Yang Berlarian di Kepala


Duhur itu, mobil kami bergerak meninggalkan pusat kota Timika. Kami berencana menuju Kuala Kencana. Ini kota yang dibangun Freeport sebagai tempat keberadaan kantor mereka dan perumahan para pegawainya.

Letaknya 20 km dari tempat kami menginap atau sekitar setengah jam perjalanan.  “Sampai di sana nanti kita ke alun-alun dan supermarketnya,” kata Mas Alef. Di sepanjang perjalanan itu Mas Alef banyak bercerita tentang Kuala Kencana dan Tembagapura. Kota yang disebut terakhir ini masih empat jam perjalanan dari Timika. Di sana adalah tempat tambang dan mes pekerja PT Freeport Indonesia.

Karena kami sudah mendapatkan izin memasuki Kuala Kencana, mobil kami melewati pos pemeriksaan dengan santai. Pos pemeriksaan itu berada di gerbang masuk Kuala Kencana. Anak-anak SMA berjalan kaki keluar dari gerbang itu.

Tulisan besar yang memperingatkan siapa pun untuk dilarang masuk atau memanfaatkan tanpa izin.

Jalanannya lebar seperti jalanan perumahan elit. Bedanya, kelebatan hutan tetap terjaga di kanan kiri jalan. Kami seperti memasuki Kebun Raya Bogor atau Kebun Raya Cibodas.

Tujuan kami adalah alun-alun. Biasanya dijadikan tempat tujuan bagi para pelancong yang diizinkan datang mengunjungi tempat ini. Seperti alun-alun yang berada di Jawa, ada masjid sisi barat alun-alun. Namanya Masjid Raya Baitur Rahim. Mobil kami terparkir dekat sana. Bangunan kantor pusat Freeport berada di sisi selatan.

Masjid Raya Baitur Rahim Kuala Kencana, Timika.

Kami langsung ke tengah alun-alun. Ada monumen berdiri tinggi di sana. Monumen yang dibuat oleh pematung I Nyoman Nuarta di tahun 1993 dan diresmikan di tahun 1995 oleh Presiden Soeharto. I Nyoman Nuarta ini yang membuat patung Garuda Wisnu Kencana di Bali.

Monumen Kuala Kencana terbuat dari material logam tembaga dan kuningan. Motifnya berupa ukiran adat Papua, perisai suku Kamoro, dan dua burung Cenderawasih di pucuk.

Patung di tengah alun-alun Kuala Kencana, Timika.

Di alun-alun itu juga ada sekumpulan pelajar berkaos merah putih sedang latihan baris berbaris. Ada pembangunan panggung di sisi lain monumen. Sepertinya ini untuk malam 17-Agustusan.

Orang-orang masih ramai berfoto-foto. Kami mengambil gambar di sana. Selain kami, ada rombongan penegak hukum yang datang juga. Sebagian berbaju cokelat, sebagian lainnya berseragam putih. Kalau dilihat dari plat mobil dan seragamnya sepertinya mereka dari kejaksaan. Mereka diantar oleh humas PT Freeport Indonesia. Kok saya tahu? Ada tulisan mencolok di punggung salah satu pengantar: “Public Affairs.” Humasnya berasal dari Orang Asli Papua.

“Ini kompleks perumahan modern pertama di Indonesia. Patung di sini dibuat oleh I Nyoman Nuarta,” jelas ibu humas itu. Saya mendengar dengan jelas apa yang ia sampaikan. Suasana pada saat itu sedang mendung. Gerimis datang. Beberapa orang petugas kejaksaan membuka payung dan memayungi beberapa orang di antara mereka yang berada di barisan paling depan.

Tim KPP Pratama Jayapura. Dari kiri ke kanan: Mas Gianto, Mas Yudha Daiz, saya, Bu Indah Lestari, Mbak Rista, dan Mas Andhika.

Di sisi lain alun-alun ada supermarket yang biasa dijadikan tempat belanja buat penduduk perumahan itu. Tidak semua pengunjung Kuala Kencana bisa memasukinya. Mereka harus memiliki kartu pas. Kebetulan kami punya. Semua rombongan kami malah diizinkan masuk ke dalam supermarket tersebut oleh petugas keamanan yang berdiri di pintu masuk. Kami harus menempelkan kartu pas itu ke pintu otomatisnya.

Saya pikir supermarket itu berbeda dengan supermarket kebanyakan di Indonesia. Ternyata sama saja. Enggak ada bedanya. Barangkali di zaman dulu memang tempat itu menjadi sesuatu yang wah untuk dikunjungi. Namun, Indonesia juga dari tahun ke tahun semakin modern. Swalayan kecil dan besar sudah menjamur di mana-mana di pelosok Indonesia. Bukan hal yang istimewa lagi.

Oh ya, pada saat di sana, saya jadi teringat dengan pesanan Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jayapura, Khusnawan Sigit Susanto, “Kalau sampai di Timika, nanti belikan cokelat, yah.” Ternyata di supermarket itu tidak ada cokelat yang ia kehendaki. “Di sini enggak ada, nanti saya coba cari lagi di kotanya,” balas saya via WhatsApp.

Karena menurut saya tempat itu sesuatu yang biasa saja, saya tidak lama-lama di sana. Saya belanja satu barang saja. Setelah itu segera keluar dan memilih menikmati jalanan sepi alun-alun ini. Saya juga sempat singgah di masjidnya. Tidak sampai masuk. Cukup di luarnya saja.

Rambu-rambu lalu lintas di seputaran alun-alun Kuala Kencana, Timika.

