Hilang Satu Tiket Enggak Bikin Gua Berantakan


Segelas nira sebagai muasal gula aren yang baru diambil dari pohon kelapa di Magelang.

Lebaran memang menjadi momen terbaik mendapatkan hikmah dari siapa saja.

Terutama pada saat silaturahmi kepada sanak saudara. Meminta doa ketika pamit malah dibalas dengan rentetan doa panjang. Salah satunya dengan doa semoga Allah memberikanmu rezeki yang banyak dan manfaat. Kata terakhir itu menghunjam kalbu sekali. Iya benar. Apa gunanya memiliki harta banyak, tetapi tidak memberikan manfaat buat sekitar?

Membincangkan soal harta, saya jadi teringat dengan konten Youtube yang baru saja saya lihat di saat lebaran. Konten ini menayangkan sosok anak pemilik PO (Perusahaan Otobus) Haryanto bernama Rian Mahendra.

Rian ditanya oleh pengikut di media sosialnya tentang PO sebelah yang menerapkan kebijakan agar anak kecil berumur 3,5 tahun membayar tiket penuh saat naik bus itu. Rian menyatakan kalau masing-masing perusahaan bus memang punya kebijakannya sendiri-sendiri.

PO Haryanto juga pernah mengalami kejadian itu di Bawen, Semarang, Jawa Tengah. Umur anak kecil itu tujuh tahun. Orang tuanya bilang sudah tidak punya duit lagi untuk bayar tiket, jadi memohon agar anaknya duduk di pangkuan saja selama perjalanan.

“Akhirnya saya bikinkan tiket untuk anak itu. Saya gratisin,” kata Rian. Anak itu bisa duduk penuh di sebelah orang tuanya tanpa membayar tiket lagi.

Selain orang tuanya yang tidak mampu, pertimbangan Rian lainnya adalah kalau anak itu tetap dipangku, kasihan penumpang di sebelahnya yang akan merasa terganggu. Kalimat penutupnya ini yang bikin merinding. Dengan santai ia bilang, “Hilang satu tiket enggak bikin gua berantakan.”

Haji Haryanto, pemilik PO Haryanto, memang dikenal kedermawanannya. Ia menjalankan perusahaannya dengan nuansa religiositas yang kental. Haji Haryanto itu meyakini betul bahwa semua harta yang ia miliki ini adalah milik-Nya. Contohnya saat salah satu busnya terbakar, ia gampang saja bilang, “Ya sudah tidak apa-apa. Ini ujian naik tingkat. Yang penting tidak ada korban jiwa.”

Religiositas itu diturunkan betul kepada anak-anaknya. Salah satunya Rian Mahendra. Di PO Haryanto, Rian menjabat sebagai Direktur Operasional perusahaan. Kalau sering melihat kontennya di Youtube, dari mulut lulusan SMP ini sering terselip nilai-nilai agama, tetapi orang yang mendengar itu tidak merasa diceramahi. Ini poin pentingnya.

Saat ditanya apakah PO Haryanto punya sponsor untuk menjalankan perusahaan sehingga bisa sebesar sekarang ini. Rian dengan tegas berkata, “Sponsornya Allah. Saya yakin itu. Dan yang bikin PO Haryanto bisa seperti sekarang ini ya Allah. Allah-lah yang menggerakkan hati masyarakat untuk memilih naik bus PO Haryanto.”

PO Haryanto juga dikenal sebagai perusahaan bus yang memberikan kesempatan untuk salat kepada para penumpangnya. Kalau ada kru bus PO Haryanto tidak memberikan itu, Rian akan memecat krunya. “Aku keluarin besok, enggak usah kerja sama aku. Simpel.

Enggak ada yang penting di dunia ini selain kewajiban kita sama Allah.”

Cadas!

Dengan konsep bisnis seperti itu, wajar kalau PO Haryanto memiliki pelanggan bus garis keras. Bahkan ada calon penumpang bus yang naik sepeda ontel dari Patrol Indramayu ke RM Kalijaga Cirebon selama dua hari dengan menempuh jarak lebih dari 98 km supaya bisa naik PO Haryanto menuju Jepara. Luar biasa.

Pernah naik bus ini?

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
6 Mei 2022

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.