, kembali ke hotel, lalu keluar lagi hanya untuk mengejar angka 5 kilometer. Bukankah mengenal sebuah tempat juga seperti itu? Kita tidak selalu bergerak menuju sesuatu. Kadang-kadang kita harus berputar, kembali, dan melihat dari arah yang berbeda sebelum merasa telah memahami apa yang kita lihat.

Saya kira, 5,25 kilometer itu sudah cukup untuk mengenal Timika. Ternyata belum. Perjalanan saya ke Timika belum benar-benar dimulai. Beberapa jam kemudian, saya akan memasuki sebuah kota yang berdiri di tengah hutan, dengan cerita yang sama sekali berbeda.

(Bersambung: Yang Berlarian di Kepala)

***
Riza Almanfaluthi
11 Agustus 2026

Cerita sebelumnya: Di Balik Jendela 5F

 

Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/

Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

2 thoughts on “Menjumpai Pertengkaran yang Entah Mempertengkarkan Apa

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.