Setelah muhibah kami di Kuala Kencana ini dirasa cukup, kami menuju bandara lama Mozes Kilangin. Ini adalah bandara yang letaknya di sisi  utara landasan dan tidak digunakan lagi untuk penerbangan komersial. Bandara baru yang letaknya di sisi selatan landasan itu yang sekarang dipakai sebagai gerbang udara dari dan menuju Timika.  Bandara lama berfungsi khusus untuk penerbangan karyawan perusahaan, kargo privat, dan operasional PT Freeport Indonesia.

Di bandara lama itu ada dua spot yang biasa digunakan untuk berfoto-foto. Di depan ban bekas truk tambang raksasa merek Bridgestone jenis 59/80R63. Diameter ban itu setara 4 meter dengan berat sekitar 5000-an kilogram. Kemudian spot foto lainnya di pelataran parkir dengan latar belakang bandara itu.

Ke mana lagi kami melangkah setelah dari bandara ini? Kami kemudian dibawa ke sebuah jalan di kota Timika. Saya lupa nama jalannya. Kalau tidak salah di sekitaran Jalan Bougenville. Yang saya ingat di sana banyak toko emas. Ada toko yang menjual suvenir bongkahan batu yang mengandung emas.  Batu itu memiliki dudukan kayu sebagai penyangga. Harganya bisa ratusan ribu sampai puluhan juta. Tergantung besar kecilnya bongkahan.

Jadi toko-toko emas di Timika ini menerima hasil emas yang didapat dari para pendulang. Mereka adalah para penambang yang mengais sisa butiran emas dari endapan tailing. Setiap hari Freeport menambang emas. Limbahnya mengalir ke Sungai Ajkwa sampai ke laut. Oleh karena itu, kalau dilihat di peta, di sisi timur Timika ada aliran tailing itu. Hamparan Sungai Ajkwa yang terkena endapan tailing itu bahkan tampak sangat luas, lebarnya seolah-olah mencapai setengah bentang Kota Timika dari timur ke barat.

Para pendulang mengais emas di endapan tailing. Semakin ke hulu Ajkwa, volume serbuk emasnya  sedikit karena masih bercampur dengan tembaga, sedangkan semakin ke hilir, kualitas serbuk emasnya semakin bagus. Hasil pendulangan itulah yang kemudian dijual ke toko-toko emas yang berada di Timika. Ribuan masyarakat Timika menggantungkan hidupnya dari pendulangan emas yang menggerakkan ekonomi daerah yang dulu pernah menjadi bagian dari Kabupaten Fakfak.

Tidak ada yang saya beli di toko itu. Saya hanya melihat-lihat saja. Menjelang sore, kami kembali ke hotel. Sebelum masuk kamar hotel, saya menyempatkan diri untuk membeli pempek. Benar-benar saya kangen banget sama makanan khas Palembang. Ketika penjual itu sedang memasak pempek, datang tukang gas yang mengantar tabung berisi 12 kg gas elpiji. Tukang pempek menyerahkan empat lembar uang seratus ribu dan lembaran lainnya.

“Berapa harganya, Pak?” tanya saya.

“Empat ratus dua puluh ribu rupiah,” kata tukang pempek asal Makassar ini. Wah, jauh sekali dengan harga di Jakarta.

Setelah itu, saya segera ke kamar hotel. Waktunya untuk istirahat. Pagi buta besok, saya harus ke bandara untuk kembali ke Jayapura.

Suasana ruang tunggu lantai dua Bandara Mozes Kilangin pagi itu. Kami bersiap terbang menuju Jayapura.

Dalam A Moveable Feast, Ernest Hemingway menulis, If you are lucky enough to have lived in Paris as a young man, then wherever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveable feast.”

Jika seseorang beruntung pernah tinggal di Paris ketika masih muda, ke mana pun ia pergi sepanjang hidupnya, Paris akan tetap bersamanya. Begitulah perjalanan. Ada tempat-tempat yang selesai kita datangi, tetapi tidak pernah benar-benar berakhir meninggalkan kita.

Hemingway berbicara tentang Paris. Saya membincangkan tentang Timika, walaupun saya hanya beberapa hari saja di sana. Saya kira ada pengalaman yang tidak membutuhkan waktu lama supaya bisa tinggal lama di ingatan. Timika akan menjadi salah satunya.

Ia akan tinggal sebagai sebuah jendela bernomor 5F. Sebuah danau hitam yang saya lihat dari ketinggian. Puncak Trikora yang muncul di kejauhan. Lautan awan yang tiba-tiba berubah menjadi kelabu. Hujan yang menyambut pendaratan. Percakapan di warung kopi. Dan sebuah kesempatan yang datang karena ilmu yang selama ini saya pelajari ternyata masih mempunyai jalan untuk membawa saya ke tempat yang tidak pernah saya rencanakan.

Saya pulang ke Jayapura dengan tubuh yang sama. Tidak sepenuhnya dengan pikiran yang sama. Beberapa perjalanan memang selesai ketika pesawat mendarat. Sebagian lainnya justru baru dimulai setelah kita pulang. Tidak pernah berhenti berlarian di kepala sampai semuanya diempaskan ke dalam sebuah tulisan kisah perjalanan.

Seperti yang kamu baca ini.

(Selesai)

***
Riza Almanfaluthi
16 Agustus 2026

Tulisan Serial Timika Sebelumnya:
Di Balik Jendela 5F
Menjumpai Pertengkaran yang Entah Mempertengkarkan Apa

Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/

Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi

One thought on “Yang Berlarian di Kepala

Tinggalkan Komentar:

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.